Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: KELAS REMEDIAL
Ujian tengah semester berjalan lancar bagi Min-jae. Teori monster, taktik Gerbang, manajemen sumber daya—semua dijawabnya dengan percaya diri. Hasilnya, ia mendapat nilai tertinggi di kelas C-3. Prestasi ini semakin mengukuhkan reputasinya sebagai siswa berbakat.
Namun, setelah pengumuman nilai, Guru Choi memanggilnya. Bukan untuk memberi pujian, tapi untuk membicarakan hal lain.
"Min-jae, nilai dan kemampuanmu sudah jauh di atas rata-rata siswa C-rank. Tapi ada sesuatu yang perlu kamu perhatikan: dasar-dasarmu."
Min-jae mengerutkan kening. "Dasar-dasar, Guru?"
"Ya. Kamu naik rank dengan cepat, melewati banyak pelatihan dasar yang seharusnya dijalani siswa secara bertahap. Terutama dalam hal teori fundamental dan disiplin psikis dasar." Guru Choi menatapnya serius. "Akademi punya kebijakan: siswa yang berkembang terlalu cepat tetapi memiliki celah di dasar, harus mengikuti kelas tambahan. Dalam kasusmu, kelas remedial khusus untuk topik tertentu."
Min-jae terkejut. "Kelas remedial? Tapi saya rank C sekarang, Guru."
"Rank bukan segalanya. Jika dasar rapuh, suatu hari kamu akan menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan kemampuan mentah." Guru Choi mengambil selembar kertas. "Kamu diwajibkan mengikuti 'Kelas Remedial Teori Dimensi Lanjut' setiap Jumat sore, selama dua jam. Kelas ini diajar oleh Master Yoon sendiri. Hanya ada lima siswa di kelas itu, semuanya memiliki celah pengetahuan serupa."
Min-jae menerima keputusan itu. Meski terdaknya sedikit memalukan, ia tahu ini untuk kebaikannya. Pengetahuan dasarnya tentang teori dimensi memang masih banyak yang samar, terutama yang tidak terkait langsung dengan kemampuannya.
Jumat sore, ia masuk ke ruang kelas kecil di lantai empat perpustakaan. Ruangan itu sederhana, dengan meja melingkar dan papan tulis. Empat siswa lain sudah duduk: dua perempuan dan dua laki-laki. Min-jae mengenali salah satunya—Lee Hana.
"Hana? Kamu juga di sini?" tanya Min-jae sambil duduk di sebelahnya.
Hana tersenyum kecut. "Nilai teori dimensiku jeblok waktu ujian. Aku terlalu fokus pada aplikasi praktis, lupa dasar-dasarnya."
Siswa lain memperkenalkan diri: Kim Do-hyun (yang sudah ia kenal dari kelompok studi), seorang perempuan bernama Park Ji-won (spesialisasi sihir pendukung), dan seorang laki-laki bernama Choi Tae-min (spesialisasi manipulasi elemen api).
"Kalian semua adalah siswa berbakat dengan kemampuan unik," kata Master Yoon saat masuk ke ruangan. "Tapi talenta tanpa fondasi yang kuat seperti rumah yang dibangun di atas pasir. Di kelas ini, kita akan membongkar asumsi kalian dan membangun dari awal."
Pelajaran pertama dimulai dengan pertanyaan sederhana: "Apa itu dimensi?"
Do-hyun langsung menjawab, "Ruang keberadaan yang terpisah dari realitas kita, terhubung melalui Gerbang."
"Benar, tapi tidak tepat," kata Master Yoon. "Itu definisi praktis. Tapi secara teoritis, dimensi bukan 'tempat'. Dimensi adalah lapisan realitas yang berbeda frekuensi atau resonansinya. Gerbang bukan pintu ke tempat lain, tetapi titik di mana frekuensi dua lapisan realitas bersinggungan."
Penjelasan itu membuka wawasan baru. Min-jae selama ini berpikir tentang dimensi sebagai dunia paralel. Ternyata, lebih kompleks dari itu.
"Kemampuan psikismu, Min-jae, terkait erat dengan konsep ini," lanjut Master Yoon. "Kamu bisa merasakan resonansi karena pikiranmu secara alami beroperasi pada frekuensi yang lebih fleksibel. Tapi tanpa pemahaman dasar, kamu tidak bisa mengoptimalkannya."
Kelas berlanjut dengan diskusi tentang hukum konservasi energi antar dimensi, teori resonansi silang, dan konsep "entropi dimensi". Materinya berat, tapi Min-jae menikmatinya. Ia merasa seperti mendapatkan kunci untuk memahami kekuatannya sendiri.
Setelah kelas, Hana mengajaknya ke kafetaria untuk membahas lebih lanjut.
"Aku baru sadar betapa banyak yang tidak aku ketahui," akui Hana sambil menyeruput teh. "Selama ini aku cuma peduli bagaimana menyembuhkan luka atau meningkatkan stamina tim. Tapi memahami dari mana energi penyembuhan itu berasal, bagaimana ia berinteraksi dengan energi dimensi—itu penting."
Min-jae mengangguk. "Sama. Selama ini aku pakai sensing dan telekinesis berdasarkan insting. Tapi tahu teorinya membuatku lebih percaya diri mengendalikannya."
Mereka berdiskusi tentang aplikasi praktis dari pelajaran hari itu. Hana bertanya bagaimana resonansi dimensi mempengaruhi efektivitas ramuan penyembuhan. Min-jae berbagi pengalaman bagaimana sensing-nya terkadang "terganggu" di dekat Gerbang dengan resonansi tidak stabil.
Diskusi itu bermanfaat. Min-jae merasa kelas remedial justru menjadi berkat tersembunyi.
Selain kelas teori, ia juga mendapat tugas khusus dari Mentor Kwon: melatih dasar-dasar gerakan fisik tanpa mengandalkan psikis.
"Kamu terlalu bergantung pada sensing untuk menghindar," kata Mentor Kwon suatu sore di dojang. "Bagaimana jika lawanmu punya kemampuan yang bisa memblokir sensing-mu? Atau bagaimana jika kamu kelelahan secara psikis?"
Dia mengajarkan Min-jae jurus menghindar sederhana berdasarkan penglihatan dan insting alami, serta teknik jatuhan dasar untuk situasi darurat. Latihan fisik murni ini melelahkan, tapi Min-jae merasakan manfaatnya. Tubuhnya menjadi lebih responsif, tidak hanya mengandalkan informasi dari sensing.
Dalam dua minggu, perkembangan Min-jae terlihat jelas. Tidak hanya kemampuan psikisnya yang meningkat, tetapi juga pemahaman teoritis dan ketahanan fisiknya. Bahkan Mi-rae, pelatih dari Chrono Vanguard, memberikan catatan positif.
"Perisai psikismu sekarang lebih efisien. Kamu tidak lagi membuang energi berlebihan untuk mempertahankannya," puji Mi-rae. "Dan kemampuan deteksimu semakin tajam. Kamu bisa membedakan antara pemindaian pasif dan aktif dengan baik."
Namun, di tengah kemajuan itu, tekanan dari luar tidak berkurang. Suatu hari, saat Min-jae sedang belajar di perpustakaan, seseorang meninggalkan amplop coklat di mejanya tanpa sepatah kata. Di dalamnya, ada foto hitam-putih yang buram: seorang wanita kurus dengan kacamata, duduk di bangku taman, dikelilingi oleh beberapa anak kecil. Di balik foto, tulisan: **"Busan, Taman Anak Yatim St. Maria. Dia masih di sana."**
Dr. Seo Ji-hyun.
Jantung Min-jae berdebar kencang. Ini informasi yang sangat spesifik. Siapa yang memberikannya? Apakah ini jebakan? Atau bantuan tulus?
Dia segera menghubungi Mi-rae melalui saluran aman.
"Jangan langsung percaya," peringat Mi-rae. "Bisa jadi umpan. Tapi kita tidak bisa mengabaikannya. Aku akan minta tim di Busan untuk melakukan pengawasan jarak jauh dulu. Kamu tetap di akademi, jangan melakukan apa-apa."
Min-jae setuju, meski rasa ingin tahu dan harapannya menggelegak. Akhirnya, petunjuk konkret tentang keberadaan Dr. Seo.
Dua hari kemudian, Mi-rae memberikan update. "Tim kita sudah mengamati taman itu. Benar ada seorang wanita yang cocok dengan deskripsi, bekerja sebagai sukarelawan. Dia menggunakan nama samaran, tapi ciri-cirinya mirip. Tapi lingkungan itu terlalu terbuka, dan ada beberapa orang mencurigakan yang juga mengawasi tempat itu."
"Ouroboros?"
"Atau pihak lain. Intinya, dia sedang diawasi. Jika kita mendekati langsung, bisa memicu penangkapan atau hal buruk lainnya."
Jadi, Dr. Seo memang bersembunyi, tetapi tidak sepenuhnya aman. Mereka harus merencanakan pendekatan dengan hati-hati.
Sementara itu, di akademi, persiapan untuk Kompetisi Nasional Antar-Akademi semakin serius. Setiap akademi boleh mengirimkan tiga tim (masing-masing tiga anggota) untuk bersaing dalam serangkaian ujian teori, kemampuan individual, dan simulasi tim. Hadiahnya besar: beasiswa penuh untuk pelatihan lanjutan di pusat pelatihan Hunter internasional, plus jaminan magang di guild pilihan.
Tim Min-jae—dirinya, Hana, dan Min-ki—sudah terpilih mewakili kelas C. Tim lain dari kelas B dan A juga sudah terbentuk. Mereka berlatih keras setiap hari setelah jam akademi.
Dalam satu sesi latihan tim, mereka berhadapan dengan simulasi monster kelas C "Shadow Stalker" dalam lingkungan hutan gelap. Shadow Stalker bisa menyatu dengan bayangan dan menyerang secara tiba-tiba.
"Min-jae, kamu sensing. Min-ki, siapkan panah energi untuk area yang aku tunjuk. Hana, jaga stamina kita dan siapkan cahaya penyembuh untuk area gelap," komando Min-jae.
Mereka berkoordinasi dengan baik. Sensing Min-jae bisa melacak pergerakan Shadow Stalker meski hampir tak terlihat. Min-ki menembak dengan akurat ke titik lemah yang ditunjukkan. Hana menjaga agar mereka tidak kehilangan daya karena aura gelap monster itu.
Dalam waktu enam menit, mereka berhasil menetralisir ancaman. Hasil simulasi hampir sempurna.
"Ini tim yang solid," puji Instructor Park yang mengawasi. "Tapi ingat, di kompetisi nanti, lawan kalian bukan monster, tapi tim lain yang mungkin punya strategi licik. Jangan hanya berfokus pada ancaman virtual."
Nasihat itu mereka pegang. Mereka mulai mempelajari taktik tim-tim dari akademi lain melalui rekaman kompetisi tahun-tahun sebelumnya.
Di tengah kesibukan, Min-jae tidak melupakan kelas remedialnya. Justru, pelajaran teori dimensi memberinya ide untuk meningkatkan kemampuan tim.
"Bayangkan jika kita bisa memanfaatkan resonansi lingkungan," katanya pada Hana dan Min-ki saat diskusi strategi. "Misalnya, di area dengan resonansi api tinggi, kemampuan api Min-ki bisa ditingkatkan. Atau di area dengan resonansi air, kemampuan penyembuhan Hana bisa lebih efektif."
"Maksudmu, kita tidak hanya beradaptasi, tapi memanfaatkan?" tanya Min-ki.
"Ya. Dan sensing-ku bisa membantu mengidentifikasi area resonansi tertentu."
Mereka mulai bereksperimen di simulator dengan pengaturan resonansi berbeda. Hasilnya menjanjikan. Dengan memanfaatkan lingkungan, efisiensi mereka meningkat hingga 30%.
Kabar tentang tim "underdog" dari kelas C yang punya strategi unik mulai tersebar. Bahkan beberapa siswa kelas B mulai memperhatikan mereka.
Suatu sore, saat Min-jae sedang berlatih sendiri di ruang psionik, seseorang mengetuk pintu. Saat dibuka, ternyata Song Min-hyuk.
"Bisa kita bicara?" tanya Min-hyuk, ekspresinya netral.
Mereka masuk ke ruangan. Min-hyuk tidak duduk, hanya berdiri dekat pintu.
"Aku punya informasi baru. Ouroboros akan mengadakan uji coba pertama proyek Anchor dalam satu bulan. Lokasinya di Gerbang B-rank 'Crimson Abyss', di lepas pantai timur."
Min-jae menatapnya. "Mengapa kamu memberi tahu aku ini?"
"Karena uji coba itu menggunakan seorang 'sukarelawan'—seorang psikis muda dari akademi Hunter lain yang direkrut dengan iming-iming uang besar. Jika berhasil, mereka akan mencari lebih banyak kandidat, termasuk mungkin dari akademi ini."
Min-jae merasakan kemarahan. Mereka memanfaatkan orang yang putus asa atau tidak tahu bahayanya.
"Chrono Vanguard akan bertindak," katanya.
"Aku harap begitu." Min-hyuk memandangnya. "Dan… ada satu hal. Keluargaku akan menghadiri acara penggalangan dana Ouroboros minggu depan. Aku bisa membawamu sebagai tamu, jika kau mau melihat dari dekat."
Tawaran itu berisiko. Masuk ke acara Ouroboros berarti berada di sarang musuh. Tapi juga kesempatan untuk mengumpulkan informasi langsung.
"Aku perlu berpikir dan berdiskusi dengan pihakku."
"Paham. Hubungi aku jika memutuskan ya." Min-hyuk mengangguk, lalu pergi.
Min-jae segera melaporkan hal ini pada Mi-rae dan melalui dia, ke Guild Master Yoon. Jawabannya datang cepat: "Risiko tinggi, tapi jika dilakukan dengan hati-hati, bisa memberikan informasi berharga. Kami akan menyusun rencana perlindungan ketat."
Setelah pertimbangan matang, Min-jae memutuskan untuk pergi. Dengan identitas palsu sebagai "teman sekolah" Min-hyuk, dan dengan pengawalan tersamar dari Chrono Vanguard, ia menghadiri acara penggalangan dana Ouroboros di hotel mewah pusat kota.
Acara itu penuh dengan orang-orang kaya dan berpengaruh. Director Oh berada di panggung, mempresentasikan "terobosan besar untuk masa depan umat manusia". Tidak disebutkan tentang Anchor, hanya tentang "teknologi stabilisasi dimensi yang revolusioner".
Min-jae, dengan pakaian formal dan perisai psikis maksimal, berkeliling sambil menggunakan sensing-nya dengan sangat halus. Ia merasakan banyak energi psikis di ruangan itu—beberapa kuat, beberapa lemah. Dan di balik panggung, ada satu sumber energi yang familiar: getaran yang mirip dengan medali Anchor.
Dia tidak bisa mendekat, tapi ia mencatat lokasi dan ciri energinya. Informasi ini berharga.
Saat acara hampir berakhir, seseorang mendekatinya—seorang wanita dengan gaun elegan dan senyum ramah.
"Kamu teman Min-hyuk, kan? Namaku Yoon Ji-hyo, asisten Director Oh. Director ingin bertemu denganmu sebentar."
Min-jae merasa alarm di kepalanya berbunyi. Tapi menolak bisa mencurigakan. Dengan tetap tenang, ia mengikuti wanita itu ke ruang VIP di lantai atas.
Di sana, Director Oh sedang berdiri di dekat jendela, memandang kota.
"Kang Min-jae. Atau harusnya aku panggil dengan nama samaranmu?" Director Oh menoleh, senyumnya tetap ada. "Tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin ngobrol santai."
"Ada yang bisa saya bantu, Director?" tanya Min-jae, berusaha tetap netral.
"Kamu telah berkembang pesat. Dan kami, di Ouroboros, sangat mengagumi bakatmu. Kami punya tawaran yang mungkin menarik bagimu: bergabung dengan proyek penelitian kami sebagai konsultan muda. Kamu akan mendapat akses ke teknologi paling mutakhir, pendanaan tidak terbatas, dan kesempatan untuk meneruskan warisan ayahmu."
Umpan itu jelas. Min-jae tidak tergoda.
"Terima kasih atas tawarannya, Director. Tapi saya masih harus menyelesaikan akademi dan punya komitmen lain."
"Chrono Vanguard, maksudmu?" Director Oh tersenyum lebih lebar. "Mereka organisasi bagus. Tapi visi mereka terbatas. Mereka hanya ingin mempertahankan status quo. Sedangkan kami ingin maju, berkembang, membawa manusia ke tingkat berikutnya."
"Setiap orang punya caranya sendiri, Director."
"Benar." Director Oh mendekat sedikit. "Tapi ingat, Min-jae. Ayahmu adalah visioner. Dia ingin menggunakan resonansi untuk menyembuhkan, untuk menyatukan. Sayangnya, dia tidak sempat mewujudkannya. Kamu punya kesempatan untuk meneruskan mimpinya—dengan sumber daya yang tidak pernah dia miliki."
Kata-kata itu menusuk. Tapi Min-jae ingat peringatan dalam catatan ayahnya: jangan biarkan mereka menjadikanmu Anchor.
"Terima kasih atas waktunya, Director. Saya harus pergi."
Director Oh tidak menahan. "Tentu. Tapi pikirkan tawaranku. Pintu kami selalu terbuka."
Min-jae meninggalkan ruangan dengan perasaan campur aduk. Director Oh pandai memanipulasi emosi. Tapi ia tidak terjebak.
Di perjalanan pulang, Mi-rae yang menyamar sebagai sopir taksi memberinya briefing singkat. "Kami sudah mengumpulkan data energi dari ruangan itu. Tim analisis akan memeriksanya. Dan kamu baik-baik saja?"
"Ya. Hanya… dia mencoba memanfaatkan kenangan ayahku."
"Sudah diduga. Tapi kamu kuat. Kamu tidak mudah dibujuk."
Malam itu, Min-jae kembali ke asrama dengan pikiran penuh. Pertemuan itu mengkonfirmasi bahwa Ouroboros masih sangat menginginkannya. Tapi juga memberi tahu bahwa mereka mungkin mulai menggunakan taktik bujuk rayu, bukan hanya paksaan.
Artinya, posisinya semakin kuat. Mereka tidak bisa hanya mengambilnya paksa karena perlindungan Chrono Vanguard. Sekarang mereka mencoba pendekatan halus.
Tapi Min-jae tidak akan jatuh ke perangkap itu. Ia punya jalannya sendiri.
Dengan tekad diperbarui, ia kembali fokus pada tujuannya: menyelesaikan akademi, membantu Chrono Vanguard menghentikan proyek Anchor, menemukan Dr. Seo, dan mengungkap kebenaran seutuhnya.
Dan sambil melakukan semua itu, ia akan terus menjadi Hunter yang lebih baik—bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk melindungi orang-orang yang tidak memiliki kekuatan sepertinya.
Perjalanan masih panjang. Tapi langkahnya semakin mantap. Dan kali ini, ia tidak sendirian.