NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Lima tahun kemudian: Sosok kecil yang cerdas

Lima tahun kemudian, sosok kecil yang cerdas sedang duduk di tepi pantai sambil menatap hamparan laut luas dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat besar. Anak laki-laki itu memiliki sepasang mata yang sangat tajam dan berwarna gelap pekat, persis seperti milik seseorang yang pernah menghancurkan hidup Anindira. Ia memegang sebuah buku catatan kecil dan sesekali mencoretkan sesuatu di sana dengan ekspresi yang sangat serius untuk ukuran anak seusianya.

Angin laut menyibakkan rambut hitamnya yang halus saat ia mendongak melihat seekor burung elang yang terbang rendah di atas permukaan air. Senyum tipis mengembang di bibir mungilnya ketika ia berhasil menghitung jumlah kepakan sayap burung tersebut dalam waktu satu menit. Di belakangnya, seorang wanita cantik dengan pakaian sederhana berjalan mendekat sambil membawa sebuah topi jerami.

"Arkan, sudah waktunya kita pulang karena matahari sudah mulai terasa menyengat kulitmu, Nak," panggil Anindira dengan nada suara yang penuh kelembutan.

Anak itu menoleh dan segera berlari kecil menuju pelukan ibunya dengan wajah yang berseri-seri penuh kegembiraan. Ia menunjukkan hasil pengamatannya di dalam buku catatan tersebut dengan penuh rasa bangga yang meluap-luap. Anindira tertegun sejenak melihat kemampuan berhitung anaknya yang jauh melampaui rata-rata anak berumur empat tahun lainnya.

"Ibu, elang itu mengepakkan sayapnya sebanyak enam puluh kali sebelum ia menukik tajam ke arah ikan di sana," lapor Arkan dengan suara yang jernih.

"Kamu sungguh hebat dalam mengamati hal-hal kecil, sayang, ayo sekarang kita kembali ke kedai sebelum pelanggan mulai ramai," ajak Anindira sambil mengusap kepala putranya.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon nyiur yang melambai-lambai tertiup angin laut yang segar. Anindira kini mengelola sebuah kedai makan kecil di pinggiran kota pelabuhan yang jauh dari hiruk-pikuk kemewahan masa lalunya. Kehidupan yang tenang ini adalah hasil dari perjuangan berdarah-darah yang ia lalui lima tahun yang lalu demi melindungi Arkan.

Namun, ketenangan itu terusik saat Arkan tiba-tiba berhenti melangkah dan menatap ke arah sebuah mobil mewah hitam yang terparkir di depan kedai mereka. Mobil itu nampak sangat mencolok di antara bangunan-bangunan kayu yang ada di sekitar pemukiman nelayan tersebut. Arkan memiringkan kepalanya sambil memperhatikan lambang perusahaan yang tersemat pada bagian depan mobil tersebut dengan teliti.

"Ibu, lambang itu sama dengan yang ada di dalam potongan koran tua yang Ibu simpan di dalam kotak kayu," cetus Arkan dengan polosnya.

Jantung Anindira seolah berhenti berdetak saat mendengar ucapan putranya yang memiliki ingatan sangat tajam tersebut. Ia segera menarik tangan Arkan untuk masuk melalui pintu belakang kedai agar tidak terlihat oleh siapa pun yang berada di dalam mobil tersebut. Rasa was-was yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini muncul kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.

"Arkan, ingat janji kita untuk tidak pernah membahas isi kotak itu di depan orang lain, ya?" bisik Anindira dengan wajah yang mendadak sangat pucat.

"Baik, Ibu, aku hanya merasa penasaran mengapa mobil sebagus itu datang ke tempat yang sangat terpencil seperti ini," jawab Arkan sambil mengangguk patuh.

Anindira mengintip dari balik tirai dapur yang kusam untuk melihat siapa tamu yang datang ke kedainya pagi ini. Ia melihat seorang pria berpakaian sangat rapi sedang berbicara dengan salah satu pegawainya sambil menunjukkan sebuah dokumen resmi. Dari postur tubuhnya, pria itu nampak seperti orang suruhan dari perusahaan besar yang memiliki otoritas sangat tinggi.

Ketakutan Anindira semakin memuncak saat pria itu mulai menyebut-nyebut tentang rencana penggusuran lahan untuk pembangunan pelabuhan internasional. Jika proyek itu benar-benar dilaksanakan, maka tempat persembunyiannya selama lima tahun ini akan hancur dan identitasnya terancam terungkap kembali. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah yang bercampur dengan rasa takut.

"Kami datang atas perintah dari pimpinan pusat Grup Adiguna untuk melakukan pendataan awal terhadap pemilik bangunan di sini," ujar pria asing itu dengan nada bicara yang sangat dingin.

Mendengar nama Grup Adiguna disebut, Anindira merasa dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya dalam hidupnya. Ia tahu bahwa ayahnya atau mungkin ibu tirinya tidak akan pernah berhenti mencari celah untuk menghancurkan sisa-sisa kebahagiaannya. Namun, yang paling ia takutkan adalah jika mereka menyadari keberadaan Arkan yang merupakan pewaris sah yang tidak mereka inginkan.

"Ibu, mengapa tangan Ibu gemetar sekali? Apakah Ibu sedang sakit?" tanya Arkan sambil memegang jemari ibunya dengan penuh kecemasan.

"Ibu tidak apa-apa, Nak, sekarang masuklah ke dalam kamar dan jangan keluar sampai Ibu memanggilmu kembali," perintah Anindira dengan suara yang sedikit bergetar.

Setelah Arkan masuk ke dalam kamar, Anindira memberanikan diri untuk keluar menemui pria asing tersebut dengan tatapan mata yang menantang. Ia tidak ingin lagi menjadi wanita lemah yang hanya bisa melarikan diri dan bersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan. Ia akan melakukan apa pun untuk mempertahankan satu-satunya tempat tinggal yang ia miliki demi masa depan Arkan.

Pria itu menoleh ke arah Anindira dan nampak sedikit tertegun melihat kecantikan wanita itu yang tetap bersinar meski tanpa riasan mewah. Ia segera memeriksa kembali dokumen di tangannya seolah sedang mencocokkan sesuatu yang sangat penting dari data yang ia miliki. Suasana di dalam kedai yang semula tenang kini berubah menjadi sangat tegang dan penuh dengan aura persaingan yang tidak kasat mata.

"Apakah Anda pemilik dari kedai makan ini?" tanya pria itu sambil memperbaiki letak kacamata hitamnya.

"Benar, dan saya tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjual lahan ini atau pindah ke tempat lain," tegas Anindira dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya.

Pria itu tersenyum tipis yang nampak merendahkan, lalu mengeluarkan sebuah foto satelit yang menunjukkan posisi kedai tersebut di dalam peta pembangunan. Ia menjelaskan bahwa perlawanan Anindira hanya akan sia-sia karena kekuatan besar yang berdiri di balik proyek raksasa tersebut tidak mungkin bisa dihentikan. Anindira merasakan sebuah aura yang sangat familiar dari cara pria itu berbicara, sebuah aura kesombongan yang sangat khas dari keluarga Adiguna.

Saat pria itu hendak melangkah pergi, sebuah angin kencang meniup selebaran kertas dari tangannya hingga jatuh tepat di depan pintu kamar Arkan. Arkan yang penasaran membuka sedikit celah pintu dan mengambil kertas tersebut sebelum ibunya sempat melarangnya. Di sana, tertulis nama pimpinan proyek yang akan memimpin penggusuran tersebut secara langsung di lapangan.

Arkan membaca nama itu dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh pria asing yang masih berdiri di depan pintu kedai. Nama itu adalah nama yang selama ini menjadi rahasia terbesar dalam hidup Anindira sekaligus mimpi buruk yang paling ia hindari. Ibu muda yang tangguh itu kini harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa masa lalu yang ia takuti telah menemukan jalan untuk kembali menghampirinya.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!