NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengalaman Pertama Mengajar Di Sekolah Negeri

Pagi itu menjadi hari yang paling special bagi Dimas usai mengikuti prosesi wisuda dan menyandang gelar S.Pd. Rasanya begitu plong setelah berjuang keras menyelesaikan skripsinya yang berjudul “Pengaruh Les privat di Rumah Terhadap Hasil Belajar Siswa di Sekolah”.

Dia lulus dengan predikat cumlode sekaligus menjadi wisudawan terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di kampusnya. Dimas yang di dampingi ibunya, Bu Ratih serta pacarnya, Nayla, tak kuasa menahan tangis yang mengiringi kebahagiannya.

“Selamat ya nak, “ ujar Bu Ratih.

“Selamat ya yank, “ begitu kata sang kekasih kepada Dimas.

Ayahnya Dimas telah meninggal dunia semenjak  Dimas masih duduk di  bangku kelas 9 SMP. Selama ini Bu Ratih berjuang mencukupi kebutuhan serta pendidikan kedua anaknya melalui hasil berjualan di warung kecil samping rumahnya.

Semasa kuliah dulu, Dimas bantu ibunya meringankan biaya kuliah dengan bekerja sebagai guru privat Bahasa Inggris (sesuai jurusan kuliahnya pendidikan Bahasa Inggris) dari rumah ke rumah. Pengalaman itu lah yang menginspirasi Dimas menulis judul skripsinya.

Dimas dan Nayla berpacaran hampir 2 tahun. Nayla adalah adik kelas satu angkatan di bawah Dimas.

Berawal dari seringnya mereka bertemu di perpustakaan fakultas sampai pada akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka.

“Ahh....akhirnya aku bisa lulus kuliah ya yank, tahun depan gantian kamu yang wisuda, ayo semangat buat skripsinya,” ucap Dimas menatap dengan aura ceria ke Nayla.

“Eh jangan lupa nati aku di bantuin ya yank skripsinya !” Pinta Nayla.

“Pasti dong sayang”

Sebagai pasangan muda yang lagi bucin-bucinya berpacaran terbesit dalam khayalan Nayla hidup yang indah sesudah dirinya lulus nanti.

“Kalau aku udah lulus kuliah, Kak Dimas pasti melamar aku dan habis itu kita menikah, emm ... kayanya enak banget yah, “ gumam dirinya dalam hati.

Sementara itu bagi Dimas, gelar S.Pd yang ia sandang sekarang tak ingin di pandang sebagai formalitas saja. Pria yang memiliki nama lengkap Dimas Aditya ingin sekali mendedikasikan ilmu nya dengan mengajar di sekolah walaupun dirinya tersadar gaji guru di sekolah tak seberapa selama belum menjadi ASN.

Esok pagi yang cerah melambai seolah membakar semangat untuk beraktivitas, Dimas dengan semangat barunya begerak menaruh lamaran kerja ke beberapa sekolah sebagai guru Bahasa Inggris namun setelah satu bulan berlalu tak ada satu pun pihak sekolah yang menghubunginya.

“Gimana mas, apa sudah ada sekolah yang menghubungi ?" tanya ibunya, Bu Ratih.

“Belum bu, kayanya susah ya bu kalau gak punya orang dalam,” sahut Dimas sembari menscroll media sosialnya.

Selang beberapa menit, teman akrab satu kelas Dimas di kampusnya, Rizal menelpon.

“Assalamualaikum mas, gimana kabarnya ?" tanya Rizal saat menelpon.

“Walaikum sallam, Alhamdulillah baik zal, kamu sendiri gimana ?”

“Alhamdulillah baik juga,”

“Oh ya mas, kamu udah dapat kerjaan belum ?” Rizal kembali bertanya.

Dimas menyahut.

“Belum zal, emang ada info yah?”

“Jadi begini mas, kakak aku kan guru Bahasa Inggris di salah satu SMK Negeri, rencana mau cuti melahirkan, apa kamu mau menggantikannya sementara ?”

“Wah mau banget lah, itung-itung buat pengalaman mengajar di sekolah negeri, kan kamu tau dulu aku PPL nya di sekolah swasta” kata Dimas sambil tertawa pelan.

“Tapi ini cuma 3 bulan aja ya mas, setelah kakaku selesai cuti, berarti kamu udahan.”

“Siap gak papa kok makasih banyak ya zal” seru Dimas.

“Sama-sama mas”

“Betewe, kenapa gak kamu  aja yang mengantikan kakakmu ?” canda Dimas.

“He..he..he...dari awal aku kan gak minat jadi guru mas” celetuknya sembari tertawa.

“Ya udah nanti aku sampaikan dulu ya ke kakaku tentang hal ini, thank you Dimas” suara Rizal mengakhiri telponnya.

Seminggu kemudian, Dimas mulai berangkat ke sekolah untuk mengajar. Seperti biasanya, Dimas selalu berpamitan dan mencium tangan Ibunya ketika hendak berpergian. Dengan berbekal motor matic peninggalan mendiang Ayahnya, dia bergegas meninggalkan rumahnya.

Hari Senin pukul 06.40 WIB, Dimas sampai di sekolah, di sambut senyum, sapa dan salam oleh beberapa siswa SMK tersebut. Tak lama sesudah memasuki ruang guru, Dimas duduk sejenak lalu mengikuti upacara bendera bersama dewan guru dan seluruh siswa.

Usai melaksanakan kewajibannya sebagai warga sekolah, semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing dan seluruh dewan guru masuk ke ruang guru karna akan ada pengarahan dari Bapak kepala sekolah.

“Assalamualaikum, Bapak Ibu guru yang saya hormati,” Bapak kepala sekolah mengawali briefingnya.

“Hari ini kita kedatangan guru baru namanya Pak Dimas, silakan berdiri Pak Dimas !”

Dimas berdiri menundukan kepala sembari memutar badan memberi senyum hangat kepada semua guru.

“Jadi pak Dimas ini nantinya akan menggantikan Bu Rina untuk sementara waktu” lanjut kata Bapak kepala sekolah yang bernama pak Jamal.

Di tengah pengarahan dari kepala sekolah, salah satu guru wanita berbisik ke arah guru yang lain.

“Wow pak Dimas ganteng banget yah, putih bersih sekilas mirip Ariel noah waktu masih muda,” bisik salah satu guru wanita.

Pak Edi salah seorang guru mapel produktif di sekolah tersebut ikut nimbrung, “kalau saya masih mirip Ariel atau gak bu ?”

“Ha.ha.ha...” beberapa guru tertawa lirih menatap pak Edi.

“Mirip anunya pak,” bisik salah satu guru.

“Hayoo, ketahuan nih dulu pernah nonton videonya  kan ?” canda pak Edi.

“Iya pak, nonton video klip Bintang di Surga he..he.he..” balas guru tersebut.

Aura ketampanan dan keramahan Dimas merekat erat di wajahnya ibarat dedaunan yang selalu menempel di ranting pohon walapun hujan deras membasahi namun tak penah luntur karnanya. Pantas saja Nayla begitu tergila-gila kepadanya padahal sang ayah menolak keras dia menjalin hubungan istimewa dengan Dimas.

Tibalah saatnya Dimas masuk di jam pertama menuju kelas XI KL (kuliner) yang semula bernama jurusan TBO (tata boga).

“Good morning, class,” sapa pak Dimas.

“Good morning Mister.” respon para siswa yang di dominasi perempuan.

“How are you today ? “ lanjut Dimas kepada siswanya.

Serentak semua menjawab,

“I am fine mister,  and you ?” menatap Dimas dengan penuh senyum.

“I am fine too, thank you”

“Ok class, let me introduce my self, my name is Dimas Aditya, I am your English teacher replaces mrs. Rina for temporary, you can call me mr. Dimas or pak Dimas,” begitu perkenalan Dimas dengan aksen british nya.

Sontak semua siswa tertawa lepas dan salah satu dari mereka nyelemong.

“Ha..ha..ha.ha...padimas itu kan nama bolu kecil yang harganya lima ratusan pak”

Mendengar hal itu, Dimas hanya tersenyum manis.

“Eh ...kamu namanya siapa ?” tanya pak Dimas menunjuk ke salah satu muridnya.

“Nisa pak,”

“Oh Nisa yah, nama kamu mengingatkan lagunya Dewa 19”

“Coba kaya gimana lagunya pak ?”  ujar salah satu murid.

“Dengerin yah !”

“Aku Nisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku”

“Woi..woi..woi.. itu bisa bukan nisa pak, gaaring ...gaariing gak lucu” sorak murid-muridnya.

Rasa jenuh yang dulu membeku kini telah mencair sejak Dimas hadir di sekolah, suasana KBM menjadi semakin menyenangkan. Tak seperti bu Rina yang hanya masuk kelas lalu memberikan tugas, terakadang di nilai terkadang juga tidak. Beliau lebih di sibukan memikirkan gajinya sebagai guru PNS dan mengurus sertifikasi agar selalu cair.

Di sebuah warung kecil milik Bu Ratih, ada gadis perempuan cantik yang selalu membantunya berjualan dan melayani pembeli. Namanya Diana, anak kedua Bu ratih yang juga memiliki hubungan darah dengan Dimas alias adik kandungnya.

“Kamu gak papa na, tiap hari bantu ibu berjualan ?” kata Bu Ratih saat warung sedang sepi.

“Ya gak papa to bu, aku seneng kok bisa bantu ibu” ucap Diana.

Usia Diana selisih 3 tahun dengan Dimas, semenjak lulus SMA, ia memutuskan tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan karna tidak mau melainkan karna kasihan melihat ibunya yang harus berjuang seorang diri. Tak ingin memberi beban tambahan, baginya cukup kakaknya saja yang kuliah.

Diana ada keniatan akan menghadiri acara wisuda kakaknya kala itu, namun apa hendak di kata, pas hari H, ia jatuh sakit yang mengharuskannya istirahat total di rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!