Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu berpendar mewah, memantulkan bayangan orang-orang kelas atas yang saling melempar senyum formal. Musik klasik mengalun lembut, tapi bagi Andrew, melodi itu terdengar seperti lonceng peringatan.
Andrew berdiri di dekat podium, mengenakan tuxedo hitam sempurna yang membuatnya terlihat sangat berwibawa. Namun, matanya tidak berhenti melirik ke arah pintu masuk.
"Pak Andrew, pidato pembukaan dilakukan lima menit lagi," bisik Siska, sekretarisnya.
Andrew hanya mengangguk tanpa suara. Saat itulah, kerumunan di dekat pintu masuk mendadak terbelah. Suasana yang tadinya bising menjadi sedikit sunyi, diikuti bisik-bisik kagum.
Ares masuk dengan langkah penuh percaya diri. Di lengannya, seorang wanita melangkah dengan anggun namun tampak sedikit gugup. Alana mengenakan gaun silk berwarna hijau zamrud yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Dia terlihat seperti karya seni yang hidup di tengah galeri yang kaku.
Andrew merasa dunianya seolah berhenti berputar. Oksigen di paru-parunya mendadak tipis.
"Papi, Mommy..." suara Ares terdengar saat mereka sampai di meja utama tempat orang tua mereka duduk. "Ini Alana."
Andrew terpaksa melangkah mendekat. Ia harus ada di sana sebagai bagian dari keluarga. Saat jarak mereka hanya tersisa dua meter, mata Alana beralih dari Papi Adrian ke arah sosok pria yang berdiri di sampingnya.
Detik itu, langkah Alana terhenti. Matanya membelalak, napasnya tertahan.
"Kamu..." bisik Alana tanpa sadar.
Ares mengernyit, menoleh ke Alana lalu ke kakaknya. "Eh? Kalian berdua udah pernah ketemu?"
Andrew merasakan jantungnya berdegup kencang, tapi pengalamannya di dunia bisnis selama bertahun-tahun membantunya memakai 'topeng' paling dingin yang ia punya. Ia mengulurkan tangan, gerakannya sangat formal, seolah-olah pertemuan di galeri itu tidak pernah terjadi.
"Halo, Alana. Kita bertemu lagi," ucap Andrew datar, suaranya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ternyata dunia memang sempit."
Alana masih tampak syok. Pria yang membantunya mengangkat kanvas dengan kemeja basah kuyup kemarin, pria yang ia pikir hanya karyawan kantoran biasa, ternyata adalah Andrew Putra Wijaksana, Sang CEO, kakak dari pria yang baru saja menembaknya.
"Kalian beneran udah kenal?" tanya Ares, kali ini dengan nada penasaran yang tinggi.
"Nggak sengaja ketemu di kafe dekat galerinya kemarin sore, Res," potong Andrew cepat, sebelum Alana sempat menjelaskan lebih detail. "Gue nggak tahu kalau dia adalah wanita yang kamu maksud."
Mommy Revana tersenyum kecil, mengamati ketegangan yang tak kasat mata itu. "Wah, kebetulan yang manis ya. Alana, silakan duduk. Kamu cantik sekali malam ini."
"Terima kasih, Tante," jawab Alana pelan, suaranya masih bergetar. Ia duduk di samping Ares, namun matanya tidak bisa berhenti melirik ke arah Andrew yang kini kembali berdiri kaku, menatap lurus ke depan.
Sepanjang acara, Andrew berusaha tidak menoleh ke samping. Namun, indranya sangat tajam menangkap setiap interaksi di sebelahnya. Ia mendengar Ares tertawa, ia melihat Ares sesekali membisikkan sesuatu ke telinga Alana, dan yang paling menyakitkan, ia melihat Ares menggenggam tangan Alana di bawah meja.
Saat namanya dipanggil untuk memberikan sambutan, Andrew berdiri di podium. Di depan ratusan tamu penting, ia berbicara tentang masa depan perusahaan dan loyalitas. Namun, matanya justru jatuh pada Alana yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kagum, bingung, dan... mungkin rasa bersalah yang sama.
Andrew menutup pidatonya dengan kalimat yang hanya ia yang tahu maknanya.
"Dalam hidup, kita sering kali dihadapkan pada pilihan. Ada yang harus kita jaga dengan logika, dan ada yang harus kita lepaskan demi tanggung jawab. Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan tentang apa yang kita miliki, tapi tentang apa yang sanggup kita korbankan."
Tepuk tangan membahana. Andrew turun dari podium, dan saat ia melewati kursi Alana, ujung gaun wanita itu sempat menyentuh sepatunya. Andrew tidak berhenti, ia terus berjalan menuju balkon luar, butuh udara segar sebelum ia benar-benar kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Suasana pesta semakin meriah, namun bagi Andrew, kebisingan itu terasa seperti dengung yang hampa. Ia memilih menepi ke sebuah meja bundar di sudut balkon yang agak gelap, menjauh dari lampu kristal dan tatapan memuja para kolega.
Ia baru saja hendak menyesap wine-nya ketika sebuah tangan dengan kuku yang dipulas cantik, menepuk bahunya pelan.
"CEO kita kok malah mojok? Takut kalah pamor sama adiknya yang baru go publik?"
Andrew menoleh. Senyumnya sedikit muncul sedikit, senyum tulus yang hanya ia simpan untuk satu orang ini. "Kak Alesya."
Alesya Putri Wijaksana, putri sulung keluarga Wijaksana, berdiri di sana dengan keanggunan seorang dokter bedah yang sudah terbiasa menghadapi situasi antara hidup dan mati. Meski usianya sudah masuk kepala tiga, wajahnya tetap segar. Dia sudah menikah dengan Rayyan, suaminya yang juga seorang pengusaha sukses, Rayyan tampak sedang mengawasi putri kecil mereka, Kiara, yang sibuk mencicipi cupcake di meja hidangan tak jauh dari sana.
"Kak Rayyan sama Kiara mana?" tanya Andrew basa-basi.
"Tuh, si kecil lagi sugar rush sama bapaknya," Alesya duduk di kursi sebelah Andrew, matanya yang tajam menatap wajah adiknya dengan seksama. "Lo pucat, Ndrew. Ada masalah di kantor? Atau ada yang mengganggu pikiran lo?"
Andrew mengalihkan pandangan ke arah lantai dansa, di mana Ares sedang tertawa sambil merangkul pinggang Alana. "Nggak ada. Gue cuma kurang tidur."
Alesya mengikuti arah pandang Andrew. Sebagai kakak perempuan tertua, instingnya sangat tajam. Ia melihat bagaimana mata Andrew tidak lepas dari wanita berbaju hijau zamrud di samping Ares.
"Cantik ya, pilihan Ares?" pancing Alesya tenang. "Namanya Alana. Tadi kakak sempat ngobrol sebentar sama dia. Dia punya vibe yang beda. Tenang, nggak berisik kayak mantan-mantan Ares yang lain."
Andrew hanya bergumam tidak jelas, tangannya mempermainkan gelas kaca di hadapannya.
"Ndrew," suara Alesya merendah, berubah menjadi nada seorang dokter yang sedang mendiagnosis pasien. "Sejak umur sepuluh tahun, lo selalu kasih mainan terbaik lo buat Ares. Lo kasih perhatian Papi buat Ares. Lo selalu jadi benteng biar Ares bisa terbang bebas. Tapi wajah lo malam ini... itu bukan wajah seorang kakak yang ikut senang."
Andrew tertegun. Ia meletakkan gelasnya. "Maksud Kakak apa?"
"Gue dokter bedah, Andrew. Gue tahu bedanya detak jantung yang capek karena kerja, sama detak jantung yang sesak karena nahan sesuatu," Alesya menyentuh punggung tangan Andrew. "Jangan bilang kalau kali ini lo mau mengalah lagi untuk hal yang sebenarnya nggak bisa lo kasih ke siapa pun?"
Andrew terdiam seribu bahasa. Rahasianya yang baru berumur beberapa jam seolah telanjang di depan kakaknya.
"Dia pacar Ares, Kak. Mungkin sebentar lagi jadi tunangannya," ucap Andrew, suaranya sangat rendah hingga hampir tenggelam oleh musik.
"Dan lo jatuh cinta sama dia di waktu yang salah, kan?" tebak Alesya telak.
Belum sempat Andrew membantah, Kiara kecil berlari menghampiri mereka dan langsung naik ke pangkuan Andrew. "Om Andrew! Tadi Kiara lihat Om di panggung hebat banget! Tapi kok Om nggak senyum?"
Andrew terpaksa tersenyum, mengacak rambut keponakannya itu. "Om lagi mikirin kerjaan, Sayang."
Alesya menghela napas panjang, menatap Andrew dengan tatapan iba sekaligus peringatan. "Hidup itu bukan cuma tentang tanggung jawab, Ndrew. Kadang lo perlu egois. Tapi kalau lawan lo adalah adik sendiri... Kakak cuma bisa bilang, siap-siap untuk hancur, entah itu hati lo, atau keluarga kita."
Peringatan dari Kak Alesya masih terngiang di telinga Andrew saat Kiara, yang masih dalam mode sugar rush, melonjak turun dari pangkuannya.
"Om Andrew, Kiara mau ambil es krim lagi!" serunya sambil berlari riang ke arah meja pencuci mulut.
Namun, di tengah jalan yang ramai oleh tamu, Kiara tersandung ujung gaunnya sendiri. Tubuh kecilnya terhuyung tepat saat Alana sedang berjalan melintas membawa segelas red wine.
PRANG!!!
Gelas kristal itu jatuh menghantam lantai, dan cairan merah pekat menyiram bagian depan gaun hijau zamrud milik Alana.
"Aduh! Kiara!" Alesya langsung berdiri, wajah keibuannya berubah panik saat melihat putrinya jatuh terduduk.
Alana mematung, menatap gaunnya yang kini basah kuyup dan ternoda parah. Ares, yang tadi sedang asyik mengobrol dengan rekan bisnis di kejauhan, tidak menyadari kejadian itu karena tertutup kerumunan.
"Ya ampun, Alana! Maaf banget, anak aku memang lagi nggak bisa diam," Alesya menghampiri, memeriksa Kiara yang mulai terisak, lalu menatap Alana dengan penuh rasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Kak... eh, Kiara jangan nangis, Kakak nggak pa-pa" sahut Alana gugup. "Bisa dibersihkan kok."
Andrew sudah berada di sana dalam sekejap. Insting pelindungnya muncul lebih cepat dari logikanya. Tanpa berkata-kata, ia melepas jas tuxedo-nya dan menyampirkannya ke bahu Alana yang terbuka. Aroma parfum maskulin Andrew, kayu cendana dan citrus, langsung menyelimuti Alana, membuatnya sedikit pening.
"Bawa dia ke area restroom VIP di belakang, Ndrew. Di sana lebih sepi. Kakak harus urus Kiara dulu," perintah Alesya khawatir dan tidak enak hati pada Alana.
Andrew mengangguk. Ia memegang lengan Alana dengan lembut, menuntunnya keluar dari kerumunan tamu sebelum semua orang mulai menonton.
Berbeda dengan ballroom yang bising, koridor menuju restroom VIP ini dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Hanya ada mereka berdua.
Alana mencoba menggosok noda di gaunnya dengan tisu basah yang diberikan pelayan di jalan tadi, tapi noda itu justru semakin melebar.
"Jangan digosok, makin rusak nanti," ucap Andrew pelan. Suaranya menggema di lorong yang sepi itu.
Alana berhenti, bahunya merosot. Ia bersandar di dinding marmer, tampak sangat lelah. "Malam ini kacau banget ya? Kemarin ketemu kamu pas aku lagi berantakan, sekarang ketemu lagi pas aku... tambah berantakan."
Andrew berdiri di depannya, cukup dekat hingga ia bisa melihat pantulan lampu dinding di mata Alana. "Kamu nggak pernah terlihat berantakan buat saya."
Kalimat itu keluar begitu saja. Alana mendongak, matanya bertemu dengan mata Andrew yang biasanya sedingin es, namun kini tampak begitu hangat, dan terluka.
"Andrew... kenapa tadi kamu pura-pura nggak kenal aku di depan Ares?" tanya Alana lirih. "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu kakaknya?"
Andrew mengepalkan tangan di saku celananya. "Karena saya pengecut, Alana. Saya tahu kalau saya jujur, saya nggak akan bisa berhenti menatap kamu sebagai wanita yang saya temui di galeri kemarin... bukan sebagai pacar adik saya."
Napas Alana tercekat. Udara di antara mereka mendadak terasa sangat panas.
"Kita baru ketemu dua hari yang lalu," bisik Alana, mencoba mencari sisa logikanya.
"Tapi kenapa rasanya sudah bertahun-tahun," balas Andrew. Ia melangkah satu tindak lebih dekat. "Jangan tanya saya kenapa, karena saya sendiri nggak punya jawabannya. Hidup saya selalu tentang angka dan logika, sampai saya ketemu kamu yang berlepotan cat di tengah hujan."
Tepat saat tangan Andrew terangkat, entah ingin merapikan anak rambut Alana atau menghapus noda di pipinya, suara langkah kaki cepat terdengar dari ujung lorong.
"Alana? Kak Andrew? Kalian di sana?"
Itu suara Ares.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......