Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Elena melirik jam dinding, jarum panjang sudah hampir menyentuh angka dua belas. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah putranya yang masih duduk manis di sofa dengan buku cerita di tangan.
“Leon,” ucap Elena lembut.
“Ya, Mama?” sahut Leon sambil menutup bukunya.
“Ini sudah malam sekali. Besok kamu harus sekolah, jadi sekarang waktunya tidur.” Suara Elena terdengar tegas namun penuh kasih.
Leon menatap mamanya sejenak, lalu mengangguk kecil. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. “Baik, Mama. Leon mengerti.”
Elena mengusap rambut putranya. “Anak pintar. Ayo, masuk kamar.”
Leon berdiri, melirik sekilas ke arah Alexander yang duduk di kursi dengan wajah datar. Ada cahaya berbeda di mata Leon, seolah ia ingin berkata sesuatu, namun hanya menyimpan senyum kecil. “Selamat malam, Mama,” ucapnya sebelum beranjak.
“Selamat malam, Sayang,” jawab Elena lembut, mengantar Leon sampai pintu kamarnya.
Setelah Leon menghilang ke balik pintu, Elena kembali ke ruang tengah. Ia menatap Alexander dengan sedikit kikuk, mencoba menyusun kalimat.
“Tuan, ini sudah malam sekali. Mungkin sebaiknya Anda—”
“Aku lapar,” potong Alexander tiba-tiba, suaranya tenang namun tegas.
Elena terdiam, sedikit kaget dengan potongan kalimat itu. “Lapar?” ulangnya.
Alexander menatap Elena, matanya tajam namun sulit ditebak. “Ya. Apakah kau mempunyai makanan di rumah ini?”
Elena terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, “Ada… beberapa makanan di dapur. Tapi—”
“Baik. Aku ingin makan malam,” potong Alexander lagi, kali ini dengan nada datar. “Bolehkah?”
Elena menelan ludah, wajahnya tampak ragu. “Tentu… hanya saja, menunya sangat sederhana.”
“Aku tidak keberatan,” jawab Alexander singkat. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Asal bisa dimakan, itu cukup.”
Elena menghela napas, lalu beranjak ke dapur. “Baiklah. Saya akan menyiapkannya.”
Elena membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan sederhana: telur, sayuran, dan sedikit daging sisa makan siang yang belum diolah. Ia bergerak cekatan, menyalakan kompor, lalu mulai menumis bawang dengan gerakan yang terlatih. Aroma harum segera memenuhi ruangan kecil itu.
Alexander masih duduk di kursi ruang makan, posisi yang membuatnya bisa melihat Elena dari dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Tatapannya terfokus pada gerakan wanita itu, tenang, luwes, dan penuh perhatian pada setiap detail kecil.
“Sepertinya kau terbiasa memasak,” ujar Alexander tiba-tiba, suaranya datar namun mengandung sesuatu yang sulit ditebak.
Elena menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. “Ya, Tuan. Saya sudah terbiasa. Sejak Leon kecil, saya selalu memasak sendiri untuknya. Makanan rumah jauh lebih sehat dibandingkan makanan cepat saji.”
Alexander mengangguk kecil, matanya masih menatap tanpa berkedip. “Kau terlihat… ahli.”
Elena tertawa kecil, nada suaranya terdengar canggung. “Ah, tidak juga, Tuan. Saya hanya tahu dasar-dasarnya saja. Yang penting, Leon tidak pernah mengeluh dengan masakan saya.”
“Anak itu beruntung,” balas Alexander cepat, lalu terdiam sejenak, seakan baru sadar akan ucapannya sendiri.
Elena terhenti sesaat, menoleh sekilas dengan tatapan bingung. Namun ia memilih tidak menanggapi lebih jauh, lalu kembali sibuk menyiapkan hidangan sederhana: nasi goreng dengan telur dan sayuran, serta sup bening kecil sebagai pelengkap.
Alexander memperhatikan setiap gerakan Elena. Cara wanita itu mengaduk, cara ia mencicipi sedikit kuah sup untuk memastikan rasanya pas, bahkan cara ia tersenyum kecil ketika merasa hasilnya cukup baik.
Entah mengapa, sebuah kilasan asing berkelebat di benak Alexander. Bayangan malam penuh gairah, ketika sosok Elena yang sama tampak begitu dekat, begitu nyata, seolah berada dalam genggamannya.
Alexander mengerutkan alis, lalu menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu. Ia meremas jemari tangannya di atas meja, berusaha mengembalikan ketenangan wajahnya.
Elena meletakkan dua piring nasi goreng dan semangkuk sup di meja makan. “Silakan, Tuan. Saya hanya bisa menyiapkan makanan sederhana. Semoga tidak mengecewakan.”
Alexander menatap hidangan itu, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Elena. “Tidak perlu merendahkan dirimu. Sederhana bukan berarti buruk. Justru terlihat… tulus.”
Elena tersenyum tipis, lalu duduk berhadapan dengannya. “Terima kasih, Tuan. Silakan dicoba.”
Alexander mengambil sendok, menyendok nasi goreng itu, lalu mencicipinya perlahan. Ia mengunyah dengan tenang, kemudian menatap Elena sambil berkata singkat, “Enak.”
Elena menunduk, senyum kecil terbit di wajahnya. “Syukurlah.”
Alexander menaruh sendoknya sejenak. “Kau selalu menyiapkan makanan seperti ini untuk anakmu?”
“Ya,” jawab Elena lembut. “Meski sibuk, saya selalu berusaha menyediakan makanan buatan rumah. Itu satu-satunya cara saya menunjukkan kasih sayang saya padanya, di sela-sela kesibukan.”
Tatapan Alexander melembut, meski hanya sekilas. Ia tidak menjawab segera, hanya kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Setelah Alexander menghabiskan suapan terakhirnya, Elena segera bangkit, meraih piring di hadapannya.
“Biar saya yang membereskan, Tuan,” ucap Elena cepat.
Alexander menahan tangannya sebentar, lalu bangkit dari kursinya. “Tidak perlu sendiri. Aku akan membantumu.”
Elena menatapnya dengan ragu. “Tuan… ini hanya pekerjaan rumah tangga. Saya bisa melakukannya.”
Alexander menatap tajam, sorot matanya seakan menolak penolakan. “Aku sudah bilang, aku akan membantumu.”
Akhirnya Elena tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk kecil. Keduanya berjalan berdampingan menuju wastafel dapur, masing-masing membawa piring dan mangkuk. Ruangan sempit itu membuat jarak mereka semakin dekat.
Elena menaruh piring ke dalam wastafel, namun saat ia hendak mundur, tubuhnya tanpa sengaja menabrak tubuh Alexander.
“Maaf, Tuan!” seru Elena panik, buru-buru mencoba menjauh.
Namun Alexander tidak bergeser. Sebaliknya, tangan besarnya tiba-tiba melingkari pinggang Elena, menahannya agar tidak pergi. Napas hangatnya terasa dekat di sisi wajah Elena.
“Elena,” suaranya rendah dan mantap, “katakan padaku… apakah dulu kau sering memasakkan makanan seperti ini untuk suamimu?”
Elena terperangah. Wajahnya memucat, jantungnya berdegup kencang. “Suami?” ulangnya terbata.
Alexander mengangguk sedikit, matanya menusuk tajam. “Ya. Suamimu.”
Elena menelan ludah, tubuhnya kaku. “Saya… saya tidak pernah…”
Alexander mendekat lebih jauh, tatapannya tak teralihkan dari mata Elena. “Tidak pernah apa?”
Elena menunduk, suaranya nyaris berbisik. “Saya tidak pernah menikah.”
Alexander membeku sejenak, ekspresinya sulit terbaca. “Tidak pernah menikah?” ulangnya pelan, seolah berusaha memastikan ia tidak salah dengar.
Elena mencoba mendorong dadanya, berusaha melepaskan diri dari genggamannya. “Tuan, lepaskan saya.”
Namun Alexander tidak bergeming. “Kalau begitu… Leon berasal dari mana? Bagaimana mungkin seorang wanita sepertimu memilih hidup sendiri dengan seorang anak kecil?”
Wajah Elena menegang, pikirannya berputar cepat. Ia tidak bisa menjawab. Bagaimana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa Leon adalah hasil dari benih yang ia curi… benih milik Alexander sendiri.
“Tuan… saya mohon, jangan bertanya tentang hal itu.” Elena berusaha terdengar tegas, meski suaranya bergetar. “Leon adalah satu-satunya keluarga yang saya punya. Itu saja yang perlu Anda ketahui.”
Alexander menatapnya lekat-lekat, lalu entah dorongan dari mana, ia menarik Elena lebih dekat hingga tubuh wanita itu menempel pada tubuh kekarnya.
“Elena…” suaranya rendah, hampir seperti bisikan, “kau sungguh membuatku tidak bisa berpaling.”
Sebelum Elena sempat berkata apa pun, Alexander menundukkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan mantap.
Mata Elena membelalak, tubuhnya kaku, tangannya mencoba mendorong dada bidang pria itu. “Tuan… jangan…” bisiknya tertahan di sela ciuman itu.
Namun Alexander tidak melepaskannya, seolah ciuman itu adalah jawaban dari segala tanya yang membebani pikirannya sejak malam itu.
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya