NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan di Depan Ayah dan Hujan di Lapangan Basket

Malam itu, langit di atas SMA Garuda seolah ikut merasakan ketegangan yang terjadi di bawahnya. Awan mendung menggantung rendah, dan udara terasa sangat gerah sebelum hujan turun. Arlan berdiri mematung di samping tumpukan kardus terakhir yang baru saja dipindahkan ke gudang belakang. Keringat bercampur debu membasahi keningnya, tapi itu tidak seberapa dibanding dingin yang ia rasakan saat melihat siluet ayahnya berdiri di depan mobil Alphard hitam di parkiran sekolah.

Papa Arlan tidak sendiri. Shinta berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah bersih dari debu—tampaknya dia sempat mencuci muka dan merapikan rambutnya agar tetap terlihat sebagai "anak baik" di depan calon mertua idamannya.

"Arlan. Masuk ke mobil. Sekarang," suara Papa Arlan terdengar tenang, namun setiap kata yang keluar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis mati.

Ghea, yang berdiri beberapa meter di belakang Arlan sambil memegang botol minum yang sudah kosong, merasa kakinya lemas. Ia ingin lari dan bersembunyi di balik tumpukan kursi rusak di gudang, tapi ia tahu ia tidak bisa membiarkan Arlan menghadapi badai ini sendirian.

"Tunggu, Om!" seru Ghea, suaranya sedikit bergetar tapi penuh tekad. Ia melangkah maju, berdiri di samping Arlan.

Papa Arlan menoleh. Tatapannya sangat tajam, seolah sedang memindai virus berbahaya yang masuk ke dalam sistem komputernya. "Kamu lagi. Saya rasa instruksi saya kemarin sudah sangat jelas, Ghea. Jangan dekati anak saya."

"Om, Arlan di sini kerja. Kami berdua mindahin arsip sekolah karena ruangannya mau direnovasi. Ini tugas dari Pak Broto, bukan main-main," jelas Ghea sekuat tenaga.

Shinta memotong dengan nada sinis, "Tapi tadi di perpustakaan kalian akting seolah-olah nggak kenal, kan? Pura-pura berantem biar Pak Bagus lengah? Aku tahu semuanya, Arlan. Kamu bohongin Papa kamu sendiri demi dia."

Arlan menarik napas panjang. Ia melepas kacamata tipisnya, mengelapnya dengan ujung baju yang sudah kotor, lalu memakainya kembali. Matanya menatap ayahnya tanpa ada rasa takut yang biasanya menghantuinya.

"Ayah... Arlan minta maaf karena sudah bersandiwara," ucap Arlan pelan namun mantap. "Arlan melakukan itu bukan karena Arlan ingin membangkang. Arlan melakukan itu karena Arlan nggak punya pilihan lain untuk bisa tetap berada di dekat orang yang bikin Arlan ngerasa... kalau Arlan itu manusia."

"Manusia?" Papa Arlan tertawa sinis. "Manusia itu butuh masa depan, Arlan! Bukan butuh tawa receh dan makan seblak di gudang berdebu! Kamu itu aset keluarga Hendra!"

"Arlan bukan aset, Yah! Arlan bukan saham yang nilainya harus terus naik setiap hari!" suara Arlan meninggi, untuk pertama kalinya ia berteriak di depan ayahnya. "Arlan capek jadi robot yang Ayah program setiap pagi. Arlan pengen punya temen, Arlan pengen ngerasain capek karena kerja keras, bukan capek karena tekanan mental!"

Tes... tes... Hujan mulai turun, awalnya perlahan, lalu tiba-tiba berubah jadi sangat deras.

"Pulang, Arlan. Sebelum Ayah kehilangan kesabaran dan benar-benar memindahkan kamu ke London malam ini juga," ancam Papa Arlan, mengabaikan guyuran hujan yang mulai membasahi jas mahalnya.

Ghea merasakan air hujan menusuk kulitnya, tapi ia lebih sakit melihat Arlan yang sedang dipojokkan. "Om, tolong jangan pisahin Arlan dari sekolah ini. Arlan itu Ketua OSIS yang hebat. Sekolah ini butuh dia. Dan kalau Om mau hukum, hukum saya aja! Saya yang ngajak dia main, saya yang bikin dia bohong. Jangan salahin Arlan!"

"Kamu memang salah, Ghea. Dan kamu tidak berhak mengatur keluarga saya," Papa Arlan memberi isyarat pada Pak Bagus, si pengawal, untuk menarik Arlan masuk ke mobil.

Namun, sebelum Pak Bagus sempat menyentuh Arlan, Arlan justru melangkah mundur. Ia berlari kecil ke arah lapangan basket yang letaknya tepat di samping gudang. Di tengah guyuran hujan lebat, Arlan berdiri di tengah lapangan.

"Yah! Ingat basket kempis yang Ayah buang waktu Arlan SMP?!" teriak Arlan di tengah deru hujan. "Arlan nggak pernah berhenti main basket di dalam kepala Arlan! Ayah bisa buang bolanya, Ayah bisa tutup lapangannya, tapi Ayah nggak bisa hapus keinginan Arlan buat bebas!"

Arlan menoleh ke arah Ghea. "Ghe! Ambil bola di gudang! Yang tadi kita temuin!"

Ghea, tanpa berpikir panjang, langsung lari ke dalam gudang yang gelap. Ia meraba-raba di antara tumpukan barang lama sampai tangannya menyentuh bola basket usang yang sudah agak kempes dan penuh debu. Ia membawanya keluar dan melemparkannya ke arah Arlan.

Hup! Arlan menangkap bola itu dengan sempurna.

Di bawah guyuran hujan deras, di depan mata ayahnya yang melongo, di depan Shinta yang ketakutan karena bajunya mulai basah, Arlan melakukan dribble. Meskipun bolanya agak kempis dan lapangan sangat licin, Arlan bergerak dengan sangat lincah.

Bum! Bum! Bum! Suara bola basket di lapangan beton beradu dengan suara hujan.

Arlan melompat, tangannya mengayunkan bola dengan teknik yang sempurna. Swoosh! Bola masuk ke dalam ring tanpa menyentuh pinggiran sama sekali.

Arlan berdiri diam, napasnya memburu, seluruh tubuhnya basah kuyup. "Itu poin buat kebebasan Arlan, Yah. Arlan bakal pulang, Arlan bakal terima hukuman apapun. Tapi satu hal yang Ayah harus tahu... Ayah nggak akan pernah bisa ngatur siapa yang Arlan sayang."

Arlan berjalan melewati ayahnya dengan kepala tegak. Ia menyerahkan bola basket itu ke tangan Ghea. "Simpen ini, Ghe. Ini jaminan kalau gue bakal balik lagi ke sini."

Arlan masuk ke dalam mobil Alphard tanpa menoleh lagi. Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Ghea yang berdiri sendirian di tengah lapangan basket yang basah, memeluk bola basket kempes itu seolah-olah itu adalah jantung Arlan sendiri.

Juna muncul dari balik pintu gudang dengan payung yang sudah patah satu jari-jarinya. "Ghe... gila. Arlan keren banget tadi. Gue hampir mau rekam tapi HP gue takut mati kena air."

Ghea tidak menjawab. Air matanya bercampur dengan air hujan. "Jun... Arlan bakal baik-baik aja kan?"

Juna merangkul bahu Ghea. "Dia bakal baik-baik aja. Robot itu sudah bertransformasi jadi pahlawan, Ghe. Sekarang tugas kita adalah memastikan kalau pahlawan kita punya tempat buat pulang."

Sementara itu, di dalam mobil, suasana sunyi senyap. Papa Arlan hanya menatap ke depan dengan rahang mengeras. Namun, di dalam hatinya, ada sedikit rasa terkejut yang luar biasa. Ia baru sadar, anak yang selama ini ia anggap lemah dan penurut, ternyata punya kekuatan mental yang jauh lebih besar darinya.

"Arlan," panggil Papa Arlan setelah beberapa lama.

"Ya, Yah."

"Besok, kamu tetap sekolah. Tapi Pak Bagus akan duduk di dalam kelas kamu."

Arlan tersenyum pahit. "Terserah Ayah. Selama Ayah nggak ngirim Arlan ke London, Arlan bakal terima Pak Bagus jadi murid kehormatan di kelas Arlan."

Di sisi lain, Shinta yang duduk di mobil berbeda (karena diusir halus oleh Papa Arlan yang sedang emosi) meremas tas bermereknya. Rencananya berantakan. Bukannya memisahkan mereka, aksi dramatis di lapangan basket tadi justru membuat posisi Ghea makin kuat di hati Arlan.

"Liat aja... kalau jalur orang tua nggak berhasil, aku bakal pakai jalur 'fitnah' yang lebih kejam," gumam Shinta dengan mata yang memerah karena marah.

Malam itu berakhir dengan Ghea yang pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup, tapi hatinya merasa bangga. Ia membersihkan bola basket usang itu, menaruhnya di atas meja belajarnya, dan berjanji pada diri sendiri: Gue bakal belajar Fisika sampai mampus, gue bakal buktiin ke bokap lo kalau gue pantes ada di samping lo, Ar.

Pertempuran baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan cuma status asisten, tapi masa depan mereka berdua.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!