Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hujan mengguyur sangat deras di mana petir berkali-kali menggelegar. Angin berembus kencang hingga ranting-ranting berjatuhan. Meski begitu, situasi markas Galata tampak baik-baik saja karena sebuah pelindung.
Draco menutup layar, berjalan keluar ruangan menggunakan sebuah papan otomatis. Beberapa robot mengikutinya dari samping dan belakang.
Draco memasuki sebuah ruangan. Beberapa patung terlihat berjajar rapi. Sebuah patung bermata satu berukuran paling besar berada di ujung ruangan.
Draco tersenyum. "Besok adalah hari yang akan sangat menyenangkan bagiku, Xander. Tolong jangan sampai membenciku."
Sementara itu, di tengah cuaca yang semakin buruk, dan orang-orang sudah berada di alam mimpi, Larson nyatanya tengah sibuk berkutat dengan beragam buku dan alat. Pria itu sangat serius membaca buku sekaligus merangkai sesuatu.
"Ini semakin rumit dari waktu ke waktu. Sialan! Aku seharusnya memang belajar dengan giat sejak kecil sehingga aku tidak kesulitan seperti sekarang."
Larson hanyut dalam pekerjaannya hingga ia tidak menyadari Larvin mengintip dari celah pintu yang terbuka. "Sial! Aku harus mengulang dari awal!"
Larvin tersenyum, menjauh dari kamar Larson secepat dan sehati-hati mungkin. "Dia memang bodoh, tetapi dia pasti akan sangat fokus jika menginginkan sesuatu. Aku tidak tahu jika dia tertarik pada hal membingungkan seperti robot dan semacamnya."
Larvin memasuki kamar, membuka tirai, mengamati petir menyambar pohon dan ranting-ranting yang terseret angin. "Firasatku sangat buruk sejak kemarin malam. Aku semakin takut setelah melihat ekspresi pria bernama Miguel dan para pengawal yang semakin meningkat keamanan. Selain itu, pria bernama Xylorr meminta Alexander untuk berhati-hati."
Larvin mengepalkan tangan erat-erat. "Perasaan ini seperti keadaan sebelum badai besar datang. Badai yang bisa memporak-porandakan sebuah kapal megah sekalipun."
Larvin terdiam saat melihat keadaan menjadi sangat terang. Ia memejamkan mata dan keadaan kembali menjadi remang-remang.
Hujan mengguyur semakin deras bersama udara yang semakin dingin. Hujan baru berhenti saat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Meski begitu, sisa udara dingin dan genangan air masih terasa dan terlihat.
Xander, Lizzy, Alexis, dan yang lain menikmati sarapan di meja makan. Mereka berbincang hangat.
"Di mana Paman Larson? Apakah dia masih belum bangun?" tanya Alexis.
"Dia memang pemalas. Semalam, dia begadang membuat benda aneh." Larvin mengelus punggung Alexis. "Kau jangan meniru sifat jeleknya, Alexis."
"Aku meniru sikap jelek itu darimu." Larson muncul dengan wajah kelelahan. Ia menarik kursi, duduk di samping Alexis.
"Kau pasti belum mandi, Paman. Kau bau." Alexis menutup hidung. "Pantas saja tidak ada wanita yang ingin dekat denganmu."
"Dasar bocah nakal! Para wanita zaman sekarang sering kali jual mahal."
"Aku tidak mengerti maksudmu, Paman." Alexis menoleh ke kursi, mengamati sekeliling. Pikirannya seolah terbawa pada sebuah suasana asing.
Alexis menikmati hidangannya dengan lahap, tertawa.
"Kenapa kau tiba-tiba tertawa, Alexis? Orang-orang bisa menganggapmu gila." Larson mengambil minuman, meneguk perlahan.
"Paman, Kakek Larvin mengatakan jika kau membuat benda aneh. Aku ingin melihatnya sebelum aku berlatih."
"Aku tidak membuat benda aneh, dan kau tidak boleh melihat benda itu."
"Aku ingin melihatnya sekarang." Alexis turun dari kursi, berlari menuju kamar Larson.
"Aku ingin melihatnya."
"Hei, apa yang kau lakukan, Alexis?" Larson bergegas mengejar. "Aku belum menyelesaikan benda itu."
Para pengawal bergegas mengejar Larson.
Alexis mengunci pintu kamar, mengawasi keadaan sekeliling. "Benda apa yang sedang dibuat oleh Paman Larson. Dia sering mengurung diri di kamar sehingga dia jarang bermain denganku."
Alexis tersenyum saat melihat sebuah kotak di atas meja. Ia duduk di kursi, berusaha membuka kotak. "Paman mengunci kotak ini. Dia benar-benar pelit."
Di waktu yang sama, empat buah portal mendadak terbuka. Anggota-anggota Galata, termasuk Edward dan yang lain, bergerak menuju kediaman utama.
Edward, Caesar, Franklin, dan yang lain terkejut ketika mereka sudah berada di kediaman Xander. Berkali-kali berpikir pun mereka masih belum mempercayai hal ini. Bagaimana mungkin mereka bisa berpindah tempat hanya dengan melewati sebuah portal?
Meski masih banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran mereka saat ini, mereka tetap bergerak sesuai dengan perintah.
Edward mengepalkan tangan erat-erat, tersenyum. "Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Aku harus menghabisi Xander atau setidaknya menghabisi istri, anak laki-lakinya maupun keluarganya yang lain."
Edward bergerak melewati pepohonan, melirik status di layar hologram yang menandakan bahwa dirinya dan yang lain dalam mode tembus pandang. "Kau tidak akan bisa mengalahkan pasukan ini sekuat apa pun pasukanmu, Xander. Mereka berada di level yang sangat berbeda denganmu."
Caesar, Franklin, Theron, Troy, Tyler, Leonel, dan Leandro tidak sabar untuk bertemu dengan Xander dan keluarganya. Mereka merasa bahwa inilah waktu yang sangat tepat untuk membalaskan semua dendam dan rasa sakit hati mereka pada Xander.
Angin berembus sangat kencang, menerbangkan beberapa daun-daun yang sudah menguning. Kawanan angsa mendadak terbang menjauh dari danau, bergerak menuju arah hutan. Hewan-hewan lain bergerak menjauh dari kediaman utama.
Draco masih berada di ruangannya, mengamati pergerakan bawahannya. Pria itu kemudian beralih pada Xander yang masih berbincang dengan keluarganya di meja makan.
Draco tersenyum bengis. "Ah, aku belum mendapatkan gambaran mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi aku sangat yakin akan terjadi sesuatu yang menarik."
"Xander, apa yang akan kau lakukan saat menyadari serangan ini?" Draco tersenyum. "Aku tidak akan keberatan jika kau meminta belas kasihan padaku. Aku akan mengampunimu jika kau mau berkata jujur soal hubunganmu dengan Osvaldo Tolliver maupun orang-orang yang akan menyingkirkanku itu. Meski begitu, aku akan memberikan sedikit pelajaran padamu."
Miguel seketika menoleh ke arah pintu utama, mengepalkan tangan erat-erat. Xander dan semua orang yang berada di ruangan seketika terdiam.
"Miguel, apa yang terjadi?” tanya Xander sembari berdiri dari kursi. Ia segera memberi tanda pada Robbins untuk segera membawa Lizzy dan keluarganya yang lain menuju ruangan yang aman.
Lizzy mengelus tangan Xander, merasa khawatir. Ia melihat ketegangan dan ketakutan di wajah suaminya itu.
"Pergilah bersama yang lain. aku akan baik-baik saja," kata Xander tanpa menoleh sedikit pun pada Lizzy. Ia fokus pada pintu utama yang menunjukkan keadaan teras dan halaman yang tenang.
Lizzy, Lydia, dan para pengawal wanita bergegas meninggalkan ruangan, sedangkan Sebastian, Samuel dan Larvin masih berada di kursi mereka. Ketegangan yang Xander rasakan terlihat di paras tua mereka.
"Xander." Samuel menyentuh bahu Xander.
Pasukan Galata sudah berada di atas kediaman Xander, mengelilingi bangunan itu dari berbagai arah. Pistol mereka mengarahkan pada setiap penjaga yang mulai bersiaga.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍