Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 KENANGAN SEDIH ITU
Anita Tumbler terbangun keesokan harinya di bawah sinar cahaya Matahari yang bersinar terang.
"Selamat pagi, Anita..."
Anita Tumbler menoleh ke samping kanan, tampak Tarsius Wilson dengan mata besarnya sedang duduk menghadap ke arahnya.
"Kau kesiangan, Anita..."
"Yah, tubuhku begitu letihnya sehingga aku terlelap nyenyak."
Anita Tumbler tersenyum simpul lalu beranjak bangun dari atas sofa panjang.
"Selamat pagi, Tarsius Wilson..."
"Aku sudah menyiapkanmu sarapan pagi, sejak tadi aku menunggumu bangun, mungkin segelas susu hangat serta roti isi akan menambah semangatmu, Anita."
Anita duduk tercengang ke arah tatakan alumunium yang disodorkan oleh Tarsius Wilson kepadanya.
"Kau sendiri yang memasaknya, Tarsius ?"
"Ya, benar, sejak pagi tadi aku telah menyiapkan sarapan untukmu."
"Apa yang kau telan, Tarsius buat makananmu ?"
"Sedikit serangga, ular kecil atau hewan kecil lainnya lumayan buat mengganjal perutku, Anita."
"Kau tidak mengisi rotiku dengan serangga dan ular kecil yang kamu telankan, Tarsius."
"Sama sekali tidak, Anita."
Anita merenggangkan tubuhnya sembari mengangkat kedua tangannya ke atas lalu berdiri cepat.
"Aku akan pergi membersihkan diri sebelum sarapan pagi, kau tahu dimana letak kamar mandinya, Tarsius."
"Tidak tersedia kamar mandi di dalam, letak kamar mandi luar adanya di luar gedung ini, Anita."
"Yah, sepertinya aku terpaksa harus berjalan cukup jauh ke lantai dasar, tapi tak mengapalah."
"Apa kau tidak punya baju ganti, Anita ?"
"Emmm, sama sekali tidak, bagaimana aku berganti pakaian sedangkan rumahku rusak total akibat badai Tornado."
Anita memandangi dirinya sendiri kemudian menengadahkan pandangannya kembali kepada Tarsius Wilson.
"Memangnya kau punya saran buatku untuk mencari pakaian baru, Tarsius ?"
"Aku akan membuatkanmu sebuah gaun cantik, Anita."
"Oh, yah ? Rupanya kamu pandai sekali membuat pakaian ?"
"Tidak juga, aku punya sesuatu alat untuk membuat pakaian."
"Yah, apa itu, Tarsius ?"
"Tunggu sebentar, aku akan melihat di dalam kantung depan punyaku dulu, mungkin saja aku menyimpan mesin canggih itu."
"Memangnya kau ini robot atau seekor hewan, Tarsius ? Kenapa kau punya banyak barang langka di dalam kantung depanmu itu ?"
Anita menunjukkan ujung jarinya lurus ke depan sembari memperhatikan kantung di bagian depan badan Tarsius Wilson yang seekor primata mirip lemur.
"Aku ini seekor Tarsius sejati, primata langka dari negeri elok tropis di garis khatulistiwa, asalku sangat jauh dari sini, Anita Tumbler."
"Oh, ternyata kau bukan berasal dari negeri ini, Tarsius..."
"Ya, begitulah kira-kira..."
Tarsius Wilson merogoh ke dalam kantung miliknya yang ada di depan tubuhnya seperti dia sedang mencari sesuatu.
"Seharusnya ada alat pemintal atau semacamnya di kantungku ini, apa aku tidak memilikinya, ya... ???"
Tarsius Wilson terus mencari-cari ke dalam kantung bagian depannya, alat pembuat pakaian.
"Nah, ketemu !"
Tarsius Wilson mengeluarkan semacam mesin kecil berupa mesin jahit serta dua alat khusus pemintal benang dari dalam kantung depannya.
"Mari kita coba alat ini, apakah berfungsi atau tidak untuk membuat pakaian !"
"Rupanya kau punya kantung serba ajaib, Tarsius !"
"Begitulah kira-kira, sebab sebagai Tarsius langka dan bukan jadi-jadian aku tercipta sebagai seekor primata ajaib yang memiliki segudang keajaiban langit, Anita."
"Ooo... ?!"
Anita membuka mulutnya membentuk lingkaran bulat dengan kedua mata terbelalak lebar ke arah Tarsius Wilson.
"Tidak usah merasa kagum begitu."
"Tapi aku sangat mengagumi kehebatanmu itu, Tarsius."
"Mmm, kita akan mulai membuat baju baru untukmu, Anita !"
"Oh, iya, bagaimana caranya sedangkan kita tidak punya bahan untuk membuat pakaian baru, Tarsius ?"
"Gampang saja caranya, tinggal memintal benang atau serat yang ada maka kita bisa ciptakan bahan membuat pakaian.''
"Tapi kita tidak memiliki benang disini, Tarsius..."
Anita menolehkan pandangannya ke arah kanan dan kiri secara bergantian, mencoba mencari sesuatu untuk membuat pakaian, semacam benang atau tali di ruangan ini.
"Sebentar... !"
Tarsius Wilson melompat ke arah Anita Tumbler lalu mengambil segelai rambut dari kepala Anita.
"Ctes !"
Ditariknya sehelai rambut milik Anita dengan satu hentakan cepat.
"Kurasa dengan sehelai rambut milikmu maka aku bisa mulai memintal bahan buat pakaian, dan tidak butuh waktu lama maka akan selesai satu gaun untuk kau pakai nanti, Anita."
"Apa yang kau lakukan, Tarsius ?"
"Tunggulah sebentar, kau akan lihat sendiri hasilnya, Anita !"
Tarsius Wilson yang seekor primata langka berbulu putih dengan mata besar mulai memintal helai rambut panjang milik Anita menggunakan dua alat pemintal khusus yang berasal dari kantung depannya.
Jari-jemari mungil milik Tarsius Wilson mulai bergerak lincah menggerakkan dua alat pemintal ajaib.
Setiap gerakan tangan Tarsius Wilson disertai kilauan cahaya terang ketika dua alat pemintal itu menjalin setiap simpul rambut menjadi barisan rajutan.
Dan sekejap saja, telah jadi satu bahan untuk membuat pakaian.
Mata besar Tarsius Wilson membuka semakin lebar serta berkilat-kilat tajam saat satu bahan membuat pakaian telah jadi.
"Nah, tinggal membuat pakaian baru sekarang karena sudah ada bahan untuk itu !"
Tarsius Wilson menggeser alat mesin jahit kecil ajaibnya ke hadapannya, dan dia mulai menjahit pakaian baru untuk Anita Tumbler.
Sedangkan Anita Tumbler hanya duduk terbengong-bengong setiap dia memperhatikan ke arah Tarsius Wilson apa yang dilakukannya.
Suara mesin jahit terdengar aktif dari arah Tarsius Wilson saat primata langka itu sedang membuat pakaian baru untuk Anita.
Keseriusan jelas terlihat dari ekspresi wajah Tarsius Wilson setiap gerakan tangannya membuat pakaian di mesin jahit yang bergerak itu.
"Tunggu sebentar lagi maka jadilah satu gaun cantik untukmu, Anita !"
Gerakan jari-jemari mungil milik Tarsius Wilson sangat cekatan saat dia menjahit setiap lembaran potongan kain yang baru saja selesai dia pintal menjadi satu gaun utuh.
Selang lama kemudian, satu gaun hasil rancangan seekor Tarsius telah jadi.
"Selesai !"
Ucap Tarsius Wilson seraya mengangkat gaun buatan tangannya.
"Sekarang kau bisa memakai gaun baru ini, Anita !"
Tarsius Wilson memberikan gaun hasil buatannya kepada Anita Tumbler.
"Terima Kasih..."
Anita menjawab dengan ekspresi wajah tertegun ketika Tarsius memberikan gaun tersebut kepadanya.
"Cepatlah bersihkan dirimu lalu sarapan pagi !"
"Ya..., baiklah..."
Anita Tumbler beranjak bangun dari atas sofa panjangnya, dengan menggenggam gaun baru pemberian Tarsius Wilson, dia melangkah pelan menuju lantai bawah gedung megah ini.
Sejam kemudian, Anita telah selesai berganti pakaian baru, dan duduk di depan meja panjang di ruangan bawah.
"Kenapa kamu dikutuk hidup abadi, Anita ?"
"Panjang ceritanya..."
Anita menikmati roti isinya dengan segelas susu hangat.
"Kau bilang bahwa kamu punya suami bernama Wilson, benarkah itu ?"
"Adrian Wilson tepatnya, dia adalah suamiku, kami punya dua orang anak tapi takdir telah merenggut kebahagian kami..."
"Apa yang terjadi pada keluargamu, Anita ?"
Anita meletakkan gelas kosong kembali ke atas meja kemudian berkata, dengan ekspresi dingin.
"Aku tidak bisa menyalahkan sepenuhnya takdir hidup kami karena Tuhan lah yang mengatur semuanya, dan umur hidup keluargaku sangat lah singkat."
Anita menerawang jauh, teringat akan kisah hidupnya seratus tahun yang lalu.
"Seluruh keluargaku dibantai oleh sahabat karibku, bernama Samantha, dia putri walikota sekaligus ketua geng bersenjata api..."
Anita berkaca-kaca saat mengenang peristiwa yang memilukan dalam hidupnya itu lalu menatap sedih ke arah Tarsius Wilson.
"Karena itu lah aku menjadi manusia terkutuk oleh suamiku sendiri yaitu Adrian Wilson yang murka lantaran aku tidak pernah patuh pada ucapannya..."
Anita menahan nafasnya seraya menunduk murung lalu melanjutkan ucapannya lagi.
"Dan karena diriku maka seluruh keluargaku dihabisi oleh Samantha beserta anggota gengnya yang merampok seluruh harta kami, sementara itu dua anakku dan suamiku tewas terbunuh bersama anggota keluarga besarku lainnya malam itu..."