Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Saudara Seperguruan yang Angkuh
Udara pagi di Sekte Langit Biru terasa segar. Kabut tipis masih menempel di pucuk pinus, sementara cahaya matahari perlahan menembus, menyinari pelataran latihan. Lin Feng, seperti biasa, sudah bangun lebih awal. Ia memikul dua ember berisi air dari sungai di dasar gunung, kakinya menapaki anak tangga batu dengan teratur.
Tubuhnya masih terasa sakit, tapi berbeda dengan hari-hari awal, kini setiap langkah terasa lebih mantap. Otot-ototnya mulai terbiasa, napasnya lebih teratur, bahkan genggamannya pada ember tidak lagi selemah dulu. Ia bisa merasakan perubahan dalam dirinya—perlahan, tapi nyata.
Setibanya di pelataran, Tetua Yunhai sudah menunggu. Ia duduk di kursi kayu sederhana, memandang murid barunya dengan tatapan tenang.
“Bagus,” katanya singkat ketika melihat Lin Feng meletakkan ember tanpa menumpahkan setetes pun air. “Fondasimu mulai terbentuk. Kau sudah lebih baik daripada kemarin.”
Lin Feng menunduk, tersenyum kecil. Pujian dari gurunya, meski singkat, terasa begitu berharga.
Namun pagi itu, sebelum Lin Feng bisa melanjutkan latihan, suara langkah-langkah terdengar. Dari balik pepohonan, muncullah seorang pemuda berbadan tegap dengan jubah biru tua yang rapi. Wajahnya tampan, sorot matanya tajam, dan di pinggangnya tergantung pedang indah berukir naga.
Lin Feng menoleh, sedikit terkejut. Ia belum pernah melihat pemuda ini sebelumnya.
Tetua Yunhai tersenyum samar. “Kau akhirnya kembali.”
Pemuda itu menangkupkan tangan, memberi hormat. “Guru.”
Lin Feng terbelalak. Guru? Jadi… dia juga murid pribadi Guru Yunhai?
Yunhai menoleh ke Lin Feng. “Lin Feng, perkenalkan. Dia adalah muridku juga. Namanya Liu Tian. Dia masuk sekte ini tiga tahun lebih awal darimu, dan sudah mencapai tahap Penguatan Qi tingkat ketiga. Kau bisa menganggapnya sebagai saudara sepeguruanmu.”
Liu Tian menoleh, matanya menyapu Lin Feng dari atas hingga bawah. Tatapan itu jelas mengandung penilaian sekaligus meremehkan.
“Jadi ini murid baru yang Guru terima?” katanya dengan nada datar. “Tubuh kurus, penuh memar, dan wajah polos. Hm… tidak lebih dari anak yatim piatu yang beruntung.”
Lin Feng mengepalkan tangannya, menahan perasaan yang muncul. Ia membungkuk hormat. “Salam hormat, Senior Liu Tian.”
Namun Liu Tian hanya mendengus, lalu berjalan melewati Lin Feng tanpa menoleh. “Guru, saya tidak mengerti. Mengapa Anda repot-repot menerima murid seperti dia? Bukankah banyak murid berbakat lain yang lebih pantas menjadi murid pribadi Anda?”
Tetua Yunhai tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Liu Tian dengan mata dalam, lalu berkata pelan, “Tian, jangan menilai seseorang hanya dari apa yang kau lihat di permukaan. Setiap api kecil, jika dijaga, bisa menjadi kobaran besar.”
Liu Tian terdiam sesaat, lalu menunduk, meski jelas terlihat ia tidak sepenuhnya setuju. “Baik, Guru.”
***
Hari-hari berikutnya, Lin Feng mulai berlatih bersama Liu Tian. Namun perbedaan keduanya sangat mencolok.
Liu Tian sudah menguasai beberapa teknik dasar pedang, bahkan mampu mengalirkan qi ke dalam gerakannya. Setiap ayunan pedangnya memancarkan aura tajam yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Para murid lain sering berhenti untuk menonton, kagum pada keindahan gerakannya.
Sebaliknya, Lin Feng masih berkutat dengan ember air, berdiri di atas tiang bambu, atau berlari mengelilingi pelataran dengan batu besar di punggungnya. Bagi banyak murid, ia tampak konyol—seolah tidak sedang berlatih kultivasi, melainkan hanya menjalani kerja kasar.
Dan Liu Tian sering kali tidak melewatkan kesempatan untuk menegaskan perbedaan itu.
“Lin Feng,” katanya suatu sore, ketika mereka selesai berlatih. “Kalau kau hanya akan memanggul batu atau membawa air, kau tidak akan pernah bisa mengejarku. Dunia kultivasi adalah dunia persaingan. Kekuatanlah yang menentukan segalanya. Tanpa kekuatan, kau hanya akan jadi sampah.”
Lin Feng menunduk, menahan diri. “Saya tahu saya lemah sekarang. Tapi saya akan terus berusaha.”
Liu Tian tertawa kecil, nada suaranya sinis. “Berusaha? Haha… kau bisa berusaha sekeras apapun, tapi bakat tidak bisa dipaksakan. Kau lahir dengan akar spiritual yang lemah, kan? Bahkan rumor di sekte bilang kau butuh berhari-hari hanya untuk merasakan qi pertama. Dengan fondasi seburuk itu, jangan bermimpi terlalu tinggi.”
Ucapan itu menusuk, tapi Lin Feng tetap diam. Ia mengingat ajaran Yunhai: Jangan mudah terpancing oleh ejekan. Fokuslah pada jalanmu sendiri.
Namun Liu Tian tidak berhenti di situ.
Suatu hari, ketika Yunhai tidak ada di pelataran, Liu Tian menghampiri Lin Feng yang sedang berlari dengan batu di punggung.
“Berhenti sebentar,” katanya.
Lin Feng menoleh, terengah. “Ada apa, Senior?”
Liu Tian meletakkan pedangnya, lalu tersenyum tipis. “Aku ingin menguji sejauh mana ‘usaha kerasmu’ itu. Ayo sparring.”
Lin Feng terdiam. Ingatan pertarungannya melawan Zhao Liang masih segar, luka di tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Namun ia juga sadar, menolak hanya akan membuatnya tampak pengecut.
“Baik,” jawabnya pelan.
Mereka berdiri berhadapan di tengah pelataran. Beberapa murid lain mulai berkumpul, penasaran.
“Aku tidak akan menggunakan qi,” kata Liu Tian sambil tersenyum meremehkan. “Aku ingin melihat apa kau bisa menahan beberapa pukulanku dengan tubuhmu yang lemah itu.”
Lin Feng mengepalkan tangannya. Pertarungan dimulai.
Liu Tian bergerak cepat, jauh lebih cepat daripada Zhao Liang. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Lin Feng, lalu melayangkan pukulan telak ke arah dada. Lin Feng mencoba menahan dengan lengan, tapi tenaganya tak sebanding. Tubuhnya terlempar beberapa langkah ke belakang.
“Bangun,” ujar Liu Tian dingin. “Kalau ini saja tidak bisa kau tahan, bagaimana kau akan melangkah di jalan kultivasi?”
Lin Feng berdiri, meski tubuhnya bergetar. Ia maju lagi, mencoba menangkis, mencoba menghindar. Beberapa kali ia berhasil, tapi lebih sering ia terpukul. Tubuhnya memar, napasnya tersengal.
Namun, berbeda dengan pertarungan melawan Zhao Liang, kali ini ia tidak mudah terjatuh. Latihan fisik keras yang ia jalani memberinya daya tahan yang lebih kuat. Meski terpukul berkali-kali, ia selalu bangkit.
“Cukup!” seru salah satu murid yang menonton. “Senior Liu Tian, ini tidak adil. Lin Feng baru saja mulai berlatih. Kalau kau terus memukulnya seperti ini, dia bisa mati!”
Namun Liu Tian hanya menoleh sekilas. “Kalau dia tidak tahan, lebih baik dia keluar dari sekte sejak sekarang.”
Lin Feng terhuyung, darah menetes dari sudut bibirnya. Tapi ia menatap Liu Tian dengan mata penuh tekad.
“Saya… tidak akan menyerah,” katanya lirih.
Liu Tian mendengus. “Keras kepala.” Ia maju lagi, bersiap memberi pukulan terakhir.
Namun sebelum pukulannya mendarat, suara lantang menggema.
“Cukup!”
Semua menoleh. Tetua Yunhai berdiri di tepi pelataran, wajahnya dingin.
Liu Tian segera mundur, menunduk. “Guru, saya hanya ingin menguji dia.”
Yunhai berjalan mendekat, matanya tajam menatap Liu Tian. “Mengujinya? Atau merendahkannya?”
Liu Tian terdiam.
Yunhai lalu menoleh ke Lin Feng, membantu murid kecil itu berdiri. “Kau sudah cukup membuktikan dirimu. Ingat, Lin Feng, jalan ini bukan tentang menang atau kalah saat ini. Tapi tentang bertahan.”
Lin Feng menunduk, menahan emosi. “Saya mengerti, Guru.”
Yunhai kembali menatap Liu Tian. “Dan kau, Tian. Kau memang berbakat, tapi kesombonganmu bisa menghancurkanmu. Jangan pernah lupa, bakat tanpa kerendahan hati hanyalah pedang tajam tanpa sarung—cepat atau lambat akan melukai pemiliknya sendiri.”
Liu Tian mengepalkan tangannya, wajahnya menegang. Namun ia tidak berani membantah. “Baik, Guru.”
***
Malam itu, Lin Feng berbaring di ranjangnya, tubuhnya penuh memar lagi. Tapi berbeda dengan rasa sakit sebelumnya, kali ini ia merasakan sesuatu yang lain—sebuah tekad yang semakin kokoh.
“Senior Liu Tian benar,” gumamnya. “Aku memang lemah. Tapi aku tidak akan selamanya lemah. Aku akan buktikan, dengan fondasi yang Guru ajarkan, aku bisa berdiri di hadapannya suatu hari nanti.”
Ia menggenggam giok kecilnya erat-erat. Api kecil dalam tubuhnya bergetar, semakin stabil.
Di luar, bulan purnama bersinar terang di langit. Dua murid di bawah bimbingan guru yang sama berdiri di jalan yang berbeda: yang satu penuh bakat tapi angkuh, yang lain lemah tapi bertekad.
Dan di antara mereka, kelak akan lahir persaingan yang membentuk jalan takdir masing-masing.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa