NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

“Jihan?”

Raras mengangkat telapak tangannya ke bibir, dan tawa pelan pun merekah. Ia mengamati tubuh Jihan yang liat, begitu kokoh dan berotot untuk anak seusianya. Tatapannya menelusuri dada bidang dan lengan kuat itu. Raras mengerjap, seolah baru menyadari sesuatu.

"Pemuda dengan tubuh sekuat batu karang... punya nama selembut sutra?"

Tawanya pecah lagi, kali ini lebih lepas, nyaring tapi tidak mengejek. Justru ada kehangatan di balik candanya.

"Kakak, sepertinya aku sudah membayangimu cukup jauh tanpa sadar,"

Senyum jahil terukir disudut dibibirnya.

Jihan membeku, menggaruk kepalanya dengan kikuk, mencoba mencerna ucapan Raras. Pikirannya dipenuhi pertanyaan: mungkinkah nama yang diberikan ibunya benar-benar terdengar begitu feminin? Apakah ini alasan mengapa sejak kecil anak-anak sebayanya sering menatapnya aneh, bahkan terkadang menahan tawa?

Namun, mengapa ia harus peduli dengan pendapat orang lain?

'Jihan.'

'Nama itu...'

Ia menghela napas. Mungkin memang terdengar lembut, bahkan aneh bagi orang-orang seperti Raras. Tapi, apa salahnya?

Bukankah Ibu pernah bilang…

'Kalau Ibu tidak salah ingat, nama 'Jihan' berasal dari negeri yang sangat jauh…'

'...artinya bisa meliputi dunia, atau mungkin, cahaya yang bersinar di dunia.'

Ia masih ingat betapa lembut tangan Ibu menyisir rambutnya saat itu. Sore yang sunyi, diwarnai aroma kayu bakar dari dapur dan kehangatan yang tak lagi ia temukan sejak penyakit menggerogoti sang ibu.

‘Meliputi dunia... cahaya yang bersinar...’

Kalimat itu sempat membuatnya bangga saat umur lima tahun. Tapi seiring waktu, entah kenapa, itu justru jadi beban yang tak ia mengerti. Terlalu besar, terlalu berat... jauh dari dirinya yang sekarang.

Jihan menghela napas pelan. Lamunannya menenggelamkannya dalam keheningan sesaat. Raras melihat perubahan di wajah pemuda itu, matanya yang kosong menatap tanah, napasnya tertahan. sebuah pikiran melayang dibenaknya.

Mungkimkah ia salah ucap?

“Sudahlah kak… jangan terlalu dipikirkan.”

Kemudian, seolah ingin memecah suasana yang mendadak hening, nada suaranya berubah cerah. Raras menyipitkan mata dan menegakkan dagunya, seperti seseorang yang sedang bersiap untuk pamer.

" Ngomong-ngomong… kamu nggak penasaran dengan namaku?"

Nada suara Raras meninggi, dan penuh percaya diri. Di wajah cantiknya, tersungging ekspresi angkuh yang justru tampak menggemaskan. Bukan tanpa alasan, karena setiap kali seseorang mendengar namanya, mereka hampir selalu bereaksi sama, terdiam... lalu berlutut.

Namun kali ini, sesuatu yang tak pernah ia duga pun terjadi. Sebuah suara, pelan namun tegas, keluar dari mulut Jihan.

“Tidak,”

“Eh?”

Mata Raras membelalak. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Suara itu tak meninggi, tak bernada marah, namun mengandung penegasan yang tak bisa dibantah. Satu kata sederhana itu seakan menampar ekspektasinya, bahwa semua orang pasti akan kagum padanya.

Untuk pertama kalinya, seseorang menolaknya. Bukan karena tak tahu siapa dia, tapi karena benar-benar... tak peduli.

Ia menatap Jihan lagi, kali ini dengan sorot mata yang tak bisa ia jelaskan, antara bingung, heran dan... mungkin sedikit kagum.

Sementara itu, Jihan memalingkan wajah. Ia teringat akan ibunya, lalu mengangkat pandangan ke langit, dan tertegun. Senja telah memudar sepenuhnya, digantikan oleh cahaya pucat bulan yang mulai merangkak naik.

Malam telah datang. Jauh lebih cepat dari yang ia sadari.

Seketika, wajahnya berubah. Kepanikan perlahan muncul, menyapu tenangnya sorot mata. Ia sadar, pernyataan yang tadi terlontar secara refleks mungkin terdengar seperti penolakan terhadap Raras, padahal itu hanya luapan kegelisahan yang baru ia sadari sekarang.

“Aku harus segera kembali ke rumah! Ibu pasti khawatir!”

Dengan tergesa, Jihan berusaha bangkit. Namun tubuhnya belum siap. Otot-ototnya menegang dan menjerit kesakitan. Nyeri yang menusuk terasa lebih tajam dibanding rasa perih yang sempat ia alami dalam kesadarannya yang kabur tadi. Belum sempat ia berdiri tegak, tubuhnya limbung, lalu jatuh kembali ke tanah, menandakan bahwa pemulihannya masih jauh dari selesai.

Raras refleks bergerak cepat. Ia segera menghampiri dan menopang tubuh Jihan yang terkulai, membantunya untuk kembali duduk dan bersandar dengan hati-hati

Keheningan menyelimuti mereka sejenak... hingga suara berat memecah udara malam.

Dari dekat api unggun, Kakek Danu yang sejak tadi diam dan menyimak, akhirnya angkat bicara.

"Tenanglah, anak muda. Pil yang ada di dalam tubuhmu baru saja mulai bekerja. Jangan paksakan ragamu. Istirahatlah setidaknya satu hari penuh. Terlalu banyak bergerak hanya akan melukaimu."

Jihan menggertakkan giginya, menunduk, lalu mengangkat wajahnya dengan tatapan keras.

“Tapi… aku harus pulang. Ibu pasti khawatir sekali. Aku tak mau kondisinya semakin parah hanya karena aku tidak ada di sisinya.”

Kakek Danu menyipitkan mata. Sorot matanya tajam saat menatap pemuda itu, lalu ia menjawab, tenang namun tegas.

“Anak muda memanglah bersemangat.”

“Tapi dengan kondisimu sekarang, apakah kau yakin bisa bertahan bila harus berhadapan lagi dengan binatang buas? Keberuntungan tak selalu datang dua kali. Jika kau celaka, justru ibumu yang akan lebih menderita.”

“Itu…”

Tepat sebelum Jihan membalas, suara Raras memotong. Nada suaranya meninggi, marah, namun terselubung kepedulian yang mendalam.

“Hei, kamu mendengarnya tidak? Malam ini kita akan beristirahat! Untuk apa kakek membuat api unggun jika bukan untuk itu? Dengan kondisimu sekarang, perjalananmu akan sangat sulit. Bahkan jika tidak ada binatang buas, medan hutan yang rumit sudah cukup untuk membuatmu celaka!”

Jihan terdiam. Sorot matanya bertubrukan dengan tatapan Raras yang penuh kekhawatiran. Di balik nada suaranya yang keras, ia menangkap getaran emosi yang tak bisa dibohongi. Bukan hanya amarah, ada sesuatu yang lebih dalam. Perhatian. Ketulusan. Mungkin… rasa takut kehilangan.

Di dalam hatinya, Jihan merasa hatinya tertarik oleh dua kutub yang berlawanan. Di satu sisi, wajah ibunya melintas jelas dalam benaknya, lemah, pucat, dan selalu tersenyum meski menahan sakit. Di sisi lain, rasa hangat dari tangan mungil Raras yang masih menahan lengannya, dan api unggun yang memancarkan cahaya keemasan di tengah gelapnya malam.

“Aku hanya… tak ingin membuatnya khawatir,”

Raras menarik napas, lalu melembutkan suaranya.

“Aku tahu, Tapi ibumu pasti lebih ingin kau kembali dalam keadaan selamat… daripada tidak pulang sama sekali.”

Sekejap, hanya suara api yang berkobar pelan yang terdengar, menjadi jeda yang sunyi di antara mereka. Jihan menunduk, menghela napas panjang, lalu membiarkan tubuhnya bersandar perlahan. Untuk pertama kalinya, ia menyerah, bukan karena lemah, tapi karena akhirnya menyadari: bertahan juga membutuhkan kebijaksanaan.

“Kau benar. Aku tak bisa melindungi siapa pun… kalau aku sendiri belum mampu berdiri.”

Raras mengangguk kecil, tersenyum lega. Meski sorot matanya masih menyimpan bayang kekhawatiran, ada ketenangan yang perlahan tumbuh.

“Tidurlah. Besok pagi kita pikirkan langkah selanjutnya bersama.”

Jihan membalas dengan anggukan pelan. Pandangannya mengarah ke langit malam yang bertabur bintang. Untuk pertama kalinya, bintang-bintang itu tak tampak sejauh biasanya seolah memberi harapan, bahwa meski malam panjang, fajar akan tetap datang.

Sementara itu, api unggun terus menyala. Cahayanya menyentuh wajah-wajah lelah yang perlahan mulai menemukan arah. Dan di balik bayang hutan yang gelap, malam pun terus bergulir… membawa keheningan yang tak lagi terasa menakutkan.

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!