Xiao Nan pernah menjadi Godfather paling ditakuti di Bumi, membangun kerajaan kriminal sebelum tewas akibat pengkhianatan orang terdekat. Namun kematian bukan akhir. Jiwanya bereinkarnasi ke dunia kultivasi di Pulau Matahari Abadi, bangkit sebagai penguasa bayangan sebelum kembali dikhianati dan dijatuhkan ke Pulau Bulan Surga.
Di sana ia terlahir sebagai tuan muda Keluarga Xiao. Ibunya dibunuh, bakat Akar Naga dirampas ayahnya sendiri, dan ia dibuang ke Reruntuhan Dewa dan Iblis. Di neraka itulah Xiao Nan bangkit. Ia mewarisi Sutra Bayangan Naga dan Tulang Naga Dewa, memadukan insting mafia dengan hukum kultivasi. Bersama entitas misterius Finn, ia membentuk Fraksi Shadow Dragon, menghancurkan Keluarga Xiao dari dalam. Namanya mengguncang dunia dan menyeretnya ke Turnamen Jalan Langit Sepuluh Ribu Ras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon King Nan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 8 - MAWAR HITAM DARI ISTANA BUNGA ROH
Pagi harinya, halaman gubuk Xiao Nan tampak bersih seolah tidak pernah terjadi pertumpahan darah semalam. Tiga mayat pembunuh itu telah "dilenyapkan" oleh Xiao Nan menggunakan Api Dingin Bulan Yin tingkat rendah yang ia panggil melalui sisa energi Sutra Bayangan Naga sebuah teknik penghancuran barang bukti yang ia pelajari dari kehidupan mafianya.
Xiao Nan melangkah menuju Kota Terbuang Sepuluh Ribu Ras. Hari ini ia tidak memakai jubah hitam, melainkan pakaian murid luar Sekte Xiao yang bersih, meski masih terlihat sederhana. Tujuannya satu, bengkel Master Thorin. Di depan bengkel, terparkir sebuah kereta kencana yang dihiasi dengan ukiran bunga teratai perak. Kereta itu memancarkan aroma harum yang menenangkan namun kuat aroma dari Teratai Salju Bulan Dingin (Tingkat 5).
"Sudah kubilang, Master Thorin, Istana Bunga Roh bersedia membayar dengan sepuluh Pil Pemurni Jiwa (Tingkat 4) jika kau bisa memperbaiki Pedang Tanpa Bayangan milikku," sebuah suara wanita yang jernih dan berwibawa terdengar dari dalam.
Xiao Nan melangkah masuk dengan tenang. Di dalam bengkel, ia melihat seorang wanita berdiri membelakanginya. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna ungu tua dengan sulaman bunga roh yang tampak hidup. Rambutnya hitam legam dihiasi tusuk konde berbentuk kelopak mawar hitam.
Master Thorin, yang sedang berkeringat di depan tungku, menoleh dan matanya berbinar saat melihat Xiao Nan.
"Ah! Nak, kau datang di waktu yang tepat!" seru Thorin, mengabaikan wanita di depannya. "Pesananmu sudah selesai. Sini, lihatlah!"
Wanita berbaju ungu itu berbalik, menatap Xiao Nan dengan tatapan menyelidik. Matanya yang tajam dan bulu matanya yang lentik memberikan kesan kecantikan yang berbahaya. Dia adalah Yue Niang, salah satu murid inti dari Istana Bunga Roh yang terkenal misterius.
"Jadi ini orangnya?" Yue Niang bertanya dengan nada meremehkan. "Seorang murid luar dengan basis Pembentukan Qi tingkat Rendah? Thorin, apa kau sudah pikun? Kau lebih mendahulukan pesanan bocah ini daripada urusanku?"
Xiao Nan tidak membalas ucapan wanita itu. Ia berjalan mendekati meja kerja Thorin. Di sana terletak sebilah belati sepanjang dua puluh sentimeter. Bilahnya berwarna hitam pekat, tidak memantulkan cahaya sama sekali, seolah-olah ia menelan kegelapan di sekitarnya.
Belati Jurang Langit (Tingkat 5)
Xiao Nan memegang gagangnya. Seketika, ia merasakan koneksi darah dengan senjata itu. Energi hitam dari Sutra Bayangan Naga di dalam tubuhnya bergetar selaras dengan material belati tersebut.
"Bagus," ujar Xiao Nan pendek. Ia kemudian melirik Yue Niang yang masih menatapnya dengan kesal. "Master Thorin tidak pikun. Dia hanya tahu mana yang lebih mendesak: senjata untuk membunuh, atau mainan untuk pamer."
"Apa kau bilang?!" Yue Niang melepaskan aura tekanannya. Sebagai kultivator ranah Pemadatan Qi tingkat Atas, tekanannya cukup untuk membuat murid biasa berlutut.
Namun, Xiao Nan tetap berdiri tegak. Ia menggunakan teknik Kitab Hati Kekosongan yang ia modifikasi dengan pengalaman mentalnya sebagai raja dunia bawah untuk menetralkan tekanan tersebut.
"Kau memiliki masalah dengan pedangmu, bukan?" Xiao Nan berkata sambil menunjuk pedang patah di meja. "Kau mencoba menggabungkan Api Hati Teratai Biru untuk memperkuatnya, tapi kau lupa bahwa pedang itu terbuat dari Kristal Kayu Suci. Api dan Kayu... kau justru menghancurkan struktur intinya."
Yue Niang tertegun. Wajahnya yang semula penuh kemarahan berganti menjadi keterkejutan yang luar biasa. "Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu tentang penggunaan Api Teratai Biru?"
Metode itu adalah rahasia internal Istana Bunga Roh. Tidak mungkin seorang murid luar di Pulau Bulan Surga mengetahuinya.
Xiao Nan melangkah mendekati pedang patah itu, lalu mengeluarkan sebotol kecil cairan bening yang ia dapatkan dari Master Thorin sebelumnya. "Gunakan Mata Air Suci untuk merendamnya selama tiga malam di bawah cahaya bulan, lalu minta Thorin menempanya kembali menggunakan Formasi Sembilan Istana. Pedangmu tidak hanya akan sembuh, tapi akan naik menjadi Tingkat 6."
Yue Niang terdiam seribu bahasa. Karisma dingin dan pengetahuan mendalam yang ditunjukkan pemuda di depannya ini sangat kontras dengan tingkat kultivasinya yang rendah. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Yue Niang, kali ini suaranya lebih lembut, mengandung rasa hormat yang tidak disadari.
"Hanya seorang sampah yang ingin bertahan hidup," jawab Xiao Nan sambil menyarungkan belatinya ke balik pinggang. Ia menatap Master Thorin. "Thorin, ingat kesepakatan kita. Aku butuh informasi tentang Lembah Ratapan Arwah. Aku akan berangkat besok."
"Kau gila!" Yue Niang menyela. "Bahkan tetua istanku tidak berani masuk ke sana tanpa Lonceng Dunia Bawah! Kau hanya akan mengantarkan nyawa!"
Xiao Nan menoleh sekilas sebelum melangkah keluar. "Dunia ini luas, Nona Yue. Terkadang, orang yang paling tidak berdaya di matamu adalah orang yang memegang kendali atas hidupmu."
Yue Niang menatap punggung Xiao Nan yang menghilang di balik pintu bengkel. Sesuatu di dalam hatinya bergetar. Sejak kecil, ia selalu dikelilingi oleh pria yang memujanya karena kecantikannya atau kekuatannya. Tapi pemuda ini... dia menatapnya seolah-oleh dia hanyalah penghalang jalan yang tidak penting.
"Master Thorin," Yue Niang berbalik. "Cari tahu segalanya tentang dia. Siapa namanya, di mana dia tinggal, dan siapa orang di belakangnya."
"Namanya Xiao Nan, dari keluarga Xiao," jawab Thorin sambil terkekeh. "Tapi percayalah, Nona. Tidak ada siapa pun di belakangnya. Dialah yang berada di depan semua orang, hanya saja kalian belum menyadarinya."
Sementara itu, Xiao Nan berjalan pulang dengan rencana baru. Bertemu Yue Niang adalah keberuntungan. Istana Bunga Roh memiliki akses ke Ganoderma Sembilan Daun (Tingkat 3) yang ia butuhkan. Jika ia bisa membuat Yue Niang berutang budi padanya, ia akan memiliki jalur pasokan pil tanpa harus mencuri dari Sekte Xiao.
Namun, saat ia mendekati gerbang sekte, ia melihat kerumunan orang. Di tengah kerumunan, Xiao Yi. Kakak tertuanya berdiri dengan wajah muram sambil memegang surat tantangan berwarna merah.
"Xiao Nan! Keluar kau, sampah!" teriak Xiao Yi. "Berani-beraninya kau membunuh orang-orang kiriman keluarga kita! Hari ini, aku akan mencabut lidahmu di depan aula leluhur!"
Xiao Nan menghentikan langkahnya. Ia mengusap gagang belati barunya. ‘Taktik mafia nomor lima, Jika musuh memaksamu menumpahkan darah di depan umum, pastikan darah yang tumpah adalah milik mereka yang paling berharga.’