Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Setelah menutup buku hariannya, Jaka Utama sudah siap untuk pergi keluar dan bersenang-senang. Berdasarkan pengalaman dari sekitar tujuh puluh kali reinkarnasi sebelumnya, apa pun yang dia lakukan, selama itu tidak memengaruhi alur cerita utama, maka semuanya akan aman-aman saja.
Jaka berganti pakaian menjadi seragam murid biasa berwarna hijau-putih. Dia kemudian "meminjam" beberapa alat rias milik Naningsih dan mendandani wajahnya sedikit agar terlihat seperti idola masa kini.
Sebagai pemimpin padepokan, dia adalah sosok yang sangat terkenal di Kota Merapi, dan masih banyak murid perempuan di padepokannya yang terobsesi dengan ketampanannya. Untuk menghindari keributan yang tidak perlu, yang terbaik adalah menyamar dan sedikit menurunkan "level ketampanannya".
Setelah selesai menyamar, Jaka berjalan keluar dari asrama utama menuju gerbang depan padepokan. Sebagai bekas penguasa wilayah selatan, wilayah yang dicakup oleh Padepokan Tanpa Beban sebenarnya sangatlah luas. Padepokan ini dibangun di atas perbukitan besar yang puncaknya telah diratakan.
Kediaman Jaka dan aula utama terletak di sisi utara, sedangkan gerbang utama terletak di sisi selatan. Jadi, untuk sampai ke gerbang, seseorang harus melewati Aula Sesepuh, kompleks asrama murid, dan lapangan latihan. Anggap saja ini sebagai jalan-jalan pagi menikmati pemandangan.
"Hmm? Apa yang mereka lakukan?"
Setibanya di alun-alun utama yang luas, Jaka tertegun melihat beberapa murid perempuan cantik sedang berdebat sengit dengan beberapa murid laki-laki. Sepertinya mereka sedang meributkan sesuatu yang serius.
Jaka berniat jalan memutar, tidak ingin mencampuri urusan internal padepokan. Namun dari pertengkaran mereka, sayup-sayup dia mendengar kata-kata seperti 'Gusti Jaka', 'putus tunangan', dan 'sampah'.
Sial, jadi mereka sedang menggosipkan aku.
Bagaimana ini bisa dibiarkan?
Jaka pun berjalan mendekat. Begitu sampai, dia mendengar murid-murid perempuan itu mencaci maki murid-murid laki-laki tersebut.
"Kalian tidak boleh bicara seperti itu tentang Gusti Jaka!"
"Minta maaf sekarang juga!"
"Benar! Cepat minta maaf!"
"Terserah kalau kalian mau keluar dari padepokan, tapi sebelum pergi kalian masih berani menghina Gusti Jaka kami? Jangan harap bisa pergi sebelum minta maaf!"
"Minta maaf!"
"Minta maaf!"
Beberapa murid laki-laki di sisi lain mendengar ini dan mencibir balik dengan hina.
"Minta maaf apanya!"
"Bukankah yang kami katakan itu kenyataan?"
"Jaka Utama itu cuma pesolek yang tidak becus! Padepokan Tanpa Beban cepat atau lambat akan hancur di tangannya!"
"Baru tadi malam, pertunangannya dibatalkan oleh Ratna Menur. Dia dipukuli sampai muntah darah dan pingsan oleh pendekar kampung bernama Langgeng Sakti. Dia benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi!"
"Sebagai pemimpin, tingkat kesaktiannya cuma di tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam'. Benar-benar memalukan!"
"Bahkan dia cuma kuat karena makan obat-obatan. Dia bahkan tidak bisa mengalahkan Pak Satpam gerbang depan. Aku malu jadi muridnya!"
"Yang lebih parah lagi, tadi malam Pak Satpam gerbang depan mengumpat 'jangan tinggal di tempat sampah ini' lalu kabur membawa kunci gerbangnya semalaman. Benar-benar kiamat!"
"Tch, ayo pergi. Jangan buang waktu bicara dengan sekumpulan 'fans fanatik' pemimpin padepokan yang tidak punya otak ini."
"Ayo pergi dari tempat sampah ini."
"Turun gunung! Turun gunung!"
"Berhenti di situ! Kalian tidak boleh pergi sebelum minta maaf!"
Murid-murid perempuan itu sangat marah. Kalian sudah memfitnah Gusti Jaka dan masih mau kabur begitu saja? Tidak mungkin! Mereka menghunus pedang dengan sengit dan mencegat murid-murid laki-laki tersebut.
Murid-murid laki-laki juga naik pitam, dan mereka pun menghunus pedang mereka. Suara denting logam terdengar nyaring. Ketegangan berada di puncaknya. Tepat saat pertempuran akan pecah, Jaka segera masuk ke tengah dan angkat bicara.
"Saudara-saudaraku sekalian, ada apa ini?"
Melihat ada yang datang, kerumunan itu menoleh. Orang yang datang terlihat tampan. Kulitnya bersih, fitur wajahnya tegas, dan matanya menunjukkan sikap acuh tak acuh. Meskipun dia memakai seragam murid biasa, aura luar biasanya tidak bisa disembunyikan.
Sangat tampan! Wajah kakak ini hampir setampan Gusti Jaka! batin para murid perempuan.
Namun, mereka segera waspada kembali. Di seluruh padepokan, hampir semua murid laki-laki membenci Gusti Jaka. Mereka yang kabur setiap hari hampir semuanya laki-laki. Mereka takut kalau murid tampan yang baru muncul ini juga berniat pergi.
Para murid laki-laki melihat Jaka dan merasa seperti melihat kawan. Mereka memintanya untuk menengahi situasi.
"Kakak, coba katakan pada kami."
"Kami mau keluar dari padepokan sampah ini."
"Tapi sekelompok cewek fans fanatik pemimpin yang tidak berguna ini malah menghalangi kami."
"Tidakkah menurutmu itu sangat menyebalkan?"
Murid perempuan berteriak, "Siapa suruh kamu menghina Gusti Jaka!"
Murid laki-laki mendengus, "Memang benar, Jaka Utama itu sombong, pesolek, dan malas latihan. Yang dia pikirkan cuma Ratna, Ratna, Ratna. Dia itu cuma 'anjing penjilat' yang tidak berguna!"
Murid perempuan membalas dengan marah, "Penjilat matamu! Apa yang dilakukan Gusti Jaka itu namanya 'setia dan terobsesi cinta'!"
"Setia apanya? Itu namanya penjilat sampah!"
"Bodoh!"
"Penjilat!"
"Setia!"
"Penjilat!"
"Setia!"
"Bajingan penjilat!"
"Ehem, semuanya. Bagaimana kalau kalian dengar pendapat dariku dulu? Aku akan bicara jujur dan adil."
Jaka Utama menghentikan perdebatan mereka. Kedua belah pihak terdiam, ingin mendengar apa yang dikatakan oleh "kakak senior" yang tampak bijak ini tentang pemimpin mereka sendiri.