Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah salat subuh, Dian keluar kamar dengan langkah pelan. Ia menoleh sekilas ke arah Naya yang masih terlelap, lalu menuju dapur. Ada rasa iba menyelip di dadanya—teringat kemarin ibu mertua dan iparnya tak sempat sarapan.
Ia membuka kulkas. Berbagai bahan tersusun rapi di dalamnya.
“Wah, lengkap juga,” gumam Dian lirih.
Tanpa banyak pikir, ia memutuskan memasak bubur ayam. Setidaknya aman untuk semua, dan Naya pun bisa ikut makan. Dian mengeluarkan ayam, jahe, daun bawang, dan beberapa bumbu pelengkap.
Ia mengisi panci dengan air, menyalakan kompor, lalu mulai merebus ayam. Uap tipis perlahan naik, menghangatkan dapur yang masih sepi. Sambil menunggu, Dian mencuci beras dengan gerakan tenang—seolah setiap butir yang ia bilas ikut membawa harapannya agar pagi ini berjalan lebih damai.
Setelah itu Dian menyiapkan bumbu kuahnya. Ia menghaluskan bawang putih, bawang merah, sedikit ketumbar, lalu menumisnya hingga harum. Aroma bumbu yang matang perlahan memenuhi dapur, bercampur dengan wangi bubur yang mulai mengental di panci.
Sesekali Dian mengaduk beras yang sudah pecah dan berubah lembut, memastikan bagian bawahnya tak lengket. Tangannya bergerak cekatan, meski pikirannya masih penuh dengan berbagai rasa yang belum sepenuhnya terurai. Namun pagi itu, setidaknya di dapur kecil ini, ia menemukan ketenangan—menyibukkan diri dengan hal sederhana yang selama ini selalu ia lakukan: merawat, memberi, dan berharap.
Setelah itu Dian mulai menyuir ayam hingga halus, lalu mengiris daun bawang dan seledri dengan rapi. Beberapa butir telur pun ia rebus sebagai pelengkap. Usai semuanya siap, Dian menuangkan bubur ke dalam wadah tahan panas, memisahkan kuahnya agar tetap hangat dan segar.
Ia menata seluruh hidangan di atas meja dengan cermat—bubur, suwiran ayam, kuah, telur, dan taburan daun bawang. Kerupuk pun digoreng hingga mekar dan renyah. Tak lupa, ia menyeduh teh hangat.
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat jendela dapur. Dian melirik jam sekilas—ia harus segera selesai, karena tak lama lagi iparnya akan berangkat bekerja.
Dian kembali melangkah ke kamar. Ia ingin memastikan Naya masih terlelap, khawatir putrinya terbangun tanpa ia sadari.
Pukul tujuh pagi, Nuri sudah siap berangkat. Ia turun ke lantai bawah dengan niat segera pergi, karena yakin mertuanya belum bangun. Namun dugaannya meleset—langkahnya terhenti saat melihat meja makan telah terhidang rapi dengan sarapan.
Hampir bersamaan, Dian keluar dari kamar.
“Eh, Nur. Sarapan dulu. Tadi mbak sudah masak,” ujar Dian lembut.
Tak lama kemudian, Arif juga turun, bersiap berangkat ke kantor.
Nuri menatap meja makan dengan sedikit terkejut, lalu tersenyum. “Wah, mbak yang masak ya,” katanya tulus. Ia lalu menoleh ke Arif. “Sayang, sarapan dulu,” ajaknya, sebelum kembali melirik Dian dengan ekspresi yang kali ini terasa jauh lebih hangat.
Dian pun ikut melangkah mendekati mereka berdua.
Begitu melihat isi meja, Nuri tampak terkejut.
“Ya ampun… bubur ayam,” ucapnya spontan. “Pakai kuah pula, kelihatannya seger banget.”
Nuri dan Arif segera mengambil porsi masing-masing. Sendok demi sendok masuk ke mulut, tanpa banyak komentar—tanda makanan itu memang pas di lidah.
Dian memperhatikan dari samping. Ia tak ikut bicara, hanya tersenyum pelan, merasa cukup melihat mereka menikmati sarapan yang ia siapkan dengan sepenuh hati.
“Mbak Diannn… ini enak banget, tauu,” seru Nuri sambil mengacungkan jempol dengan wajah antusias.
Dian hanya tertawa kecil. “Makan yang banyak, Nur,” jawabnya ringan.
Arif yang melihat itu ikut menimpali, “Iya, sayang. Kamu juga harus cobain cilok, cireng, sama epok-epok buatan Mbak Dian. Enak semua. Cuma ya gitu, Mbak Dian nggak jualan di sini.”
“Hah, serius, Mbak?” Nuri langsung menoleh ke Dian, matanya berbinar. “Aku mau dong. Pasti enak banget.”
“Boleh, boleh. Kalian tinggal beli bahannya saja, nanti mbak bikinkan,” ujar Dian lembut. “Mbak catat dulu bahan-bahannya, ya.”
Tanpa mereka sadari, Bu Minah sudah berdiri tak jauh dari sana.
“Nah, begitu dong, Ian. Kamu masak,” katanya sambil melirik ke arah meja makan. “Jadi Nuri sama Arif bisa sarapan dengan tenang.”
Dian hanya mengangguk kecil. “Iya, Bu,” jawabnya singkat, tanpa menambahkan apa pun.
Setelah Arif dan Nuri berangkat, Dian merapikan meja makan lalu membersihkan dapur. Semua peralatan dicucinya hingga rapi. Ia kemudian menunggu suami dan anaknya terbangun.
Tak lama kemudian, Andi dan Naya keluar dari kamar.
“Ibu… ibu…” panggil Naya manja.
“Iya, Nak,” jawab Dian sambil tersenyum.
“Lapar,” ucap Naya polos.
“Ya sudah, mandi dulu ya. Habis itu kita makan,” kata Dian lembut.
“Aku tunggu kamu saja, Ian,” ujar Andi.
“Iya, Bang. Tunggu sebentar ya,” balas Dian sambil kembali ke kamar.
Sekitar dua puluh lima menit kemudian, Dian dan Naya keluar dari kamar mandi. Dian menggenggam tangan putrinya sambil tersenyum.
“Pasti ayah sudah kelaparan ya, Nay,” ujarnya sambil terkekeh.
Naya hanya tertawa kecil, matanya berbinar.
Mereka pun sarapan bersama. Sesekali Andi menyuapi Naya dengan sabar. Pemandangan itu membuat hati Dian menghangat—dan sekaligus menguatkan tekadnya. Ia tidak akan membiarkan rumah tangganya dirusak orang lain. Demi Naya, ia harus berjuang.
Sejak tadi ponsel Andi terus bergetar. Dian tahu betul siapa pengirimnya. Namun ia memilih diam, berpura-pura tak menyadari apa pun.
Setelah sarapan, Dian mengajak Naya menonton di kamar. Ia ingin putrinya nyaman karena di sana ada pendingin udara, sementara ia sendiri bisa sedikit bersantai.
Namun, tak lama kemudian Dian menyadari Andi tidak terlihat. Ia keluar kamar, menyusuri rumah, mencarinya. Langkahnya terhenti ketika ia sudah berada di lantai dua. Dari balik dinding, samar terdengar suara suaminya.
“Sayang, kamu bisa sabar nggak sih. Di sini masih ada Dian. Gila kamu, ya.”
Kalimat itu menusuk telinga Dian. Ada perih yang tiba-tiba menguat di dadanya. Namun ia memilih tidak naik lebih jauh. Dengan langkah pelan, Dian berbalik dan kembali turun ke lantai bawah, menyimpan rasa sakit itu rapat-rapat di dalam hati.
Di kamar, Dian duduk di tepi ranjang sambil memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dadanya yang terasa sesak. Tangannya sedikit gemetar saat meraih ponsel. Setelah ragu beberapa detik, akhirnya ia mengetik pesan untuk satu-satunya orang yang bisa ia ajak jujur.
> Sin, aku akan berusaha mempertahankan rumah tanggaku demi Naya.
Tak apa aku rapuh, asal putriku bahagia.
Pesan itu terkirim. Dian menatap layar cukup lama, lalu menghembuskan napas pelan. Tidak ada air mata yang jatuh, seolah semua tangisnya sudah terlalu lelah untuk keluar.
Ia menoleh ke arah Naya yang sedang menonton televisi sambil memeluk boneka kesayangannya. Senyum kecil terukir di wajah Dian. Dalam hati ia berjanji, seberat apa pun luka yang harus ia simpan, ia akan bertahan. Bukan karena Andi, bukan karena rumah itu—melainkan karena Naya, satu-satunya alasan ia masih berdiri.
Tak lama kemudian, ponsel Dian kembali bergetar. Ia menoleh, lalu membaca pesan balasan dari Sinta.
> Aku akan terus dukung kamu. Kamu tenang aja, Ian. Aku bakal bantu kamu.
Kamu fokus sama Naya aja, aku yang atur semua.
Dian membaca pesan itu berulang kali. Dadanya yang sejak tadi sesak terasa sedikit lebih ringan. Ia menggenggam ponsel erat-erat, seolah menggenggam kekuatan baru.
“Iya… aku harus fokus sama Naya aja,” gumamnya pelan.
Ia kembali menatap putrinya. Naya yang tertawa kecil, lalu berceloteh sambil tetap melihat televisi. Dian tersenyum, lalu merapikan rambut anak itu dengan hati-hati, takut menganggunya.
Dalam diam, Dian tahu perjuangannya belum selesai. Bahkan mungkin baru saja dimulai. Tapi setidaknya kini ia tidak sendirian. Ada Sinta di belakangnya, dan ada Naya di depannya—alasan terkuat untuk tetap tegar, meski hatinya retak.
Tidak lama Andi masuk ke kamar. Wajahnya terlihat biasa saja, seolah tak ada beban apa pun di kepalanya.
“Hari ini gak usah masak ya, Ian. Aku mau anterin ibu. Kamu pesan aja makan nanti, aku transfer uang,” ujarnya sambil meraih kunci mobil.
“Iya, Bang,” jawab Dian singkat dan datar, matanya tetap tertuju pada Naya yang masih tiduran.
Andi sempat menoleh, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun urung. Ia lalu keluar kamar tanpa menambah kata.
Dian tidak tahu—dan Andi memang tak ingin ia tahu—bahwa rencana hari ini sudah tersusun rapi di kepalanya. Ia akan pergi bersama ibunya, benar. Tapi setelah itu, Bu Minah akan diturunkan di mall dengan alasan ingin belanja. Sementara Andi akan melanjutkan perjalanan menemui Tasya.
Alasan itu terasa aman. Masuk akal. Dan pasti berhasil.
Yang Andi tak ceritakan, Tasya sudah kehilangan kesabaran. Ancaman itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Kalau hari ini kamu gak ketemu aku, aku yang datengin rumah adik kamu. Aku bakal bilang semuanya ke Dian.
Andi mengepalkan tangan saat berjalan keluar kamar. Ia tahu Tasya bukan tipe wanita yang hanya mengancam tanpa tindakan. Dan itu membuatnya panik—takut, tapi juga terikat.
Sementara itu, di kamar, Dian duduk memeluk lutut di tepi ranjang. Perkataannya barusan terasa dingin keluar dari mulutnya sendiri, tapi ia terlalu lelah untuk berpura-pura hangat.
Ia menatap pintu yang baru saja tertutup, hatinya berdesir tak nyaman. Entah mengapa, firasatnya hari ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, hanya perasaan samar seperti awan gelap yang pelan-pelan menutup langit hatinya.
Namun saat Naya mulai mengantuk, Dian segera menghapus semua raut itu. Ia tersenyum, menggendong putrinya, dan berbisik lembut,
“Gak apa-apa, Nak… Ibu di sini.”
Apa pun yang terjadi hari ini, Dian sudah bertekad: ia akan tetap berdiri. Untuk Naya. Selalu untuk Naya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Dian meraih ponselnya. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan nama Sinta. Dadanya terasa sesak, bukan karena tangis, tapi karena lelah yang menumpuk terlalu lama.
Nada sambung terdengar, lalu suara Sinta menjawab cepat.
“Ian? Kenapa?”
Dian menarik napas panjang, suaranya dibuat setenang mungkin meski hatinya berantakan.
“Sin… aku mau minta tolong.”
“Ada apa? Suaramu kok beda.”
Dian terdiam sejenak, lalu berkata pelan, hampir seperti berbisik,
“Aku… aku gak punya tenaga buat ngikutin Bang Andi hari ini. Tapi perasaanku gak enak. Tolong ya, Sin. Tolong ikutin Bang Andi sama ibu mertuaku.”
Di seberang sana, Sinta langsung paham. Tak ada tanya berlebihan, tak ada penghakiman.
“Kamu di rumah aja sama Naya,” jawab Sinta tegas. “Aku yang urus. Kamu share lokasinya rumah Andi ke aku sekarang.”
Air mata Dian akhirnya jatuh, satu saja, tapi cukup membuat dadanya lega sedikit.
“Makasih, Sin… maaf aku selalu ngerepotin.”
“Jangan ngomong gitu,” potong Sinta. “Kamu bukan lemah, Ian. Kamu cuma lagi capek. Dan kamu gak sendirian.”
Telepon ditutup. Dian segera mengirim lokas rumah Andi yang masih aktif di ponselnya. Setelah itu, ia duduk terdiam, menatap jendela kamar. Cahaya matahari masuk lembut, kontras dengan hatinya yang sedang kacau.
Ia merebahkan badan di samping Naya yang sudah tertidur, memeluk anaknya erat-erat.
“Doain Ibu ya, Nak,” bisiknya lirih. “Biar Ibu kuat.”
Sementara itu, di luar sana, tanpa Andi sadari, ada sepasang mata yang mulai mengikuti setiap langkahnya—bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membuka kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Dan hari itu, perlahan, arah takdir mulai berubah.
Tanpa Andi sadari, setiap langkah yang ia ambil hari itu justru mendekatkan Dian pada kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
Mobil Andi berhenti di depan sebuah mall besar. Ia menurunkan Bu Minah dengan wajah biasa saja, seolah tak ada beban di kepalanya.
“Nanti jemput ibu jam berapa, Ndi?” tanya Bu Minah sambil merapikan tasnya.
“Sore aja, Bu. Ibu belanja yang lama sekalian,” jawab Andi cepat.
Bu Minah mengangguk tanpa curiga, lalu masuk ke dalam mall. Begitu sosok ibunya menghilang di balik pintu kaca, Andi langsung kembali ke mobil. Wajahnya berubah tegang. Tangannya meraih ponsel, mengetik cepat.
Aku OTW.
Tak lama, mobil melaju meninggalkan area mall.
Beberapa menit kemudian, Andi sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang cukup ramai, namun sudutnya tersembunyi. Kafe itu bukan tempat asing baginya. Justru terlalu familiar.
Di salah satu meja pojok, Tasya sudah duduk lebih dulu. Dress ketat membalut tubuhnya, rambut panjangnya terurai rapi. Wajahnya masam saat melihat Andi datang terlambat.
“Kamu lama,” ucap Tasya ketus begitu Andi duduk.
“Aku sama ibu tadi,” jawab Andi singkat. “Aku cuma sebentar.”
Tasya menyilangkan tangan, matanya tajam menatap Andi.
“Sebentar sebentar terus. Kamu pikir aku ini apa, Andi? Kamu janji hari ini buat aku.”
Andi menghela napas, menurunkan suaranya.
“Tasya, jangan ribut. Aku udah ke sini kan.”
Tanpa mereka sadari, dari seberang jalan, sebuah mobil berhenti tak jauh dari kafe itu. Seorang perempuan turun dengan kacamata hitam dan masker. Ia tidak mendekat, hanya duduk di bangku luar kafe sambil membuka ponselnya.
Sinta.
Matanya mengamati dari kejauhan—Andi yang duduk berhadapan dengan Tasya, ekspresi Tasya yang penuh tuntutan, dan bahasa tubuh Andi yang jelas bukan sekadar teman biasa.
Sinta menarik napas perlahan.
“Tenang, Dian,” gumamnya pelan. “Satu per satu, semuanya akan kelihatan.”
Di rumah, Dian memeluk Naya yang terlelap. Entah kenapa dadanya terasa berat, seolah hatinya sedang memberi isyarat. Ia menatap ponsel, menunggu kabar—tanpa tahu bahwa di luar sana, potongan demi potongan kebenaran sedang dikumpulkan.
Dan saat waktunya tiba, Dian tak hanya akan tahu semua—
ia juga akan tahu siapa yang harus ia pertahankan, dan siapa yang harus ia lepaskan.
Perasaan Sinta semakin tidak enak sejak mobil Andi berbelok tajam ke arah yang sama sekali tidak ingin ia lihat.
Hotel…
Langkah Sinta sempat melambat. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, tapi karena ia tahu—kalau dugaannya benar, maka luka Dian jauh lebih dalam dari sekadar pesan singkat atau pertemuan di café.
Namun Sinta menarik napas panjang.
Dian berhak tahu.
Mobil Andi berhenti tepat di area parkir hotel. Dari balik kacamata hitamnya, Sinta melihat jelas Andi turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Tasya. Perempuan itu tersenyum kecil, penuh kemenangan, lalu menggenggam lengan Andi seolah tak ada rasa bersalah sedikit pun.
Sinta mengepalkan tangan.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam lobby. Sinta menunggu beberapa detik, memastikan jarak aman, lalu ikut melangkah masuk.
Lobby hotel itu dingin dan elegan. Suara langkah kaki, denting sendok dari kafe hotel, dan musik lembut bercampur menjadi satu. Dari balik pilar besar, Sinta mengamati.
Andi berdiri di meja resepsionis. Tasya di sampingnya, tubuhnya condong manja. Sinta tak bisa mendengar percakapan mereka, tapi ia melihat jelas—Andi menyerahkan KTP.
Hatinya seperti diremas.
Tak lama, resepsionis memberikan kartu kamar. Tasya tersenyum puas, lalu menarik tangan Andi menuju lift.
Sinta cepat-cepat menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponsel. Dari sudut matanya, ia mencatat satu hal penting: nomor lantai yang muncul di layar lift.
Lantai tujuh.
Begitu pintu lift tertutup, Sinta langsung duduk di sofa lobby. Tangannya gemetar saat membuka ponsel.
Ia memotret papan informasi hotel, lalu mengetik pesan cepat kepada Dian—namun berhenti sebelum menekan kirim. Jarinya terhenti lama.
“Belum,” gumamnya lirih. “Belum sekarang.”
Ia tahu Dian sedang bersama Naya. Ia tak ingin menghancurkan sisa ketenangan yang sedang Dian bangun dengan susah payah.
Sinta berdiri, melangkah keluar lobby, lalu menelpon Dian dengan suara setenang mungkin.
“Ian,” ucapnya pelan, “kamu di rumah aja ya. Jangan ke mana-mana. Percaya sama aku.”
Dari seberang, Dian menjawab lembut tanpa curiga, “Iya, Sin. Ada apa?”
“Nanti aku jelasin,” jawab Sinta. “Fokus sama Naya dulu.”
Telepon ditutup. Sinta menatap kembali gedung hotel itu dari luar, matanya berkaca-kaca.
“Maafin aku kalau nanti sakit,” bisiknya.
“Tapi kamu pantas tahu kebenaran… seutuhnya.”
Dan di lantai tujuh hotel itu, Andi sama sekali tidak tahu—
bahwa setiap kebohongan yang ia bangun hari ini sedang dicatat,
dan tak lama lagi, semuanya akan runtuh.
Di dalam kamar hotel itu, Tasya langsung mendekat. Ia melingkarkan tangan ke leher Andi, wajahnya mendongak dengan senyum manja yang dibuat-buat.
“Kamu nggak kangen aku?” tanyanya lembut, suaranya sengaja dipermanis.
Andi terdiam sejenak. Ada ragu yang singgah di matanya, namun ia menutupinya dengan helaan napas pendek.
“Kangen,” jawabnya akhirnya, singkat namun terdengar berat.
Tasya tersenyum puas, seolah satu kata itu sudah cukup untuk menenangkan egonya. Ia menyandarkan kepala di dada Andi, tak peduli pada kegelisahan yang perlahan tumbuh di hati lelaki itu—kegelisahan yang sejak tadi tak mau pergi.