Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap
"Mas Darma kok belum pulang juga, ya?" gumam Raisa, jarinya lincah memeriksa layar ponselnya.
"Chat juga nggak dibaca. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi?"
"Kamu ke mana sih, Mas?" Raisa mulai menggerutu, kecemasan mulai merayapi hatinya.
Perasaan tidak enak mulai menghantuinya, membisikkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuatnya semakin gelisah.
Namun, penantiannya akhirnya membuahkan hasil. Dari kejauhan, dia mendengar suara familiar, suara seseorang membuka pagar rumahnya. Raisa terperanjat, jantungnya berdegup kencang.
"Mas Darma!" seru Raisa dengan nada lega bercampur rindu, bergegas menghampiri suaminya. Dia menyambut kedatangan Darma dengan senyuman yang dipaksakan, matanya tampak sayu dan lelah.
"Baru pulang, Mas?" sapa Raisa lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang masih menggelayuti hatinya.
Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, Darma menatap Raisa yang sudah menunggunya sejak sore. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat, hanya tatapan kosong yang menusuk.
"Kamu belum tidur?" tanya Darma dengan nada dingin dan datar, lalu melengos masuk ke dalam rumah, seolah Raisa hanyalah hantu yang tak terlihat.
"Belum, Mas. Aku sengaja nungguin kamu," jawab Raisa, berusaha tetap tegar meski hatinya terasa perih.
"Kok baru pulang, Mas?" tanya Raisa lagi, mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.
Darma terdiam, tatapannya kosong dan dingin. Dia masih enggan menjawab pertanyaan Raisa. Wajahnya tampak kesal dan lelah.
"Mas!" panggil Raisa seraya mengejar Darma, berusaha menghentikannya.
"Aku capek, kamu nggak usah banyak nanya," ucap Darma ketus, seraya mengambil handuk dari gantungan dan berjalan menuju kamar mandi. Nada bicaranya terdengar kasar dan tidak sabar.
"Kamu mau mandi?" tanya Raisa penasaran, heran karena Darma tidak memintanya menyiapkan air panas seperti biasanya.
"Ya, terserah aku lah! Kamu kok jadi banyak nanya sih?" celetuk Darma dengan nada membentak, seraya membanting pintu kamar mandi dengan keras.
"Astaga, Mas!" ucap Raisa kaget, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
Kemudian, dia masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai, lalu duduk termenung di tepi ranjang.
Raisa mencoba memejamkan matanya, namun tiba-tiba dia mendengar suara Darma berbicara dengan seseorang di telepon.
"Iya, jangan khawatir, aku udah sampai kok. Ini aku baru selesai mandi," suara Darma terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, sangat berbeda dengan nada bicaranya saat berbicara dengannya.
"Biarin aja lah kalau sampai dia denger, aku udah nggak peduli," kata Darma lagi, bahkan tidak berusaha mengecilkan suaranya.
"Kamu juga istirahat ya, jangan tidur malam-malam."
"Sampai jumpa besok."
"I love you, much."
Sepertinya percakapan itu telah berakhir dan sekarang suasana tampak hening.
Deg ...
Jantung Raisa terasa sesak, dadanya terasa seperti dihimpit beban berat. Rasanya dia ingin meledakkan amarahnya, meluapkan semua kekecewaan dan sakit hati yang selama ini dia pendam.
Di ruang tengah, Darma tampak asyik memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri, seolah tidak ada masalah apa pun yang terjadi.
"Mas, aku mau bicara," ungkap Raisa dengan nada kesal, menatap Darma yang sedang tiduran di atas sofa.
"Besok saja ya, aku sedang sibuk," ucap Darma dengan nada malas, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Raisa yang berdiri di hadapannya.
"Sibuk chatting sama selingkuhan kamu?" celetuk Raisa kontan, membuat Darma menghentikan kegiatannya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu tuh kenapa cerewet banget sih?" tanya Darma dengan nada kesal, tidak suka dengan pertanyaan Raisa.
Raisa melongo mendengar ucapan Darma, hatinya semakin hancur berkeping-keping.
Napas Raisa semakin berat melihat tingkah Darma yang semakin berani menunjukkan kalau dia sedang berselingkuh. Dia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
"Aku mau ngomong sama Tiwi, selingkuhan kamu itu!" ucap Raisa dengan nada sedikit agak tinggi, matanya menantang Darma. Mata Darma langsung melotot ke arah Raisa, menunjukkan kemarahannya.
"Awas saja kalau kamu berani macam-macam sama dia!" sahut Darma dengan nada mengancam, dia masih melotot menatap Raisa.
"Emang kenapa?: tanya Raisa dengan nada sedikit tinggi.
"Ya, aku nggak suka aja! Kamu nggak berhak ikut campur urusanku!" ucap Darma sambil mengangkat kepalanya, menatap Raisa dengan tatapan meremehkan.
"Mas, apa sih alasan kamu selingkuhin aku?"
"Kamu mau tahu alasannya?"
"Iya, aku mau dengar alasan kamu! Aku berhak tahu kenapa kamu tega menghancurkan pernikahan kita!"
"Kamu itu membosankan! Aku jenuh dengan pernikahan kita! Setiap hari aku harus melihat wajahmu yang itu-itu saja!" celetuk Darma dengan entengnya mengatakan itu tanpa memperdulikan perasaan Raisa.
"Cuman karena jenuh kamu selingkuh, Mas?" tanya Raisa, suaranya mulai bergetar menahan tangis.
"Tiwi itu bisa ngertiin aku! Dia jauh lebih baik dari kamu! Dia selalu ada buat aku, dia selalu membuatku bahagia!" sahut Darma membuat Raisa tersentak, tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kamu ngebandingin aku dengan wanita murahan itu? Kamu nggak punya hati!" dengan gemetar Raisa coba berbicara menimpali omongan Darma.
"Jangan pernah katakan itu lagi! Kalau tidak, aku akan..." Raisa hampir tidak bisa bernapas karena tercekik, lehernya terasa sakit dan sesak.
"Akan apa? Kamu mau menyakitiku? Silakan saja, aku sudah tidak peduli!" ucap Raisa dengan suara yang bergetar, sedang tangan Darma masih mencengkram leher Raisa dengan kuat.
"Aku sudah muak dan jijik sama kamu, Raisa! Kamu tuh seperti benalu! Apalagi setelah orang tua kamu nggak ada, kamu jadi semakin tidak berguna!" mata Raisa membelalak ke arah Darma,Selama 11 tahun ini, Darma tidak pernah memanggil namanya, selalu dengan sebutan sayang.
"Tiwi itu buat aku bahagia! Dia juga bisa mengambil hati Mamah dan Maudy! Dia anak dari Pak Sumardi, CEO dari perusahaan F&B!" ucap Darma membuat Raisa menangis histeris, Raisa tampak lemas kehabisan napas sekarang.
"Aku cuman ingin bahagia! Aku cuman mau Maudy dan Mamah bahagia! Apa itu salah?" teriak Darma dengan nada frustrasi.
"Gimana sama kebahagiaan aku dan Adam? Apa kami tidak penting buat kamu?" ucap Raisa dengan suara lirih.
Beberapa saat kemudian, dia mulai mengamuk lagi, membanting beberapa barang yang ada di sekitarnya. Suara bising itu membuat Adam terbangun dari tidurnya.
"Berisik! Adam mau tidur!" teriak Adam dengan polosnya, hal itu membuat Raisa menghampiri Darma agar dia berhenti membanting barang-barang yang ada di rumah itu.
"Mas, udah Mas! Jangan berisik, ada Adam!" ucap Raisa mencoba menenangkan Darma.
Darma malah semakin marah dan emosi, spontan saja Darma mengangkat tangannya...
Plak...
Darma menampar Raisa dengan sangat keras, pipinya terasa panas dan perih.
Mata Darma masih melotot menatap Raisa dengan tatapan penuh amarah.
"Mas!" ucap Raisa syok, tidak percaya Darma tega melakukan itu padanya.
Tanpa mereka sadari, Adam melihat adegan itu. Dia berdiri tidak jauh dari hadapan mereka, dengan wajah ketakutan.
"Ayah jahat!" teriak Adam sambil berlari menghampiri Darma, kemudian Adam menyerang Darma dengan menggigit tangannya.
"Adam!" teriak Darma sambil mendorong Adam dengan kasar, Adam pun tersungkur ke lantai, kemudian dia tantrum mulai berteriak histeris.
"Ayah jahat... Ayah jahat..." sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Melihat hal itu, Darma semakin kalut dan panik.
"Aku sudah muak dengan kalian berdua!" kata Darma sambil beranjak meninggalkan Raisa dan Adam yang menangis.
Darma tampak masuk ke dalam kamar, mengambil koper dan mengemasi beberapa barangnya. Melihat hal itu, Raisa menghampiri Darma, berusaha menghentikannya.
"Mau kemana, Mas? Jangan pergi, Mas!" tanya Raisa berusaha mencegah Darma pergi.
"Ini kan yang kamu inginkan? Bikin aku nggak nyaman di rumah ini? Sekarang aku pergi, kamu puas?" kata Darma sedikit membentak dengan nada suara yang tinggi.
"Mas, bukan begini caranya! Jangan pergi, Mas! Adam butuh kamu!" ucap Raisa berusaha menenangkan Darma.
"Ayo kita bicara baik-baik demi Adam, Mas! Jangan hancurkan keluarga kita!" kata Raisa lagi, memohon pada Darma agar tidak pergi.
"Apa yang mau kita bicarakan lagi, Raisa? Semuanya sudah jelas! Aku sudah tidak cinta lagi sama kamu!" Mata Darma menatap Raisa dalam-dalam sekarang, tatapan yang tidak lagi memancarkan cinta.
"Aku merasa bahagia dan nyaman di samping Tiwi! Dia bisa memuaskan aku, apa kamu bisa memuaskan aku saat usiamu sudah tua? Warisanmu juga sudah habis!" ungkap Darma sekarang nada bicaranya sudah mulai turun, namun kata-katanya tetap menyakitkan.
Padahal, seluruh warisan Raisa dipakai untuk membangun bisnis Darma, dia rela berkorban demi kebahagiaan suaminya.
"Saat berhubungan seks dengannya, aku tak harus menonton film porno! Dia selalu bisa membuatku bergairah!" kata-kata itu keluar dari mulut Darma dengan ringan tanpa rasa malu, tanpa memikirkan perasaan Raisa.
"Sebegitu tidak berseleranya aku sama kamu? Itu yang ingin kamu dengar? Baiklah, aku sudah mengatakannya!" Raisa sekarang terdiam mendengar ucapan Darma, hatinya hancur berkeping-keping.
"Aku benar-benar tak mengenalmu lagi, Mas," ucap Raisa lirih menatap Darma dengan tatapan kosong.
"Cukup, Raisa! Aku mau pulang ke rumah Mamahku! Aku sudah tidak tahan lagi hidup bersamamu!" sahut Darma pelan, namun kata-katanya menusuk jantung Raisa.
"Semua orang bisa berubah, Raisa! Dan aku sudah berubah! Aku bukan lagi Darma yang dulu kamu kenal!" ucap Darma lagi, berusaha meyakinkan Raisa.
"Mas, aku sudah mendampingimu selama 11 tahun! Kita sudah melewati banyak hal bersama!" Raisa mencoba menyelami perasaan Darma, barang kali ada sedikit cinta yang tersisa untuknya.
"Ya, dan itu sangat melelahkan, Raisa! Berpura-pura menjadi suami yang baik, berpura-pura mencintaimu!" ucap Darma nada suaranya sedikit bergetar, menunjukkan penyesalannya.
"Ibu ku benar, seharusnya aku meninggalkanmu beberapa tahun yang lalu! Aku sudah salah memilihmu!" sambung Darma lagi seraya menutup kopernya kemudian beranjak dari hadapan Raisa.
Tak lama kemudian, suara mobil terdengar meninggalkan garasi rumah itu. Darma pergi meninggalkan Raisa dan Adam.
Raisa masih terdiam, dia hanya menangis sesegukan, kemudian dia menghampiri Adam yang tampak merintih menangisi kepergian Darma, Ayahnya.
Mata Adam sekarang tampak memperhatikan Raisa, Ibunya.
"Mamah, Ayah pergi karena Adam nakal ya? Adam minta maaf," tanya Adam lembut, itu membuat hati Raisa semakin terluka.
"Nggak sayang, Ayah cuman mau ke rumah Nenek, nanti juga pulang kok," ungkap Raisa tersenyum sambil memeluk Adam erat-erat.
Hati Raisa benar-benar hancur saat ini, dia terus memeluk Adam dengan keterbatasannya, Adam mencoba menenangkan Mamahnya dengan mengelus kepala Raisa dan mengusap air matanya.
"Mamah jangan nangis, Adam baik, Adam pinter, Adam nggak nakal," celetuk Adam membuat air mata Raisa tak berhenti mengalir.
Dan di hari-hari berikutnya, Raisa setiap malam duduk di dekat jendela menantikan suaminya pulang ke rumah, namun hal itu tak pernah terjadi.