Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMINJAM UANG
“Gimana persiapan kamu, Ky?” Tanya Farid sembari duduk santai di ruang makan. Ia sedang menunggu ibunya menyiapkan sarapan pagi untuknya dan juga adiknya.
Risky, adik bungsu Farid saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian seleksi menjadi abdi negara. Di rumah itu, ia hanya tinggal berdua dengan sang ibu, Bu Neni.
Kakak pertama mereka—Ana, sudah menikah dan tinggal tak jauh dari rumah itu. Sementara Farid juga telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Ayah mereka telah meninggal sejak Risky masih berusia satu tahun.
“Sejauh ini aman, Mas… Dua minggu lagi tes-nya.” Jawab Risky, singkat namun percaya diri.
Farid mengangguk pelan. “Baguslah. Semoga kamu lulus, ya.”
Bu Neni muncul dari dapur sambil membawa semangkuk besar nasi goreng. Aroma harum langsung memenuhi ruangan, membuat perut Farid dan Risky keroncongan. Ia meletakkannya di atas meja, lalu kembali ke dapur untuk mengambil piring dan gelas.
Belum sempat mereka mulai makan, suara motor terdengar dari arah depan rumah. Tak lama, seorang perempuan masuk sambil menggendong anak kecil.
“Eh, ada kamu, Rid!” Sapa Ana sambil tersenyum, lalu meletakkan anaknya di sofa. Ia melangkah santai ke meja makan.
Matanya menatap tajam ke arah Farid. “Mbak tebak, pasti kamu ke sini numpang nginap karena lagi ribut sama istrimu, ya?” Sindirnya sambil menyomot satu gorengan dari piring di meja.
Farid mendengus pelan, mengangkat alis tanpa niat membalas. Ia melanjutkan sarapannya, berpura-pura tak terusik. Tapi tanpa sepengetahuannya, Bu Neni dan Ana saling bertukar pandang. Sebuah kode diam-diam dan Ana paham akan isyarat itu.
“Rid, mumpung kamu di sini nih…” Suara Ana berubah lebih serius. “Mbak rencana mau pinjam uang kamu, seratus juta.”
Gerakan tangan Farid yang sedang menyendok nasi goreng langsung berhenti di tengah udara. Matanya menatap Ana, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar.
“Kamu pasti ada kan?” Lanjut Ana dengan nada ringan, seolah meminta pinjaman besar itu bukan perkara besar. “Mbak lagi butuh buat biaya perpanjang kontrakan ruko Mas—mu. Dalam lima bulan pasti udah Mbak balikin."
Farid menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Detik itu juga, kepalanya penuh pertimbangan.
“Aduh… gimana ya, Mbak?” Katanya akhirnya. “Aku ada sih uangnya. Tapi… aku harus tanya persetujuan Maira dulu. Soalnya itu uang tabungan kami berdua. Dan… nominalnya juga lumayan.”
Ana langsung melambaikan tangan ke arah Farid. “Alah… ngapain sih kamu nanya-nanya dia segala? Uang segitu kecil kali bagi dia, Rid.”
Bu Neni langsung menyambung, nada bicaranya meninggi, setengah menghasut.
“Coba kamu pikir, Rid. Emang waktu dia bawa keluarganya tinggal di rumahnya itu, dia ada nanya pendapat kamu? Nggak ada kan? Tapi kamu tetap diam, ikut saja. Nah, masa sekarang kamu malah harus dengerin dia buat bantu keluargamu sendiri?”
Farid menelan ludah, mulai merasa terdesak.
“Ibu benar, Rid.” Ana ikut menambahkan dengan suara yang lebih lembut, tapi tetap memaksa. “Bantu lah Mbak kamu ini. Mbak loh yang dulu sering jagain kamu waktu ibu jualan di pasar. Terus kamu ngga ingat, waktu kecil kamu sakit, Mbak yang gendong kamu ke puskesmas…” Bujuknya, mencoba dengan mengungkit apa saja yang sudah ia lakukan.
Suasana makan yang tadinya hangat berubah jadi sumuk dan berat. Farid menunduk. Ia tahu, jika ia menolak, ia akan dicap sebagai anak dan juga adik yang tak tahu balas budi.
Tapi jika ia mengiyakan, ia tahu risikonya akan berimbas ke hubungannya dengan Maira—yang akhir-akhir ini memang sedang tidak stabil.
“Aku… aku nggak janji, Mbak. Aku harus bicara sama Maira dulu.” Ucapnya akhirnya dengan suara pelan.
Ana mendesah panjang, lalu mengangkat satu tangan seolah menyerah. “Ya ampun, Rid. Ya udahlah, kalau kamu nggak bisa bantu…”
Kalimatnya sengaja digantung, lalu pandangannya beralih ke arah ibunya, seolah baru mendapat ide. “Bu, aku boleh nggak pinjam sertifikat rumah ini aja? Aku janji kok, nanti aku yang bayar angsurannya. Cuma butuh buat jaminan sementara. Nggak lama juga.” Nada bicaranya terdengar ringan, tapi sorot matanya jelas menyelidik ke arah Farid.
Bu Neni yang paham maksud Ana pun langsung bereaksi memasang ekspresi memelas khas seorang ibu yang ingin terlihat pengertian. “Yaudah kalau kamu memang perlu sekarang, Na… ambil aja. Nanti Ibu bantu urus surat-suratnya.”
Farid sontak mendongak, dadanya berdesir tak enak. Ia tahu persis apa arti meminjamkan sertifikat rumah. Dan rumah itu satu-satunya peninggalan almarhum ayah mereka, tentu saja ia tak tega.
“Yaudah, iya…” Potong Farid cepat. Suaranya terdengar pasrah. “Nanti siang aku transfer uangnya ke rekening Mbak.”
Sejenak suasana hening. Dalam hati, Ana bersorak girang. Ia tidak menunjukkan kegembiraannya, tapi matanya berbinar puas.
Sementara itu, Bu Neni menyunggingkan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan. Keinginannya terkabul—tanpa perlu menggadaikan rumah dan tanpa menolak permintaan anak perempuannya, satu-satunya.
____
Maira memijat pelipisnya dengan kasar di sofa ruang kerjanya, di lantai atas restoran pusat miliknya.
Matanya terasa berat bukan hanya karena lelah, tapi juga karena menahan jengkel yang menumpuk sejak pagi. Ia baru saja pulang dari kota sebelah, tempat restoran cabang keduanya yang sedang dalam proses pembangunan.
Bukannya lega, yang ia temukan di sana justru rentetan masalah: tukang yang mangkir, material yang terlambat datang dan laporan pengeluaran yang tak sesuai.
Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Ia menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya yang sejak tadi terus ia letakkan di sisi meja.
Layar menyala, namun tidak ada pesan baru. Tidak ada notifikasi panggilan. Tidak ada “Sayang, gimana pekerjaan hari ini?” atau “Semangat ya kerjanya.”
Semuanya terasa hampa.
Hari ini hari Sabtu. Farid, suaminya, tidak bekerja. Dan Maira tahu betul—pria itu pasti masih berada di rumah ibunya.
Maira menyandarkan punggung, menutup mata sebentar. Suara-suara aktivitas restoran masih terdengar samar dari lantai bawah—para staf sedang bersiap menghadapi jam makan malam.
Setelah beberapa menit mencoba menenangkan tubuhnya yang lelah, Maira akhirnya bangkit dari kursi. Ia mengambil tas kecilnya dan menyampirkannya ke bahu, lalu berjalan ke arah mobil dengan langkah berat namun tetap anggun.
“Mau tak mau, lagi-lagi aku yang harus mengalah.” Gumamnya pelan, seperti menelan rasa pahit yang sudah terlalu sering ia kecap.
Untuk kesekian kalinya, Maira menyetir menuju rumah mertuanya hanya untuk membujuk, menahan ego, dan berharap suaminya mau pulang bersamanya.
Setibanya di sana, ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan depan pagar rumah. Dari luar, rumah itu tampak damai. Namun ketika Maira melangkah mendekati teras, suara lain terdengar lebih jelas.
Gelak tawa. Tawa seorang pria yang sangat ia kenal. Dan ada suara perempuan yang menyahut dengan nada lembut.
“Oh jadi Vina ini guru... Orangnya sabar berarti, ya?”
"Ah Mas Farid bisa aja..." Sahut sang wanita di akhiri dengan tawa malu-malu.
Langkah Maira seketika terhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Jari-jarinya menggenggam tas kecilnya lebih erat.