NovelToon NovelToon
OBSESI CINTA PERTAMA

OBSESI CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Kriminal dan Bidadari / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Andara prina Larasati

"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-


Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.

Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.

Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.

Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.

Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.

Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.







-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Gelisah berkepanjangan

...TOXICSERIES...

"Kanker Hati?" Sherra mengangguk.

Keduanya sedang terduduk di kursi samping pintu IGD. Gadis 18 tahun itu tak henti hentinya mengusap air mata saat menceritakan kondisi sang mama. Sedangkan speechless. Tak bisa berkata kata mendengar kabar ini.

Dalam dirinya ingin membantu. Namun ia tak tau bagaimana meringankan beban Sherra selain mensupport langkah sahabatnya.

"Terus sekarang kamu mau gimana? Kamu akan tetap melanjutkan pengobatan ini?" Sherra mencengkram roknya kuat.  Menggelengkan kepalanya.

"Aku gatau" Kai menghela nafas pasrah.

"Aku pingin mama sembuh. Tapi kalau terus dirawat disini, tabungan aku dan mama bisa habis Kai" balas Sherra. Kai menatap Sherra kasihan. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari jaketnya.

"Kayaknya aku akan ambil rawat jalan dirumah. Dan tebus obat Mama besok pagi" Ujar Sherra menyelipkan rambutnya. Kai tiba tiba menyerahkan sesuatu ke depan Sherra.

"Eh Kai? Ini apaan?" Kai menyodorkan sisa uang hasil balapannya tadi malam.

"Ambil, buat nebus obat Mama Dinda" Sherra menggelengkan kepala. Menolak.

"Kai aku masih punya uang tabungan untuk tebus obat Mama" Kai semakin keras kepala dan melipat uang itu untuk di pegang oleh Sherra.

"Kai, jangan kaya gini. Aku masih mampu!"

"Ambil! Pake itu untuk tebus obat! Uang tabungan kamu simpen buat kebutuhan lain, jangan sampai abis hari ini. Kehidupan kamu masih panjang" balas Kai. Sherra hendak membantah namun Kai dengan cepat meletakkan jarinya pada bibir gadis itu

"Tapi Kai, ini terlalu banyak. Aku gak bisa ngembaliinnya---"

"Aku ikhlas Sher" sahut Kai cepat.

"Anggap ini rezeki kamu sama Mama Dinda. Karena dulu juga kalian pernah rawat aku. Sebelum akhirnya aku dibawa pergi sama Papa"

Mama Dinda memang selalu memperlakukan Kai layaknya putranya sendiri. Kai masih ingat saat wanita paruh baya itu nekat mengurus dirinya yang berusia 14 tahun walaupun keadaan ekonomi keluarga mereka tak begitu baik. Namun Mama Dinda tak pernah mengeluh. Ia merawat Kai dengan tulus.

Dan kini, saatnya Kai membalas semua kebaikan wanita itu.

"Tapi Kai---"

"Shht, jangan di bahas lagi oke? Yang terpenting sekarang adalah gimana caranya kita cari uang lebih untuk kesembuhan Mama Dinda" Tutur lelaki itu berhasil menenangkan Sherra.

"Pokoknya kamu jangan khawatir, aku akan selalu bantu kamu" Sherra tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya. Gadis itu kembali memeluk Kai erat. Begitupun Kai, yang selalu menerima setiap pelukan hangat dari tubuh rapuh sahabatnya.

"Kai, terimakasih"

...TOXICSERIES...

"Eh sekarang ada kuis coy! Buruan bikin contekan!"

Terdengar riuh riuh dari para murid yang tak siap dengan kuis hari ini. Terutama kelas Sherra, walaupun menjadi kelas terbuang yang berarti berisi para manusia dengan otak kurang dari 2 GB. Namun kelas Sherra juga tak pernah absen di beri kuis mingguan oleh guru matematika mereka. pa Bejo.

Bahkan Mona, murid yang absen kehadirannya hanya 3 hari dari seminggu saja,setiap pelajaran pa Bejo pasti masuk kelas. Gadis itu tak mau mengikuti susulan karena pastinya tak mendapat contekan.

Sherra juga tak jauh dari Mona. Gadis itu tak bisa hidup tanpa contekan karena memang otaknya agak tertinggal daripada yang lainnya. Namun hari ini Sherra terlihat berbeda.

Tak heboh seperti yang lainnya. Malah cenderung banyak diam, sibuk membaca novelnya..

"Nih!"Mona menyodorkan kertasnya yang sudah berisi jawaban untuk kuis hari ini. Sherra melirik gadis itu sebentar.

"Catet buruan! Keburu pak bejo dateng!" Ujar Mona agak memaksa. Sherra menolak kertas tersebut. Jelas Mona langsung dibuat heran.

"Gue lagi males"

"Ck, yaudah tapi kalau nilai lo jelek. Bukan salah gue ya" Sherra mengangguk. Entahlah, pikirannya terasa penuh dengan masalah Mama Dinda. Nafasnya terasa berat setiap kali memikirkan Mama. Bahkan untuk sekEdar pelajaran pun Sherra tak sanggup menampungnya.

Satu satunya yang ada di pikiran Sherra adalah bagaimana cara ia mendapatkan uang untuk pengobatan Mama Dinda.

Itu saja.

Kuis pun di mulai. Pa Bejo datang dengan kaca mata kotaknya. Duduk dengan aura mengintimidasi sambil sesekali melirik murid muridnya.

Sherra menghela nafas pelan sambil menatap kertas kuis yang biasa ia jumpai setiap minggunya. Gadis itu bahkan tak mengerti satu pun soal disana, namun ia tetap mengisinya dengan menghitung kancing seragamnya.

Sesuai dengan peraturan kuis. Siapa yang berhasil mengumpulkan dia boleh keluar kelas.

Dalam waktu 10 menit Sherra mendorong mejanya kemudian bangkit dari kursi sambil membawa kertas kuisnya ke depan. Meletakkannya di meja pa Bejo.

"Sudah yakin?" tanya Pa Bejo padanya. Sherra mengangguk.

"Silahkan keluar" tanpa mengucapkan apapun Sherra berjalan keluar dari kelas. Sedangkan teman teman kelasnya yang lain menatap kearah Sherra dengan heran.

Gadis yang paling tertinggal di kelas kenapa mendadak jadi pintar? Pikir mereka serentak.

"Kerjakan dengan hati hati! Jangan terburu buru!"Peringat pa Bejo. Guru paruh baya itu iseng mengecek kertas kuis Sherra. Dan seperkian detik kemudian netranya terbelalak melihat seluruh jawaban yang Sherra tulis di sana.

"Gak mungkin... "

...TOXICSERIES...

Sherra berjalan menuju kamar mandi belakang. Sebenarnya ia tak punya tujuan namun ia ingin ke kamar mandi sebentar untuk membenarkan riasan pada wajahnya. Walaupun sudah cantik dari lahir tapi Sherra tetaplah manusia yang tak pernah puas soal penampilan wajah.

Sama seperti gadis lainnya. Sherra selalu memakai bedak padat, maskara dan liptint di bibirnya. Surainya juga sengaja di cat coklat terang agar terlihat cocok dengan bola matanya.

Itulah mengapa Sherra selalu dijuluki gadis madu. Karena memang penampilan dan wajah gadis itu sangatlah manis layaknya madu.

Drrt

Drrrt

Drrt

Sherra yang sedang memperhatikan wajahnya dari kaca wastafel. Seketika meraih ponselnya dari balik rok seragam. Kemudian mengangkatnya.

"Hallo?"

^^^"Selamat siang ini dengan administrasi rumah sakit"^^^

"Ah iya, ada apa ya Kak?"

^^^"Kami ingin memberitahukan kepada keluarga dari Pasien bernama Dinda untuk melunasi pembayaran dan menebus biaya obat segera"^^^

"Baik Kak, saya akan kesana nanti siang"

^^^"Baik kami tunggu. Terimakasih"^^^

Sambungan telfon terputus. Sherra mengusap wajahnya kasar.

...TOXICSERIES...

Siang harinya. Setelah pulang sekolah Sherra langsung pergi kerumah sakit sambil membawa uang yang Kai berikan. Kemarin malam ia memang belum sempat melunasi pembayaran karena ketiduran.

"Terimakasih Kak" Sherra pun memasukkan kertas detail pembayaran tadi kedalam saku. Setelah menebus obat ia tak langsung membawa Mama Dinda pulang. Karena dokter menyarankan Mama Dinda untuk tetap di rawat intensif di sini.

Awalnya Sherra menolak, namun melihat kondisi Mama Dinda yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Sherra akhirnya pasrah menerima saran dokter. Dengan membiarkan Mama Dinda dirawat lebih lama.

Sherra meletakkan obatnya sambil melirik Mama Dinda yang masih tertidur pulas. Dengan lembut ia mengusap telapak tangan mamanya sambil mengecup keningnya sayang.

Semesta tau yang terbaik akan takdir. Namun entah mengapa kisah hidup Sherra seolah tak memiliki jalan yang mudah. Selalu berkelok dan semakin sulit untuk di lalui.

Perasaannya mengatakan. Jika seumur hidup Sherra tak pernah merugikan orang lain. Namun entah mengapa, ia dan Mama selalu diberi cobaan tanpa akhir.

Sherra mengusap sudut matanya yang berair. Sambil menyiapkan obat ia sesekali juga melirik Mamanya. Melihat keadaan sang Mama yang masih bernafas. Takut, jika Mamanya pergi dengan singkat.

Sherra tidak siap.

Biarlah ia tertatih asalkan Mama berada di sampingnya.

"Sherra... " Lirih Mama Dinda. Sherra memaksakan senyumnya. Memasang wajah tenang agar Mamanya tak khawatir.

"Mama udah bangun? Maaf Sherra pasti ngebangunin Mama ya?" Mama Dinda menggeleng lemah. Berusaha untuk mendudukkan diri.

"Jangan banyak gerak dulu Ma" kata Sherra menidurkan mamanya kembali.

"Mama pasti haus kan?" Mama Dinda mengangguk. Sherra membantu ibunya untuk minum kemudian kembali merapihkan baju Mamanya yang sedikit terkena air.

"Mama makan dulu ya? Habis itu minum obat biar cepet pulih" kata Sherra sambil menyuapi mamanya. Sherra bersikap seolah tak mengetahui apa apa. Walaupun Mama Dinda terus bertanya tentang sakit yang di deritanya. Namun Sherra memilih untuk bungkam atau mengalihkan pembicaraan.

"Mama kapan boleh pulang?"

"Secepatnya ya Ma. Kalau badan mama udah enakan baru mama boleh pulang"Kata Sherra. Gadis itu memperbaiki selimut Mamanya saat dirasa waktu sudah terlalu larut dan sudah saatnya untuk tidur.

"Sherra... Apa tabungan kita masih ada?" Sherra tertegun sebentar.

"Masih Ma. Ada apa emangnya?" Mama Dinda terbatuk.

"Sekarang tanggal berapa?" Sherra melirik ponselnya.

"Tanggal 5 Ma. Kenapa? Tumben Mama nanya tanggal"Ujar Sherra sambil memijit kak ibunya.

"Besok tenggat tanggal untuk bayar utang ke Nyonya Jena. Kamu anterin uangnya ya?"

"Semuanya?" Mama Dinda mengangguk. Hati Sherra semakin mencelos. Gadis itu mengangguk pasrah.

"Mama kok gak ngomong, kalau Mama mimjem uang sama keluarga mereka?" Mama Dinda terbatuk lagi.

"Bukan gak ngomong, Mama rasa emang kamu gak perlu tau tentang ini"

"Tapi akhirnya Sherra tau juga kan?" Dalam keadaan lemah Mama Dinda terkekeh.

"Emang Mama minjem uang buat apa? Hasil jualan bunga lagi seret ya?"

"Itu.... Cicilan buat bayar rumah kita" jawab Mama Dinda. Sherra memelototkan matanya.

"Kalau mama gak minjem uang buat beli rumah. Kita gaakan punya tempat tinggal. Mama gamau kamu hidup di jalanan, mama pingin kau hidup dengan nyaman" Sherra benar benar tak menyangka dengan ucapan yang dilontarkan sang ibu. Seumur hidup dengan wanita paruh baya itu, Sherra sama sekali tak mengetahui fakta ini.

Yang ia tau adalah rumah yang ia tempati adalah hasil berjualan ibunya.

Yang rupanya....

"Kamu bayarkan semua tabungannya. Bilang Bu Jena. Sisanya akan Mama lunasi secepatnya"

Sherra terdiam. Dalam keadaan serba kekurangan seperti ini rasanya Sherra tak rela harus menyerahkan seluruh sisa uang yang mereka punya. Katena disaat itu terjadi, sudah dipastikkan takkan ada lagi harapan untuk Mama Dinda bertahan lebih lama.

Dan Sherra tak ingin hal itu terjadi.

...TOXICSERIES...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!