Diwarnai dengan keegoisan karena didik keras sedari kecil, bukan hanya diterima tempat pendidikan ketika mereka bersekolah di akademi militer. Apakah cinta Agatha dan Jefry bisa mengalahkan sifat ego mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan
Agatha sudah mendaftar sekolah spesialis, Jakarta menjadi tempat yang dia pilih menjadi untuk Agatha belajar. Ajang sea games tahun ini adalah yang terakhir, karena dia mau konsentrasi menjadi dokter spesialis dan memiliki keturunan. Bermain Voli, hanya merupakan hobi bagi Agatha, namun dia terpilih sebagai pemain profesional adalah anugerah terindah. Cita - cita utamanya adalah menjadi dokter.
Dan puji Tuhan dipertandingan terakhir dia bersama timnya masih mempertahankan peringkat pertama. Sedangkan suaminya Jefry ada sekolah kejuruan di kesatuannya. Maka dia juga sudah permohonan pindah ke Jakarta. Rumah sakit tentara sebagai tempat Agatha sekolah spesialis bedah saraf, selama empat tahun.
Agatha dan Jefry memilih menempati rumah dinas yang dekat dengan tempat Agatha bekerja, karena Jefry sedang pendidikan di Mabes besar angkatan laut. Maka ini memudahkan bagi mereka. Karena sedang program untuk memiliki anak.
Jefry menemukan istrinya sedang berlutut di depan closet tak sadarkan diri . Dia langsung mengendong dan membawa ke rumah sakit. Agatha langsung diberi pertolongan. Semua ners dan dokter di IGD kaget dengan kemunculan dokter Agatha yang tidak sadarkan diri. Setelah di periksa langsung dibawa ke ruangan ginekolog untuk memeriksa kandungannya. Dan betul setelah di USG, ada janin yang sedang bertumbuh dalam tubuh dokter.
"Selamat komandan, anda mau menjadi papa."
Jefry langsung memeluk Agatha yang masih lemas karena mual - mual yang dirasakan. Dokter langsung menyarankan Agatha untuk dirawat karena kandungannya sedikit lemah. Mau diberi vitamin dan obat penguat. Kehamilan Agatha membuat sukacita bagi kedua keluarga besar. Akhirnya mamanya Agatha berangkat dari Atambua ke Jakarta.
"Terima kasih sayang. Kita berdua mau jadi orangtua. Ini hadiah ulang tahun terindah buat aku sayang."
"Maafkan adek mas, tidak bisa merayakan ulang tahun mas dengan baik."
"Kamu sehat dan kuat saja bersama anak kita sudah kebahagian buat mas."
Sore harinya Jefry menjemput mertuanya dan mereka langsung ke rumah sakit. Sebelumnya Jefry sudah membeli makanan kesukaan Agatha untuk mereka nikmati bersama.
"Mama,...."
"hai anak gadis mama, harus kuat ya sayang."
"Iya mama."
"Mama kesini satu minggu, biar bisa gantian jaga kamu. Kasihan Jefry kan masih pendidikan."
"Terima kasih mama, sudah meringankan beban ku. Bersama menjaga perempuan yang Jefry sayangi."
Semalam mereka semua nginap di rumah sakit. Jefry memilih ruangan VIP untuk perawatan istrinya. Jefry tidur seranjang dengan Agatha dan mamanya tidur ditempat tidur khusus untuk keluarga yang menjaga. Pagi - pagi sekali, Jefry sudah bersiap untuk ke tempat pendidikan. Namun dia sudah memesan makanan buat mertuanya.
"Mas belajar dulu ya sayang. Sampai ketemu sore hari."
"Hati - hati ya." Jefry mencium bibir Agatha dengan mesra berkali - kali. "Mas ngak malu sama mama kah?"
"Kenapa harus malu sama mama, yang mas ciumkan istri mas. Boleh kan mama?"
"Boleh nak. Sudah pergi sekolah. Biar istrimu mama jaga. Hati - hati di jalan ya."
"Terima kasih ma. Titip wanita yang aku cintai ya." Jefry mencium pipi mertuanya kiri dan kanan. Sesudah itu dia kembali mencium istrinya katanya ini mood boosternya.
Kondisi Agatha sudah mulai membaik. Dokter kandungan sudah mengijinkan dia pulang. Setelah tiga hari dirawat. Hari ini dia masih diijinkan untuk beristirahat. Besok pagi dia sudah menjalankan aktivitasnya.
"Mama sudah seminggu disini. Mama harus kembali melihat papamu nak."
"Terima kasih ya mama." Pulang kerja Agatha bersama suaminya Jefry berbelanja ole - ole buat papa dan mamanya. Semua kesukaan papa dan mamanya dibeli oleh mereka. Tanpa sengaja di mall itu, kami bertemu dengan Rebeca dan Josep.
"Uncle nice to see you." Jefry dan Agatha tersenyum kepada Josep.
"Jo sama siapa??"
"Bersama mami antie."
"Oke Jo, uncle dan antie pamit ya."
"Uncle bisa kita bertemu lagi." Namun Jefry tidak merespon, dia hanya mengelus kepala Josep.
Kandungan Agatha sudah beranjak tujuh bulan. Oleh mama mertuanya Agatha dan Jefry diminta pulang ke surabaya karena mau dibuat tujuh bulanan. Kedua kakak ipar Agatha dan mertuanya sudah menyiapkan semua. Agatha dan Jefry memilih untuk menaik kereta. Kembali lagi Jefry merasa bahwa Rebeca ini mengikutinya.
Terbukti dalam keberangkatan kali ini, mereka bisa sekereta, sekelas dan sederet bangkunya dengan Rebeca dengan tujuan sama.
"Eeeeee....mba, ketemu lagi."
"Sudah berapa bulan?"
"Tujuh mba. Josep ngak ikut mba?"
"Dia sudah di Darwin bersama papinya." Agatha melihat ke suaminya. Jefry sedang berkomunikasi dengan petugas kereta agar dia bersama istrinya bisa pindah duduknya. Kebetulan penumpang di deret yang kursinya dua mau bertukar dengan Jefry dan istrinya. Semua barang Agatha dan Jefry sudah dipindahkan.
"Mas mau kemana?"
"Sini dek, kita pindah." Bersamaan dengan itu dua lelaki besar berganti tempat duduk dengan mereka sudah ada disamping kursi awaknya Jefry dan Agatha dengan membawa barang mereka. Akhirnya Jefry bisa bernafas lega.
"Mas......." Jefry langsung mencium bibir istrinya.
"Mas yang mau." Agatha langsung bersandar di bahu suaminya. Dan langsung tertidur dalam pangkuan suaminya.
Delapan jam perjalanan Jakarta ke Surabya. Jefry tidak perna berpisah sedikit pun dari Agatha istrinya. Dia tidak mau memberi peluang kepada Rebeca. Sampai mereka tiba di stasiun pasarturi Surabaya dengan kereta api Agro Bromo Anggrek. Di luar stasiun sudah ada papa dan mamanya yang menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana nak perjalanannya?"
"Aman papa." Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah. Sampai dirumah selesai makan, Agatha langsung tertidur nyenyak di kamar. Mereka sudah tidak menggunkan kamar atas lagi. Melainkan kamar tamu yang sudah dibersihkan dan sudah memindahkan semua barang - barang Jefry dan Agatha dari kamar atas ke bawa. Dua hari sebelum adek mereka datang kedua kakak perempuan Jefry melakukan itu.
"Tadi papa lihat Rebeca juga turun dari kereta yang sama."
"Informasi yang mama dengar, katanya dia sudah bercerai dengan suaminya sepuluh tahun yang lalu."
"Papa ngak mau, sampai Agatha menantu papa terluka Jefry."
"Kita sudah diinjak - injak derajat oleh papanya. Ingat Jefry mama tidak akan menjilat ludah yang sudah mama buang."
"Jefry bukan orang gila mama. Jefry akan menjaga Agatha. Dia cinta terakhir Jefry."
"Janji Jefry, mama ngak mau menantu mama terluka."
"Jefry janji mama, papa."
Perbincangan orangtua dan anak laki - laki mereka ternyata didengar oleh Agatha yang rencana mau ke dapur mengambil air minum. Akhirnya Agatha memanggil suaminya. Dan Jefry yang takut terjadi sesuatu kepada istrinya segara masuk ke kamar.
"Adek, kenapa?"
"Mau minum mas, airnya habis."
"Oke sayang tunggu sebentar ya."
Banyak cara dilakukan oleh Rebeca, agar dia bisa bertemu dengan Jefry, termasuk reuni hari ini. Namun Jefry tidak pergi, dia bersama kedua orangtuanya dan istri tercinta mendatangi petinggi - petinggi angkatan laut di yang merayakan lebaran. Sekalian mengantar undangan tujuh bulanan yang akan dilaksanakan dua hari lagi di sebuah hotel.
Jefry Xaverius Wibowo sekarang sudah berpangkat mayor, sedangkan Agatha Anastasya sudah Kapten.