NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembicaraan Para Ayah

Pagi itu, gerimis turun membasahi halaman rumah Surya Pramesti. Udara terasa lembap, membawa aroma tanah basah yang biasanya menenangkan. Namun bagi Surya, pagi itu justru terasa berat.

Ia duduk di ruang tamu, mengenakan kemeja sederhana berwarna abu-abu. Di hadapannya, secangkir kopi hitam sudah dingin. Sejak subuh, pikirannya tidak berhenti berputar, kembali pada makan malam beberapa hari lalu pada tatapan Aruna yang tenang namun jauh, dan pada nama Revan yang kembali menggema dalam hidup putrinya.

Bel pintu berbunyi. Surya bangkit, menarik napas panjang sebelum melangkah membuka pintu.

Ardian Maheswara berdiri di hadapannya, rapi seperti biasa. Setelan jas gelap melekat sempurna di tubuh pria itu, rambutnya tersisir rapi, ekspresinya tenang namun tegas.

“Surya,” sapa Ardian sambil mengulurkan tangan.

“Ardian,” jawab Surya, menjabat tangan sahabat lamanya.

Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Pernah duduk sebangku di sekolah dasar, pernah berkelahi karena hal sepele, pernah berbagi mimpi di bawah lampu jalan yang remang. Persahabatan yang bertahan puluhan tahun dan kini diuji oleh satu hal yang di masa lalu pernah mereka rencana secara  tidak sengaja.

Surya mempersilakan Ardian masuk. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja kecil dengan vas bunga sederhana. Hening sejenak menyelimuti ruangan, seolah keduanya sedang menimbang siapa yang lebih dulu membuka pembicaraan.

Ardianlah yang akhirnya angkat suara. “Aku tidak akan berputar-putar, Surya,” katanya, suaranya datar namun mantap. “Kita sama-sama tahu kenapa aku datang.”

Surya mengangguk pelan. “Tentang Revan dan Aruna.”

Ardian menautkan jemarinya. “Tentang janji kita.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, sederhana, tetapi menghantam keras.

Surya menunduk, menatap kopi di cangkirnya. “Janji itu sudah sangat lama, Ardian.”

“Lama bukan berarti tidak berlaku,” balas Ardian cepat. “Kita mengucapkannya dengan sadar. Dengan niat.”

Surya tersenyum kecil, pahit. “Kita masih muda saat itu.”

“Benar,” Ardian mengangguk. “Tapi niatnya baik.”

Hening kembali turun. Hanya suara hujan di luar jendela yang terdengar.

Surya menghela napas panjang. “Ardian, aku tidak menolak janji itu. Aku hanya ragu.”

Alis Ardian terangkat sedikit. “Ragu?”

“Aku ayahnya Aruna,” kata Surya pelan. “Aku melihat putriku terluka 6 tahun lalu. Aku melihat bagaimana ia membangun dirinya kembali, bagaimana ia belajar berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Dan aku tahu perasaannya pada Revan belum sepenuhnya hilang.”

Ardian hanya terdiam, mencoba mendengarkan kata-kata sahabatnya.

“Tapi luka itu masih ada,” lanjut Surya. “Dan aku takut, perjodohan ini justru akan membukanya kembali.”

Ardian menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku paham kekhawatiranmu. Tapi justru karena itu aku yakin, Surya. Revan butuh Aruna.”

Surya mengerutkan kening. “Dan Aruna?”

“Aruna perempuan kuat,” kata Ardian mantap. “Ia bisa menghadapi apa pun.”

“Bukan begitu cara seorang ayah melindungi anaknya,” suara Surya mengeras sedikit. “Kekuatan bukan alasan untuk menambah beban.”

Ardian terdiam lebih lama kali ini. Tatapannya beralih ke jendela, ke hujan yang turun perlahan.

“Revan tidak jahat,” katanya akhirnya. “Ia hanya keras kepala. Sangat mirip denganku.”

Surya tersenyum tipis. “Itulah yang justru membuatku khawatir.”

Ardian kembali menatap Surya. “Aku ingin Revan menikah dengan perempuan yang tepat. Perempuan yang mencintainya apa adanya, bukan karena hartanya. Perempuan yang bisa menjadi penyeimbang dan Aruna adalah satu-satunya yang kulihat memiliki itu.”

Surya menggeleng pelan. “Cinta saja tidak cukup, Ardian.”

“Aku tahu,” jawab Ardian. “Tapi pernikahan juga bukan sekadar cinta.” Kalimat itu menggantung di udara.

Surya menutup matanya sesaat. Dalam benaknya, wajah Aruna terlintas tenang, dewasa, namun dengan garis lelah yang tidak selalu terlihat. Putrinya tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyalahkan siapa pun. Justru itu yang membuatnya takut.

“Aku tidak ingin Aruna merasa terpaksa,” kata Surya lirih. “Ia sudah terlalu terluka dalam hidupnya.”

Ardian mengangguk pelan. “Aku tidak ingin Revan kehilangan kesempatan memperbaiki dirinya.”

Dua ayah. Dua kepentingan. Dua anak yang sama-sama membawa luka.

“Bagaimana jika mereka menolak?” tanya Surya akhirnya.

Ardian tersenyum tipis. “Kita tidak memaksa.”

Surya menatapnya tajam. “Benarkah?”

Ardian tidak langsung menjawab. “Kita bicara sekali lagi. Kita sampaikan niat kita. Selebihnya, kita serahkan pada mereka.”

Surya terdiam. Ia tahu, dalam kalimat itu ada tekanan yang tidak terucap. Nama keluarga. Persahabatan puluhan tahun. Harapan yang digantungkan dengan halus.

“Aku akan bicara dengan Aruna,” kata Surya akhirnya.

Ardian mengangguk. “Aku juga akan bicara dengan Revan.”

Mereka saling menatap. Tidak ada senyum. Tidak ada kemenangan.

Hanya kesadaran bahwa percakapan ini bukan awal yang sederhana, melainkan pintu menuju sesuatu yang jauh lebih rumit.

Saat Ardian berdiri untuk pamit, Surya mengantarnya sampai pintu. Hujan masih turun, lebih deras dari sebelumnya.

“Surya,” Ardian berhenti sejenak. “Apa pun yang terjadi nanti, aku harap persahabatan kita tidak berubah.”

Surya menatapnya lama. “Aku harap begitu.”

Ardian masuk ke dalam mobil, Surya melihatnya sampai akhirnya mobil Ardian menjauh di jalanan komplek.

Surya masuk ke dalam, namun saat pintu tertutup. Ia merasakan hatinya justru terasa semakin berat. Jauh di lubuk terdalam, ia tahu janji lama itu tidak pernah benar-benar mati. Dan keputusan yang akan mereka ambil, akan kembali menyeret hati Aruna ke jalan yang pernah melukainya.

Sementara itu, di tempat lain, Revan dan Aruna sama-sama belum tahu bahwa dua ayah telah mulai menggerakkan takdir mereka. Dan kali ini, tidak ada lagi jalan mundur.

Malam itu Surya berdiri lama di ruang tamu yang kini terasa sunyi. Suara hujan di luar yang turun sepanjang hari, seperti ketukan halus yang terus mengingatkannya pada percakapan tadi pagi. Ia menatap foto keluarga di dinding Aruna tersenyum di sana, dengan mata yang dulu penuh harap sebelum dunia mengajarinya untuk bertahan.

“Apakah keputusanku sudah tepat? Apakah aku ayah yang baik?” Ujar Surya dengan perasaan bersalah.

Surya menghela napas berat. Ia tahu, sebagai ayah, tugasnya bukan hanya melindungi, tetapi juga memilih jalan yang tidak akan melukai anaknya. Namun malam ini, ia ragu apakah pilihan itu benar-benar ada. Janji lama dengan Ardian bukan sekadar kata-kata masa lalu. Janji itu telah tumbuh bersama mereka, menua, dan kini menuntut untuk ditepati.

Sementara di apartemennya, Aruna sedang berbaring di kamar. Ia menatap langit-langit, pikirannya belum sepenuhnya tenang sejak makan malam itu. Ada kegelisahan yang tidak bisa ia beri nama. Seolah sesuatu sedang bergerak pelan ke arahnya tanpa suara, tanpa peringatan.

Di tempat lain, Revan duduk sendirian di kamarnya, menatap layar ponsel yang gelap. Ia tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak, seakan ada keputusan besar yang akan diambil atas namanya.

Ketika Surya akhirnya meraih ponselnya, jari-jarinya sempat gemetar sebelum mengetik sebuah pesan. Pesan singkat yang akan mengubah arah hidup Aruna dan Revan selamanya.

Pesan itu terkirim, tidak satu pun dari mereka siap menerima akibatnya.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!