cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gengsi
Keesokan harinya, matahari sudah mulai menerpa lantai kost ketika Rohita terbangun. Dia merenggangkan tubuhnya dan berbalik arah, namun langsung terkejut melihat kondisi Devi dan Dewi yang masih saling pelukan di sisi kasurnya. Bibir Rohita sedikit mengerut, namun tidak ada rasa marah yang muncul di matanya—hanya rasa heran melihat kedua gadis yang baru saja saling berseteru kini tampak begitu akrab. Tanpa mengganggu mereka, Rohita berdiri perlahan dan keluar kamar untuk menyiapkan air untuk mandi.
Beberapa saat kemudian, Devi terbangun terlebih dahulu. Dia melihat wajah Dewi yang masih tertidur dengan damai di dadanya, lalu mencium pelan bibirnya sebelum perlahan melepaskan pelukan dan berdiri. Tak lama kemudian Dewi juga terbangun, wajahnya langsung memerah saat menyadari posisinya kemarin malam bersama Devi. Namun rasa malu itu segera hilang ketika Devi menawarkan senyuman hangat dan mengajaknya keluar untuk sarapan.
Setelah sarapan, suasana di sekitar kost menjadi sangat berbeda. Devi yang dikenal ceria seolah mendapatkan energi baru. Dia berlari-lari kecil di halaman depan kost, kemudian tiba-tiba menghampiri Dewi yang sedang membersihkan meja makan dan dengan cepat menggendongnya ke atas lengan kanannya. “Ayo kita jalan-jalan sedikit! Udah lama kita nggak bersenang-senang!” teriak Devi dengan suara riang, lalu mulai bernyanyi lagu anak-anak yang sering dia dengar saat kecil sambil mengubah sedikit liriknya.
Dewi yang awalnya terkejut dan ingin turun malahan tertawa terbahak-bahak, tangan nya mengelilingi leher Devi agar tidak jatuh. “Devi, turun aja! Orang liat kita kayak gila aja!” ujar Dewi dengan suara penuh tawa, namun tidak ada niat untuk benar-benar menuruni diri dari gendongan Devi. Devi hanya menjawab dengan senyuman lebar dan melanjutkan larinya sambil terus bernyanyi, kadang kala memutar tubuhnya perlahan sambil masih menggendong Dewi. Suara tawa dan nyanyian mereka memenuhi udara pagi, membuat suasana yang biasanya tenang menjadi lebih hidup dan penuh keceriaan. Bahkan Rohita yang sedang menyiram tanaman di sisi lain halaman tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis yang muncul di bibirnya, meskipun dia segera menyembunyikannya dengan wajah yang kembali serius.
Saat Devi dan Dewi sedang duduk di halaman kost sambil berbincang santai, seorang pemuda tampan dengan rambut hitam rapi mendekat ke arah mereka. Dia membawa sebuah keranjang kecil berisi bunga mawar merah muda dan sedikit terlihat gugup saat menghampiri Dewi. “Halo… Dewi, kan?” ujar pemuda itu dengan suara lembut, wajahnya sedikit memerah.
Dewi langsung berdiri dengan terkejut, matanya membesar saat mengenali siapa pemuda itu. “Bintang? Kamu kenapa bisa ketemu aku di sini?” tanya Dewi dengan nada terkejut namun penuh senang.
“Aku cari kamu dari lama… Akhirnya ketemu juga,” jawab Bintang dengan senyuman hangat, lalu memberikan keranjang bunga yang dia bawa. “Ini untukmu… Aku tahu kamu suka bunga jenis ini.” Dewi menerima bunga dengan hati yang berdebar-debar, wajahnya kemerahan seperti buah delima. Devi yang duduk di sisi nya hanya tersenyum melihat kondisi Dewi yang kembali jadi pemalu seperti biasanya.
Tak lama kemudian, datang lagi seorang pemuda lain dengan tubuh lebih tinggi dan wajah yang sedikit ceria. Dia langsung menghampiri Devi dan dengan cepat membungkuk sedikit sebagai bentuk permintaan maaf. “Devi, maaf ya… Aku salah besar dulu menghina kamu dan membuat kamu sedih,” ujar Devan dengan nada sungguh-sungguh. Devi terkejut mendengarnya
Devi terdiam sejenak, matanya menatap wajah Devan yang tampak sungguh menyesal. Setelah beberapa saat, dia menghela napas dan tersenyum. “Udah tidak apa-apa, Devan… Aku juga sudah lama maafin kamu kok,” jawab Devi dengan suara lembut namun penuh keikhlasan. Devan langsung tersenyum lega dan mengajak Devi untuk berbincang lebih jauh. Sementara itu, Dewi dan Bintang juga mulai berbincang dengan hangat, suasana di halaman kost terasa hangat dan penuh kedekatan antar mereka semua.
Setelah kedatangan Bintang dan Devan, kehidupan Devi dan Dewi menjadi lebih penuh warna. Suatu sore yang cerah, mereka berempat berkumpul di depan kost, membawa beberapa permainan ringan seperti bola voli kecil dan tali loncat untuk bersenang-senang.
Devi dan Devan mulai bermain bola voli kecil di halaman yang cukup luas. Devi yang penuh energi terus berlari-lari mengejar bola, terkadang terjatuh namun langsung berdiri kembali dengan tertawa riang. Devan selalu siap membantu dia berdiri, sambil menirukan gerakan Devi yang lucu sehingga membuat mereka berdua semakin tertawa. Kadang kala Devi akan menghentikan permainan sebentar untuk mencium pipi Devan, membuatnya sedikit memerah namun tetap tersenyum bahagia.
Sementara itu, Dewi dan Bintang memilih permainan yang lebih santai, yaitu tali loncat. Meskipun Dewi pemalu, dia tidak sungkan untuk bermain bersama Bintang. Mereka bergantian meloncat, dan setiap kali Dewi berhasil melompati tali dengan lancar, Bintang akan memberikan tepuk tangan dan pujian yang membuat wajah Dewi kemerahan. Kadang kala Bintang akan membantu Dewi saat dia hampir tersandung, tangan nya menopang pinggang Dewi agar tidak jatuh. Suasana menjadi semakin meriah ketika mereka memutuskan untuk bermain bersama—Devi dan Devan bergantian menggoyangkan tali, sementara Dewi dan Bintang berlomba-lomba meloncat di dalamnya. Suara tawa dan teriakan kegembiraan mereka memenuhi udara sore, menarik perhatian beberapa penghuni kost lain yang juga keluar untuk menyaksikan dan ikut tertawa. Rohita yang sedang duduk di teras depan kamar nya melihat mereka dari kejauhan, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak—seolah ada rasa iri namun juga senang melihat kedua gadis yang dia anggap seperti adiknya bahagia.
Hari itu cuaca cukup sejuk, Rohita memilih untuk bersantai di depan pintu kost sambil duduk di kursi kayu yang sudah cukup tua. Dia sedang memegang secangkir teh hangat, mata nya menatap jauh-jauh dengan pikiran yang penuh keraguan. Sejak melihat kedekatan Devi dan Dewi dengan pasangan mereka, ada rasa yang tidak nyaman yang muncul di dalam hatinya—suatu rasa yang dia tidak bisa jelaskan dengan jelas.
Tiba-tiba, suara mesin motor yang akrab terdengar dari kejauhan. Rohita mengangkat kepala dan melihat Arga datang dengan membawa sebuah toples berwarna merah muda yang terlihat menarik. Tanpa basa-basi, Arga mendekatinya dan memberikan toples itu. “Ini coklat buatan sendiri aku… Kamu suka kan coklat manis?” ujar Arga dengan senyuman hangat yang selalu membuat Rohita merasa sedikit terganggu.
rohita awalnya ingin menolaknya, seperti yang dia lakukan setiap kali Arga datang mengajaknya. Namun saat dia melihat ke arah halaman belakang kost, di mana Devi dan Dewi sedang duduk berdua dengan Bintang dan Devan—mereka saling memandang dengan penuh cinta dan kadang kala saling berbagi makanan—rasa iri yang tiba-tiba muncul membuat dia mengubah pikiran. Dia menerima toples dengan tangan yang sedikit kaku, lalu membukanya dan mengambil satu buah coklat untuk dimakan.
“Terima kasih ya, rasanya enak,” ujar Rohita dengan senyum yang jelas terlihat palsu. Arga yang melihatnya langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres, namun dia tidak berani menanyakannya. Dia hanya tersenyum kembali dan mulai berbincang tentang hal-hal sehari-hari, sementara Rohita terus memakan coklat sambil sering melihat ke arah Devi dan Dewi, mata nya menunjukkan rasa iri yang dia coba sembunyikan dengan segala cara
Setelah beberapa saat berbincang dengan nada yang cukup dingin, Rohita melihat lagi ke arah Devi dan Dewi yang sedang tertawa riang bersama pasangan mereka. Rasa iri di dalam hatinya semakin besar, membuat dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Dia perlahan menggeser kursinya lebih dekat ke Arga, kemudian tanpa berpikir panjang menyentuh tangan Arga yang sedang berada di pangkuannya dengan jari telunjuknya yang tipis.
Arga langsung terkejut dan melihat tangan Rohita yang menyentuhnya, matanya menunjukkan rasa kagum dan sedikit kebingungan. Rohita tidak menghiraukan ekspresi itu, malahan melanjutkan dengan menggeser jari nya perlahan di atas kulit tangan Arga yang hangat. “Kamu tahu tidak, Arga… Kamu memang cukup baik melihatnya,” ujar Rohita dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit menggoda. Dia kemudian mengangkat wajahnya dan memandang mata Arga dengan tatapan yang berbeda dari biasanya—lebih lembut dan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Tanpa sadar, Rohita mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Arga, bibirnya sedikit terbuka. Dia mulai bermain-main dengan ujung rambut Arga yang jatuh di dahinya, sambil memberikan senyuman yang lebih lembut. “Kenapa kamu selalu begitu sabar dengan diriku ya?” tanya Rohita dengan suara yang hampir seperti bisikan, tangan nya kini sudah meraih penuh tangan Arga dan menjepitnya dengan lembut. Arga hanya bisa terdiam, tubuhnya sedikit menggigil karena kejutan dan rasa yang muncul di dalam hatinya. Dia ingin berkata sesuatu, namun kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya saat melihat wajah Rohita yang kini tampak sangat berbeda dari biasanya. Rohita melanjutkan dengan mengelus-elus tangan Arga perlahan, sambil terus memandang matanya dengan tatapan yang menggoda, seolah ingin menunjukkan bahwa dia siap menerima perhatian Arga yang selama ini dia tolak.