NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Dengan sekuat tenaga, Elena akhirnya berhasil mendorong tubuh Alexander. Ciuman itu terlepas, membuatnya terengah-engah. Nafasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah pria di hadapannya.

“Tuan!” seru Elena dengan suara bergetar, namun tegas. “Anda tidak seharusnya melakukan ini!”

Alexander hanya diam sejenak, bibirnya masih basah oleh bekas ciuman tadi. Tatapannya gelap, dalam, namun bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia kemudian mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik dengan nada rendah.

“Bukankah kita pernah melakukan hal yang lebih dari ini, Elena?”

Mata Elena membola. Tubuhnya membeku seketika, darahnya serasa berhenti mengalir. “A… apa maksud Anda?” suaranya tercekat.

Alexander menatapnya dalam-dalam, seakan menantang wanita itu untuk menyangkal. Senyumnya melebar, penuh arti, membuat Elena semakin gugup.

“Jangan pura-pura lupa,” lanjut Alexander tenang, nada suaranya terdengar seperti godaan, namun tajam menusuk.

Elena terdiam. Ia tidak menyangka Alexander bisa berkata sefrontal itu. Dadanya naik turun, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

“Anda…” Elena akhirnya bersuara, nadanya dingin. “Anda benar-benar menyebalkan, Tuan.”

Alexander terkekeh pelan, seakan puas dengan reaksi Elena. Ia lalu melangkah mundur, mengambil jas yang terlipat rapi di sofa. Dengan gerakan tenang, ia menyampirkannya di bahu, lalu menatap Elena sekali lagi.

“Besok pagi,” ucap Alexander datar, “usahakan jangan terlambat masuk kantor.”

Elena mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang membuncah. “Tuan, saya harap… kejadian malam ini tidak terulang lagi.”

Alexander hanya menyeringai tipis, lalu berbalik menuju pintu. “Kita lihat saja, Elena,” katanya singkat, sebelum akhirnya keluar dari apartemen itu.

Pintu menutup dengan suara dentuman pelan. Elena berdiri terpaku di dapur, tubuhnya masih gemetar, jantungnya berdegup kencang. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri, masih terasa hangat akibat ciuman mendadak tadi.

“Ya Tuhan…” bisiknya pelan. “Apa yang sudah terjadi…”

Elena berdiri mematung cukup lama di depan wastafel, matanya menatap kosong pada piring-piring yang belum sempat ia cuci. Suara detik jam dinding terdengar begitu jelas di telinganya, seolah mengingatkan bahwa malam sudah sangat larut.

Tangannya masih gemetar. Ia menekan bibirnya dengan punggung tangan, berusaha menghapus sensasi yang ditinggalkan Alexander barusan.

“Kenapa… kenapa semua ini harus terjadi sekarang?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Elena menutup matanya rapat-rapat, berusaha menenangkan degup jantungnya. Namun bukannya tenang, bayangan wajah Alexander semakin jelas di benaknya, tatapan tajam itu, suara beratnya, hingga senyuman penuh arti yang membuatnya semakin tak tenang.

“Tidak, Elena. Kau tidak boleh goyah…” katanya menegaskan pada dirinya sendiri. “Kau hanya karyawannya. Hanya itu.”

Namun dalam hati kecilnya, Elena tahu kenyataan tidak sesederhana itu. Karena di balik semua rahasia yang ia sembunyikan, Alexander adalah ayah kandung Leon.

Sebuah suara kecil membuat Elena terlonjak. Pintu kamar Leon terbuka sedikit, dan kepala mungil itu mengintip keluar.

“Mama…” suara Leon terdengar mengantuk. “Apakah paman tadi sudah pulang ? Aku dengar pintu tertutup keras.”

Elena segera menegakkan tubuh, buru-buru menenangkan ekspresinya. “Iya, Sayang. Sekarang masuk lagi, ya? Besok kamu harus sekolah.”

Leon menatap ibunya dengan mata polos, lalu mengangguk pelan. Namun sebelum ia kembali masuk, ia berkata lirih, “Mama… jangan sedih, ya.”

Elena tercekat. Ia memaksa tersenyum sambil mengusap lembut rambut putranya. “Mama tidak sedih. Sekarang tidurlah.”

Leon tersenyum kecil, lalu menutup pintu kembali.

Begitu pintu itu menutup rapat, senyum Elena langsung menghilang. Ia bersandar pada dinding dapur, menahan air mata yang hampir jatuh.

“Bagaimana jika… suatu hari dia tahu kebenarannya?” gumamnya pelan. “Apakah Leon akan membenciku? Apakah Alexander akan merebutnya dariku?”

Ketakutan itu menghantam dadanya lebih keras daripada ciuman Alexander tadi. Elena tahu, sejak pria itu kembali ke dalam hidupnya, ia tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang lagi. Apalagi dirinya malah membantunya malam itu, yang mengakibatkan dirinya semakin terjebak oleh pria itu.

Ia meraih piring kotor di wastafel, mencoba menyibukkan diri, meski pikirannya kacau. Suara dentingan air dan piring terdengar berulang, menjadi satu-satunya teman di tengah malam yang semakin sunyi.

Di luar apartemen, Alexander berdiri di dekat mobilnya. Jemarinya mengetuk pelan atap mobil, wajahnya masih menyimpan senyum samar.

“Tidak pernah menikah…” ulangnya pelan, seperti mengingat kembali jawaban Elena tadi. “Kalau begitu… siapa sebenarnya Leon itu?”

Tatapannya berubah dingin.

“Aku akan menemukan jawabannya, Elena,” bisiknya, sebelum masuk ke dalam mobil dan melaju menembus gelapnya malam.

Elena selesai mencuci piring dan merapikan dapur. Ia mematikan lampu, lalu berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika pintu kamar Leon terbuka kembali, kali ini lebih lebar.

“Leon?” Elena berbisik, terkejut. “Mengapa belum tidur juga?”

Anak itu berjalan pelan ke arah ibunya, masih dengan piyama biru yang tampak kebesaran. “Mama… apakah Paman tadi membuat Mama marah?”

Elena terdiam. Ia berjongkok, sejajar dengan putranya. “Mengapa Leon berpikir begitu?”

Leon menunduk, memainkan jemarinya. “Aku mendengar suara Mama meninggi. Lalu aku melihat wajah Mama… seperti hendak menangis.”

Elena menahan napas, lalu mengusap lembut pipi putranya. “Sayang… tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Paman hanya bicara sedikit keras. Itu saja.”

Leon mengangkat wajahnya, matanya berbinar penuh kejujuran. “Mama… aku suka kalau Paman datang. Entah mengapa rasanya hangat.”

Elena tercekat. Hatinya bergetar mendengar kalimat polos itu. “Leon…”

“Bolehkah aku memanggilnya Papa?” tanya Leon tiba-tiba, lirih.

Elena langsung memeluk putranya erat-erat. “Jangan, Sayang… jangan.” Suaranya bergetar. “Paman bukan papamu.”

“Tapi… aku merasa begitu,” balas Leon pelan, kepalanya bersandar di bahu Elena.

Air mata Elena akhirnya jatuh. Ia menutup mata rapat-rapat. “Maafkan Mama, Leon. Suatu hari nanti… Mama akan menceritakan semuanya. Namun belum sekarang.”

Leon hanya mengangguk kecil, tidak bertanya lagi. Anak itu akhirnya kembali ke kamar, meninggalkan Elena yang terduduk lemas di lantai, memeluk lututnya sendiri.

---

Sementara itu, di dalam mobilnya, Alexander melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Wajahnya tampak serius, berbeda jauh dari senyum samar sebelumnya.

Di kursi penumpang, ponselnya berdering. Ia menekan tombol jawab dengan satu tangan, tetap fokus pada jalan.

“Ya?” suaranya berat.

“Tuan, kami sudah mencari informasi tentang Nyonya Elena,” ujar suara sekretaris pribadinya di seberang.

“Dan?” tanya Alexander cepat.

“Tidak ada catatan pernikahan. Tidak ada nama suami. Hanya data kelahiran anak… Leon.”

Alexander mengerutkan alis. “Siapa ayah biologisnya?”

“Itu… tidak tercatat, Tuan.”

Alexander terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis penuh arti. “Menarik. Sangat menarik.”

“Tuan… apakah Anda ingin saya menggali lebih dalam?”

Alexander menatap kosong ke jalan yang basah oleh hujan gerimis. “Ya. Cari tahu semua hal tentang Leon. Kapan lahir, di rumah sakit mana, siapa dokternya, bahkan siapa yang mendampingi Elena saat itu. Aku ingin semua data ada di mejaku besok.”

“Baik, Tuan. Segera saya urus.”

Panggilan berakhir. Alexander meletakkan ponsel di kursi, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak.

“Elena… apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?” gumamnya pelan.

---

Di apartemen, Elena masih duduk memeluk lutut di ruang tengah. Air matanya belum kering. Ia teringat kembali kata-kata Alexander sebelum pergi.

“Bukankah kita pernah melakukan hal yang lebih dari ini, Elena?”

Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. “Tidak. Seharusnya aku tidak membantunya malam itu ”

Namun keraguannya terus menghantui. Bagaimana jika Alexander benar-benar mengetahui kebenaran tentang Leon? Bagaimana jika semua rahasia yang selama ini ia jaga rapat terbongkar dalam waktu dekat?

Elena memandang pintu kamar putranya, lalu berbisik lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Apapun yang terjadi, Mama tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu, Leon. Bahkan ayah kandungmu sendiri…”

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!