Arka kembali ke masa lalu di saat kota kelahiran nya masih aman dan sebelum gerombolan monster menyerang, Arka dengan kisah cinta mengejar perempuan cantik dari anak tuan penguasa kota dan kisah arka mengubah masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuniPus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Bab 16 – Sihir Setan?
Lestari mengambil 2 gulungan inskripsi dari tasnya.
Para ahli biasanya menyimpan pola inskripsi. Menulisnya dalam gulungan inskripsi, lalu saat pertarungan, mereka dapat mengaktifkannya untuk menambah kekuatan, lebih cepat dibanding melakukannya tanpa gulungan tersebut. Namun gulungan inskripsi sangat mahal. Gulungan kosong seharga ratusan koin, sedangkan gulungan perunggu seharga ribuan koin, dan peringkat perak akan menghabiskan 10 ribu koin. Tentunya peringkat emas, harganya tak terbayangkan mahalnya.
Benda-benda tersebut sangat berharga yang orang biasa tak akan mampu memilikinya.
“Dua gulungan ini adalah inskripsi Angin Salju.” jari jemari pucat Lestari membukanya perlahan-lahan, “sepertinya ada kesalahan saat pola ini dibuat, dan membuatnya tak dapat diaktifkan namun aku tak tahu masalahnya di mana.”
Arya segera memperhatikan kedua pola tersebut, dan menemukan kesalahan di dalamnya.
Ia telah menghabiskan banyak waktu di masa lalu dengan Kitab Roh Iblis Temporal, yang membuat pengetahuan Arya begitu sempurna akan pola-pola inskripsi, termasuk atribut. Baginya seluruh jenis pola inskripsi sangat mudah dikenali. Memperbaiki 2 gulungan inskripsi peringkat perunggu bukanlah hal sulit.
“Bahkan jika profesor tidak dapat memberitahukan masalah pada dua pola ini, dengan latar belakang keluargamu, seharusnya kau tanyakan pada ayahmu?” tanya Arya, melihat Lestari.
Dengan mata berwarna lavender, aura kesedihan terpancar dari Lestari.
Arya dengan segera menangkap maksudnya. Lestari tak memiliki ibu sejak lahir, dan seorang ayah yang menjadi pemimpin kota, tentunya ia sangat sibuk tiap hari. Kakeknya yang seorang legenda, tentunya memimpin anak buahnya untuk menelusuri Pegunungan Bukit Barisan, menghilangkan mereka yang tak memiliki kemampuan. Tentunya tak ada satupun yang dapat membantu Lestari.
Membayangkan hal itu, Arya merasa kasihan, berkata “di masa mendatang jika kau memiliki masalah, kau bisa menemukanku di sini di waktu yang sama!”
Setelah menyelesaikan kata-katanya, Arya kembali melihat 2 gulungan perunggu, sambil menunjuk salah satu dari gulungan tersebut, ia berkata “Gulungan ini adalah atribut dari inskripsi Angin Salju , susunan inskripsi tak bermasalah, namun ini gulungan yang salah.”
“Gulungan yang salah?” tanya Lestari terkejut.
“Benar, orang yang membuat ini adalah penipu yang ahli. Jika melihat sekilas, hal itu dapat dimengerti.” Arya tertawa, “inskripsi digambar dengan menggunakan darah cacing suci di Angin Salju. Berwarna perak-hijau, bukan perak-merah. Menurutku ini dibuat dari darah larva cacing suci Angin Salju. Larva tersebut tidak memiliki kekuatan yang besar, dan oleh karena itu membuat inskripsi ini tak dapat digunakan.”
Darah cacing suci dewasa berwarna perak-hijau sedangkan warna perak-merah saat mereka berada di fase larva. Lestari tak pernah menyangka penyebabnya seperti ini. Ia telah membawa gulungan tersebut ke beberapa profesor di sekolah, bahkan ke wakil kepala sekolah, namun tak satupun dari mereka tahu masalahnya.
Ia telah menyimpan masalah ini sejak lama. Hingga hari ini, akhirnya terungkap.
Jadi pemikirannya selama ini telah salah, bukan polanya yang salah. Makanya ia tak dapat menemukan permasalahannya!
Kesalahan seperti ini, Arya dapat menyelesaikannya hanya dalam sekali lihat, bagaimana mendalamnya pengetahuan seseorang untuk dapat menyelesaikan ini? Apakah pengetahuan profesor dan kepala sekolah berada di bawah Arya?
Rasa kagum yang mendalam kepada Arya, selain itu Lestari mulai mengendurkan pertahanannya terhadap Arya. “Seseorang dengan pengetahuan seperti ini, mungkin tak memiliki karakter yang buruk?”
“Bagaimana dengan inskripsi perunggu ini?” Lestari menunjuk ke arah gulungan lainnya. Saat ia menunjuk ke gulungan yang lain, ia melihat ke arah Arya, ia sedikit lebih tinggi dariku, lekuk wajah yang sempurna, alis yang tajam, dan mata yang cerah, ia lumayan tampan.
Di masa lalu, kehadiran Arya di kelas sama sekali tak diperhatikan. Namun hari ini saat Lestari mulai memahaminya membuat hati Lestari merasakan kekaguman yang mendalam terhadap sosok Arya.
“Pola inskripsi ini adalah atribut Angin Salju . aslinya adalah pola inskripsi peringkat perak, namun atribut ini belum sempurna. Selain itu orang-orang berusaha menambal untuk menyempurnakannya namun dalam prosesnya menyebabkan penurunan level hingga ke pola inskripsi perunggu.” kata Arya.
Lestari menjadi ragu, ia tak pernah memikirkan bahwa ada sejarah di baliknya. Buku apa yang menuliskan hal tersebut, dan mengapa ia tak pernah melihatnya?
Ia lanjut mendengarkan pembicaraan Arya, “selain itu saat penurunan level, tambalan untuk menyebabkan sebuah masalah dengan susunannya, dan hal itu yang membuatnya tak dapat diaktifkan. Hanya diperlukan penyesuaian sedikit.”
“Perubahan susunan? Bagaimana kau merubahnya?” Lestari terlihat bingung, bahkan kakeknya tak berani melakukannya karena pola inskripsi merupakan warisan leluhur yang diyakini telah memiliki bentuk yang sempurna. Walaupun kakeknya adalah seorang iblis petarung legenda dan mampu menciptakan pola inskripsi, penyesuaian adalah hal sulit.
“Punya pena?” kata Arya, melihat Lestari.
Lestari mengeluarkan pena tanduk perak yang terbuat dari Domba Bertanduk dari tasnya.
Arya meraih pena tersebut, jarinya tak sengaja menyentuh telapak Lestari. Hatinya mencair menyentuh kulit lembut Lestari.
Lestari segera menarik tangannya, dan mengangkat tangannya. Ia merasa Arya sengaja melakukannya, namun hal yang paling mengejutkan Arya mengambil pena tersebut tanpa melihat wajah Lestari.
Mungkin ia terlalu berlebihan, sentuhan itu membuatnya merasa aneh.
Arya menggambar garis-garis sederhana di kertas putih, dan pola itu telah sempurna nampak di kertas. Bentuk coretan tersebut begitu rapi, seperti dicetak.
Arya selesai menggambar pola inskripsi yang begitu rumit dengan hanya beberapa coretan yang tak teratur, kemampuan yang menakjubkan membuatnya terpesona. Penyesuaian inskripsi menjadi lebih rumit dan sulit untuk dipahami, bahkan Lestari tak dapat memahaminya.
“Ini inskripsi yang telah sempurna .” kata Arya melihat Lestari, “ini pola inskripsi peringkat perak.”
Lestari menatap pola inskripsi tersebut, alisnya mengerut, penyesuaian ini menjadi lebih rumit dua kali lipat dari sebelumnya. Ia tak dapat memastikan apakah ini berfungsi, setidaknya ia tahu siapa yang menggambarnya.
Lestari tak pernah melihat pola ini sebelumnya!
“Pola ini terdiri dari 36 pola dasar susunannya” jelas Arya, “ini susunan yang stabil, sebelumnya tidak!”
Lestari mengucapkan ‘En’ dengan penuh keraguan. Ia tak bertanya lebih lanjut, hanya mengambil pola yang telah disempurnakan Arya, mempersiapkan orang-orang yang telah membuat gulungan ini untuk mengetesnya untuk tahu kebenaran ucapan Arya, pola inskripsi peringkat perak.
Lestari lalu melanjutkan bimbingan mengenai beberapa hal yang ia miliki mengenai pola inskripsi Angin Salju sebagai teknik Kultivasi. Arya menjawabnya dengan tenang dan perlahan-lahan. Di bawah bimbingan Arya, Lestari mengurangi keraguan tentangnya, bahkan mengaguminya. Berapa lama yang dibutuhkan seseorang untuk memilik pengetahuan seperti Arya?
“Teman sekelas Arya, terima kasih banyak atas jawabanmu. Apa pun yang terjadi Jangan lupa kesepakatan kita bertemu esok” sebelum pergi, Lestari tersenyum bagaikan mutiara, cantik dan bersinar.
Senyum cerah itu membuat Arya menjadi pikun. Lestari melambaikan tangannya. Punggungnya begitu anggun dan menarik.
Suasana hati Arya menjadi lebih ceria, puas dengan obrolan pertamanya bersama Lestari.
Saat Arya bersiap-siap pergi, sebuah tangan memegangnya, mencengkeram kerah bajunya.
“Kau,” Arya melihat orang tersebut dan melihat ekspresinya yang gelap. Ia adalah Surya.
Tangan Kanan Surya mencengkeram kerah baju Arya dan Melihatnya penuh emosi “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Lepaskan tanganmu, selain itu aku tak akan sopan padamu.” jawab Arya dingin.
“Heh, heh, tidak akan menjawabku? Arya, khayalanmu terlalu tinggi, siapa kau pikir dirimu? Berpikir hebat hanya karena kau tahu beberapa pola inskripsi? Kau masih jauh untuk mendapatkannya! Menjauhlah dari Lestari, selain itu, aku akan menunggu waktu yang tepat!” kata Surya sengit.
Darma dan teman-temannya melihat hal tersebut, mereka segera berlari ke arah mereka. Saat ini ada 6 atau 7 kacung di sisi Surya yang tengah menatap Darma dan kawanannya.
Para murid yang berada di perpustakaan, mulai menjaga jarak dari mereka, takut mereka akan terlibat.
“Ada apa?”
“Aku mendengar Surya dan Arya sedang berkonflik karena dewi Le, lihat mereka akan berkelahi.”
“Siapa sih Arya? Beraninya melawan Surya yang anggota Keluarga Keraton!”
“Arya sudah Gila, ia tak tahu diri! Surya sebentar lagi akan mencapai peringkat perunggu bintang 1. Mengapa ia begitu berani kepadanya.”
Di pandangan Surya, dengan kekuatannya, mengatasi Arya begitu mudah. Ia hanya perlu 1/10 dari kekuatannya untuk melenyapkan Arya!
Arya menatap Surya yang sombong dengan penuh emosi. Menurutnya, Surya hanyalah anak kecil, ia tak pernah menganggapnya sejak awal! “Bahkan jika seluruh keluargamu berani denganku, kau pikir kau siapa?”
Tak peduli dengan kekuatan atau level kemapuhan jiwa, Arya yang sekarang memiliki kemampuan yang rendah dibanding Surya. Setelah semuanya Arya hanya berlatih teknik Heavenly God Cultivation selama dua hari. Namun dalam pemikirannya, kemampuan Arya dalam menggunakan kekuatan jiwanya tak beda dengan manusia primitif.
“Walaupun kekuatan fisik ku sekarang hanya 38 dan kekuatan jiwaku 32, melawanmu saja itu sudah cukup.”
“Kau pikir dengan latar belakang keluargamu, kau bisa sombong dan menindas? Memiliki jiwa hijau adalah orang yang cerdas? Kau masih jauh dengan hal itu!” Arya memegang tinju Surya, menekan jari tengahnya ke pergelangan sendi, kekuatannya melewati jari tengah, perlahan membuka pegangan Surya.
Surya terkejut saat Arya memegang tangannya, seluruh lengannya kaku. Mati rasa dan lemas, seberapapun ia berusaha menggunakan kekuatannya, tangannya tak dapat terangkat.
Hanya beberapa saat, tangan Arya bagaikan penjepit, menjepit tangan Surya, rasa sakit yang begitu terasa tak dapat disembunyikan dari wajah Surya.
“Bagaimana Arya melakukannya? Kekuatanku lebih darinya, namun aku tak dapat melawannya?”
Dalam pemikiran Surya, Arya hanyalah orang yang berada di level terbawah, kemampuan kurang, dan fisik lemah. Sementara ia begitu cerdas, dianugerahi jiwa hijau, dan telah banyak meminum obat mujarab sejak kecil, yang membuatnya sangat kuat dari teman-temannya.
Namun, dalam pertarungan kekuatan yang singkat ini, ia sama sekali tak dapat melawan Arya!
Sihir setan apa yang ia gunakan?!
Arya hanya mengejek. Walaupun kekuatannya saat ini belum meningkat, kemampuannya mengendalikan kekuatannya adalah sesuatu yang tidak disamai oleh Surya. Ia menggunakan teknik akupuntur di lengan Surya dengan kekuatan di jari tengahnya untuk melumpuhkan kekuatan lengan Surya.