harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. masa depan seindah langit sore.
Hazard duduk di tepi ranjang, menatap luar jendela.
Anggi sudah berganti pakaian ia duduk di dekat Hazard, tangan Hazard menarik pinggang Anggi mendekat, refleks Anggi menaruh tangannya di dada Hazard, yang tak menoleh ke arahnya sama sekali.
"Tuan."
"Anggi."
"ya tuan."
"Jika suatu saat saya mengambil keputusan yang melibatkan nyawa kamu, apa kamu siap?" Hazard menunduk memandang wajah cantik Anggi.
"Memangnya keputusan apa yang harus melibatkan nyawaku tuan?"tanya Anggi mendongak,jantung Hazard berdetak lebih kencang, ia bisa merasakannya.
"Karena kamu masuk ke dunia saya, dan bisa saja–" Hazard menyelipkan anak rambut Anggi di belakang telinga.
"Bisa saja, kamu akan dalam bahaya, bila bersama saya," lanjut Hazard menatap mata bening Anggi.
Anggi mengerjapkan matanya beberapa kali."Kalau tahu aku akan dalam bahaya, kenapa menikahiku?" tanya Anggi.
Hazard terdiam, bukan ini jawaban yang Ia inginkan."Apa kamu tidak pernah memiliki perasaan terhadap saya Anggi?"
"perasaan seperti apa Tuan, memangnya aku pantas menaruh perasaan pada Tuan yang sempurna ini, bukankah aku hanya menjadi budak nafsu Tuan sampai hutang 150 Juta itu lunas, kapan Tuan akan melepaskan aku, dan kapan hutang itu bisa lunas hanya membayar dari tubuhku."
Mata Anggi berkaca-kaca mengatakan itu, ia merasa sudah tak memiliki kehormatan, setelah kesuciannya di ambil secara paksa.
Hazard menatap dalam mata yang berkaca-kaca itu, lalu dengan tegas ia berkata,"kamu akan selamanya bersama saya,ini bukan permintaan tapi perintah Anggi, saya tidak akan melepaskan kamu," Hazard memeluk Anggi, menyandarkan kepala Anggi di dada bidangnya.
Anggi pasrah saja, sama pasrahnya dengan air mata yang mulai jatuh.
Tanpa mereka sadari, seseorang mengintip mereka di celah pintu yang terbuka sedikit.
Seringai tajam di berikan pada pasangan yang sedang menata hati untuk masa depan mereka masing-masing.
******
"Papa, yakin mau mempercepat pernikahan ini, kalau Tuam wiratama dan Nyonya wiratama belum siap, bagaimana, apalagi, Mama dengar mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
apalagi Nyonya Wiratama juga akan segera melaunching kan baju baru edisi terbatas."
Tuan Azam yang duduk di sofa, bersandar menatap langit kamar yang indah, kamar yang ia huni sejak kecil hingga menikah.
"Papa nggak mau Hazard nanti terus-menerus bersama Anggi, karena papa ingin punya besan seperti keluarga wiratama, dimana semua orang akan hormat pada kita, dan yang pasti Hazard akan memiliki pengatuhan cara berbisnis yang lebih ulet, bila menjadi menantu Tuan Wiratama, dia juga akan di segani dan di hormati."
"Memangnya kita kurang di hormati dan di segani pa, kenapa harus Hazard, kenapa kita tidak jujur saja pada Shara, kalau Hazard sudah menikah, dan kita ganti saja dengan Zuma."
Kening Tuan Azam berkerut mendengar ucapan sang istri."Maksud mama apa? Zuma itu hanya anak angkat, mana mungkin menikah dengan Shara, apa Mama mulai menyukai Anggi?"
"Nggak, Mama netral aja, tergantung sikap dia ke mama kayak apa, mama bisa melihat bertapa Hazard, putra kita, menginginkan Anggi pa, coba papa ingat-ingat lagi, untuk apa putra kita kesini setiap minggu sekali sejak kelas 3 SMA, Bukannya Aneh?"
"Kan,waktu itu Ayah tinggal disini, pasti Hazard menengok keadaan Ayah."
Kakek Hazard sekarang di rumah sakit luar negeri, di jaga oleh Neneknya Hazard.
Waktu Hazard memasuki SMP, mereka pindah ke kota jakarta.
Meninggalkan rumah tua itu, yang hanya di tinggal oleh Kakek dan Neneknya Hazard.
"Tapi, kan. putra kita sangat malas keluar, dan tumben sekali dia rajin kesini, Mama sih udah feeling, kalau putra kita sudah menemui Anggi sebelum Shara."
"Soal itu Papa tidak peduli, papa tidak benci dengan Anggi, tapi dia bukan dari keluarga terpandang, dan kastanya jauh di bawah kita Helena, kamu jangan mendukung hubungan mereka, kalau Hazard tahu, dia bisa saja nekad membatalkan pernikahan ini."
Helena mendengus."Terserah papa saja, Mama hanya ikuti apa yang papa mau, tapi, untuk berperilaku kasar pada Anggi, Mama nggak mau lagi, karena putra mama bahagia saat membasahi Anggi dengan cairannya,"ucap Helena tersenyum malu-malu.
"Putramu memang ahli dalam hal itu, sama seperti aku,"goda tuan Azam, berjalan ke arah Helena yang sudah siap kabur, tapi kaki panjang Azam melangkah begitu lebar, hingga bisa menangkap Helena dan memeluknya dari belakang.
"iih Mas, masih siang loh! kalau aku kayak Anggi gimana malu," rengek Helena memukul pelan bahu sang suami.
"Ya, nggak papa, mereka tahu kita suami istri, sedangkan Hazard, harus menyembunyikannya karena ia bukanlah menantu yang kita inginkan."
********
Anggi pergi ke taman, setelah menidurkan Hazard, untunglah Hazard tak melakukan apapun tadi saat di kasur, kalau tidak, ia kan menangis segugukan karena malas melakukan itu lagi.
Dia terus menatap bunga-bunga yang ia tanam, mulai tumbuh dan sudah terlihat kuncupnya.
"Entah kapan kebahagiaan itu datang, kenapa aku terlahir di tempat seperti ini, tak di anggap keluarga oleh bibik, dan sekarang aku di jual pada pria yang begitu kejam dalam mempertahankan, "batin Anggi meratapi nasibnya.
Sekarang ia bisa makan enak, tapi rasanya setiap suapan adalah hutangnya yang semakin menumpuk, belum lagi harus patuh pada sang suami.
"Nyonya,"panggil Hana di sampingnya.
Anggi mendongak sambil tersenyum." Iya Hana,ada apa?"tanya Anggi begitu santai, seakan hatinya tak sedang gundah gulana memikirkan hidup.
Hana duduk di samping Anggi, melipat kakinya."Nyonya,sebentar lagi sore, Nyonya tidak ingin masuk?"
Anggi menghela napas,ia merasa baru saja duduk di taman ini, tapi waktu berjalan begitu cepat, ia merasa lelah, ia ingin bebas, tak ada tekanan, tak ada yang perlu di khawatirkan.
"Sebentar lagi yah,aku masih ingin disini,"ujar Anggi.
Hana mengangguk pelan, ia tahu hati Nyonya ini tak baik-baik saja.
" Nyonya, saya akan buatkan air hangat,"pamit Hana.
"iya, Terima kasih."
Lama Anggi berdiam diri di taman ini, katanya terus menatap langit yang begitu indah, terlihat warna orange dan kuning, biru, ungu, menjadi satu di langit.
Anggi berdiri sambil memeluk dirinya, rasa dingin mulai hinggap di kulitnya."Apa,masa depanku akan seindah langit sore ini."
Dua tangan kekar memeluk dirinya dari belakang, dan Ia sangat mengenal pemilik tangan itu."Tuan,nanti Nyonya Shara melihat kita."
Hazard menaruh dagunya di bahu Anggi."Biarkan saja,saya sudah tidak peduli,"ucap Hazard mencium bau khas Anggi.
"kamu bertanya pada siapa, tentang masa depan hmm?"tanya Hazard.
"Aku hanya bertanya pada Tuhan," Anggi berbalik, membuat Hazard mundur melepaskan pelukannya, menunduk menatap mata yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
"Saya akan memberikan masa depan seindah langit sore ini Anggi,"kata Hazard terlihat tulus.
"Apa itu sebuah janji?"tanya Anggi.
Hazard menggeleng pelan, menangkup pipi Anggi di sore yang indah ini.
"Saya tidak akan memberikan janji,tapi saya akan buktikan Anggi."
Anggi menatap wajah datar itu, haruskan ia percaya pada seseorang yang membelinya tanpa persetujuannya?
Aduh Manis nya, apa bab ini vibesnya sampai ke kalian?
Jangan lupa like dong, kalau boleh minta mawarnya🥰