Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa Melakukan Perjodohan
Letusan kembang api silih berganti menghiasi langit malam. Tepat di sebuah hotel ternama pesta ulang tahun Selvi sedang dirayakan.
Ayah Selvi, Lucas merupakan pebisnis yang bergerak di bidang properti. Ia merupakan CEO sekaligus pemilik Hotel Narendra, hotel tempat berlangsungnya ulang tahun putri tunggalnya.
Para kolega bisnis serta tamu undangan terlihat memenuhi aula hotel, yang sudah di dekorasi begitu cantik dengan nuansa eropa. Diiringi suara musik klasik khas eropa, berbagai hidangan tersusun rapi di atas meja, dan para pelayan yang sibuk membawa nampan berisi beberapa gelas anggur merah. Membuat semua orang yang disana larut dalam kemeriahan pesta malam ini.
Meski semua orang terlihat begitu bahagia, hanya satu orang yang sejak dari awal acara, terlihat muak melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Sorot mata orang tersebut menatap tajam ke arah depan. Tangannya meremas kasar seperti sedang menahan rasa kesal, dan amarah.
Walau tampilannya kali ini begitu tampan, dengan menggunakan setelan jas skinny fit, kaos turtleneck, dan gaya rambut faux hawk undercut. Namun faktanya semua terasa begitu palsu, hanya demi menuruti obsesi ayahnya.
"Ck, sial!" dia terus mengutuk dirinya sendiri karna terlalu lemah melawan ayahnya. Dan sekarang mau tidak mau ia seperti boneka, yang sedang dipaksa duduk dengan orang yang paling dia benci.
"Rendra sayangg.... liat sini dong kita foto bareng!" pinta Selvi yang mengarahkan ponselnya untuk mengambil gambar bersama.
"Lo aja yang foto gue ogah!" tolak Rendra dengan suara dingin.
"Ish, kok kamu gitu sih. Kamu gak mau foto bareng sama calon istrimu ini," bujuk Selvi dan mulai mengambil beberapa foto bersama Rendra.
Klik
Klik
Klik
"Sayanggg... liat ke arah kamera dong!" Selvi merengek seperti anak kecil, karena foto yang dia ambil, sama sekali tidak menunjukan wajah Rendra dengan jelas. Rendra yang sudah muak dengan ini semua memilih bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Selvi, namun Rendra tidak membalasnya, dan lebih memilih pergi keluar.
"Sayanggg... tungguin!" Selvi mengejar Rendra dengan bersusah payah, karna ia mengenakan gaun merah modern, dan high heels di kedua kakinya.
Sementara Rendra tampak tidak peduli dengan Selvi yang terus memanggilnya. Ia terus berjalan pergi meninggalkan aula hotel, dengan langkah cepat menuju area parkir kendaraan.
"Rendra!!!" Selvi akhirnya berhasil mengejar Rendra yang kini sudah berada di samping mobil ferrari berwarna merah.
"Kamu kenapa sih main pergi gitu aja? Pestanya kan belum selesai sayang. Kamu mau kemana?" tanya Selvi.
Rendra memasukan kedua tangannya dalam saku celana. "Gue mau pulang," balasnya singkat.
"Gak boleh! Aku gak ijinin kamu pulang sebelum pesta ini berakhir," tolak Selvi.
"Apa hak lo buat larang gue. Hah?!" Rendra membentak dengan suara tinggi.
"Rendra! Sampai kapan kamu terus-terusan membentak ku. Aku ini cewek Rendra. Apa kamu gak bisa berbicara dengan nada lembut denganku?" Selvi menatap kedua mata Rendra dengan sendu.
"Gue gak perduli!" Rendra mengambil kunci mobil dalam sakunya, namun sebelum ia masuk kedalam mobil, kunci tersebut di tepis Selvi, dan membuatnya terlempar cukup jauh.
Rahang Rendra mengeras dan kedua matanya menatap tajam, "Maksud lo apa?"
"Rendra sudah cukup gue bersabar sama sikap lo yang semena-mena sama gue," balas Selvi yang kali ini mengubah nada bicaranya.
"Jangan cuma karna gue kecintaan banget sama lo, lo bikin gue gak ada harga dirinya sama sekali. Lo injek-injek harga diri gue, seolah-olah cuma lo aja cowok yang ada di muka bumi ini!" Selvi menunjuk kasar wajah Rendra.
Rendra tersenyum miring, "Oh ya?"
"Lalu kenapa lo masih terobsesi sama gue?" Rendra menepis jari telunjuk Selvi, dan melangkah maju dengan tatapan tajam.
Raut wajah Selvi yang semula kesal kini terlihat sangat ketakutan, melihat ekspresi Rendra yang begitu dingin, hingga membuatnya mundur kebelakang.
Bugh
"Aww!" badan Selvi terbentur mobil sedan putih yang terparkir di belakangnya. Sementara Rendra masih terus mendekatinya, seolah-olah ingin meluapkan emosinya.
"Ren-Rendra... kamu jangan-"
Bugh
Mata Selvi tertutup rapat, saat satu tangan Rendra memukul kasar bagian pintu mobil, yang berjarak 2 cm dari area wajahnya.
Dengan sedikit membungkuk, Rendra menatap mata Selvi. "Lo itu cewek murahan yang gak tau malu. Memakai topeng seolah menjadi korban, padahal lo sendiri pelakunya."
"Maksud lo apa? Emang kenyataanya gue yang jadi korban disini. Selama ini gue selalu berusaha dapetin hati lo. Tapi apa balasnya yang gue terima? Cuma bentakan dan hinaan!" balas Selvi merasa tidak terima.
"Lo puas sekarang liat gue kecintaan kayak gini sama lo? Lo puas Rendra!!!"
"Bahkan dengan semua perlakuan kasar yang gue terima dari lo. Sedikitpun gue gak pernah mundur dari perasaan sayang gue sama lo,"
"Gue cinta sama lo Rendra! Gue-"
"CUKUP SELVI!!!" bentak Rendra dengan suara tinggi.Selvi menatap nanar ke arah Rendra.
"Bahkan seribu kali kamu membentak ku, aku tetap menyukaimu Rendra."
"Dan seribu kali lo ungkapin rasa suka sama gue, gue tetep benci sama lo," balas Rendra dingin.
"Apa karna lo masih belum maafin kesalahan gue di masa lalu?" tanya Selvi.
"Oh, jadi lo masih ingat kesalahan lo di masa lalu?" tanya balik Rendra.
"Rendra gue minta maaf, waktu itu gue-"
"Terpaksa?" Rendra memotong perkataan Selvi, yang sudah bisa ia tebak.
"Udahlah, gue males dengerin alasan lo lagi. Lebih baik lo pergi jauh dari hidup gue selamanya!"
"Tapi kita sudah bertunangan Rendra! Mau tidak mau kita akan duduk di pelaminan, dan menikah!" ucap Selvi yang sudah mulai kehilangan kesabaran.
Darah Rendra mendidih mulai memukul bagian pintu mobil tepat samping wajah Selvi. "Terserah lo mau bilang apa. I don't care!" balas Rendra menatap tajam.
"Apa rasa cintamu untukku yang dulu sudah benar-benar hilang dari hatimu, Rendra?" tanya Selvi menatap sendu.
Rendra diam tidak ingin menjawab pertanyaan Selvi. Dirinya hanya menatapnya dengan penuh kebencian yang mendalam. Rasa sakit hati 5 tahun yang lalu masih membekas di lubuk hatinya. Ingin rasanya ia membunuh orang yang berada di hadapannya ini, karna dulu sengaja mempermainkan hatinya.
Cinta yang semula Rendra tanam dengan tulus, kini harus berbuah rasa trauma yang mendalam. Dan sekarang ia sudah tidak percaya lagi dengan cinta. Cuma orang bodoh, dan bodoh yang mau diperbudak oleh cinta.
"Rendra! Selvi!" seseorang memanggil dari kejauhan, dan membuat keduanya berhenti saling menatap.
"Ayah!" seru Selvi yang melihat Lucas datang bersama Danu.
"Kalian ngapain ada disini? Pestanya belum selesai, dan semua orang sedang mencari kalian," ucap Lucas dengan nada kuatir.
"Emm kita tadi sedang... emmm..." Selvi sedikit gugup, saat ingin menjawab pertanyaan ayahnya. Sementara Rendra terlihat biasa saja, dan terkesan acuh.
"Aduh, Lucas. Mereka ini kan masih muda, dan siapa tau mereka sedang ingin menikmati waktu berdua. Seperti kau tidak pernah muda saja," gurau Danu tertawa kecil.
Lucas yang semula kuatir melihat Selvi menghilang dari pesta, sedikit merasa tenang. "Lain kali bilang dulu sama Ayah, Selvi. Jangan bikin Ayah kuatir."
Selvi mengangguk pelan, "Iya Ayah aku minta maaf."
"Ya sudah mari kembali ke pesta semua orang sedang menunggu kalian berdua," ujar Lucas tersenyum menatap Selvi dan Rendra.
Selvi ingin melangkah namun terhenti mendengar perkataan Rendra. "Maaf Om, saya ingin pulang terlebih dahulu. Ada pekerjaan bisnis yang harus segera saya selesaikan," ujar Rendra.
"Wah-wah, putramu memang pekerja keras Danu. Sepertinya popularitas mu di dunia bisnis akan segera tergantikan," gurau Lucas menatap Danu dan membuatnya tertawa.
"Hahaha, dia terlalu muda untuk menyamai ku, Lucas. Dia masih perlu banyak belajar lagi," balas Danu.
Lucas tersenyum kecil, dan balik menatap Rendra. "Om bangga dengan sifat kerja kerasmu, Rendra. Tapi Om minta kali ini kamu harus tetap disini. Terlebih ini ulang tahun anak Om, calon istrimu. Masa kamu mau meninggalkan dia di pestanya sendirian?"
"Maaf tapi-"
"Kau tenang saja, Lucas. Rendra akan tetap stay disini sampai acara selesai. Benar begitu bukan, Rendra?" tanya Danu tersenyum menatap putranya.
Bagi Rendra itu bukan sebuah senyuman biasa, melainkan sebuah perintah dengan nada ancaman. Dan dengan terpaksa ia harus kembali ke dalam pesta, tanpa menjawab pertanyaan Lucas.
"Dia memang seperti itu, Lucas. Harap dimengerti," sahut Danu yang melihat raut wajah Lucas yang sedikit bingung, melihat Rendra masuk ke hotel begitu saja tanpa membawa Selvi.
"Ayah, Om. Selvi mau menyusul Rendra duluan," pamit Selvi bergegas mengejar Rendra masuk kedalam.
"Mari Lucas, kita juga harus kembali ke dalam pesta," ajak Danu dan membuat Lucas mengangguk.
******************************
Pesta ulang tahun Selvi sudah di berada penghujung acara. Semua tamu undangan mulai memfokuskan pandangan mereka ke sebuah panggung kecil. Dimana terdapat kue ulang tahun mewah, berlapis 7 tingkat yang siap dipotong oleh Selvi sebagai penanda usianya yang tahun ini berusia genap 30 tahun.
Terlihat disana sudah ada Selvi dengan senyum merekah di wajahnya, dan tidak lupa ia menggandeng lengan Rendra dengan mesra. Dan jangan ditanya bagaimana raut wajah Rendra saat ini, sudah pasti kesal dan tidak suka.
"Para tamu undangan yang sudah hadir disini, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran anda dalam pesta ulang tahun putri saya, Selviana Mariska Narendra," ucap Lucas memberi sambutan, dan mendapatkan sorakan tepuk tangan meriah.
"Dan sebelum kita mulai acara potong kue, saya ingin menyampaikan satu kabar bahagia. 2 minggu lagi saya akan menggelar resepsi pernikahan putri saya, dengan Elvaro Rendra Wilson, CEO Perusahaan Wilson."
Mendengar kabar itu sontak Rendra terkejut membulatkan mata. Ia menatap Selvi untuk meminta penjelasan.
"Sudah aku katakan sebelumnya. Mau tidak mau, kita akan segera menikah, dan kamu menjadi milikku seutuhnya," bisik Selvi merasa menang.
"Apa maksud lo? Kenapa tanggal pernikahannya di percepat?" tanya Rendra dengan penuh penekanan.
"Ya suka akulah, sayanggg..." Selvi mengedipkan sebelah matanya.
"Ck, sial!" Umpat Rendra merasa kesal.
Ia berpikir pasti ini ulah ayahnya sendiri.Dia tau apa motif ayahnya mempercepat pernikahan ini. Apalagi kalau bukan ingin menguasai, dan merebut Hotel Narendra. Karena setelah pernikahan ini di langsungkan, Hotel Narendra akan sepenuhnya dimiliki Selvi. Dan ayahnya pasti akan mencari cara agar hotel tersebut jatuh ke tangannya.
"Rendra!" panggil Selvi membuat Rendra mengalihkan pikirannya.
"Yuk kita potong kue bersama!" ajak Selvi.
Karena disini terlalu banyak orang, tidak mungkin ia menolak dan membentak Selvi. Dan dengan terpaksa ia memotong kue bersama Selvi.
Mereka berdua meniup lilin bersama, dan kemudian memotong kue bersama. Suara tepuk tangan dari para tamu undangan, membuat suasana pesta malam ini begitu meriah.
Danu yang berdiri jauh dari keramaian orang tersenyum licik, dan mulai menenggak segelas anggur merah. "Akhirnya setelah sekian lama Hotel ini akan menjadi milikku," Ia begitu senang karena Lucas mendengarkan sarannya untuk mempercepat pernikahan ini, dengan alasan agar saham 2 perusahaan semakin meningkat tinggi.
"Tuan!" panggil seseorang yang menghadap hormat.
"Hmm, ada apa?" tanya Danu
Orang tersebut melangkah maju, dan membisikan sesuatu di telinga Danu. Danu yang mengerti segera pergi dari aula hotel.
*********************
Mobil Danu berhenti di sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman penduduk. Ia turun dari mobil, dan disambut beberapa anak buahnya.
"Tuan Danu!" ucap mereka membungkuk hormat.
"Hmm, ada dimana dia?"
"Di dalam, Tuan. Tadi kami berhasil menemukannya tidak jauh dari rumah ini."
Danu memukul salah satu penjaga dengan keras, "Sekali lagi saya mendengar dia kabur, akan aku masukan kalian ke kandang singa peliharaanku," ancamnya menunjuk kasar para penjaga.
"Baik, Tuan. Kami mengerti," ucap para penjaga serentak.
Danu merapikan pakaiannya, dan mulai membuka pintu rumah, dan masuk kedalam. Disana suasana terlihat sepi, dan sunyi. Namun sesaat ia mendengar suara ....
"Rendra sayangg... kamu mau tidur ya?" suara seorang wanita terdengar seperti menimang bayi.
Danu mendekati ke arah sumber suara dan melihat Bianca, istrinya yang sedang menggendong sebuah boneka bayi.
"Uluh... anak Mama lagi haus ya? Atau laper? Mau Mama suapin makanan?" Bianca berbicara ke boneka bayi seolah-olah itu adalah Rendra di waktu masih kecil.
Danu tidak ingin mendekat, namun ia puas tersenyum bahagia melihat istrinya yang sekarang sudah menjadi gila. Akibat setiap hari ia menyuruh anak buahnya menyuntikan cairan psikedelik, dan membuat Bianca berhalusinasi jika boneka yang dibawanya itu adalah Rendra, anaknya sendiri.
"Kamu sendiri yang memilih untuk menjadi gila, Bianca sayang. Jika dulu kamu mau menuruti permintaanku untuk memberikan Perusahaan Athena milik warisan ayahmu kepada ku. Mungkin kamu tidak akan berakhir seperti ini," ucap Danu tersenyum licik.
Ia memberi kode ke para penjaga untuk menyuntik cairan psikedelik 2 kali lebih banyak.
"Tapi Tuan. Jika dosis terlalu banyak Nyonya Bianca akan meninggal," ujar salah satu dari mereka.
"Kalian tenang saja. Istriku tidak akan mati, sebelum anak kami memberiku hak milik Perusahaan Athena," balas Danu tersenyum percaya diri.
Memang Perusahaan Athena saat ini sedang di tangan Rendra, dan itu dilakukan satu hari sebelum Bianca di culik dan di sekap Danu di rumah ini. Bianca menulis pesan kepada Rendra untuk tidak menyerahkan perusahaan tersebut, apapun yang akan terjadi.
"Sudah kalian cepat laksanakan tugas!" perintah Danu.Para penjaga mengangguk dan mulai memegangi kedua tangan Bianca agar tidak memberontak.
"Kalian mau ngapain? Lepasin tangan saya! Anak saya sedang kelaparan!" Bianca memberontak sambil menangis saat mereka dengan kasar menahan tubuhnya, dan mulai menyuntikan cairan ke tubuhnya dengan dosis 2 kali lipat.
Tubuh Bianca perlahan melemah, dan mulai kehilangan kesadaran, dan jatuh ke lantai. Danu yang melihat istrinya sudah pingsan tidak sadarkan diri mulai mendekat.
"Ck, kasihan sekali hidupmu sayang. Harus gila di usiamu yang sekarang ini. Dan tanpa kamu ketahui jika putramu di luar sana, sedang menjadi boneka bisnisku," ucap Danu tersenyum licik.