Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berutang Kebenaran
"Cieee, yang mukanya berseri-seri! Jadi beneran nih, lo udah jadian sama Aksa?"
Sejak masuk kelas, Naya Wardhana sudah gatal ingin bertanya. Rasa penasarannya sudah di ubun-ubun.
Salma menoleh, melotot main-main. "Gue belum bikin perhitungan sama lo ya. Kenapa lo sekongkol sama dia buat nipu gue?"
Naya nyengir kuda, tanpa rasa bersalah. "Demi sahabat, gue rela lakuin apa aja! Lagian, gue belum pernah lihat Aksa se-effort itu sama cewek lain. Gue yakin dia tulus. Jangan marah dong, Cantik?"
"Nggak bisa! Gue tetep harus kasih lo hukuman!" Meski mulutnya bilang begitu, hati Salma berbunga-bunga.
Naya langsung memeluk lengan Salma erat-erat, mode manja on. "Yah, Salma... maafin gue sekali ini aja ya? Traktir makan siang satu semester deh!"
"Deal!" Salma menyambar cepat. "Awas kalau ngeles."
Naya melongo. Harga dirinya tergadai demi makan siang. "Iya, iya, Tuan Putri."
Melihat tawa Salma, Naya merasa lega. Namun, Salma tiba-tiba bergumam, "Bentar lagi UAS."
"Kenapa? Mau bikin kejutan lagi jadi juara umum?"
Salma hanya tersenyum miring penuh arti. Ujian Akhir Semester adalah kesempatan emas. Selama ini dia pasif menunggu Manda bergerak. Sekarang, giliran dia yang memegang kendali.
Manda, dulu lo menang karena gue diam. Sekarang, posisi kita bakal ketuker.
Jam istirahat tiba. Aksa baru saja mengajak Salma ke kantin—dengan Naya yang mengekor sebagai "nyamuk"—ketika Farel Barata tiba-tiba muncul menghadang jalan mereka.
"Salma, aku minta kamu ke ruang OSIS tadi pagi, kenapa nggak datang?"
Mata Aksa menyipit. Insting lelakinya menyala. Dia tahu Farel punya niat terselubung.
"Ada urusan apa?" Senyum di wajah Salma langsung lenyap, berganti ekspresi datar.
"Penting. Tentang kamu. Ikut aku," desak Farel.
Salma memberi kode pada Aksa dan Naya untuk pergi duluan. Aksa enggan, tapi melihat tatapan dingin Salma pada Farel, dia paham Salma bisa mengatasinya.
Setelah Aksa menjauh, Farel langsung to the point. "Kamu nggak curiga sedikitpun soal kejadian semalam? Apa lo tega ngebiarin keselamatan bokap lo terancam?"
Salma menatapnya datar. "Maksud lo apa?"
"Gue punya info. Kita bisa jadi teman, Salma. Teman kan saling membantu."
Salma tertawa remeh. "Kak Farel lagi ngelawak? Dua pertiga cewek di sekolah ini ngantri mau jadi temen lo. Lo nggak butuh gue."
"Kamu menarik. Beda sama mereka. Kamu berhasil menarik perhatianku..."
"Jujur-jujuran aja deh, Kak," potong Salma tajam. "Dibanding keluarga Barata, menurut lo keluarga Tanudjaja gimana? Lebih hebat, kan? Kalau gitu buat apa gue caper sama lo?"
Farel terdiam, skakmat.
Salma tersenyum sinis. "Percaya diri itu bagus, Kak. Tapi kalau halu, jangan. Bye."
Tanpa menunggu jawaban, Salma melenggang pergi. Farel terpaku menatap punggung gadis itu. Bukannya marah, dia malah tersenyum. Semakin ditolak, dia semakin penasaran.
Tak jauh dari situ, Manda menatap pemandangan itu dengan nyalang. Kukunya menancap ke telapak tangan. Salma! Kenapa semua harus lo rebut?!
Farel berbalik dan tak sengaja menangkap basah tatapan penuh kebencian Manda. Dia tertegun. Namun sedetik kemudian, wajah seram Manda berganti dengan senyum manis yang biasa ia tampilkan, seolah kilatan benci tadi hanya ilusi.
Sore harinya, saat mereka hendak pulang, gerombolan cowok di belakang Salma mulai berisik.
"Aksa aja bisa dapet, berarti gampang lah. Keluarga Tanudjaja kan tajir, beda sama si miskin itu. Salma cantik sih, lumayan buat main-main."
Darah Salma mendidih. Dia baru mau berbalik melabrak, tapi tangannya ditahan Aksa. Wajah cowok itu dingin, menakutkan.
Tiba-tiba, Leon, si biang kerok kelas dua, menghadang jalan mereka.
"Woy, Salma. Gue sebenernya suka sama lo. Mending lo putusin si miskin ini terus sama gue. Gue jamin di sekolah ini nggak ada yang berani macem-macem sama lo."
Salma menatapnya jijik, mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. "Nay, lo nyium bau bangkai nggak sih? Kayaknya ada yang belum sikat gigi."
Naya ngakak. "Iya nih, polusi udara."
Wajah Leon memerah padam. "Salma! Jangan sok jual mahal ya! Oke, gue nggak pukul cewek. Tapi pacar kere lo ini yang bakal nanggung akibat mulut lo!"
Leon memberi kode pada teman-temannya. "Hajar dia!"
Aksa tidak berkedip. Dia hanya berkata pelan pada Salma, "Mundur dikit."
Salma menarik Naya mundur. Detik berikutnya adalah bencana buat Leon dan kawan-kawannya. Orang-orang cuma melihat bayangan Aksa bergerak cepat, ganas, dan tanpa ampun. Tidak ada satu pun pukulan Leon yang kena.
Tiga menit kemudian, para berandalan sekolah itu sudah terkapar di aspal, babak belur.
Aksa berjongkok di depan Leon, menepuk pipi cowok itu yang sudah bengkak kayak bakpao. Plak!
"Sekarang, kesan lo ke gue gimana? Bagus nggak?" tanya Aksa dengan suara rendah yang bikin merinding.
"Lo... lo... gue nggak bakal lepasin lo!" ancam Leon terbata-bata.
"Oh, kesannya masih jelek? Waduh, gue sedih nih. Berarti gue harus usaha lebih keras lagi."
PLAK! PLAK!
Aksa menampar bolak-balik wajah Leon tanpa ampun. "Sekarang gimana? Udah bagus belum kesannya?"
Mata Aksa gelap, aura membunuhnya begitu pekat. Leon ketakutan setengah mati sampai celananya basah. Bau pesing menguar.
"Ampun! Gue salah! Gue salah!" teriak Leon histeris.
Semua mata tertuju pada genangan air di bawah celana Leon.
"Salah? Salah di mana?" tanya Aksa santai, seolah cuma lagi ngobrol soal cuaca.
"Gue... gue nggak harusnya ngomong kotor soal Salma!"
Aksa berdiri tegak, menyapu pandangan ke arah kerumunan siswa yang menonton.
"Mulai hari ini, siapa pun yang berani ngomong kotor soal Salma Tanudjaja, nasibnya bakal kayak Leon. Nggak percaya? Silakan coba."
Tekanan udara di sekitar situ mendadak berat. Pesan tersampaikan: Salma milik gue, sentuh dia, lo mati.
Jantung Salma berdegup kencang. Rasanya manis banget dilindungi seposesif ini.
"Cabut yuk," ajak Aksa pada Salma, kembali menjadi cowok manis yang hangat. Perubahan drastis itu bikin orang bengong.
Mereka memutuskan berjalan kaki ke Jalan Pendekar. Tanpa orang lain, Naya mulai berulah menceritakan aib masa kecil Aksa.
"Sal, lo tau nggak? Si Tuan Muda yang garang tadi itu, waktu kecil nangis kejer gara-gara mau disuntik! Satu rumah heboh!"
Salma spontan tertawa ngakak. Bayangin Aksa yang cool itu takut jarum suntik? Priceless.
Aksa menaikkan alisnya, kalem. "Nay, lo masih inget Aldo nggak? Anak keluarga Wijaya itu kayaknya naksir berat sama lo. Gimana kalau gue kasih tahu posisi lo sekarang ke dia?"
Wajah Naya langsung horor. "Aksa! Lo jahat banget sumpah! Gue nyerah! Ampun!"
Salma menggeleng. Aksa ini bener-bener... licik tapi gemesin.
Mereka sampai di sebuah rumah sederhana di ujung gang Jalan Pendekar. Baru saja Salma mau mengetuk, pintu terbuka sedikit. Pak Rahmat, mantan juara dunia pencak silat yang kini tampak lusuh, mengintip keluar.
"Pak Rahmat, saya datang lagi," sapa Salma ramah.
Wajah Pak Rahmat langsung keruh. "Saya udah bilang, saya nggak buka perguruan. Pergi."
Dia mau menutup pintu, tapi Salma dengan sigap menyelipkan kakinya di celah pintu. Pak Rahmat kaget, refleks menahan pintu agar tidak menjepit kaki gadis itu.
"Nak, jangan ganggu saya. Saya mau masak buat anak saya."
Salma menatap mata Pak Rahmat tajam. "Pak Rahmat, jatuh itu biasa, yang penting gimana cara bangunnya. Bapak mau lari terus dari masa lalu? Bapak mau anggep kematian istri Bapak itu cuma kecelakaan biasa?"
Tubuh Pak Rahmat menegang. "Maksud kamu apa?! Tau apa kamu?!"
Dia mencengkeram kerah baju Aksa yang berdiri di samping Salma, emosinya meledak.
Aksa dengan tenang melepaskan cengkeraman itu, merapikan kerahnya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku. "Jangan nyiksa diri sendiri atas kesalahan orang lain. Bapak berutang kebenaran sama mendiang istri Bapak. Liat sendiri isinya."
Tangan Pak Rahmat gemetar saat menerima benda kecil itu.
Salma ikut kaget. Ternyata Aksa sudah menyiapkan bukti penyelidikan kematian istri Pak Rahmat? Salma menatap Aksa dengan pandangan haru. Cowok ini... selalu satu langkah di depan.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki ribut. Sekumpulan orang berbaju latihan silat datang dengan wajah garang. Itu Burhan, pemilik Padepokan Garuda, musuh bebuyutan Pak Rahmat.
"Woy, Rahmat! Rame bener rumah lo!" Burhan berteriak mengejek. "Kenapa? Mau terima murid lagi? Lupa lo sama janji lo? Istri lo udah mati gara-gara lo, jangan sampe anak lo nyusul!"
Wajah Pak Rahmat menggelap, matanya memerah. "BANGSAT LO BURHAN! KELUAR DARI SINI!"
"Dih, ini badut dari sirkus mana sih? Datang-datang gonggong nggak jelas," celetuk Salma tiba-tiba, memecah ketegangan dengan nada santai tapi pedas.
"Keahliannya cuma bacot doang ya? Padepokan Garuda? Hah, ganti nama aja deh jadi Padepokan Nyungsep. Ayam sayur semua isinya."
Naya tak bisa menahan tawa. "Pfft... Padepokan Nyungsep."
Wajah Burhan memerah menahan amarah. "Heh bocah ingusan! Ngeremehin gue?!"
"Pak Rahmat tolong! Ada anjing galak mau gigit saya!" Salma pura-pura ketakutan dan melompat bersembunyi di balik punggung Pak Rahmat, tapi wajahnya malah nyengir mengejek ke arah Burhan.
Aksa tersenyum tipis melihat tingkah Salma.
Burhan yang biasa dipuja-puji muridnya merasa harga dirinya diinjak-injak. "Bocah sialan! Cari mati lo!"
Dia menggulung lengan bajunya dan menerjang maju, siap memberi pelajaran pada gadis bermulut tajam itu.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️