Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANGKITNYA KEKUATAN KEGELAPAN DALAM DIRI
Di tengah danau yang sunyi, di mana debu kehancuran masih beterbangan di udara, tubuh Lucas terbaring tak bernyawa di samping altar batu. Kristal Harmoni telah direnggut, Diana ditawan, dan kegelapan tampak telah memenangkan segalanya, tetapi di dalam Lucas, sesuatu yang kuno dan tidak diketahui mulai bergerak, sebuah kekuatan yang jauh melampaui elemen air yang selama ini ia gunakan, dan itu terbangun perlahan di tengah kehampaan.
Rasa sakit yang membakar seluruh tubuhnya kini bukan lagi dari serangan Master Brian, melainkan dari proses regenerasi yang mengerikan, setiap selnya seakan dirobek dan dibangun kembali oleh energi yang bukan berasal dari dunia ini. Gelombang gelap mengalir di nadinya, berbenturan dengan sisa-sisa elemen airnya, menciptakan badai di dalam dirinya yang tidak dapat dipahami.
Mata Lucas, yang tadinya meredup, tiba-tiba terbuka. Namun, bukan lagi mata biru yang penuh tekad, melainkan mata merah menyala yang memancarkan aura kegelapan, menandakan bahwa ia bukan lagi Lucas yang sama. Seringai tipis muncul di bibirnya, seringai yang tidak pernah Diana atau siapa pun lihat, seringai yang penuh dengan kekuasaan.
Ia bangkit perlahan, tubuhnya masih terasa berat, tetapi dengan setiap gerakan, kekuatan baru mengalir masuk, mengisi kekosongan yang ditinggalkan elemen airnya. Luka bakar di sekujur tubuhnya sembuh dengan cepat, menyisakan kulit yang seakan terukir pola-pola aneh, pola-pola yang tampak seperti simbol iblis.
Master Brian dan Raven telah pergi, meninggalkan Lucas sendirian di danau yang sunyi, namun kepergian mereka hanya memberinya ruang untuk sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Ia mengangkat tangannya, dan kali ini, bukan air yang berputar, melainkan bayangan pekat yang menari di telapak tangannya, bayangan yang terasa dingin dan mematikan.
Kekuatan iblis yang bangkit dalam dirinya adalah warisan yang terkunci, terkubur jauh di dalam garis keturunannya, menunggu saat yang tepat untuk muncul. Sejak kecil, Lucas selalu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, sebuah bisikan samar yang terkadang muncul di saat-saat paling putus asa, sebuah kekuatan yang ia tekan dalam-dalam karena ia tidak mengerti.
Kilas balik melintas di benaknya, sebuah memori yang terkubur dalam-dalam, jauh sebelum ia masuk ke Akademi Bayangan Utara. Ia melihat dirinya yang masih kecil, terbaring tak berdaya di reruntuhan sebuah desa yang terbakar, orang tuanya terbunuh di hadapannya oleh sekelompok pembunuh tanpa ampun, dan ia adalah satu-satunya yang selamat dari kejadian mengerikan itu.
Saat itu, dalam keputusasaan yang mendalam, saat ia merasa tidak ada harapan, sebuah suara berbisik di benaknya, suara yang gelap dan menggoda, menjanjikan kekuatan untuk membalaskan dendam, kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri agar ia tidak pernah lagi merasa selemah itu, kekuatan yang ia tolak, karena ia masih kecil.
Kekuatan itu adalah benih iblis, warisan dari leluhurnya yang pernah membuat perjanjian dengan entitas gelap untuk mendapatkan kekuatan tak terbatas, sebuah perjanjian yang harus dibayar mahal oleh generasi-generasi selanjutnya, dan kini benih itu tumbuh subur di dalam Lucas, setelah ia tewas.
Di tengah reruntuhan desa itu, ia melihat bayangan hitam keluar dari tubuhnya, bayangan yang melayang di atas tubuhnya yang kecil, menawarkan perjanjian yang sama, perjanjian untuk hidup dan mendapatkan kekuatan, tetapi dengan harga yang harus dibayar, yaitu kehilangan sebagian dari kemanusiaannya, dan ia menolaknya, karena ia ingin menjadi pahlawan.
Namun, benih itu tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia bersembunyi di dalam jiwanya, menunggu saat yang tepat, menunggu sampai Lucas mencapai titik terendah dalam hidupnya, titik di mana keinginan untuk bertahan hidup dan membalaskan dendam melampaui semua keraguan dan ketakutan, dan momen itu datang saat ia tewas melindungi Kristal Harmoni.
Serangan Petir Gelap Master Brian, meskipun mematikan, telah menjadi katalisator. Energi destruktif itu membuka gerbang yang terkunci, melepaskan kekuatan yang selama ini terpendam. Kematiannya bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan yang lebih gelap dan kuat.
Lucas ingat betul bagaimana Master Loe selalu melatihnya untuk mengendalikan emosi, mengajarkannya bahwa amarah dan kesedihan bisa menjadi pisau bermata dua. Ia kini memahami mengapa, karena emosi itulah yang bisa menjadi celah bagi kekuatan gelap untuk menguasai dirinya sepenuhnya, dan ia merasakan amarah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia kini bukan lagi pembunuh bayaran yang hanya mengandalkan elemen air. Kekuatan iblis itu telah memberinya kemampuan baru, manipulasi bayangan yang lebih kuat dari Raven, kecepatan yang tak tertandingi, dan ketahanan yang luar biasa, tetapi ada harga yang harus dibayar, yaitu dirinya akan kehilangan jati dirinya.
Meskipun begitu, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada secercah cahaya, ingatan akan Diana, janji untuk membalaskan dendam Master Loe, Niama, dan Ellyza, dan ia tahu kekuatan ini, seberapa pun gelapnya, harus digunakan untuk tujuan itu, untuk menghentikan Master Brian, dan ia kini merasakan keinginan untuk mengalahkan Master Brian.
Lucas menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam, merasakan energi gelap itu menyatu dengan setiap serat tubuhnya. Ini adalah kekuatan yang tidak pernah ia minta, tetapi ia akan menggunakannya, ia akan menguasainya, dan ia akan memastikan Master Brian membayar semua perbuatannya, membayar setiap tetes darah, setiap air mata, dan setiap kehancuran yang ia timbulkan.
Dengan kesadaran penuh akan kekuatan barunya, Lucas mengulurkan tangannya, dan sekejap, bayangan-bayangan di sekelilingnya bergerak mengikuti kehendaknya, membentuk cakar tajam yang bisa merobek batu sekalipun, lalu lenyap dalam hembusan angin. Kecepatannya kini luar biasa, ia bisa melesat dari satu sisi danau ke sisi lain dalam sekejap mata, meninggalkan riak air yang nyaris tak terlihat, sebuah demonstrasi kekuatan yang menakutkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
Kekuatan ini, meski memberinya keunggulan, datang dengan harga yang tak terduga. Lucas merasakan sebagian emosinya memudar, digantikan oleh ketenangan dingin yang mengerikan. Kemarahan yang membara atas kematian Ellyza, kesedihan karena kehilangan Diana, bahkan tekad untuk membalas dendam, semua terasa samar, seolah dibungkus lapisan es.
Ia berdiri di tepi danau, menatap pantulan wajahnya sendiri, dan di sana, ia melihat mata merah menyala yang asing, bukan lagi matanya yang dulu. Senyum yang tersungging di bibirnya terasa hampa, tanpa kehangatan yang pernah ia miliki. Bagian dari dirinya, kemanusiaannya, seakan telah terkikis oleh kekuatan gelap ini, dan kesadaran itu menghantamnya dengan kejam.
Lucas tahu jika ia kembali ke Sekte Pedang Berbunga sekarang, dalam kondisi seperti ini, ada kemungkinan ia juga akan membunuh orang tak bersalah, siapa pun yang menghalangi jalannya, tanpa ragu, tanpa belas kasihan, bahkan Diana bisa menjadi korbannya. Kekuatan ini begitu besar, begitu liar, sehingga ia takut tidak bisa mengendalikannya saat berhadapan dengan musuh-musuhnya.
Maka dari itu, Lucas mengambil keputusan berat untuk mengasingkan diri. Ia harus pergi, menjauh dari peradaban, menjauh dari siapa pun yang bisa ia lukai. Ia perlu waktu, waktu yang cukup untuk memahami kekuatan baru ini, untuk menjinakkannya, dan untuk mencegah dirinya menjadi monster yang Master Brian inginkan.
Ia menyadari bahwa Master Brian tidak akan membunuh Diana segera. Ia baru saja menyerap kekuatan Ellyza, kekuatan Petir Gelap yang mengerikan, dan Master Brian membutuhkan waktu untuk menyempurnakan kekuatan itu sebelum ia bisa kembali menyerap kekuatan Diana. Lucas tahu Master Brian adalah ahli strategi, dan ia tidak akan melakukan langkah ceroboh.
Di waktu itulah, Lucas harus benar-benar bisa mengendalikan kekuatan iblisnya. Ia harus menemukan keseimbangan antara kegelapan yang kini bersemayam dalam dirinya dan secercah cahaya kemanusiaan yang masih ia miliki. Ia tidak bisa membiarkan dirinya sepenuhnya dikuasai, karena jika itu terjadi, ia tidak akan berbeda dengan Master Brian.
Lucas menghilang ke dalam hutan, menyatu dengan bayangan, meninggalkan danau sunyi itu. Ia bergerak tanpa tujuan, hanya mengikuti naluri untuk menemukan tempat terpencil yang bisa menjadi tempat latihannya. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari dunia manusia, semakin dalam ke dalam kegelapan yang kini menjadi bagian dari dirinya.
Selama pengasingannya, ia akan bertarung dengan dirinya sendiri, melawan godaan kekuatan, melawan bisikan-bisikan gelap yang mencoba menguasai pikirannya. Ia akan menguji batas kemampuannya, mendorong dirinya hingga ke titik puncaknya, semua demi satu tujuan: kembali dan menyelamatkan Diana, serta membalaskan dendam mereka semua.
Ia akan berlatih tanpa henti, mempelajari setiap aspek dari kekuatan iblisnya, bagaimana cara memanipulasi bayangan dengan presisi mematikan, bagaimana meningkatkan kecepatannya hingga tak terlihat, dan bagaimana mengeraskan tubuhnya untuk menahan serangan terkuat sekalipun. Semua itu dilakukan dengan pikiran yang dingin, nyaris tanpa emosi.
Dalam kesendiriannya, ia akan mengingat wajah Diana, tawa Master Loe, keberanian Ellyza, dan kebaikan Niama, mencoba berpegangan pada kenangan-kenangan itu sebagai jangkar, sebagai pengingat akan tujuan utamanya, agar ia tidak tersesat sepenuhnya dalam kegelapan yang kini ia bawa.
Pengasingan ini adalah pertaruhan besar. Jika ia gagal, jika kegelapan menguasainya, maka tidak ada harapan lagi bagi Diana atau dunia ini. Namun, Lucas, dengan tatapan mata merah menyalanya yang dingin, kini bertekad untuk menang, apa pun harganya.
Ia akan kembali. Tidak sebagai Lucas yang lama, tetapi sebagai entitas yang lebih kuat, lebih gelap, dan lebih berbahaya dari siapa pun yang Master Brian pernah hadapi. Kali ini, ia tidak akan gagal, ia akan memastikan keadilan ditegakkan, bahkan jika ia harus mengorbankan bagian terakhir dari jiwanya.