NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di atas luka

Rumah besar keluarga Vance tidak pernah terasa seperti rumah. Bagiku, bangunan megah beralas marmer dingin ini hanyalah sebuah monumen dari kegagalan hidupku. Setiap sudutnya berbau parfum mahal dan kemunafikan. Dan malam ini, bau itu tercampur dengan aroma obat-obatan yang tajam serta hawa panas yang menguar dari tubuh pria yang meringkuk di atas tempat tidur king-size itu.

Brixton Alistair Vance. Pria yang tiga bulan lalu mengucapkan sumpah pernikahan di hadapan ratusan pasang mata dengan suara sedingin es. Pria yang kini, untuk pertama kalinya, terlihat begitu rapuh namun tetap mematikan.

Aku melangkah perlahan, membawa baskom berisi air hangat dan selembar kain putih. Langkah kakiku teredam oleh karpet tebal, namun entah bagaimana, ia tetap bisa merasakannya.

"Sudah kukatakan... keluar," suara itu serak, pecah oleh tenggorokan yang kering, namun tetap membawa racun yang sama.

Aku berhenti di sisi tempat tidur. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari wajahnya. Brixton berkeringat hebat. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini lepek menempel di dahi. Matanya terpejam rapat, alisnya bertaut seolah ia sedang berperang dalam mimpinya sendiri.

"Demammu sangat tinggi, Brixton. Kau harus dikompres," ucapku pelan, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil meskipun jantungku berdegup kencang karena cemas—dan takut.

Seketika, mata itu terbuka. Sepasang mata elang yang biasanya tajam, kini tampak merah dan berkaca-kaca karena panas tubuhnya. Namun, sorot kebencian di dalamnya tidak memudar sedikit pun. Ia mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan napas yang memburu. Setiap gerakannya tampak seperti siksaan.

"Jangan berlagak... jadi istri yang berbakti," dia mendesis, napasnya panas menerpa udara. "Kau tahu persis... keberadaanmu di sini adalah alasan aku ingin mati."

Aku menghela napas, mengabaikan rasa perih yang menusuk ulu hati. "Aku tidak sedang berakting. Aku hanya tidak ingin kau mati di bawah pengawasanku. Ibumu akan menyalahkanku jika pewaris tunggalnya kehilangan nyawa karena demam."

Brixton tertawa. Itu adalah tawa yang pendek, kasar, dan penuh penderitaan. "Ibuku? Oh, tentu saja. Semuanya selalu tentang transaksi, bukan? Kau menyelamatkan namamu, dan aku... aku terjebak dalam neraka bersamamu."

Ia merenggut bantal di sampingnya dan melemparkannya ke arahku dengan sisa tenaga yang ia miliki. Bantal itu terjatuh di dekat kakiku. Tangannya gemetar hebat. Aku bisa melihat otot-otot lengannya menegang. Sisi gentleman yang dulu pernah aku dengar dari cerita-cerita orang, sisi pelindung yang konon sangat setia, benar-benar telah terkunci rapat di balik jeruji kebencian yang ia buat sendiri.

Aku memberanikan diri mendekat. Aku memeras kain hangat itu dan mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. Namun, sebelum kain itu menyentuh kulitnya, Brixton mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan yang mengejutkan untuk orang yang sedang sakit.

"Jangan. Sentuh. Aku."

Matanya menatapku dengan intensitas yang mengerikan. "Setiap kali kau menyentuhku, aku teringat betapa rendahnya aku karena tidak bisa menolak pernikahan sialan ini. Kau adalah simbol kegagalanku, Alana. Kau adalah luka yang dipaksakan untuk menutup luka yang lain."

"Aku juga tidak menginginkan ini, Brixton!" suaraku akhirnya meninggi, pecah oleh frustrasi yang kupendam selama berbulan-bulan. "Kau pikir aku senang melihatmu menderita? Kau pikir aku bahagia tinggal di rumah ini dengan pria yang setiap harinya mendoakan kematianku? Kita berdua korban di sini!"

Cengkeramannya mengendur, bukan karena ia setuju, tapi karena kesadarannya mulai goyah. Ia memalingkan wajahnya yang memerah ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam.

"Kau bukan korban," gumamnya, suaranya kini melirih, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri. "Kau adalah perusak. Karena kau ada, Elena... dia tidak akan pernah bisa kembali."

Nama itu. Nama yang selalu menjadi hantu di antara kami. Setiap kali nama itu keluar dari bibirnya, aku merasa seperti orang asing yang merampas tempat yang bukan milikku. Aku tahu, baginya, aku adalah penjahat yang menghancurkan dongeng indahnya dengan Elena.

"Elena sudah pergi, Brixton. Dan yang ada di sini sekarang adalah aku," kataku, kali ini dengan nada yang lebih lembut, hampir seperti bisikan iba.

"Itulah masalahnya," Brixton menoleh kembali padaku, air mata yang tidak disengaja jatuh dari sudut matanya, mungkin karena perih di matanya atau perih di jiwanya. "F*ck, aku benci wajahmu. Aku benci bagaimana kau menatapku seolah kau peduli."

Ia memejamkan mata lagi, tubuhnya merosot kembali ke kasur. Ia tampak kelelahan, energinya terkuras habis setelah ledakan amarah tadi. Aku diam sejenak, memperhatikan dadanya yang naik turun dengan tidak teratur.

Aku tahu, saat ini dia sedang berada di titik terendahnya. Ini adalah pertahanan terakhirnya. Hatinya yang dulu lembut dan penuh kasih sedang berteriak di balik tembok tinggi yang ia bangun. Ia menggunakan kebencian sebagai alat untuk bertahan hidup, karena jika ia berhenti membenciku, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dunia lamanya telah hancur selamanya.

Dengan sangat hati-hati, aku meletakkan kain kompres itu di dahinya. Kali ini, ia tidak melawan. Ia hanya mengerang pelan, sebuah rintihan yang terdengar sangat menyedihkan.

"Aku membencimu..." igauannya mulai terdengar tidak jelas saat ia mulai kehilangan kesadaran karena demam. "Pergi... Alana... pergi..."

Namun, meski mulutnya mengusirku, jemari tangannya yang besar secara tidak sadar meraih ujung bajuku, mencengkeramnya dengan erat seolah-olah ia takut aku benar-benar akan menghilang di kegelapan malam. Kontradiksi ini membuatku terpaku. Pria ini menghinaku dengan setiap kata yang ia punya, namun tubuhnya meronta mencari perlindungan yang hanya bisa kuberikan.

Aku duduk di kursi di samping tempat tidurnya, membiarkannya mencengkeram bajuku. Aku menatap wajahnya yang tertidur dalam kegelisahan. Sumpah yang kami ucapkan di atas altar tiga bulan lalu memang lahir dari luka, dan mungkin, kami ditakdirkan untuk saling menyakiti sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk hancur.

Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, aku menyadari satu hal. Pernikahan ini bukan sekadar penjara bagi Brixton, tapi juga medan perang bagiku. Dan babak pertama baru saja dimulai.

"Tidurlah, Brixton," bisikku pelan sambil mengusap punggung tangannya yang panas. "Bencilah aku sesukamu, jika itu memang satu-satunya cara bagimu untuk tetap bernapas."

Di luar, hujan mulai turun, membasuh jendela kaca besar kamar kami, seolah-olah langit pun ikut menangisi sumpah yang terjalin di atas luka-luka yang belum mengering ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!