Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-hari Kelam III
Sini," katanya sambil melepas rokok, matiin di asbak—asbak kaleng bekas susu yang penuh puntung rokok.
Lestari melangkah pelan. Setiap langkah terasa berat banget. Kakinya kayak ditarik ke bawah.
"Lebih cepet."
Dia percepat langkahnya, berhenti di depan Dyon. Jarak mereka cuma sejengkal. Baunya—bau rokok, bau arak, bau keringat—langsung nyerang hidung Lestari.
Dyon berdiri. Tingginya lebih tinggi dari Lestari—mungkin sepuluh sentimeter lebih tinggi. Dia natap ke bawah, ke wajah Lestari yang pucat, yang matanya bengkak bekas nangis.
"Lo nangis lagi?" tanyanya—tapi nggak ada nada peduli di situ. Cuma... nada ngeledek.
Lestari menggeleng pelan. "Nggak..."
"Bohong. Mata lo sembab gitu." Tangannya ngusap pipi Lestari—usapan yang harusnya lembut tapi malah kasar, bikin Lestari refleks mengernyit karena pipinya masih sakit bekas ditampar.
"Gue nggak peduli lo nangis atau nggak," lanjut Dyon sambil nyengir—seringai yang bikin perut Lestari mual. "Yang penting... lo kerjain kewajiban lo sebagai istri. Ngerti?"
Lestari nggak jawab. Tenggorokannya kering. Lidahnya kayak kelu.
"NGERTI NGGAK?!"
Lestari loncat kaget. "N—ngerti..."
"Bagus."
Tangannya menarik Lestari ke kasur. Nggak pelan. Nggak hati-hati. Ditarik kayak narik karung beras, dibanting ke kasur sampe tubuh Lestari memantul sedikit.
Lestari pengen nolak. Pengen teriak. Pengen bilang "kumohon jangan, aku masih sakit dari kemarin".
Tapi suaranya nggak keluar.
Yang keluar cuma isak tangis pelan waktu Dyon mulai... mulai ngelakuin hal yang sama kayak kemarin malam. Brutal. Kasar. Nggak ada perasaan. Nggak ada kelembutan. Nggak ada... nggak ada kemanusiaan sama sekali.
Lestari cuma bisa nangis. Tangannya mencengkram sprei yang udah lusuh, kusut, bau apek. Giginya menggigit bibir bawah sampe berdarah biar nggak teriak—karena teriak cuma bikin Dyon makin agresif.
Dia ngerasa... dia ngerasa kayak benda. Bukan manusia. Bukan istri. Cuma benda yang dipake buat... buat memuaskan nafsu.
Setiap dorongan, setiap sentuhan, setiap—
Ya Allah... Ya Allah hentikan ini... kumohon...
Tapi Tuhan nggak hentikan.
Atau mungkin ini emang ujian yang harus dia jalani.
Atau mungkin ini hukuman.
Lestari nggak tau lagi.
Yang dia tau, badannya sakit. Sakit banget. Lebih sakit dari kemarin. Perut bawahnya kayak ditusuk-tusuk, pinggangnya kayak mau patah, pahanya memar—dia tau pasti ada memar baru lagi besok.
Setelah selesai—entah berapa lama, Lestari nggak ngitung waktu, dia cuma pengen semuanya cepet selesai—Dyon bangkit, narik celana boxer nya, nyalain rokok lagi.
Dia menghembuskan asap ke arah Lestari yang masih tergeletak di kasur, tubuh nya telanjang ditutupin cuma paha sama tangan yang gemetar.
"Besok lo bangun lebih pagi. Gue mau sarapan jam enam tepat. Kalau telat, lo tau sendiri." Suaranya datar. Kayak abis ngasih instruksi ke bawahan, bukan ke istri.
Lestari nggak jawab. Nggak bisa.
"Keluar. Balik ke kamar lo. Gue mau tidur."
Lestari pelan-pelan bangun. Badannya sakit semua. Dia ambil daster yang tadi dilempar Dyon ke lantai—daster nya sobek di bagian tali bahu kiri, jadi dia harus pegang biar nggak jatuh.
Kakinya lemas. Setiap langkah bikin dia pengen roboh. Tapi dia tetep jalan. Keluar dari kamar. Nutup pintu pelan di belakangnya.
Koridor gelap. Cuma ada satu lampu pijar redup di langit-langit yang nyalanya kedip-kedip—kayak mau mati.
Lestari jalan ke kamar gudang nya. Buka pintu. Masuk. Nutup pintu.
Gelap.
Gelap banget.
Dia jalan ke tikar, jatuh berlutut di situ, terus meringkuk. Posisi janin. Tangan memeluk lutut, kepala nunduk, rambut berantakan nutupin wajah.
Nangis.
Nangis lagi.
Nangis sampe nggak ada suara lagi. Cuma tubuh yang getar, napas yang tersendat, air mata yang membasahi tikar.
"Ya Allah... kenapa... kenapa aku harus ngalamin ini... aku... aku cuma mau hidup normal... mau sekolah... mau kuliah... mau punya keluarga yang bahagia... tapi kenapa... kenapa malah kayak gini..."
Tangannya meraba-raba perutnya sendiri. Perutnya yang sakit. Yang mungkin... mungkin suatu hari nanti bakal ada janin di sana. Janin hasil dari... dari pemerkosaan ini.
Lestari merem erat.
"Kalau... kalau aku hamil... anak itu... anak itu bakal hidup kayak apa? Di rumah kayak gini? Dengan bapak kayak Dyon? Dengan nenek kayak Wulandari?"
Pikirannya ngawur. Kemana-mana. Nggak jelas.
Tapi satu yang jelas—
Dia nggak tau sampai kapan dia bisa bertahan.
Hari ini baru hari kedua.
Baru. Hari. Kedua.
Dan dia udah... udah kayak mau mati.
Subuh datang lagi.
Lestari bangun jam setengah empat. Badannya masih sakit, tapi dia harus bangun. Harus wudhu. Harus shalat.
Karena shalat... shalat satu-satunya waktu dia ngerasa... sedikit tenang. Sedikit deket sama Tuhan. Sedikit... hidup.
Dia shalat di tikar yang sama. Sujud nya lama lagi. Nangis lagi di sujud.
"Ya Allah... kuatkan aku... kumohon... aku nggak minta dikeluarin dari sini kalau ini bukan takdir Mu... tapi kumohon... kuatkan aku... jangan biarkan aku mati sebelum waktunya... jangan biarkan aku... putus asa..."
Selesai shalat, dia duduk sebentar. Natap lubang angin yang mulai terang.
Fajar mulai datang.
Cahaya tipis masuk.
Dan entah kenapa—entah dari mana—ada suara kecil di dalam hatinya. Suara yang bilang:
*Bertahan. Kamu harus bertahan. Suatu hari nanti... suatu hari nanti akan ada jalan keluar.*
Lestari nggak tau itu suara siapa. Suara hatinya sendiri? Suara malaikat? Suara Tuhan?
Tapi suara itu... suara itu bikin dia bisa berdiri. Bikin dia bisa jalan ke dapur. Bikin dia bisa mulai nyalain kompor lagi.
Bikin dia bisa... bertahan.
Meskipun badannya hancur.
Meskipun hatinya remuk.
Meskipun jiwanya terluka.
Dia harus bertahan.
Karena kalau dia menyerah sekarang...
Siapa yang bakal ngurus ibunya nanti?
Siapa yang bakal buktiin kalau dia... kalau dia bisa jadi lebih dari sekadar tumbal hutang?
Lestari berdiri di depan kompor. Tangan nya nyalain api. Api kecil. Biru. Bergetar.
Dia natap api itu lama.
Terus dia bisik—cuma bisikan pelan yang cuma Tuhan yang denger—
"Aku... aku akan bertahan. Entah sampai kapan... tapi aku akan bertahan. Karena aku percaya... suatu hari nanti... akan ada cahaya di ujung kegelapan ini."
Api kompor terus menyala.
Dan Lestari mulai masak lagi.
Hari ketiga dimulai.
Dan masih banyak hari-hari kelam yang menunggu.
Di ruang tamu, Wulandari udah bangun. Dia duduk di sofa, mengupas bawang sambil nonton TV subuh—acara dakwah yang suaranya keras banget.
Tapi dia nggak bener-bener nonton. Matanya sesekali ngelirik ke arah dapur, ke Lestari yang lagi masak.
Seringai tipis muncul di bibirnya.
"Anak ini... anak ini bisa dipake," gumamnya pelan sambil mengupas bawang. "Dyon dapet istri. Gue dapet pembantu gratis. Lumayan."
Dia ketawa pelan. Ketawa yang dingin.
Ketawa yang nggak ada kehangatan sama sekali.
Sementara di dapur, Lestari masak dengan tangan gemetar, mata sembab, dan hati yang terluka.
Nggak ada yang tau—
Bahwa di balik semua siksaan ini, Lestari pelan-pelan belajar sesuatu.
Belajar... bagaimana caranya bertahan hidup di neraka.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁