Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

BAB 1

“Al!”

Alia hanya merasa kesal mendengar suara yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin, pria yang menyukainya selama tiga tahun lamanya.

“Al, kenapa sih kamu tidak terima aku jadi pacar kamu? Aku akan berhenti kok kalau kamu terima aku,” tanya Kevin dengan mata berbinar, berusaha meyakinkan Alia.

“Kamu tahu nggak, yang buat aku tidak tertarik sama kamu itu apa, Kev?”

Kevin tersenyum saat Alia mau berbicara kepadanya, walau wajah Alia tidak mencerminkan dirinya sedang bahagia.

“Apa, sayang?”

“Sifat kamu yang terlalu patuh membuat aku jijik, seperti pria gampangan! Maaf, kamu bukan selera aku. Kamu boleh meninggalkan aku secepatnya, dan aku sudah ada tunangan. Bentar lagi aku nikah.”

Kevin yang mendengar itu tidak jera sama sekali, sampai akhirnya Alia merasa muak dan meninggalkan Kevin begitu saja, menyerahkannya kepada bodyguard Alia.

“Tolong ya, Pak.”

“Baik, Non Alia.”

Alia pergi diantar oleh supir. Tak lama, sepanjang jalan, Alia hanya memikirkan pria yang sudah empat tahun lamanya terus terlintas di benaknya sambil menghela napas.

“Kenapa, Non Alia?”

“Hmm, tidak apa-apa, Pak. Maaf ya, Pak.”

“Ya, tidak apa-apa, Non. Kalau ada yang mau diceritakan, cerita aja, Non. Siapa tahu Bapak bisa bantu.”

Alia hanya tersenyum mendengar Pak Supir berkata demikian. Walau banyak pria yang menyukai Alia, satupun tak pernah membuat Alia gentar bersama mereka. Bagi Alia, mungkin ini hanya perasaan sementara yang tidak perlu diingat.

---

Kejadian 4 tahun sebelumnya.

Alia yang sedang membaca buku di bawah pohon sekolah menikmati indahnya pemandangan dengan angin sepoi-sepoi. Namun, langit tiba-tiba mendung.

“Yah, mau hujan ya. Padahal cuacanya enak banget buat belajar.”

Akhirnya, Alia pergi dengan kesal karena cuaca tidak mendukungnya untuk belajar di sana. Tak lama, Alia terdiam sambil memandang buku dan jalan.

Tanpa sadar, kelas Alia terlewat dan malah masuk ke kelas lain. Semua orang menatap Alia dengan tatapan menghina.

Alia tersadar melihat sekelilingnya, ternyata bukan kelasnya. Ia pun segera keluar dari kelas itu dan tidak sengaja menabrak tiang tinggi yang berbentuk seperti orang.

Alia menatap ke arah "tiang" itu, dan tak lama ia menyadari itu adalah seorang pria.

“Maaf, Kak. Saya tidak sengaja.”

Pria itu hanya diam dan pergi meninggalkan Alia. Bagi pria itu, Alia hanya orang asing yang tak perlu ia kenal lebih jauh, toh tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

Pria itu pergi tanpa banyak bicara. Entah kenapa, saat Alia bertemu pria itu, dunianya terasa berbeda.

Alia merasa ketika dirinya bertemu dengan pria itu, mungkin itu pertanda untuk menghilangkan hobinya mencoba hal baru seperti pacaran, seperti orang normal lainnya.

Alia merasa dirinya saat ini berada di fase tidak normal, karena bisa meninggalkan hobinya hanya demi seorang pria yang bahkan tidak meliriknya sama sekali.

---

Di kamar Alia.

Alia sedang merenung, apakah yang dipikirkannya ini benar atau salah. Ia merasa tidak tahu harus melangkah ke mana, mengapa seolah tidak ada jalan sama sekali selain tertuju kepada pria itu.

Tujuan Alia sekolah hanya untuk menempuh pendidikan. Kenapa sekarang bisa berbelok jauh dari yang diharapkan?

Tok tok tok.

“Alia, apa Mama boleh masuk ke kamar kamu?”

“Ya, Ma. Boleh.”

Mama masuk ke kamar Alia dan tersenyum kepadanya. Tak lama, Alia menatap ke arah mamanya dengan bingung.

“Ada apa, Ma? Tidak biasanya Mama nyari aku malam-malam.”

“Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu, sayang.”

“Soal apa, Ma? Kalau soal pendidikan, kayaknya nggak ada yang salah, Ma. Emangnya nilai aku menurun atau ada apa?”

Mama hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Alia semakin bingung dengan maksud mamanya.

“Maksud Mama apa sih? Aku nggak ngerti. Kenapa Mama diam aja dan tidak bicara apa-apa?”

“Mama bicara begini demi kebaikan pendidikan kamu. Alia mau, kan, setelah lulus SMA, kuliah di luar negeri?”

Alia yang mendengar itu hanya diam dan tidak berbicara apa-apa. Tak lama, Alia hanya menggelengkan kepala tanpa jawaban pasti.

“Kenapa, sayang? Kamu tidak suka ya Mama suruh kuliah di luar negeri?” tanya Mama dengan nada rendah agar tidak menyakiti perasaan Alia.

“Bukan, Ma. Cuma aku lagi mikir... kenapa Mama bisa nyuruh aku ke luar negeri, sedangkan Mama tahu sendiri aku nggak pernah jauh dari Mama.”

“Mama cuma mikir masa depan kamu aja, sayang. Sayang banget kalau masa depan kamu terhambat karena pola pikir kamu yang terlalu lempeng. Benar nggak kata Mama?” tanya Mama dengan lembut sambil tersenyum.

Alia hanya diam. Baginya, apa yang Mama katakan tidak masuk akal. Ia sendiri bingung harus bagaimana, sementara kedua orang tuanya seolah mengambil keputusan sendiri.

Alia memikirkan semuanya semalaman. Ia tidak bisa tidur.

---

Keesokan paginya.

Hari sudah pagi. Alia melihat ke arah pintu kamarnya.

Ia bersiap-siap ke sekolah dan pergi ke meja makan dengan muka datar, tanpa berkata apa-apa.

Papa hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku Alia yang tidak memberi respon apa-apa.

Alia tidak peduli. Ia pergi dari tempat itu dan tak memedulikan sekitar, walau Papa dan Mamanya pasti membicarakan dirinya.

Papa menatap Mama setelah Alia pergi. Mama hanya diam dan lanjut makan, seakan tidak terjadi apa-apa.

Selesai makan, Mama membantu Papa merapikan jasnya. Tak lama, Papa menatap ke arah Mama.

“Kamu bilang ya ke anak kamu itu, jangan merasa dunia selalu berpihak sama dia. Tidak semua orang yang memiliki ekonomi baik-baik saja, nantinya akan terus baik-baik saja. Suruh dia untuk mencoba keluar, agar dia tahu bagaimana sulitnya aku mencari uang untuk masa depannya nanti.”

Mama hanya diam dan menurut pada Papa, seakan ia juga lelah dengan apa yang Papa katakan.

---

Di sekolah.

Alia hanya diam dan menghela napas. Tak lama, ia menatap ke arah teman-temannya yang mungkin nasibnya lebih baik daripada dirinya.

Saat berjalan tanpa melihat ke depan, Alia hampir saja kembali menabrak pria tinggi berbadan bidang yang menyebalkan itu.

“Maaf, Kak. Saya tidak sengaja.”

Alia merasa tidak enak kepada pria itu. Tapi pria itu hanya diam dan tidak merespon. Alia pun hanya diam dan menatap pria tersebut.

“Dingin banget sih. Padahal niat aku baik, minta maaf. Kenapa dia kayak nggak respon dan malah kelihatan seperti alergi sama wanita?”

Alia tidak peduli dan tetap pergi, sedangkan pria itu hanya diam. Lalu, tanpa sadar, ia melihat ke arah belakang. Tak lama kemudian, pria itu mencoba membuka headset-nya.

“Apa yang wanita itu bicarakan, ya? Dirinya nggak dengar sama sekali.”

Pria itu hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Alia terus memikirkan bagaimana dirinya ke depannya.

Saat di kelas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!