NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kau Egois Sean

"Bunuh Stella untukku."

Alissa terkekeh remeh kala mengingat jika Sean tidak menjawab permintaanya. Laki-laki itu langsung pergi setelah melepaskan rengkuhan tangannya dari tubuh Alissa.

 Lihatlah, sekarang sudah jelas jika dia hanya berpura-pura.

"Hei, kau lihat ayahmu itu? Dia adalah laki-laki plin-plan yang pernah aku temui." ujar Alissa mengusap perutnya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan perempuan itu mengajak kandungannya berbicara.

"Sekarang aku akan memeriksakanmu. Kau senang, hum?"

Alissa memoleskan lipstick merah pada bibirnya. Terkesan berani dan ambisius. Ia meneliti dirinya sendiri di cermin.

"Lihatlah, Alissa. Kau sangat cantik." monolognya penuh kepercayaan diri. Namun itu memang faktanya.

"Lepas dari Sean, kau bisa mendapatkan laki-laki jauh lebih baik dari iblis itu." sayang sekali tokoh Alissa asli harus meregang nyawa di tangan orang yang dicintainya.

Bodoh! Kata itu selalu Alissa ungkapkan.

Menyambar tas mahalnya dari meja rias, Alissa keluar kamar. Menuju teras mansion yang mungkin sopir telah menunggunya.

Dan benar. Memang seseorang telah menunggunya di balik kursi kemudi. Namun bukan sopir. Melainkan....hah! Siapa lagi jika bukan Sean sia-lan Balrick??

"Hei! Kenapa kau ada di sana?" tuding Alissa pada suaminya.

Sean yang semula memainkan ponselnya, berganti menoleh pada Alissa. Ia buka kacamata hitam yang membingkai mata setajam elang miliknya.

"Masuk!" titah laki-laki itu menggunakan gerakan dagu.

Alissa mendecakkan lidah tak suka. Berkacak pinggang, ia tatap Sean dengan malas.

"Please, deh Sean. Aku sedang tidak ingin bertengkar. Kau keluarlah! Kenapa kau menggunakan mobil ini!" oceh perempuan itu dengan nada kesal yang begitu ketara.

Biasanya Sean akan menggunakan mobil bugatti la voiture noire hitam kebanggaannya. Untuk mobil lainnya, itu hanya sebagai koleksi dan keperluan mansion seperti berbelanja dan sebagainya.

Berapa banyak kendaraan yang Sean Balrick miliki? Hah, jangan ditanya. Ini Sean. Laki-laki paling berpengaruh di novel ini. Bahkan sang protagonis laki-laki saja tidak bisa menandingi kekayaan dari seorang Sean Balrick.

"Aku akan mengawasimu Alissa."

Mata Alissa menyipit tak paham. "Apa maksudmu?"

"Kau akan ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan bukan? Aku hanya khawatir, bukannya memeriksa, kau akan mengaborsinya." ucap Sean dengan santainya. Dan itu membuat Alissa berteriak tidak terima.

"Kau pikir aku sekejam itu?!" amuknya dengan ekspresi marahnya.

Sean mendengus samar. "Ku pikir kau belum lupa dengan kejadian beberapa waktu lalu."

Alissa terdiam. Mencoba mengingat apa yang Sean maksud. Lalu, ketika ingatannya menuju pada pertengkarannya dengan Sean beberapa hari yang lalu, perempuan itu mengerang frustasi.

"Dengar, waktu itu aku emosi. Aku tidak sadar mengucapkannya." kata Alissa membela dirinya sendiri.

"Orang yang sedang emosi biasanya mengatakan kejujuran." balas Sean.

Istrinya itu menggeram tertahan. Percuma berdebat dengan Sean. Laki-laki itu mana mau kalah. Lebih baik yang waraslah yang mengalah.

"Oke, aku akui aku salah. Sekarang kau keluar ya? Aku ingin menggunakan mobil ini." pinta Alissa dengan nada memohon.

"Aku akan mengantarmu." tegas Sean tidak ingin dibantah.

"Tapi aku tidak mau!" tolak Alissa yang sama keras kepalanya.

Sean berdecak kesal. Ia buka pintu mobil dengan kasar lalu menghampiri sang istri yang wajahnya berubah menciut. Jangan heran, nyali Alissa terkadang seperti kerupuk.

"Kau---, Hei! Sean, lepaskan!"

Alissa memekik kala Sean membopongnya seperti karung beras dan mendudukkannya pada kursi samping kemudi.

Rampung dengan itu, Sean tutup pintu kencang. Bahkan Alissa sampai harus menutup matanya karena terkejut.

Sean kembali ke posisi semula. Duduk di kursi kemudi. Lalu melajukan mobilnya meninggalkan teras mansion.

"Sean, pelan-pelan." cicit Alissa kala suaminya itu mengemudikan mobil seperti orang yang tengah kesetanan.

Bukannya sampai ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan, Alissa takut dokter akan memeriksa anggota tubuhnya yang lain. Misal saja dahi karena terkena benturan keras.

"Sean, jangan mengebut!" tanpa sadar, Alissa menyentuh punggung tangan Sean yang berada di tuas kemudi.

Merasakan sentuhan dari istrinya, Sean sedikit memelankan laju mobilnya. Lalu berbalik menggenggam tangan Alissa erat. Laki-laki itu mengemudi hanya dengan satu tangan.

Membawa telapak tangan Alissa untuk ia cium, Sean menghela nafas panjangnya.

"Jangan suka membantah bisa?" ujarnya pelan.

"Hanya menurut apakah sesusah itu?" sambungnya dengan mata yang melirik pada Alissa.

Alissa menunduk. Menatap tas di pangkuannya dengan tatapan tak berarti.

"Aku hanya takut Sean."

"Apa yang kau takutkan?"

"Kau hanya bersandiwara. Kau hanya ingin mempermainkan perasaanku." kata Alissa mengungkapkan keresahannya.

Sean meneguk salivanya, hingga jakun miliknya pun ikut bergerak. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"

"Bukankah dulu kau sangat membenciku? Bahkan menganggapku sebagai budak pela-curmu. Kau juga ingin membunuhku di malam pertama kita." bahkan di masa depan, kau juga akan menghabisiku.

"Lalu kenapa sekarang kau berubah perhatian? Kenapa tiba-tiba kau mengungkapkan cinta? Bukankah itu aneh, Sean?"

Mendengar pengaduan dari Alissa, Sean tidak bisa untuk tidak terkekeh geli. Sepertinya perempuan itu tidak bisa berkaca.

"Lalu bagaimana dengan dirimu?" laki-laki itu membelokkan mobilnya menuju parkiran rumah sakit.

"Apa maksudmu?"

"Kau juga berubah Alissa. Kau tidak sadar itu?" dengus Sean. Ia hentikan mobilnya sebelum akhirnya menatap Alissa sepenuhnya.

"Bukankah dulu kau sangat memujaku? Bahkan merasa senang saja saat aku memanggilmu sebagai pela-cur. Tapi sekarang kau tidak seperti itu."

"Kau mulai mengabaikanku. Kau tidak suka berdekatan denganku." dan Sean merasa tidak terima. Dia merasa ada yang hilang dari dirinya.

Masalahnya aku bukan Alissa yang dulu Sean! Aku bukan Alissa yang mecintaimu dengan tuli dan buta! 

Sayangnya, kalimat itu harus Alissa telan bulat-bulat. Perempuan itu tidak mungkin mengatakan jika dia hanyalah jiwa yang nyasar masuk pada raga istrinya laki-laki itu.

"Kenapa kau berubah?"

Alissa menatap Sean yang tengah memandangnya lekat.

"Aku--, kesabaran juga ada batasnya kan? Selama ini aku selalu bersabar. Berharap suatu hari nanti cintaku akan bersambut. Namun--,

"Selama aku menunggu, kesabaranku juga mulai terkikis. Aku tidak ingin berharap dengan sesuatu yang tidak pasti."

Alissa hanya mengarang. Dan semoga Sean tidak menyadarinya.

"Maka kau sudah tidak perlu menunggu lagi Alissa." Sean arahkan tangannya untuk mengusap pipi istrinya penuh perasaan.

"Karena sekarang perasaanmu telah berbalas."

"Perubahanmu menyadarkanku, jika ternyata aku juga menginginkanmu."

Alissa berdehem. Tiba-tiba saja dia merasa gugup. Ia singkirkan tangan Sean dari wajahnya.

"Dan sudah sering ku katakan. Kau terlambat Sean."

"Perasaanmu, perubahanmu, semua itu sudah tidak ada gunanya lagi."

Sean terkekeh. Ia mainkan lidahnya di dalam mulut.

"Aku tidak peduli." ia tatap Alissa dengan senyum smirknya.

"Selama kau menjadi milikku, aku tidak peduli dengan apapun. Bahkan dengan penolakanmu."

"Dan selamanya...kau akan selalu menjadi milikku."

Alissa menatap Sean tidak percaya. Perempuan itu menggeleng pelan tak menyangka.

"Kau egois, Sean." ujarnya sarkas.

Namun, apa pedulinya sang antagonis. Ia tersenyum singkat sebelum akhirnya kembali mengecup punggung tangan milik Alissa.

"Ya, aku memang egois."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!