NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Mulai Terbuka

Malam turun dengan pelan, seolah kota itu ikut menahan napas.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore tadi. Di dalam kamar itu, suasana jauh lebih sunyi daripada di luar. Hanya ada dua napas yang terdengar—satu berat, satu tertahan.

Ia berdiri membelakangi jendela.

Tatapannya kosong, rahangnya mengeras, seolah ada sesuatu yang sedang ia lawan di dalam dirinya sendiri. Sementara aku duduk di tepi ranjang, jemariku saling mengait, berusaha tenang padahal dada terasa sesak.

Sudah terlalu lama kami terjebak dalam keheningan seperti ini.

“Aku nggak berniat menyakitimu.”

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulutnya. Suaranya rendah, serak—bukan suara seorang pria yang terbiasa meminta maaf.

Aku mengangkat kepala.

“Kalau begitu kenapa caramu selalu sama?” tanyaku pelan, tapi getarnya tak bisa kusembunyikan. “Kamu datang, kamu ambil apa yang kamu mau, lalu kamu pergi tanpa benar-benar melihat aku.”

Ia menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, mata kami bertemu.

Ada sesuatu di sana. Bukan dingin. Bukan marah.

Lelah.

“Aku nggak tahu caranya,” katanya jujur. “Aku dibesarkan untuk nggak merasakan apa-apa.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Aku berdiri. Langkahku ragu, tapi aku tetap mendekat. Jarak di antara kami kini hanya sejengkal—cukup dekat untuk merasakan hangat tubuhnya, cukup dekat untuk melihat retakan kecil di balik wajah keras itu.

“Terus aku apa?” bisikku. “Pelampiasan? Kesalahan?”

Tangannya terangkat, berhenti di udara, seolah ragu menyentuhku.

“Kamu…” ia terdiam lama. “…adalah satu-satunya hal yang bikin aku takut kehilangan kendali.”

Jantungku berdegup keras.

Takut.

Bukan benci. Bukan muak.

Takut.

Aku menelan ludah. “Kalau begitu, jangan dorong aku menjauh.”

Ia akhirnya menyentuhku.

Bukan dengan kasar. Bukan dengan nafsu yang terburu-buru seperti biasanya. Jemarinya hanya menyentuh lenganku—pelan, ragu, seolah aku bisa menghilang kapan saja.

Sentuhan itu justru membuat mataku panas.

“Kenapa sekarang?” tanyaku.

“Karena aku sadar,” katanya lirih, “kalau aku terus begini, aku akan benar-benar kehilanganmu.”

Aku menunduk, dahi hampir menyentuh dadanya. Nafasku bergetar. Ada bagian dari diriku yang ingin marah lebih lama, tapi ada bagian lain yang sudah terlalu lelah untuk bertahan sendiri.

Tangannya merangkulku.

Bukan pelukan posesif. Bukan dominasi.

Pelukan orang yang sedang berusaha belajar.

Aku menangis tanpa suara, wajahku tersembunyi di dadanya. Ia tidak bergerak, tidak berkata apa-apa—hanya membiarkanku runtuh.

Dan untuk pertama kalinya… ia tidak pergi.

Waktu berlalu tanpa kami sadari.

Saat aku mengangkat wajah, matanya menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya—lembut, tapi penuh konflik.

“Aku nggak janji jadi pria baik,” katanya jujur. “Tapi aku janji nggak akan pura-pura kuat kalau aku sebenarnya rapuh.”

Aku mengangguk pelan.

“Cukup itu.”

Ia menunduk, kening kami bersentuhan. Nafas kami bercampur. Tak ada ciuman tergesa, tak ada dorongan panas. Yang ada hanya ketegangan yang matang—dewasa, penuh kesadaran.

Ciuman itu akhirnya terjadi.

Pelan.

Dalam.

Bukan soal tubuh, tapi pengakuan.

Tangannya menyusuri punggungku, berhenti di pinggang, seolah meminta izin. Aku membalas dengan menautkan jariku di lehernya.

Malam itu, kami tidak saling memiliki.

Kami saling memilih.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Di luar, hujan kembali turun.

Dan di dalam kamar itu, untuk pertama kalinya, bukan hanya tubuh yang saling terhubung—tapi dua luka yang akhirnya berani terbuka.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!