Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Naura sendiri yang sudah selesai mandi bingung.
"Ini tas gue kemana lagi dah!, masak gue harus Makai baju kurang bahan yang ada di lemari," gumam Naura bingung. Mencari tas nya yang tiba tiba lenyap.
Namun Naura bisa menduga, kalau yang terjadi sekarang ini pasti ulah ibu mertuanya.
Liliana dengan wajah angkuh, arogan dan juga dingin juga mempunyai sisi humornya. Dia sekarang merasa punya mainan baru dengan sering sering mengerjai Naura.
Akhirnya setelah puas membuat menantu nya kebingungan Liliana pun pergi menjauh meninggal kan kamar Naura Liam. Dengan senyuman jahil.
Naura pun memilih pakaian berwarna merah darah. Yang tidak begitu terbuka. Maksudnya tidak begitu terbuka di banding oleh lingerie yang lain.
Setelah selesai berpakaian Naura yang akan menuju ke atas ranjang di kaget kan dengan kedatangan seseorang yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
"Aron ngapain kamu?" tanya Naura yang langsung bergegas lari menuju ke atas ranjang dan tak lupa menutup tubuh nya dengan selimut.
Aron menganga melihat lekuk tubuh Naura yang punya badan ramping tapi dada yang lumayan besar. B0 kong Naura juga berisi. Membuat Aron melongo bahkan tidak bisa berkedip. Apalagi Naura yang hanya menggunakan G string perpaduan dengan lingerie merah yang dia kenakan membuat nya semakin hot.
Apalagi Naura berlari jika di slow motion. Gundukan kembar itu bergoyang goyang karena dia tidak memakai br4 dan bongkahan b0 kong yang terlihat jelas saat ber lari.
"Aku dari tadi mengetuk gak ada yang buka, makanya aku buka kan," sahut Aron datar dan berjalan mendekat ke arah Naura.
Liam dengan mata yang mulai memerah langsung masuk ke dalam kamar. Dia tidak rela milik nya selalu di ganggu oleh Aron sepupunya. Terlihat urat urat di tubuh Liam yang mulai keluar.
***
Di sebuah rumah mewah. Seorang gadis yang di dapuk sebagai pewaris tunggal keluarga Aisley sedang mengamuk. Dia sangat lah marah ke pada ke dua orang tuanya.
"Kenapa kalian tega membohongi kalau Liam sudah mati? Nyata nya Liam masih hidup. Aku bertemu dengannya tadi," ucap Cherly dengan tatapan nyalang menghunus kepada ke dua orang tua nya.
Glek. Ke dua orang tua Cherly menelan ludah nya yang terasa kelu di dalam tenggorokannya. Sebenarnya ke dua orang tua Cherly tidak ingin percaya, namun melihat kedua bola mata Cherly yang terlihat jujur. Akhirnya ke dua orang tua itu pun mempercayai ucapan anaknya.
"Nak kami sendiri datang ke pemakaman Liam, dan dia sudah terbujur kaku di dalam peti," kata Vivi ibu dari Cherly dengan wajah sendu.
Sekarang ini Vivi sangat merasa bersalah. Jika menoleh ke belakang, kematian Liam ada sangkut pautnya dengan dirinya. Sekarang ini hanya sebuah penyesalan lah yang menghantui pikiran seorang Vivi Aisley.
Sebelumnya Vivi merasa bersalah, karena tidak becus dalam mendidik dan menasehati anaknya. Karena setelah Liam di nyatakan koma, Liliana langsung melabrak dirinya dan mempermalukan di depan teman temannya saat sedang melakukan arisan dengan geng sosialitanya.
Saat itu Vivi hanya diam menunduk, dia tidak berani membantah apa yang Liliana ucapkan. Karena dia tahu, kalau dirinya itu bersalah.
Karena malau, Vivi memutuskan untuk sementara keluar dari geng sosialitanya itu. Tapi setelah 6 bulan dihantui rasa bersalah dan puncaknya adalah saat kematian Liam kemarin. Membuat jiwa seorang Vivi seakan goyah.
Tapi sekarang Vivi punya secercah harapan. Jika Liam memang masih hidup dia akan meminta maaf atas nama putrinya itu.
"Tapi kenapa tadi di restoran melihat Liam dengan seorang gadis lain?" tanya Cherly masih dengan amarahnya.
"Apa kamu bilang!" pekik Adam ayah dari Cherly.
Sedari tadi Adam memang diam, dia sedang mencerna apa yang di ucapkan oleh putri tercinta nya itu. Tak lupa sedari tadi dia juga berusaha mencari kebenaran tentang Liam yang akan menjadi menantunya.
"Bentar bentar Dad, lebih baik kita cari tahu kebenaran nya dulu." timpal Vivi dengan lembut, ia berusaha dengan sangat keras untuk meredam amarah suaminya.
Vivi sangatlah takut, kala melihat Adam yang mulai marah. Dia tidak mau Cherly melihat sisi gelap ayahnya itu. Karena kalau Adam sudah marah, akan melakukan hal apapun di luar nalar akal sehat.
"Pokoknya aku mau segera untuk menikah dengan Liam bagaimana pun caranya. kalau gak pertunangan ku dengan Liam tetap harus di lanjut," papar Cherly yang malah merebah kan tubuhnya di kasur.
Capek. Cherly merasa sangat capek dan tenaganya terkuras, karena seharian dia menangisi Liam.
"Kalau gitu mendingan kamu makan dulu ya sayang," titah Vivi, suaranya masih sama. Penuh dengan kelembutan.
Vivi nampak memberikan kode untuk beberapa pelayan yang sekarang ini berada di dalam kamar anaknya. Total ada lima pelayan. Dengan dua pelayan membawa nampan berisi makanan. Sisanya sedang membersih kan kamar milik putrinya itu.
"Iya sayang, Daddy takut jika penyakit kamu kambuh. Apapun yang terjadi, Daddy akan mengabulkan semua permintaan mu," kata Adam dengan ekspresi yang berubah lembut, bagaimana pun dirinya takut kalau sampai anaknya itu marah. Bahkan sampai sakit.
"Aku mau Liam Dad, aku sekarang sangat mencintai Liam. Hidup ku hanya berarti saat bersama Liam Dad, hiks hiks hiks," jawab Cherly parau di sela sela tangisannya. Iya, sekarang ini, dia kembali menangis.
"Ini sayang makan dulu ... Biar Mamah suapin ya!" tawar Vivi sembari menyodorkan sendok yang sudah terisi makanan ke arah mulut anaknya.
Dengan kasar Cherly menepis sendok dari tangan ibunya itu.
"Kalau mamah dan Daddy tidak mau ber janji untuk melanjut kan perjodohan aku dan Liam . Pokoknya aku tidak mau makan," ucap Cherly dengan nada marah sembari kembali rebahan ke kasur.
Cherly mengancam mogok makan, ia menutup wajah dan tubuhnya dengan selimut yang memang sudah ada di ranjangnya.
Vivi hanya bisa mengelus dada melihat tingkah putrinya. Sudah biasa Cherly melakukan hal kasar padanya.
Karena dari awal memang Adam memang terlalu memanjakan putri semata wayangnya itu. Vivi yang memang mengalah memilih menuruti Adam. Untuk selalu menuruti apa yang putrinya itu minta.
"Baik kalau Daddy sudah bisa memastikan, jika memang Liam masih hidup. Daddy berjanji akan tetap menjodohkan mu dengan Liam, bahkan mengatur kembali tanggal pertunangan kalian." Ucapan yang barusan keluar dari mulut Adam langsung membuat Cherly girang, bahkan ia terlihat bangkit dari ranjang seraya membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kalau gitu sekarang makan lah," titah Adam.
Vivi menatap suaminya dengan tidak percaya. Bagaimana bisa Adam yang tahu jika penyebab kematian dan Liam koma adalah putrinya, malah berniat melakukan hal yang mana akan menyakiti keluarga Liam. Kenapa? Mata Vivi menatap suami nya dengan penuh tanda tanya.