"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tatapan Dingin Letnan Satu Arga
Tatapan dingin Letnan Satu Arga seolah-olah menjadi puncak gunung es yang siap menghancurkan mental siapa pun yang berani menentang perintah mutlaknya di atas tebing curam itu. Dia berdiri dengan posisi sangat kokoh sambil merentangkan satu tangannya untuk menahan tubuh Maya Anindya agar tidak tergelincir masuk ke dalam jurang yang sangat gelap. Angin malam bertiup sangat kencang hingga membuat kain seragam hijau yang dia kenakan berkibar dengan suara yang sangat menderu-deru.
"Jangan pernah melepaskan pandanganmu dari mataku meskipun suara tembakan itu terdengar tepat di belakang telingamu," perintah Arga Dirgantara dengan nada suara yang sangat berat.
Maya Anindya merasakan seluruh otot tubuhnya menjadi kaku saat melihat pantulan bayangan musuh yang mulai mengepung mereka dari berbagai arah jalan setapak. Dia menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat hingga rasa amis darah mulai menjalar di indra perasanya yang sedang mengalami syok hebat. Ketakutan itu nyata karena pria di hadapannya saat ini tampak seperti mesin perang yang sama sekali tidak memiliki rasa kasihan terhadap lawan-lawannya.
"Mengapa Anda tetap diam saja saat mereka sudah mengarahkan laras panjang ke arah jantung kita berdua?" tanya Maya Anindya dengan isak tangis yang tertahan di kerongkongan.
Arga Dirgantara tidak bergeming sedikit-pun melainkan justru memberikan sebuah tatapan yang sangat tajam serta penuh dengan perhitungan taktis yang sangat matang. Dia menarik napas panjang secara perlahan untuk mengatur ritme detak jantungnya agar tetap stabil di tengah kepungan kelompok bersenjata yang sangat berbahaya. Sorot mata pria itu berkilat laksana sepasang belati yang baru saja diasah dengan sangat tajam di bawah sinar rembulan yang mulai meredup.
"Seorang pemburu sejati tidak akan pernah menunjukkan taringnya sebelum mangsanya benar-benar masuk ke dalam jebakan maut yang sudah disiapkan," jawab Arga Dirgantara dengan senyum miring yang sangat misterius.
Gadis remaja itu merasa seolah-olah sedang berdiri di hadapan sosok orang asing yang baru saja merayap keluar dari neraka yang paling dalam. Dia tidak lagi melihat suaminya sebagai manusia biasa melainkan sebagai seorang perwira yang sudah terbiasa mandi dengan keringat serta darah di medan laga. Keheningan yang menyiksa melanda tempat itu selama beberapa detik hingga hanya suara gesekan dedaunan yang terdengar sangat menyeramkan di telinga mereka.
"Sudah saatnya kita mengakhiri drama pernikahan kontrak yang sangat melelahkan ini sekarang juga, Letnan!" teriak seorang musuh dari balik kegelapan semak-semak.
Mendengar provokasi tersebut, Arga Dirgantara justru tertawa kecil dengan nada yang sangat meremehkan harga diri lawan yang sedang bersembunyi di balik topeng. Dia mempererat cengkeraman tangannya pada pinggang Maya Anindya hingga gadis itu merasa sedikit sesak namun sekaligus merasa sangat terlindungi secara fisik. Tanpa memberikan aba-aba sama sekali, pria itu melakukan sebuah gerakan memutar yang sangat cepat sambil menarik pemantik kecil dari balik sabuk militernya.
"Jika kamu ingin mengakhiri kontrak ini maka kamu harus melewati mayat saya terlebih dahulu di tanah ini!" tantang Arga Dirgantara dengan suara yang menggelegar dahsyat.
Sebuah ledakan cahaya yang sangat menyilaukan tiba-tiba muncul di antara mereka hingga membuat pandangan semua orang menjadi putih bersih secara mendadak. Maya Anindya merasa tubuhnya ditarik dengan kekuatan yang sangat luar biasa besar hingga dia merasa seolah-olah sedang melayang di udara yang sangat dingin. Dia tidak tahu apakah mereka sedang terjatuh atau sedang berpindah tempat karena segalanya terasa sangat kacau serta berputar-putar tanpa henti.
"Pegang erat leherku dan jangan pernah berani untuk melepaskannya sebelum saya memberikan perintah selanjutnya!" teriak Arga Dirgantara di tengah bisingnya suara peluru yang bersahut-sahutan.
Gadis itu hanya bisa memejamkan mata dengan sangat rapat sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang terasa sangat hangat serta kokoh. Dia bisa merasakan hawa panas yang keluar dari luka baru pada lengan Arga Dirgantara yang mulai membasahi bagian bahu seragam sekolahnya yang berwarna putih. Kesadaran akan pengorbanan pria ini mulai menghantam hatinya yang paling dalam hingga membuat perasaan Maya yang tertekan.