NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan Nyawa dan Harga Diri

Keheningan di penthouse Eduardo kini bukan lagi sekadar sunyi, melainkan keheningan yang mencekam—seperti udara yang membeku tepat sebelum badai besar menghancurkan segalanya. Di kamar utama, Alexander Eduardo menatap kakinya yang terbalut kain selimut sutra dengan kebencian yang mendalam. Kabar penculikan Nadin oleh Elara telah meruntuhkan sisa-sisa ketenangannya.

Baginya, kelumpuhan ini adalah penghinaan terbesar. Ia adalah predator yang kini terperangkap di dalam tubuh yang tidak mau patuh. Namun, di matanya yang merah karena kurang tidur, menyala api yang lebih panas dari amarah biasanya.

"Panggil Dokter Bastian. Sekarang!" perintah Alex kepada asistennya melalui interkom. "Dan jangan biarkan Almira tahu."

Dokter Bastian datang satu jam kemudian dengan wajah cemas. Ia tahu apa yang akan diminta oleh pasiennya yang paling keras kepala ini.

"Tuan Alex, Anda baru saja melewati operasi besar. Saraf tulang belakang Anda masih dalam masa inflamasi akut. Melakukan stimulasi saraf intensif sekarang adalah kegilaan," ujar Dokter Bastian sambil memeriksa monitor medis.

"Aku tidak butuh ceramah medis, Bastian. Aku butuh berdiri!" Alex mencengkeram lengan kursi rodanya hingga buku-buku jarinya memutih. "Ada prosedur suntikan stimulan dosis tinggi yang pernah kau ceritakan, kan? Lakukan itu. Aku tidak peduli risikonya."

"Risikonya adalah kerusakan permanen, Alex! Anda bisa benar-benar lumpuh seumur hidup jika tubuh Anda menolak zat itu!"

Alex menoleh, menatap dokter itu dengan pandangan yang mengerikan. "Lebih baik aku mati berdiri daripada hidup sebagai pajangan di saat istriku menangis karena ibunya hilang. Lakukan. Itu perintah."

Di bawah tekanan sang tuan, Dokter Bastian akhirnya menyerah. Dengan tangan gemetar, ia menyiapkan cairan kimia pekat yang dirancang untuk memaksa sinyal saraf bekerja melampaui batas normal. Saat jarum suntik menembus area pangkal saraf Alex, pria itu mengerang tertahan. Keringat sebesar biji jagung membanjiri dahinya. Rasanya seperti ada aliran listrik ribuan volt yang membakar tulang belakangnya. Namun, Alex tidak berteriak. Ia menelan semua rasa sakit itu, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk obsesinya.

Di sisi lain kota, di sebuah kafe remang-remang yang tersembunyi di balik gedung-gedung tua Jakarta Utara, Almira duduk dengan gelisah. Ia telah mengabaikan perintah pengawal Alex dan menyelinap keluar melalui pintu darurat—sebuah taktik yang ia pelajari dari pelariannya sendiri sebelumnya.

Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu muncul. Elara melangkah masuk dengan gaya elegan yang memuakkan, mengenakan pakaian serba hitam seolah ia sedang berkabung atas kehancuran hidup Almira.

"Kau berani juga datang tanpa anjing penjagamu, Almira," ucap Elara sambil duduk di hadapannya.

"Di mana Ibu saya?" tanya Almira langsung, suaranya bergetar namun penuh tekad.

Elara mengeluarkan ponselnya, menunjukkan rekaman video Nadin yang sedang berbaring di sebuah ruangan putih bersih yang asing. "Dia aman. Untuk saat ini. Tapi kau tahu, biaya pengobatan di fasilitas 'rahasia' ini sangat mahal. Dan hanya aku yang punya akses ke sana."

"Apa yang kau inginkan, Elara? Uang? Saham?"

Elara tertawa kecil, suara tawa yang membuat Almira merasa kotor. "Aku punya cukup uang. Yang kuinginkan adalah kau menghilang dari hidup Alex. Tapi tidak seperti kemarin. Kali ini, kau harus menandatangani surat pengakuan ini."

Elara menyodorkan selembar kertas. Isinya adalah pengakuan bahwa janin di rahim Almira bukan anak Alexander Eduardo, melainkan hasil hubungannya dengan pria lain saat ia melarikan diri ke desa.

"Jika kau menandatangani ini, reputasi Alex sebagai pemimpin Eduardo Group akan hancur karena dia menikahi wanita yang menipunya. Saham akan jatuh, dan aku akan membeli semuanya. Setelah itu, kau dan ibumu boleh pergi ke mana pun kalian mau. Aku akan memberi kalian cukup uang untuk hidup tenang di luar negeri."

Almira menatap kertas itu dengan pandangan kabur. Ini adalah fitnah yang keji. Janin ini adalah darah daging Alex, satu-satunya hal yang mulai menghubungkan hatinya dengan pria itu. Namun, di sisi lain, nyawa ibunya sedang dipertaruhkan.

"Kau... kau sangat jahat," bisik Almira.

"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, Almira. Alex adalah milikku selama sepuluh tahun. Kau hanyalah parasit yang datang di saat dia sedang lemah."

***

Kembali di penthouse, Alexander sedang berjuang melawan maut dalam tubuhnya sendiri. Reaksi obat itu mulai bekerja. Kakinya terasa seperti ditusuk jutaan jarum panas. Dengan dorongan keinginan yang murni, Alex mencoba mengangkat kakinya.

Satu inci. Dua inci.

"Argh!" Alex terjatuh dari kursi rodanya, menghantam lantai dengan keras. Dokter Bastian mencoba menolong, namun Alex menepisnya.

"Jangan sentuh aku!" geram Alex.

Ia menggunakan tangannya untuk menyeret tubuhnya di atas lantai, menuju meja kerjanya. Di sana, ia mengambil ponsel satelitnya yang tidak bisa dilacak. Ia menghubungi jaringan tentara bayaran yang pernah ia gunakan untuk mengamankan asetnya di luar negeri.

"Lacak koordinat ponsel Elara Mahendra dalam lima menit. Cari tahu lokasi pengiriman data video terakhirnya. Aku ingin lokasi itu sekarang juga, atau kepala kalian semua akan kucari," perintah Alex dengan nada yang tidak menyisakan ruang untuk kegagalan.

Sesaat kemudian, sebuah koordinat muncul. Sebuah gudang di dekat pelabuhan Singapura.

Alex mencengkeram pinggiran meja, menggunakan kekuatannya untuk menarik dirinya berdiri. Gemetar hebat menjalar di seluruh tubuhnya. Napasnya tersengal. Namun, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Alexander Eduardo berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Meskipun goyah, meskipun menyakitkan, ia berdiri.

"Siapkan jet pribadiku. Kita ke Singapura sekarang," ucap Alex pada asistennya yang baru saja masuk dengan wajah pucat melihat tuannya berdiri.

"Tapi Tuan, Nyonya Almira tidak ada di kamarnya! Dia menghilang!"

Mata Alex berkilat penuh kemarahan. Ia segera tahu apa yang terjadi. Almira mencoba menjadi pahlawan sendirian. "Cari dia! Lacak mobil yang dia gunakan! Jika dia bertemu dengan Elara, jangan biarkan dia menandatangani apa pun!"

Di kafe tua itu, Almira sudah memegang pulpen. Tangannya gemetar di atas kertas pengakuan palsu tersebut. Ia menatap Elara dengan mata yang penuh kebencian.

"Jika saya menandatangani ini, Anda berjanji akan melepaskan Ibu saya?"

"Tentu saja. Aku tidak butuh wanita tua penyakitan itu."

Tepat saat ujung pulpen menyentuh kertas, sebuah mobil hitam mengerem mendadak di depan kafe. Pintu terbuka, dan Alexander Eduardo melangkah keluar.

Almira dan Elara sama-sama terpaku. Alex berdiri tegak, meski langkahnya tampak kaku dan ia harus dibantu oleh dua pengawal di sisi kanan dan kirinya. Wajahnya adalah gambaran dari dewa kematian yang sedang menuntut balas.

"Hancurkan kertas itu, Almira!" suara Alex menggelegar, meruntuhkan keberanian Elara dalam sekejap.

Elara bangkit, wajahnya pucat pasi. "Alex? Bagaimana... bagaimana kau bisa berdiri?"

Alex melepaskan pegangan pengawalnya, melangkah satu per satu dengan susah payah namun penuh wibawa menuju meja mereka. Ia merenggut kertas itu dari tangan Almira dan merobeknya menjadi serpihan kecil di depan wajah Elara.

"Kau pikir kau bisa menggunakan darah dagingku untuk menjatuhkanku, Elara?" Alex mencengkeram leher Elara, tidak peduli pada tatapan orang-orang di kafe itu. "Aku sudah mengirim timku ke Singapura. Ibumu, Nadin, sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta saat kita bicara. Rencanamu gagal total."

Elara tercekik, matanya membelalak ketakutan. "K-kau... kau akan menyesal..."

"Satu-satunya yang akan menyesal adalah ayahmu karena memiliki anak sepertimu," desis Alex. Ia melepaskan Elara seolah wanita itu adalah sampah yang menjijikkan.

Alex berbalik ke arah Almira. Tatapannya yang tajam melunak sesaat saat melihat air mata di pipi istrinya. Namun, arogansinya kembali muncul saat ia melihat betapa berisikonya tindakan Almira.

"Kenapa kau tidak mempercayaiku, Almira? Kenapa kau harus pergi ke wanita ini?"

"Saya takut, Alex! Saya tidak mau kehilangan Ibu!" teriak Almira.

Alex tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru ambruk. Obat stimulan itu telah mencapai batasnya. Tubuh Alex menolak beban yang dipaksakan. Ia jatuh ke dalam pelukan Almira, napasnya pendek dan cepat.

"Alex! Alex, bangun!" tangis Almira pecah.

Di tengah kesadarannya yang mulai memudar, Alex membisikkan sesuatu di telinga Almira—sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat. "Aku... aku akan melakukan apa saja... untukmu. Jangan... jangan pernah pergi lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!