"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi awal tahun, berkah selalu.
Terima kasih Athor ucapkan karena babnya sudah sampai 20 bab terus dukung dan tinggalkan jejak ya teman-teman...
________________
Tidak terasa bulan madu Alka dan Nabila telah usai, dan sejak kemaren malam mereka sudah berada di rumah Alka.
Nabila di mintak untuk ikut ke rumah Alka yang sudah di siapkan sejak Alka belum menikah karena memang Alka selama ini sudah tinggal sendiri karena ke dua orang tuanya berada di Bandung, sedang Alka di jakarta mengurus kantor dan menjadi dosen.
Awalnya Nabila keberatan ikut tinggal bersama suami galaknya itu, ia tidak kebayang sisa hidupnya hanya bersama Alka manusia labil.
Nabila yang di buat bingung oleh sikap Alka yang tidak jelas, sedikit ia baik, sedikit ia berubah menjadi iblis yang menjelma manusia.
"Nabila," panggil Alka pagi ini Alka sudah rapi dengan jas hitamnya.
"Iya, Pak?" sahut Nabila.
Alka mendesah, sebenarnya ia tidak nyaman istrinya itu masih memanggilnya Bapak tapi ia juga belum tahu cara ngasih tahu Nabila agar berhenti memanggil Bapak.
"Kamu mulai besok saja ya, masuk ke kantor, biar istirahat dulu hari ini."
"Tapi hari ini saya mau ke kampus, Pak," sahut Nabila.
"Ya sudah, cuma ambil berkas saja kan, habis itu langsung pulang tidak usah keluyuran, ingat kamu sudah punya suami."
"Hah? Sejak kapan aku keluyuran," batin Nabila.
"Ini," Alka menyerahkan kartu warna hitam pada Nabila.
Nabila menyerngit, bukan tidak tahu itu benda apa tapi Nabila cukup sadar diri di kasih kartu itu yang terlalu besar baginya.
"Ambil, ini untuk kebutuhan kamu dan keluarga kita, kamu atur sendiri karena saya sibuk bekerja tapi ingat kamu jangan boros-boros," ucap Alka, sebenarnya ia yakin istrinya itu tidak boros hanya saja Alka mau menguji mental Nabila.
"Oh ya, untuk peraturan makan kamu wajib masak ikan minimal ada tiga macem, dan juga sayur, buah-buahan saya ingin kamu sehat, karena sekarang kamu jadi istri seorang CEO saya tidak ingin kamu lemah, entar di kira kamu tidak saya kasih makan," lanjut Alka, ia yakin kalau tidak begini istri sederhananya itu pasti hanya masak ala kadarnya apa lagi tadi Ia sudah mengatakan jangan boros-boros.
. "Huf! Gimana sih, katanya jangan boros-boros tapi masaknya sebanyak itu," batin Nabila.
"Iya Pak," jawab Nabila tak mau bantah, ia kapok membantah takut kehabisan waktu berbulan madu terulang lagi, di mana Alka menghukumnya dengan tidak memberi ampun, Nabila sadar kalau terus melakukan itu dirinya yang bobrok.
"Saya berangkat dulu ya, jangan lupa nanti kalau sudah pulang dari kampus kabari saya, hari ini saya tidak ke kampus, ada meeting," ucap Alka lalu berjalan menuju meja makan yang sudah ada roti bakar dan susu karena memang Nabila belum belanja.
Nabila mengikuti Alka dari belakang.
"Memangnya kenapa ya, Pak?" tanya Nabila, untuk apa ia harus lapor kalau sudah pulang.
Alka menoleh sekilas, lalu duduk menyantap roti yang di kasih slay nanas.
"Kamu lupa kalau saya ini suami kamu sekarang yang punya tanggung jawab penuh sama kamu, sebenarnya saya tidak perduli tapi kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu gimana, saya yang susah."
Nabila menghembuskan napas pelan, padahal tadi pagi susana rumah ini begitu nyaman karena Alka memperlakukan Nabila dengan lembut dan mengajaknya ngaji bersama yang diam-diam suara Alka sangatlah merdu, hingga sarapan pagi Alka hanya meminta roti bakar dan susu tapi sekarang suansa menjadi mencekam lagi karena kelabilan Alka mulai kambuh.
"Iya Pak," sahut Nabila mengalah.
Beberapa menit kemudian Alka sudah selesai sarapan dan pria itu beranjak dari kursi.
"Saya berangkat dulu ya," ucap Alka.
Nabila pun ikut beranjak dan mengikuti Alka dengan lebih cepat mengambil tas kerja milik suaminya, walau hatinya masih kesal tapi ia tidak mau di cap istri durhaka karena tidak tau etika melayani suami yang baik.
Alka tersenyum tipis melihat tingkah Nabila, merasa senang ternyata ia masih tahu posisinya sebagai istri yang bisa menyenangkan suami.
"Kamu hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi saya!" Pinta Alka kala udah di depan pintu luar.
"Iya, Pak," sahut Nabila sambil menyerahkan tas milik Alka, lalu mencium tanganya dengan takzim.
Dan apa yang di lakukan oleh Alka.
Cup!.
Alka mengecup kening Nabila lumayan lama, seolah ia lagi sambil membaca mantra.
Kalau di bilang mereka sebenarnya bukan pertama kali saling bersentuhan karena Alka dan Nabila sudah melakukan hubungan suami istri sudah lebih dari dua puluh kali selama tiga hari ini.
Tetapi tetap saja saat Alka memperlakukan Nabila dengan manis, maka kecanggungan terus Nabila rasakan dan memang wanita itu lebih sensitive.
"Assalamu'alaikum," ucap Alka sambil mengusap pucuk kepala Nabila, kalau di rumah ia memang tidak memakai hijab.
"Waalaikummussalam," sahut Nabila salah tingkah.
"Ya Tuhan, sebenarnya suami saya itu siapa, kadang dia jadi muster tapi juga jadi malaikat," gumam Nabila dengan wajah meronanya.
Tak menyangka hubungannya dengan Alka tiga hari ini berjalan banyak teka-teki di mana yang berubah-rubah sifatnya kadang bikin Nabila takut tapi juga bikin hatinya meleleh.
Sementara Alka yang masih di jalan mengembangkan senyum terus, bahkan sampai ke kantor ia tetap menyunging senyum, tentu itu menjadi hal langka bagi para karyawan di kantor mengingat Alka selama ini adalah pria yang jarang sekali tersenyum bahkan bisa di bilang tidak pernah.
"Waw, kayaknya pak Bos habis dapat jatah malam pertama, romannya," bisik salah satu karyawan.
"Ngaur kamu, Bos kita masih lajang tahu, lagian itu Bu Valen belum memberikan kita undangan," sahut satunya lagi.
"Eh iya juga ya, bukankah Pak Bos kalau menikah pastinya sama Bu Valen ya."
"Nah itu otak kamu benar."
"Atau jangan-jangan Pak Alka sudah melamar Bu Valen."
"Hm! Bisa jadi."
Sementara di kampus Nabila yang baru sampai langsung menuju ke ruangan dosen, karena memang tujuannya hanya satu tapi setelah keluar tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
"Nabila!" panggilnya dengan suara yang familiar.
"Kak Fathan," gumam Nabila, dalam hatinya ia ada rasa gelisah di sapa oleh Fathan bukan apa kalau sampai suaminya tahu bisa habis ia di hukum.
"Ada apa ya, kak?" tanya Nabila sambil menggigit bibir bawahnya.
Namun Fathan bukannya menjawab ia justru bertanya pada Nabila.
"Kamu kenapa La, kok kayak pucat begitu, kamu sakit?" kata Fathan.
Nabila terkesiap, segitunya kah Alka menggempurnya hingga orang lain tahu kalau dirinya sedang kelelehan.
"Tidak Kak, hanya saja sedikit capek biasa lagi magang dan mengurus sekripsi," sahut Nabila.
"Oh begitu, memang sih masa-masa kamu saat ini banyak menguras pikiran aku dulu juga gitu tapi nanti setelah lulus tinggallah kebahagian, oh ya kamu habis ini ada acara nggak?" tanya Fathan.
Nabila terdiam, ia tahu pasti Fathan mau mengajaknya keluar karena waktu itu ia pernah mengajaknya tapi tak jadi karena keburu di panggil oleh suaminya, tapi kalau sekarang ia bukan karena ada Alka tapi ada yang lebih menakutkan lagi.
Kalau sampai ada orang yang tahu dan lapor pada suaminya ia sedang keluar dengan pria lain, habis riwayatnya karena yang malu bukan hanya dirinya tapi keluarganya juga.
"Kak maaf, Nabila lupa kalau hari ini masih ada keperluan penting, maaf ya kak saya duluan, assalamu'alaikkum." ucap Nabila pura-pura lagi di kejar waktu sehingga ia pergi meninggalkan Fathan begitu saja.
"Nabila, tunggu!" Fathan berusaha mengejarnya tapi bayangan Nabila sudah pergi jauh.
"Kamu kenapa La, andai kamu tahu kalau ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu." batuan Fathan sambil menghela napas, lalu membuangnya kasar.