Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Persiapan Perang
"Ganti. Ini baju kurang bahan atau dimakan rayap?"
Elena melempar gaun berwarna champagne itu kembali ke arah Beny, stylist langganan Kairo yang wajahnya sudah pucat pasi. Gaun itu melayang di udara sebelum mendarat menyedihkan di atas tumpukan baju-baju lain yang sudah ditolak.
Beny menelan ludah, tangannya gemetar memegang gantungan baju. Dia sudah mengeluarkan lima gaun terbaik. Semuanya dari merek papan atas, semuanya berpotongan rendah di dada, punggung terbuka, atau belahannya sampai paha atas. Tipe baju yang biasa dipakai Sora untuk menarik perhatian suami di pesta.
"Ta... tapi Bu Sora, ini Versace koleksi terbaru," cicit Beny putus asa. "Pak Kairo pesan khusus supaya Ibu terlihat... stunning. Seksi. Menggoda."
"Seksi itu bukan berarti telanjang, Beny," potong Elena tajam. Dia berdiri di depan cermin besar walk-in closet hanya dengan mengenakan jubah mandi sutra. "Kita mau bertemu Mr. Chen, investor tua dari Tiongkok yang konservatif. Kalau aku pakai baju jaring-jaring ikan seperti itu, dia akan mengira Kairo membawaku sebagai wanita penghibur, bukan istri sah."
Elena berjalan menyusuri deretan gaun di lemari gantung. Jarinya menelusuri kain-kain mahal itu dengan cepat.
"Terlalu pink. Terlalu rumbai-rumbai. Ini apa? Bulu angsa? Mau pesta kostum?"
"Ibu biasanya suka yang heboh..." gumam Beny pelan, hampir tak terdengar.
"Sora yang itu sudah pensiun," jawab Elena singkat tanpa menoleh.
Tangan Elena berhenti. Matanya menangkap kilatan kain yang berbeda di bagian paling ujung lemari. Tempat baju-baju "salah beli" yang dianggap terlalu tua atau terlalu suram oleh Sora.
Dia menarik sebuah dust bag abu-abu. Membukanya.
Aroma kapur barus samar tercium, tanda baju itu tidak pernah disentuh sejak dibeli.
Elena mengeluarkan isinya. Sebuah Cheongsam atau Qipao modern.
Bukan warna merah menyala yang pasaran.
Warnanya hitam pekat. Hitam midnight yang menyerap cahaya. Bahannya beludru (velvet) premium yang terlihat berat dan jatuh dengan indah. Tanpa payet berkilau, tanpa manik-manik norak. Hanya ada bordiran naga samar berwarna abu-abu gelap di bagian punggung—bordiran yang hanya terlihat jika terkena pantulan cahaya.
"Ini," kata Elena, matanya berbinar puas. "Ini baju perangnya."
Beny melongo. Matanya membulat horor. "Itu? Bu, itu... itu baju tua! Itu kan oleh-oleh dari neneknya Pak Kairo dari Shanghai dua tahun lalu! Ibu Sora pernah bilang baju itu kayak baju dukun! Warnanya hitam, Bu! Nanti dikira mau melayat!"
"Diam dan bantu aku pasang resletingnya," perintah Elena dingin. "Hitam itu warna kekuasaan, Beny. Warna otoritas. Dan malam ini, aku butuh otoritas, bukan belas kasihan."
Lima belas menit kemudian.
Kairo berdiri di lobi bawah sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatu kulitnya ke lantai marmer. Dia sudah siap dengan setelan jas navy double-breasted yang membuatnya terlihat gagah dan dominan. Jam tangan-nya menunjukkan pukul enam sore lewat sepuluh menit.
"Lama sekali," gerutu Kairo sambil membetulkan manset kemejanya. "Reza, susul ke atas. Bilang kalau dia belum siap dalam dua menit, aku tinggal."
"Baik, Pak," Reza baru saja hendak melangkah menuju tangga ketika suara langkah kaki terdengar.
Bukan langkah kaki yang terburu-buru.
Langkah itu pelan. Tenang. Berirama.
Tak.Tak.Tak.
Kairo mendongak.
Dan napasnya tercekat di tenggorokan.
Di puncak tangga, Elena berdiri.
Dia tidak mengenakan gaun seksi berbelahan dada rendah seperti yang Kairo bayangkan. Dia tertutup rapat dari leher sampai mata kaki.
Tapi, demi Tuhan, Kairo belum pernah melihat istrinya seberbahaya ini.
Gaun Qipao hitam beludru itu memeluk tubuh Elena dengan sempurna, mencetak lekuk pinggang dan pinggulnya tanpa terlihat murahan. Kerah tingginya memberikan kesan angkuh dan tak tersentuh. Lengan bajunya panjang, hanya memperlihatkan pergelangan tangan yang ramping.
Rambut hitam panjangnya tidak digerai, melainkan digelung modern menggunakan tusuk konde perak sederhana yang tajam menyerupai senjata. Wajahnya dirias minimalis, kecuali bibirnya yang dipulas warna merlot gelap—merah keunguan yang misterius.
Saat Elena melangkah turun, belahan gaun di sisi kanannya terbuka. Belahan itu tinggi, mencapai paha tengah, memperlihatkan kaki jenjang yang putih mulus kontras dengan kain beludru hitam pekat itu.
Setiap langkahnya adalah godaan yang terukur. Tertutup, tapi mematikan.
Kairo merasa mulutnya kering. Dia terpaku, matanya menelusuri sosok istrinya dari atas ke bawah. Tidak ada kulit yang diumbar, tapi imajinasi Kairo justru liar membayangkan apa yang ada di balik kain beludru itu.
Elena berhenti di anak tangga terakhir, tepat di depan Kairo. Aroma parfum sandalwood dan jasmine yang elegan menguar dari tubuhnya, menggantikan aroma manis permen karet yang biasa dipakai Sora.
"Tutup mulutmu, Kairo. Nanti lalat masuk," tegur Elena datar.
Kairo tersentak sadar. Dia berdehem keras, berusaha mengembalikan kewibawaannya yang sempat goyah.
"Kau... kau pakai baju apa ini?" tanya Kairo, suaranya sedikit serak. "Aku suruh stylist pilihkan gaun malam. Kenapa kau pakai baju... Imlek versi gotik begini?"
"Ini namanya diplomasi budaya, Pak CEO," jawab Elena santai sambil membetulkan letak tas tangan kecil (clutch) hitam di tangannya. "Mr. Chen orang lama. Dia menghargai tradisi. Kalau aku pakai gaun Paris yang pamer dada, dia akan menganggapmu pria lemah yang tidak bisa mengatur istri. Tapi dengan baju ini..."
Elena menyentuh kerah tinggi Qipao-nya.
"...aku menunjukkan rasa hormat pada budayanya, sekaligus menunjukkan kalau kita bukan pihak yang putus asa. Hitam itu elegan, Kairo. Bukan warna pengemis."
Logika itu masuk akal. Sangat masuk akal. Tapi Kairo enggan mengakuinya. Dia masih sibuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu melihat leher jenjang Elena yang lumayan terekspos karena gelungan rambut itu.
"Terserah," gumam Kairo. Dia mengulurkan tangannya, gestur standar suami menggandeng istri. "Ayo jalan. Kita sudah telat."
Elena tidak menyambut uluran tangan itu.
Dia justru menengadahkan telapak tangannya yang terbuka di depan wajah Kairo.
"Mana?" tanya Elena.
Kairo mengernyit. "Mana apanya?"
"Kunci," jawab Elena singkat. "Kunci akses apartemen Kuningan yang kau janjikan tadi sore. Aku sudah melakukan bagianku: menemukan kebocoran dana Pak Haryo dan mendandani diriku untuk menyelamatkan mukamu di depan investor. Mana DP (Down Payment) kerja keras saya?"
Kairo menatap tangan halus itu, lalu menatap mata Elena yang tidak kenal takut.
Wanita ini benar-benar transaksional. Tidak ada romansa, tidak ada basa-basi. Semuanya bisnis.
"Nanti setelah acara selesai," elak Kairo. "Aku harus pastikan kau tidak mengacau dulu."
"Sekarang, Kairo," desak Elena. Dia menarik tangannya kembali, melipatnya di dada. "Atau aku naik ke atas, ganti daster, dan tidur. Kau bisa pergi negosiasi sendiri dengan bahasa isyarat sama si Chen itu."
Ancaman itu nyata. Elena terlihat sangat siap untuk membatalkan semuanya.
Kairo menggeram kesal. "Kau benar-benar..."
Dengan kasar, Kairo merogoh saku jas dalamnya. Dia mengeluarkan sebuah kartu akses magnetik berwarna putih polos.
Dia menghempaskan kartu itu ke telapak tangan Elena.
"Ambil. Itu akses lift pribadi dan unit penthousenya. Puas?"
Elena menggenggam kartu itu erat-erat. Senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum kemenangan.
"Sangat puas. Senang berbisnis dengan Anda," Elena memasukkan kartu itu ke dalam clutch-nya dengan aman.
Baru setelah itu, dia mengaitkan lengannya ke lengan Kairo dengan gerakan luwes dan anggun, seolah-olah mereka adalah pasangan paling harmonis di dunia.
"Ayo, Suamiku. Jangan biarkan uang kita menunggu."
Mereka berjalan keluar menuju mobil Rolls Royce yang sudah menunggu. Reza membukakan pintu belakang dengan sigap, matanya sempat melirik takjub pada penampilan Elena tapi buru-buru menunduk saat Kairo memberinya tatapan tajam.
Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, suasana kembali hening dan tegang.
Kairo duduk di sebelah Elena, tapi matanya terus melirik ke arah belahan gaun istrinya yang tersingkap sedikit saat Elena menyilangkan kaki. Kain beludru hitam itu membuat kulit Elena terlihat bersinar di bawah lampu jalanan yang menerobos masuk lewat jendela.
Kairo merasa terganggu. Sangat terganggu. Dia tidak bisa fokus memikirkan strategi negosiasi karena kehadiran wanita di sebelahnya ini terlalu... overwhelming.
Dia perlu mengambil kembali kendali. Dia adalah Kairo Diwantara. Dia yang memimpin permainan ini.
"Dengar," Kairo memecah keheningan dengan suara berat dan otoritas penuh. Dia menoleh, menatap Elena tajam.
Elena menoleh pelan, menaikkan satu alisnya. "Ya?"
"Mr. Chen itu orangnya sulit. Dia seksis. Dia benci wanita yang terlalu banyak bicara di meja makan, apalagi soal bisnis," Kairo memberi instruksi dengan nada memperingatkan. "Dia memegang prinsip patriarki kuno. Istri baginya cuma pajangan. Hiasan meja."
Kairo mencondongkan tubuhnya sedikit, mengurung Elena dengan tatapannya.
"Jadi, tugasmu malam ini cuma satu: Duduk manis di sebelahku. Tuangkan wine kalau gelasnya kosong. Senyum yang cantik. Makan dengan anggun. Dan jangan bicara sepatah kata pun kecuali ditanya."
Kairo menekankan setiap kata. Dia ingin memastikan Sora—atau hantu yang merasuki istrinya, atau siapapun ini—tidak merusak deal lima ratus miliar ini dengan komentar sok pintarnya.
"Paham?" desak Kairo. "Jangan sok pintar di sana. Satu kesalahan dari mulutmu, investasi batal, dan Haryo lolos. Kau tidak mau itu terjadi, kan?"
Elena menatap Kairo. Wajahnya tenang, tidak tersinggung sama sekali dengan perintah untuk "diam dan jadi pajangan".
Dia justru memiringkan kepalanya sedikit, membuat anting berliannya berkilau terkena cahaya lampu mobil.
"Tentu, Pak Bos," jawab Elena halus.
Tapi kemudian, dia menyunggingkan senyum miring. Senyum yang membuat Kairo merasa tidak nyaman. Senyum yang menyimpan rahasia.
"Aku akan diam," lanjut Elena, suaranya mengandung nada geli yang tersembunyi. "Tapi kalau situasinya berubah jadi bencana... jangan salahkan aku kalau pajanganmu ini tiba-tiba hidup."
"Apa maksudmu?" Kairo menyipitkan mata.
"Kita lihat saja nanti," bisik Elena sambil kembali menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang berlalu cepat.
Mobil berbelok masuk ke pelataran lobi hotel bintang lima itu.
Kairo merasakan firasat buruk di perutnya. Bukan karena dia takut gagal negosiasi, tapi karena dia sadar dia baru saja membawa bom waktu yang cantik ke dalam kandang harimau.
Dan dia tidak punya remote control-nya.