NovelToon NovelToon
JALAN MENUJU KEABADIAN

JALAN MENUJU KEABADIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Spiritual / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:38.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH.5

Pagi itu, suasana di meja makan keluarga Shen terasa lebih berat dari batu gunung.

Shen Yu duduk dengan lengan kiri yang dibalut kain tebal. Bau obat herbal yang menyengat tidak bisa menutupi ketegangan di udara. Shen Liang, ayahnya, menatap perban itu dengan mata merah, sementara ibunya, Liu Ying, menyendokkan bubur dengan tangan gemetar.

"Katakan," suara Shen Liang memecah keheningan, rendah dan parau. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu semalam? Itu bukan luka goresan ranting."

Shen Yu meletakkan sumpitnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap mata ayahnya. Ia tahu, kebohongan tidak akan melindunginya lagi.

"Ayah, Ibu... aku tidak hanya mencari rumput semalam," Shen Yu memulai, suaranya tenang namun tegas. "Seekor monster... sejenis kelelawar iblis, sedang memata-matai desa kita. Aku membunuhnya."

Prak!

Mangkuk di tangan Liu Ying jatuh, pecah berkeping-keping. Shen Liang membeku, wajahnya pucat pasi.

"Kau... membunuhnya?" bisik ayahnya tidak percaya. "Kau hanyalah anak kemarin sore! Bagaimana mungkin kau..."

"Aku sudah melangkah ke jalan itu, Ayah," potong Shen Yu. Tanpa ragu, ia mengaktifkan sedikit Qi di tubuhnya. Angin halus berputar di sekitar meja makan, membuat lampu minyak bergetar. Tekanan samar menyelimuti ruangan kecil itu.

Mata Shen Liang terbelalak. Ia mengenali energi ini. Itu adalah energi yang sama dengan orang-orang yang terbang di langit tempo hari.

"Kau..." Shen Liang berdiri, kursi kayunya terdorong ke belakang dengan kasar. Wajahnya memerah karena campuran amarah dan ketakutan yang luar biasa. "Kau bodoh! Kau sudah memakan umpan kematian! Apa kau pikir menjadi kultivator itu gagah? Itu jalan menuju neraka!"

"Kalau aku tidak membunuh monster itu, dia akan melapor pada tuannya, dan seluruh desa ini akan dibantai!" balas Shen Yu, berdiri menantang ayahnya untuk pertama kalinya. "Kita sudah dalam bahaya sejak hari itu, Ayah! Jika aku tetap menjadi petani biasa, siapa yang akan melindungi kalian saat mereka datang lagi?"

"Aku lebih memilih kau hidup sebagai petani pengecut daripada mati muda tanpa kuburan sebagai kultivator!" bentak Shen Liang. Napasnya memburu. "Aku melarangmu! Kau tidak akan pergi ke mana-mana! Aku akan mengurungmu di lumbung jika perlu!"

Shen Yu menatap ayahnya dengan sedih. "Ayah tidak bisa mengurung angin."

Shen Liang terdiam. Ia melihat tekad di mata putranya tekad yang keras seperti baja, sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bahu pria tua itu merosot. Ia merasa putranya yang penurut telah mati semalam, digantikan oleh orang asing ini.

Tanpa sepatah kata pun, Shen Liang berbalik dan keluar rumah, membanting pintu dengan keras.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Shen Yu kembali duduk perlahan, rasa bersalah menusuk hatinya.

"Yu'er," panggil ibunya lembut.

Shen Yu menoleh. Liu Ying tidak menangis. Wanita yang biasanya lembut itu kini memiliki tatapan yang anehnya tegar. Ia berjalan ke lemari tua di sudut ruangan, membongkar papan kayu tersembunyi di bawah tumpukan kain, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain biru lusuh.

"Ibumu ini tidak pintar, Yu'er. Tapi seorang ibu tahu kapan anaknya sudah tumbuh terlalu besar untuk rumahnya," ucap Liu Ying sambil meletakkan bungkusan itu di depan Shen Yu.

Shen Yu membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat dua benda.

Pertama, sebuah kantong kulit berisi kepingan perak dan tembaga. Itu adalah tabungan keluarga selama sepuluh tahun lebih. Cukup untuk membeli sawah baru, tapi kini diberikan padanya.

Kedua, selembar kulit binatang yang sudah sangat tua, berwarna kekuningan dan rapuh. Itu adalah sebuah peta.

"Ibu... ini..."

"Peta ini milik kakek buyutmu," jelas Liu Ying, matanya menerawang. "Dulu dia seorang pedagang keliling yang pernah bermimpi menjadi kultivator, tapi gagal. Dia menyimpan peta ini, berharap suatu hari keturunannya bisa melihat dunia yang tidak bisa ia jamah."

Shen Yu membuka peta itu. Itu adalah peta kasar Benua Selatan bagian pinggiran. Ada gambar pegunungan, hutan, dan lokasi kota-kota. Sebuah titik merah ditandai di salah satu lokasi: Sekte Awan Putih.

"Pergilah," bisik ibunya, menggenggam tangan Shen Yu erat-erat. "Ayahmu marah karena dia takut kehilanganmu. Tapi Ibu tahu... menahanmu di sini sama saja dengan membunuh jiwamu. Pergilah, cari takdirmu. Tapi berjanjilah satu hal..."

Air mata akhirnya menetes di pipi Liu Ying. "Tetaplah hidup. Jangan lupakan jalan pulang."

Shen Yu berlutut, bersujud tiga kali di depan ibunya. "Anak ini berjanji. Suatu hari, aku akan kembali dan membuat Ayah dan Ibu bangga."

Siang harinya, Shen Yu mengemasi barang-barangnya. Baju ganti, parang baru yang ia ambil dari gudang, peta, uang, dan tentu saja Giok Retak yang tergantung di lehernya.

Ia melangkah keluar rumah. Matahari bersinar terik. Tidak ada Shen Liang di halaman.

Shen Yu berjalan menuju gerbang desa. Setiap langkah terasa berat, seolah ada benang tak kasat mata yang menariknya kembali.

Saat ia sampai di batas desa, di bawah pohon beringin tua, ia melihat sosok familiar berdiri membelakanginya.

Itu ayahnya.

Shen Liang tidak berbalik. Ia hanya berdiri memandang sawah. Di samping kakinya, tergeletak sebuah bungkusan kecil berisi makanan kering dan daging bekal perjalanan.

Shen Yu tersenyum tipis, matanya memanas. Ia tidak memanggil ayahnya. Ia tahu ayahnya tidak sanggup mengucapkan selamat tinggal.

Ia memungut bekal itu, membungkuk hormat ke punggung ayahnya yang mulai membungkuk, lalu berbalik.

Dengan satu tarikan napas panjang, Shen Yu melangkah keluar dari batas Desa Qinghe.

Dunia luas yang kejam dan penuh keajaiban membentang di hadapannya. Mulai hari ini, dia adalah seorang pengembara di jalan keabadian.

1
saniscara patriawuha.
gasss polll
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
teguh andriyanto
cakep👍, tapi kesombongan membutuhkan kekuatan boy💪
MyOne
Ⓜ️8️⃣0️⃣7️⃣Ⓜ️
teguh andriyanto
nhahh, gt... baru seruu👍
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️2️⃣8️⃣5️⃣Ⓜ️
teguh andriyanto
baru pemurnian qi tahap 5 aja sesumbar loe... 100 chapter LG baru bisa🤣🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🐉⚔️
saniscara patriawuha.
gassssdd pollllllll...
༄⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Salsa Cuy
👍🏻🙏🏻
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👍🏻👍🏻👍🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😈👿😈Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!