NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Tanda Tangan Setengah Hati

​"Tunggu sebentar. Pasal 4 ayat 2. Apa-apaan ini?"

​Suara Elena memecah keheningan di ruang rapat kantor notaris Sanjaya & Rekan yang terletak di lantai 30 gedung pencakar langit SCBD. Ruangan itu dingin, berbau kertas baru dan pengharum ruangan aroma lavender yang menenangkan, tapi suasana di antara dua manusia yang duduk berseberangan itu jauh dari kata tenang.

​Elena melempar draf Akta Hibah itu ke atas meja mahoni yang mengkilap. Kertas-kertas itu meluncur dan berhenti tepat di depan hidung Pak Sanjaya, notaris senior yang sudah berkeringat dingin sejak sepuluh menit lalu.

​Kairo, yang duduk di sebelah Elena dengan kaki disilangkan santai, hanya melirik sekilas ke arah dokumen itu.

​"Ada masalah?" tanya Kairo datar. Dia memutar-mutar pena Montblanc di jari-jarinya, terlihat bosan namun waspada.

​"Jangan pura-pura bodoh, Kairo," desis Elena. Telunjuknya menukik tajam ke paragraf yang baru saja dia baca. "Di sini tertulis: Pihak Kedua (Istri) dilarang memindahtangankan, menjual, menyewakan, atau menjaminkan aset properti tersebut kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Pertama (Suami)."

​Elena menoleh, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.

​"Ini hibah atau penjara properti? Kalau kamu memberikannya padaku, itu artinya hak milik penuh berpindah ke tanganku. Kenapa masih ada tali kekangnya? Ini namanya kamu memberiku mobil tapi kuncinya masih kamu pegang."

​Kairo mendengus pelan. Dia menegakkan duduknya, menatap Elena dengan sorot mata yang tak mau kalah.

​"Itu prosedur standar untuk keamanan aset keluarga, Sora. Dua unit apartemen di Kuningan dan Menteng itu nilainya puluhan miliar. Aku tidak bisa membiarkanmu tiba-tiba menjualnya minggu depan cuma karena kamu butuh uang tunai untuk... entahlah, kabur ke luar negeri?"

​"Aku tidak sebodoh itu menjual aset produktif demi uang receh," bantah Elena cepat. "Properti itu investasi jangka panjang. Harganya naik tiap tahun. Menjualnya sekarang adalah kerugian."

​"Bagus kalau kau sadar," Kairo menyeringai tipis, sangat menyebalkan. "Kalau begitu, klausul itu tidak akan jadi masalah buatmu, kan? Tanda tangan saja. Toh kau bilang tidak berniat menjualnya."

​Elena menggertakkan gigi. Pria ini licik. Dia menggunakan logika Elena untuk menjebak Elena sendiri.

​Jika Elena menolak klausul itu mati-matian, Kairo akan curiga kalau Elena memang berniat melikuidasi aset itu untuk modal kabur. Tapi jika Elena menerimanya, dia tidak punya kebebasan penuh atas hartanya sendiri.

​Elena menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Dia menatap Pak Sanjaya yang sedang pura-pura sibuk merapikan kacamatanya.

​"Pak Notaris," panggil Elena.

​"Y... ya, Bu Sora?" jawab Pak Sanjaya gugup.

​"Saya setuju dengan klausul larangan jual itu. Biarkan saja di sana," kata Elena.

​Kairo tersenyum menang. Dia pikir dia sudah menyudutkan istrinya.

​"Tapi," lanjut Elena, suaranya meninggi sedikit. "Saya minta ditambahkan satu pasal tambahan di bagian 'Hak Pemanfaatan'."

​Senyum Kairo memudar. "Pasal apa lagi?"

​Elena mengambil pena dari tangan Pak Sanjaya. Dengan gerakan cepat dan tegas, dia mencoret bagian kosong di halaman terakhir draf itu dan menuliskan kalimatnya sendiri dengan tulisan tangan yang tajam.

​"Tulis ini ke dalam akta resmi, Pak," perintah Elena sambil menyodorkan kertas itu kembali.

​Pak Sanjaya membaca tulisan Elena dengan suara gemetar.

​"Pihak Pertama (Suami) dilarang memasuki, mengakses, atau menggunakan properti tersebut tanpa izin tertulis atau persetujuan lisan dari Pihak Kedua (Istri), demi menjamin privasi dan kenyamanan Pihak Kedua sebagai pemilik sah."

​Keheningan melanda ruangan itu.

​Kairo menatap Elena dengan mata menyipit tajam. Rahangnya mengeras.

​"Kau melarangku masuk ke properti yang kubeli dengan uangku sendiri?" tanya Kairo rendah. Nada suaranya berbahaya. "Kau lupa siapa yang membayar tagihannya?"

​"Dulu uangmu. Sekarang, setelah tanda tangan, itu asetku," balas Elena tenang. Dia bersedekap dada, menantang dominasi Kairo. "Kau tadi bilang ini demi keamanan aset keluarga, kan? Nah, aku juga butuh keamanan privasi. Aku butuh ruang kerja yang tenang. Tanpa gangguan. Tanpa inspeksi mendadak. Tanpa suami yang tiba-tiba muncul pakai kunci master."

​Elena menekankan kata 'kunci master' dengan tatapan menyindir, mengingatkan Kairo pada kejadian dia membobol kamar kerja Elena di rumah.

​"Itu konyol," Kairo tertawa sinis. "Kau istriku. Tidak ada hukum yang melarang suami masuk ke rumah istrinya."

​"Ada. Namanya hukum etika dan perjanjian pranikah—atau dalam hal ini, perjanjian pasca-hibah," Elena mengetuk meja dengan kukunya. "Kalau kau mau aku tanda tangan klausul 'tidak boleh jual', maka kau harus tanda tangan klausul 'dilarang masuk sembarangan'. Itu namanya negosiasi setara. Take it or leave it."

​Kairo menatap wajah istrinya. Wajah itu keras kepala. Tidak ada tanda-tanda akan mundur.

​Kairo sadar, Elena serius. Wanita ini lebih memilih tidak mendapatkan apartemen itu sama sekali daripada mendapatkannya tapi tidak punya privasi. Dan Kairo sudah terlanjur janji.

Dia butuh Elena tetap bekerja untuknya, tetap menjadi "aset" bagi perusahaannya. Mengingkari janji sekarang hanya akan membuat Elena mogok kerja.

​"Kau pikir selembar kertas bisa menghalangiku, Sora?" bisik Kairo, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku bisa membeli seluruh gedung apartemen itu kalau aku mau."

​"Kertas memang tidak bisa menghalangimu," Elena membalas bisikan itu, mencondongkan tubuhnya juga hingga wajah mereka berdekatan di atas meja notaris. "Tapi aku akan memasang kunci digital dengan enkripsi ganda yang kodenya cuma aku yang tahu. Dan aku akan menyewa satpam pribadi. Jadi silakan saja kalau mau mencoba mendobrak."

​Pertempuran tatapan mata terjadi selama lima detik. Pak Sanjaya di ujung meja rasanya ingin pingsan saking tegangnya.

​Akhirnya, Kairo mendengus kasar. Dia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi kulit yang empuk.

​"Masukkan pasal itu, Pak Sanjaya," perintah Kairo ketus.

​"Ba... baik, Pak Kairo. Segera saya revisi," Pak Sanjaya buru-buru mengetik di laptopnya, bersyukur perang dingin itu tidak meledak jadi perang fisik.

​Sepuluh menit kemudian, printer laser di sudut ruangan memuntahkan lembaran akta baru yang masih hangat.

​Elena membaca ulang draf final itu dengan teliti. Kata demi kata. Titik demi koma. Tidak ada celah. Apartemen di Kuningan dan Menteng resmi menjadi miliknya, dengan catatan dia tidak bisa menjualnya, tapi Kairo juga tidak bisa mengganggunya di sana.

​Cukup adil untuk saat ini.

​"Mana penanya?" Elena mengulurkan tangan.

​Kairo menyerahkan pena mahalnya. Elena membubuhkan tanda tangannya di atas materai sepuluh ribu. Goresan tintanya tegas, penuh keyakinan.

​Kairo menyusul menandatangani di sebelah tanda tangan Elena. Gerakannya sedikit kasar, seolah dia sedang menandatangani surat penyerahan wilayah kekuasaan pada musuh.

​"Selamat, Bu Sora," kata Pak Sanjaya lega. "Sertifikat HGB atas nama Ibu akan selesai diproses dalam dua minggu. Tapi kunci serah terimanya sudah bisa diambil hari ini."

​Pak Sanjaya menyerahkan dua set kunci kartu dan kunci manual dalam kotak beludru merah.

​Elena mengambil kotak itu. Dia membukanya, melihat dua kartu akses yang berkilau. Satu untuk unit Studio di Kuningan, satu untuk Penthouse di Menteng.

​"Terima kasih, Pak," Elena tersenyum tulus untuk pertama kalinya hari itu. Dia menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas tangannya. Rasanya berat, tapi itu berat yang menyenangkan. Berat dari sebuah aset.

​"Ayo pergi. Aku ada rapat jam dua," Kairo berdiri, merapikan jasnya. Dia tidak melihat ke arah Elena, langsung berjalan menuju pintu keluar.

​Elena mengikutinya keluar dari kantor notaris menuju lobi gedung.

​Di depan lobi, mobil Alphard hitam Kairo sudah menunggu dengan mesin menyala. Pak Ujang, sopir setia mereka, langsung turun membukakan pintu penumpang.

​Kairo berhenti di depan pintu mobil. Dia menoleh pada Elena yang berdiri di belakangnya.

​"Masuk," perintah Kairo. "Kita makan siang dulu sebelum aku ke kantor."

​Tapi Elena tidak bergerak menuju pintu mobil yang terbuka. Dia justru melangkah mundur, menjauh dari jangkauan Kairo.

​"Tidak, terima kasih," tolak Elena. "Aku tidak lapar."

​Kairo mengernyit. "Lalu kau mau ke mana? Pulang?"

​"Tidak juga," Elena menggeleng. Dia menunjuk ke arah jalan raya yang sibuk. "Aku mau ke Kuningan. Unit baruku."

​"Untuk apa? Unit itu kosong. Belum ada furnitur," kata Kairo, nada suaranya mulai meninggi karena kesal ditolak di tempat umum. "Aku sudah suruh asistenku pesan furnitur, tapi baru datang lusa."

​"Justru karena kosong, aku mau ke sana," jawab Elena. Matanya berbinar penuh semangat. "Aku mau 'cuci piring'. Maksudku, bersih-bersih. Mengukur ruangan. Merasakan atmosfernya. Aku perlu memastikan fengshui-nya cocok untuk... meditasi."

​Tentu saja itu bohong. Elena mau ke sana untuk mulai menyicil instalasi perangkat server pribadinya. Dia butuh tempat steril untuk bekerja sebagai konsultan bayangan tanpa mata-mata Kairo.

​"Aku antar," Kairo menawarkan, meski nadanya lebih seperti perintah.

​"Jangan repot-repot, Pak CEO. Waktumu adalah uang," Elena melambaikan tangan, menolak halus. "Lagipula, sesuai pasal yang baru saja kita tanda tangani... kau dilarang masuk tanpa izin. Dan hari ini, aku tidak memberi izin."

​Wajah Kairo berubah gelap. Dia merasa dipermainkan oleh aturannya sendiri.

​"Sora, jangan memancing kesabaranku," Kairo melangkah maju, memegang pintu mobil yang masih terbuka, seolah memblokir jalan Elena. "Kau istriku. Pulang bersamaku, atau..."

​"Atau apa?" tantang Elena. "Kau mau menyeretku lagi seperti kemarin? Di depan banyak orang di lobi SCBD ini? Silakan saja kalau mau masuk akun gosip Lambe Curah lagi."

​Kairo melihat sekeliling. Lobi gedung perkantoran itu ramai. Banyak eksekutif berlalu-lalang. Beberapa orang mulai melirik ke arah mereka, mengenali sosok Kairo Diwantara.

​Kairo mengumpat pelan. Dia tidak bisa membuat keributan di sini. Citranya baru saja pulih.

​"Oke," kata Kairo dingin. Dia melepaskan pintu mobil. "Pergilah ke 'istana' barumu itu. Nikmati lantai kosong yang dingin."

​Elena tersenyum menang. Dia berbalik badan, bersiap memanggil taksi online.

​"Tapi ingat satu hal, Sora," suara Kairo menghentikan langkah Elena.

​Elena menoleh sedikit.

​Kairo menatapnya dengan tatapan yang menjanjikan konsekuensi. Dia melihat jam tangannya, lalu menatap Elena lagi.

​"Kau masih istriku. Rumah utamamu adalah di sisiku, bukan di apartemen studio sempit itu."

​Kairo maju satu langkah, merendahkan suaranya agar hanya Elena yang bisa mendengar ancamannya.

​"Pulang sebelum jam tujuh malam. Makan malam harus sudah tersedia di meja saat aku sampai rumah."

​Elena hendak membantah, tapi Kairo memotong cepat.

​"Kalau lewat dari jam tujuh kau belum menampakkan batang hidungmu di rumah..." Kairo menyeringai kejam. "Aku kenal pemilik gedung apartemen Kuningan itu. Satu telepon dariku, dan aku bisa meminta manajemen gedung untuk mereset paksa semua kode pintu digitalmu. Dan saat itu terjadi, kau akan tahu kalau kertas perjanjian notaris tadi tidak ada artinya di hadapan kekuasaanku."

​Ancaman itu nyata. Kairo punya koneksi untuk melakukan itu.

​Elena mengepalkan tangannya. Kebebasannya masih setengah. Dia punya tempat, tapi waktunya masih dijatah.

​"Kau tiran, Kairo," desis Elena.

​"Aku suami yang disiplin," balas Kairo santai. Dia masuk ke dalam mobilnya. "Jam tujuh, Sora. Jangan telat. Tik tok."

​Pintu Alphard tertutup. Mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan Elena berdiri di trotoar SCBD dengan perasaan campur aduk antara kemenangan memiliki aset dan kekesalan karena masih terikat tali kekang.

​"Jam tujuh," gumam Elena sambil melihat jam tangannya. Sekarang jam sebelas siang.

​Dia punya waktu delapan jam.

​"Cukup untuk memasang server dan menyembunyikan jejak," putus Elena.

​Dia mengangkat tangan memanggil taksi biru yang lewat.

​"Ke Kuningan, Pak. Ngebut. Saya punya deadline dengan setan."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!