Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: HADIAH DI PAGI HARI
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Kota A, menyebarkan rona ungu dan emas yang kontras dengan kabut dingin yang masih menyelimuti kompleks elit perumahan Mahendra. Kediaman megah itu biasanya tenang dan teratur, namun pagi ini, keheningan itu pecah oleh teriakan histeris seorang tukang kebun yang baru saja membuka gerbang utama.
Adrian Mahendra, yang baru saja terbangun karena mimpi buruk tentang kecelakaan lima tahun lalu, tersentak mendengar keributan di luar. Ia bangkit dengan tergesa-gesa, mengenakan jubah sutranya, dan melangkah ke balkon kamar.
Pemandangan di bawah membuatnya membeku. Di depan gerbang besi yang menjulang tinggi, tertumpuk delapan tubuh pria berpakaian taktis hitam—tim yang dikirim Sisca semalam. Mereka tertata rapi, hampir terlihat seperti tumpukan kayu bakar, namun wajah-wajah pucat dan bercak darah yang mengering menceritakan kisah yang jauh lebih mengerikan.
Di puncak tumpukan itu, sebuah bendera putih kecil tertancap pada saku salah satu mayat, dengan tulisan tinta hitam yang tajam:
"Jangan mengirim sampah jika kau ingin membersihkan istana. Lain kali, datanglah sendiri."
Lutut Adrian terasa lemas. Ia mencengkeram pagar balkon hingga buku jarinya memutih. "Sisca!" raungnya.
Sisca muncul di ambang pintu balkon dengan wajah yang sama pucatnya. Ia sudah melihat pemandangan itu dari jendela kamarnya. Keangkuhan yang biasanya ia kenakan kini luntur, digantikan oleh ketakutan primer yang tak bisa ia sembunyikan.
"Apa yang kau lakukan, Sisca?!" teriak Adrian sambil berbalik dan mencengkeram bahu istrinya. "Kau mengirim orang untuk membunuh anak-anak itu tanpa memberitahuku? Dan sekarang... lihat! Mereka mengirimnya kembali sebagai pesan! Siapa yang kita hadapi sebenarnya?!"
"Aku hanya ingin melindungi kita, Adrian!" tangis Sisca pecah, namun suaranya terdengar sumbang. "Anak-anak itu adalah ancaman! Jika mereka adalah darah dagingmu, kita akan kehilangan segalanya!"
"Dan sekarang kita benar-benar akan kehilangan segalanya karena kebodohanmu!" Adrian mendorong Sisca hingga jatuh terduduk di lantai. "Orang yang bisa membantai selusin tentara bayaran dalam satu malam dan membuangnya di depan rumahku tanpa terdeteksi kamera pengawas... itu bukan sekadar dokter. Itu iblis!"
Di bawah, sirene polisi mulai terdengar mendekat. Adrian tahu bahwa skandal ini tidak akan bisa ditutupi dengan uang. Pesan itu jelas: perang telah dimulai, dan musuh mereka memiliki kekuatan yang jauh melampaui imajinasi mereka.
Di sisi lain kota, suasana sangat berbeda. Kediaman pribadi Arlan Syailendra adalah sebuah benteng modern yang terletak di atas perbukitan, jauh dari hiruk-pikuk kota. Arsitekturnya yang didominasi kaca dan baja memberikan kesan dingin, namun pagi ini, ada kehangatan yang asing menyusup ke dalamnya.
Alana berdiri di dapur luas yang dilengkapi peralatan masak profesional. Ia baru saja selesai mengganti perban di bahu Leo yang kini sedang beristirahat di paviliun tamu.
Meskipun ia hanya tidur dua jam, matanya tetap waspada. Ia sedang mengaduk bubur gandum kesukaan Luna ketika ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Tanpa menoleh, Alana tahu itu adalah Arlan. Aroma kayu cendana dan kopi hitam yang khas menyelimuti ruangan.
"Kau seharusnya tidur lebih lama. Tim keamananku sudah menjamin radius dua kilometer dari sini," suara Arlan rendah, terdengar lebih santai dari biasanya. Ia mengenakan kemeja kasual dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kuat.
Alana menuangkan bubur ke dalam mangkuk. "Kewaspadaan adalah satu-satunya alasan aku masih hidup sampai hari ini, Tuan Arlan. Terima kasih atas tumpangannya, tapi kami akan segera mencari tempat baru setelah kondisi Leo stabil."
Arlan berjalan mendekat, mengambil secangkir kopi, dan bersandar pada konter dapur tepat di samping Alana. "Tempat baru? Dan membiarkan Sisca mengirim tim lain? Di sini, anak-anakmu bisa berenang di kolam renang dalam ruangan, Lukas bisa menggunakan server superkomputerku, dan kau... kau bisa berhenti menjadi prajurit sejenak."
Alana berhenti bergerak. Ia menatap Arlan dengan tajam. "Kenapa kau melakukan ini, Arlan? Kau sudah mendapatkan hasil DNA-nya. Kau tahu siapa mereka. Kau tahu siapa aku. Apa tujuanmu sebenarnya? Menjadikan kami pion untuk menghancurkan Mahendra Group?"
Arlan meletakkan cangkirnya. Ia menatap Alana dengan intensitas yang membuat napas wanita itu sedikit tertahan. "Awalnya, mungkin iya. Tapi setelah melihatmu di helikopter semalam... melihatmu melindungi anak-anakmu dengan cara yang begitu brutal namun penuh kasih... aku menyadari satu hal."
"Apa itu?"
"Bahwa kau bukan pion, Alana. Kau adalah ratu yang kehilangan takhtanya. Dan aku? Aku adalah pria yang bosan dengan permainan yang terlalu mudah. Membantumu mendapatkan kembali takhtamu jauh lebih menarik daripada sekadar mengambil alih perusahaan Adrian."
Konfrontasi sunyi itu pecah saat suara langkah kaki kecil terdengar berlari di lorong marmer. Luna muncul dengan gaun tidur merah jambunya, matanya berbinar melihat dapur yang begitu besar.
"Mummy! Paman Arlan punya robot pelayan di kamarku!" seru Luna sambil melompat-lompat kecil.
Lukas muncul di belakangnya, tampak jauh lebih tenang namun matanya terus memindai setiap sudut ruangan. "Sistem keamanannya cukup bagus, Mummy. Aku sudah mencoba meretasnya pagi ini dan butuh waktu tujuh menit untuk menembus lapisan pertama. Itu rekor baru bagiku."
Arlan terkekeh, mengacak rambut Lukas dengan gerakan yang hampir terlihat alami bagi seorang ayah. "Tujuh menit? Aku harus memecat kepala teknologiku kalau begitu. Mari sarapan, anak-anak jenius."
Selama sarapan, sebuah pemandangan yang mustahil terjadi mulai terbentuk. Arlan Syailendra, pria yang dikenal kejam dan tak tersentuh, duduk di kepala meja sambil mendengarkan Luna bercerita tentang gambar robotnya, sementara Lukas sesekali mengajukan pertanyaan teknis tentang enkripsi data kepada Arlan.
Alana duduk di sana, mengamati mereka. Ada bagian kecil dalam hatinya yang terasa sakit—rasa rindu yang terkubur dalam tentang bagaimana seharusnya sebuah keluarga berfungsi. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Kasih sayang adalah kemewahan yang belum bisa ia miliki.
"Tuan Arlan," Lukas tiba-tiba memotong pembicaraan. "Jika aku membantu meningkatkan sistem keamanan rumah ini, apakah aku boleh menggunakan laboratorium di lantai bawah?"
Arlan tersenyum penuh arti. "Laboratorium itu milikmu, Lukas. Berikan aku daftar apa saja yang kau butuhkan."
Selesai sarapan, Arlan mengajak Alana ke ruang kerjanya. Ia menyalakan monitor besar yang menampilkan berita utama pagi ini: Penemuan Mayat di Kediaman Mahendra: Dugaan Perang Geng atau Sabotase Bisnis?
"Adrian sedang ketakutan setengah mati," kata Arlan sambil menyesap kopinya. "Polisi sudah mulai melakukan penyelidikan, tapi mereka tidak akan menemukan apa-apa. Aku sudah membersihkan jejak digital tim Black Hawk."
"Ini hanya akan membuat Sisca semakin nekat," balas Alana dingin. "Dia tipe orang yang akan membakar seluruh hutan hanya untuk menangkap satu ekor kelinci."
"Biarkan dia mencoba," Arlan berbalik menatap Alana. "Besok ada pesta amal tahunan yang diadakan oleh yayasan kota. Adrian dan Sisca akan hadir di sana untuk mencoba memperbaiki citra mereka. Aku ingin kau hadir bersamaku sebagai pasanganku."
Alana menyipitkan matanya. "Kau ingin aku masuk ke sarang serigala secara terang-terangan?"
"Bukan sebagai mangsa, Alana. Tapi sebagai pemenang," Arlan melangkah mendekat, mengambil tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan hormat yang dalam.
"Biarkan mereka melihat bahwa kau tidak hanya hidup, tapi kau berada di bawah perlindungan Syailendra. Aku ingin melihat wajah Sisca saat ia menyadari bahwa setiap senjata yang ia gunakan untuk menghancurkanmu, kini berbalik ke arahnya."
Alana merasakan desiran aneh di dadanya saat bibir Arlan menyentuh kulitnya.
Ia menarik tangannya pelan, namun matanya berkilat dengan ambisi yang sama. "Baiklah. Aku akan hadir. Dan aku pastikan itu akan menjadi malam terakhir mereka tidur dengan tenang."
Malam itu, di kediaman Syailendra yang megah, "kehidupan bersama" yang tidak biasa dimulai. Di balik kemewahan dan perlindungan itu, sebuah rencana besar sedang disusun. Alana melatih gerakannya, Lukas mengutak-atik sistem komunikasi Mahendra Group, dan Arlan memperhatikan mereka dari bayang-bayang, menyadari bahwa ia baru saja memberikan perlindungan kepada badai yang akan menyapu bersih seluruh kota.
Permaisuri telah kembali, dan kali ini, ia membawa serta Sang Kaisar untuk memastikan tidak ada yang tersisa dari para pengkhianat itu.