Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 21
Tok-tak, tok-tak, tok-tak...
Suara derap langkah kaki kuda yang teratur memecah keheningan jalanan utama Ibu Kota Tianjing. Di barisan paling depan, seorang pemuda dengan baju zirah perak yang berkilau meski tertutup debu perjalanan, memacu kudanya dengan wibawa yang tenang. Dia adalah Shen Lan, Pangeran Keempat, yang baru saja kembali setelah tiga tahun menaklukkan keganasan banjir di wilayah Selatan, Shanqouh.
"Kak Yuhan, apa kabarmu?" gumamnya lirih. Matanya menyapu kerumunan rakyat yang berbaris di sisi jalan.
Sebagai Menteri Infrastruktur, Shen Lan adalah pangeran yang paling dicintai rakyat karena kinerjanya yang nyata membangun bendungan. Namun, di balik sikap bijaksananya, ia adalah pelindung paling protektif bagi Shen Yuhan. Baginya, pernikahan Yuhan dengan Mu Lian adalah sebuah kesalahan besar. Bagaimana bisa pria cacat yang duduk di kursi roda melindungi kakakku yang rapuh? pikirnya sinis selama bertahun-tahun.
Tes. Tes. Tes.
Tiba-tiba, setetes air jatuh di hidungnya. Lalu dua tetes. Dalam sekejap, langit menumpahkan airnya dengan sangat deras.
"Hujan? Sungguh ini hujan?" Shen Lan menarik kekang kudanya, membentangkan kedua tangan sambil menengadah ke langit. Senyum merekah di wajah tampannya. "Ini anugerah yang luar biasa! Langit akhirnya memberkati kepulanganku dan tahta Kakak!"
"HIDUP PANGERAN KEEMPAT! HIDUP PANGERAN BIJAKSANA!" teriak rakyat bersahutan. Nona-nona bangsawan di pinggir jalan melambaikan sapu tangan, memuja sang pangeran yang belum juga menikah di usia 19 tahun itu.
Namun, kegembiraan Shen Lan memudar saat ia memasuki gerbang istana. Di tengah lahan yang baru dibuka, ia melihat sosok wanita berjubah Phoenix merah berdiri di bawah guyuran hujan tanpa payung. Di sampingnya, Mu Lian duduk diam di kursi roda.
"BODOH!" umpat Shen Lan. Emosinya meluap melihat para dayang seolah membiarkan kakaknya basah kuyup. Ia melompat dari kuda dan berlari kencang. "Kakak! Kak Yuhan!"
Yuhan berbalik. Ingatannya berputar cepat hingga ia menemukan nama pria itu. "Shen Lan?"
"Hidup Yang Mulia Maharani Shen! Hidup seribu tahun!" Shen Lan berlutut sesaat, namun matanya menatap tajam.
"Adik Lan, bangunlah. Tak perlu formal saat hanya ada kita," Yuhan melangkah maju, hendak menyentuh bahu adiknya.
SREEEKKK!
Bukannya menyambut, Shen Lan justru melompat mundur dan mencabut pedangnya dalam satu gerakan halus. Ujung pedang yang dingin itu kini terarah tepat ke tenggorokan Yuhan. Wu Sheng bereaksi cepat, mencabut pedangnya untuk menghalau, namun Yuhan mengangkat tangan, memberi kode agar semua orang mundur.
"Siapa kamu?" geram Shen Lan. Waspada memenuhi matanya. "Katakan sebenarnya, siapa kamu dan di mana kakakku!"
Yuhan mengerutkan dahi. "Adik Lan, apa maksudmu? Ini aku, kakakmu."
"BOHONG!" teriak Shen Lan. "Kakakku tidak memiliki Dantian. Dia tidak memiliki tenaga dalam! Tapi kau... tubuhmu memancarkan energi tingkat tinggi yang sangat kuat. Orang lain mungkin bisa kau tipu dengan wajah itu, tapi tidak denganku! Kak Yuhan itu bodoh dan mudah ditipu, dia tidak memiliki tatapan sepertimu!"
Shen Lan, yang berada di tingkat keempat Pemurnian Qi, tidak membuang waktu. Ia menerjang maju. Yuhan dengan gesit merebut pedang Wu Sheng.
TRANG! TRANG! TRANG!
Benturan logam menggema di tengah suara hujan. Shen Lan menyerang dengan jurus Aliran Sungai Selatan, pedangnya bergerak cepat dan licin. Namun, Yuhan mengimbanginya dengan teknik pembunuh bayaran yang efisien. Ia berputar, menangkis, dan menyerang titik-titik lemah.
"Kau cukup hebat, Adik kecil," puji Yuhan sambil menepis serangan fatal.
"DI MANA KAKAKKU!" Shen Lan semakin beringas. Ia melompat ke udara, menebaskan energi biru ke arah Yuhan.
Hujan turun semakin deras, seolah-olah langit sendiri sedang mencuci dosa-dosa yang melekat pada pilar merah Istana Tianjing. Di tengah guyuran air yang dingin, ketegangan antara Shen Lan dan Shen Yuhan mencapai puncaknya. Sang Pangeran Keempat, yang dikenal sebagai ahli strategi air, kini justru berdiri menantang kakaknya sendiri dengan pedang terhunus.
"Siapa kamu sebenarnya?" teriak Shen Lan sekali lagi. Suaranya serak, bersaing dengan deru air hujan. "Kakakku tidak pernah bisa memegang pedang, apalagi memiliki energi sekuat ini!"
Yuhan hanya berdiri diam, membiarkan jubah phoenix-nya yang berat terseret di tanah berlumpur. "Adik Lan, kau baru kembali dari Selatan. Mungkin air sungai Shanqouh telah mengaburkan penglihatanmu."
"Cukup sandiwaranya!" Shen Lan meledak. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita di depannya memiliki aura yang jauh lebih tinggi darinya. "Hanya ada satu cara untuk membuktikan siapa kau."
Tanpa menunggu jawaban, Shen Lan menerjang.
Pertarungan Dua Saudara: Tarian Hujan dan Pedang
TRANG!
Percikan api muncul saat pedang Wu Sheng yang dipinjam Yuhan beradu dengan pedang perak Shen Lan. Kekuatan dorongan Shen Lan cukup besar, namun Yuhan tidak bergeming. Ia menggunakan teknik Lingkup Atma Nirwana untuk menstabilkan kakinya, membuat tanah di bawahnya sedikit amblas namun tubuhnya tetap tegak.
Shen Lan menarik pedangnya dan melancarkan serangan bertubi-tubi. "Jurus Pedang Air, rasakan!" Pedangnya bergerak seperti air yang mengalir, meliuk-liuk di udara, mengincar titik-titik vital Yuhan. Setiap tebasan membawa embusan angin tajam yang bisa menyayat kulit.
Yuhan mendengus. Sebagai mantan pemburu bayaran elit dari dunia modern, gerakan Shen Lan baginya terlalu "indah" namun kurang "efisien". Yuhan bergerak dengan langkah-langkah kecil yang sangat presisi. Ia menghindar hanya selebar rambut, membiarkan mata pedang Shen Lan lewat di depan hidungnya.
"Terlalu lambat, Lan," bisik Yuhan dingin.
"Lancang!" Shen Lan berputar di udara, melakukan tendangan putar yang dialiri energi biru Pemurnian Qi.
Yuhan tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kirinya, menangkap pergelangan kaki Shen Lan di udara.
DUM!
Gelombang kejut meledak dari titik sentuhan mereka, membuat air hujan di sekitar mereka terpental menjauh membentuk lingkaran kosong sesaat.
"Bagaimana mungkin?" mata Shen Lan terbelalak. Ia merasa kakinya seolah ditahan oleh gunung batu yang tak tergoyahkan.