NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Di sisi lain, Serly tampak pucat pasi melihat Yudha yang kini menatapnya dengan tajam, seperti pisau yang menusuk ke inti jiwanya. Dia baru saja kembali ke rumah sakit setelah bertemu teman lamanya, meninggalkan Arya sendirian di kamar.

"Kak, maaf, aku benar-benar tidak bermaksud meninggalkan Arya sendirian. Tadi dia tidur, jadi aku pikir tidak apa-apa kalau aku bertemu temanku sebentar saja. Tapi tiba-tiba dia mengeluh sakit perut, dan aku harus menemani dia pemeriksaan dulu," ucap Serly terbata-bata, mencoba meyakinkan Yudha. Kata-katanya tulus, tidak ada kebohongan di sana.

Namun, Yudha tetap berdiri kaku, wajahnya dingin dengan sorot mata tajam yang menusuk. "Kamu selalu seperti ini, Serly. Aku tahu Arya bukan darah dagingmu, tapi kalau kamu ingin menjadi istriku, kamu harus menerima Arya sebagai anakmu. Tapi apa? Kamu selalu meninggalkannya."

Nada suaranya pelan tapi berisi kemarahan yang terpendam, seperti badai yang siap meledak.

"Ini bukan sekali atau dua kali, Serly. Sudah berkali-kali. Aku pikir setelah kejadian terakhir, saat Arya berkeliaran sendirian di perusahaanku, kamu akan belajar. Tapi ternyata apa? Kamu ulangi lagi."

Serly merasa jantungnya berdentam keras. Dia mencoba melawan rasa takut yang menjalari tubuhnya. "Ya, Kak, aku mengaku salah. Tapi temanku sedang dalam keadaan darurat. Dia sedang hamil, dan suaminya tidak ada. Aku benar-benar tidak bermaksud mengabaikan Arya," ucapnya lirih, hampir seperti bisikan.

Dia mendekat, mencoba menjangkau lengan Yudha, tapi dia hanya menoleh dingin. Serly menahan air mata yang mulai menggenang. "Kak, aku janji, ini terakhir kalinya. Aku tidak akan mengulangi ini lagi. Aku benar-benar minta maaf."

Namun, jauh di dalam dirinya, Yudha tahu amarahnya bukanlah solusi. Dia tetap pada pendiriannya, keras kepala seperti karang yang dihantam ombak. Tapi sisi lain dari hatinya mulai melemah, mengingat jasa kakak Serly yang begitu besar dalam hidupnya. Ada rasa hutang budi yang menahan lidahnya untuk tidak menyuarakan lebih banyak kemarahan.

Di tengah pergulatan batinnya, suara kecil Arya terdengar samar, memanggil di antara keheningan. Bocah itu sudah mulai terganggu dengan suara perdebatan mereka yang tak kunjung usai. Rasa bersalah menusuk Yudha seperti duri tajam. Dia menarik napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang mendidih.

"Bayu sudah mengurus surat kepulangan Arya. Kita pulang malam ini," ucap Yudha akhirnya, suaranya datar, hampir tanpa emosi. Itu bukan permintaan, melainkan perintah yang tak bisa dibantah.

Serly hanya mengangguk kecil, menundukkan kepala. Dia tahu tak ada gunanya membantah, tak ada ruang untuk alasan lagi. Hanya ada keheningan di antara mereka, sebuah jarak yang tak terlihat namun terasa begitu nyata.

Arya, yang kini sudah terbangun dan tidak lagi tampak lemas, menatap mereka dengan mata yang polos namun penuh tanya. "Ayah, nggak boleh marah-marah," kata Arya dengan suara kecil, namun penuh ketegasan anak-anak yang tak mengerti mengapa orang dewasa bertengkar. "Tadi waktu Bibi Serly pergi, Arya ada yang nemenin."

Dahi Yudha mengkerut. "Siapa yang nemenin Arya?" pikirnya bingung. Mereka baru beberapa hari di Indonesia, dan belum mengenal siapapun selain orang-orang yang ada di rumah sakit. Apakah itu perawat? Namun, Yudha tak ingin mengambil risiko apapun mengenai keselamatan anaknya. Hatinya gelisah, khawatir akan hal-hal yang tak terduga.

"Arya," Yudha berkata dengan suara pelan namun tegas, "lain kali, kalau bukan orang yang kamu kenal, jangan terlalu dekat, ya." Ada kekhawatiran dalam nada suaranya, meski dia berusaha terlihat tenang.

Namun, Arya dengan polosnya hanya menggeleng dan melanjutkan, "Tapi tante itu baik, Ayah. Tante bantuin Arya buang air besar, tadi juga bantuin Arya mengelus perutku." Suaranya penuh rasa terima kasih, tidak tahu bahwa Yudha merasakan kecemasan yang mendalam.

Serly yang melihat kenyamanan dengan orang lain merasa tidak suka, "Arya dengar kata Ayah. Lain kali gak boleh dekat sama orang yang gak dikenal."

"Tapi Bi-"

Yudha menatap anaknya, matanya tajam namun penuh kebingungan. "Oke, lain kali kalau ketemu, kita bilang terima kasih," ucapnya, berusaha menenangkan diri meski perasaan gelisah terus menggelayuti hatinya dan mengabaikan Serly.

Setelah itu, Yudha membantu Arya berganti pakaian dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang terluka atau terabaikan. Suasana antara mereka canggung, namun penuh kasih sayang yang tak diungkapkan dengan kata-kata. Yudha mengangkat Arya dengan hati-hati dan membawanya pulang ke rumah, perasaan cemas masih menyelimuti pikiran Yudha, meskipun ia berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya.

Sementara itu, Sonya sedikit tenang, Intan mengantarnya sampai di lobi rumah sakit. Karena masih ada beberapa pekerjaan katering yang harus diurus oleh Sonya, Intan kembali mengingatkannya. "Kamu hati-hati dan fokus pada kerjaan, jangan macam-macam," peringat Intan sekali lagi.

"Iya, Kak, tenang saja," balas Sonya sambil tersenyum ramah sebelum melangkah lebih jauh untuk pulang.

Intan yang kini ingin kembali ke ruang rawat Sasa berdiri menunggu di depan lift. Ketika pintu lift terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok Yudha. Matanya membelalak hampir tak percaya.

Di dalam lift, Yudha terlihat menggendong seorang anak lelaki kecil dengan penuh kehangatan, sementara di sampingnya berdiri seorang wanita anggun yang menggandeng lengannya.

Sebelumnya, Sonya memang sudah memberitahunya tentang situasi Yudha. Harusnya, Intan tidak terkejut lagi, tetapi ada satu hal yang membuatnya sulit untuk percaya begitu saja, anak laki-laki yang kini digendong Yudha.

"Ayah, tante ini tadi yang membantuku," kata Arya dengan suara ceria, menunjuk ke arah Intan yang kini juga tengah memandanginya dengan tatapan penuh kebingungan.

Yudha menatap Intan, matanya tajam namun penuh kesan berat. "Sepertinya kita tidak lagi memiliki hutang satu sama lain, terima kasih sudah membantu anak saya," ucapnya, suaranya datar, namun ada kesan yang sulit diungkapkan. Terimakasih, namun juga ada ketegangan di antara mereka.

Intan mencoba memberi senyum yang lebih lebar, meskipun hatinya terasa bergejolak. "Jadi, Arya anakmu?" tanya Intan, masih berusaha menjaga sikap meskipun ada sedikit kebingungannya yang sulit disembunyikan.

Serly yang berada di samping mereka langsung menangkap kecurigaan dalam nada pertanyaan Intan. Ia merasa ada yang tidak beres, dan langsung menyela, "Sepertinya keluarga kami tidak terlalu dekat denganmu. Kenapa pertanyaanmu terdengar seperti itu?" Suaranya terdengar agak tajam, berusaha membela diri dan menjaga jarak dari segala pertanyaan yang terasa mengganggu.

"Oh, maaf. Itu sudah menjadi kebiasaan," jawab Intan dengan nada sedikit tergesa-gesa, mencoba mengalihkan perhatian. Namun, jelas sekali dia tidak terlalu suka dengan cara Serly berbicara.

"Bibi tidak boleh berbicara seperti itu," Arya membela, dengan suara manis, tanpa memahami sepenuhnya ketegangan yang sedang terjadi di sekitarnya.

"Tapi Arya—" Serly mulai berbicara lagi, merasa risih dengan semua yang terjadi.

"Serly, sudah cukup!" Yudha menginterupsi dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. Suaranya mengandung peringatan yang keras, namun masih mengandung sedikit kelelahan. Ia menatap Intan kembali dengan serius. "Ini anak saya, dan sekali lagi terima kasih sudah merawatnya."

Melihat Intan mengangguk, Yudha dengan sopan berkata, "Kami pergi dulu."

Intan, yang masih terkejut dengan fakta barusan, terus menatap tiga punggung yang kini mulai menjauh darinya. Hatinya terasa berat, seolah setiap langkah mereka yang menjauh semakin mengikis keyakinannya.

"Kenapa takdir begitu mempermainkanmu, Sonya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!