“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9
Dhevi berdiri saat Albiru masuk setelah Alisha pergi, terlihat ketegangan di wajah Dhevi dan Ibnu saat ini. Albiru melihat Ibnu dan jadi pertanyaan baginya, kenapa bisa kondisi Ibnu seperti ini?
Albiru menyalami kedua orang tua Alisha dengan hormat. “Apa kabar, Bun? Ayah?” tanya Albiru pertama kali, dia memang sangat dekat dengan kedua orang tua Alisha.
“Seperti yang kamu lihat, Albi. Kamu sendiri bagaimana? Selamat ya atas pernikahanmu,” ucap Ibnu dengan sedikit nada kecewa.
Albiru menarik kursi di samping ranjang dan duduk tepat di samping Ibnu berbaring. Dhevi memilih untuk duduk di ujung ranjang suaminya sambil memijat kaki Ibnu.
“Pernikahan? Aku memilih menikah dengan gadis lain karena Alisha bilang kalau Ayah dan Bunda menjodohkannya dengan pria lain,” balas Albiru yang mencoba memasuki suasana ini, dia berharap pembicaraan ini bisa menggali informasi karena jika Albi bertanya secara langsung, pasti mereka tidak akan memberitahu.
Ibnu dan Dhevi saling pandang, ingin sekali mereka memberitahukan apa yang terjadi tapi mereka masih ingat ancaman Rafi sebelum mereka dibebaskan. Kalau mereka tak boleh memberitahu siapapun termasuk Albiru mengenai penculikan ini.
“Aku tau kalau semua yang dikatakan Alisha adalah bohong, tolong jujurlah padaku Ayah, Bunda. Apa yang terjadi sebenarnya dan apa yang terjadi pada kalian? Ke mana kalian selama ini? Aku sudah berbulan-bulan mencari kalian tapi tidak pernah ada titik terang,” tanya Albiru pada Ibnu dan Dhevi.
Ibnu tidak bisa menjawab pertanyaan dari mantan kekasih putrinya itu, Dhevi memperhatikan reaksi suaminya lalu mengambil tindakan sendiri. Dia sudah lelah hidup di bawah ancaman dan tidak sampai hati melihat penderitaan Alisha selama ini.
“Alisha memang berbohong padamu, Albi.” Dhevi bersuara.
“Dhevi,” sanggah Ibnu sebelum istrinya melanjutkan, Albiru melihat pada Ibnu yang kini menggelengkan kepala. Dia semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi selama ini.
“Katakan, Bun. Ada apa? Tolong jangan tutupi apapun lagi dariku.” Albiru terus mendesak dan Dhevi menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi lagi. Bukan main emosi Albiru mendengar semua penjelasan dari Dhevi, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras dan amarah jelas terpancar di matanya.
Mata Albiru langsung melirik pada tangan kiri Ibnu yang hanya menyisakan dua jari saja.
“Sebenarnya Naya dan Rafi sudah sering kali mengancam Alisha tapi tidak diindahkan oleh Alisha. Sampai saat di mana mereka menculik Mas Ibnu lalu mengirimkan jari kelingkingnya ke rumah, saat itulah Alisha menemuimu dan memutuskan hubungan denganmu, Albi. Dia menderita, disiksa dan didera setiap hari, kami selalu berpindah-pindah tempat agar kau tidak mengetahui posisi kami. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaan Alisha, Albi. Aku tidak kuat lagi,” tangis Dhevi pada mantan calon menantunya itu.
Albiru menitikkan air mata mendengar semuanya, tak bisa dia bayangkan betapa takut gadisnya berada di bawah ancaman tersebut.
“Aku akan menemui Alisha, Bun. Beri aku waktu untuk bicara dengannya nanti, suruh dia ke alamat ini,” ujar Albiru sembari memberikan alamat sebuah apartemen pada Dhevi.
“Bantu kami, Albi. Setidaknya keamanan untuk Alisha.” Ibnu yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara. Albiru menggenggam tangan Ibnu dan menaruh di keningnya.
“Aku berjanji akan menjaga dia, Ayah. Bukan hanya dia, tapi kalian berdua juga. Aku pastikan kalau Naya tidak akan menyentuh kalian lagi,” ucap Albiru dengan penuh tekad.
...***...
Alisha membantu Ibnu untuk meminum obat, terlihat Alisha begitu lelah dan sedikit pucat.
“Kamu belum makan, Sha?” tanya Ibnu sambil mengelus pipi Alisha.
“Belum, Yah. Aku izin keluar dulu buat cari makan ya.”
“Oh iya, Sha. Kamu bisa gak mampir ke tempat ini dulu, Bunda tadi diundang sama seseorang untuk ke sana, dia bilang mau membuat kesepakatan mengenai pesanan kue.” Dhevi memberikan alamat yang diberikan Albiru tadi padanya. Alisha melihat alamat itu dan menatap ibunya.
“Alisha kan udah bilang, Bun. Gak usah kerja dulu, Bunda sama Ayah fokus sama kesehatan aja dulu,” ujar Alisha yang keberatan.
“Selagi kami bisa membantu kamu, apa salahnya, Sha. Turuti aja apa yang Bundamu mau,” timpal Ibnu yang tidak didebat lagi oleh Alisha.
“Sekarang ke sana ya Nak. Soalnya Bunda sudah ditunggu sama orang itu.”
“Iya Bun.”
Alisha segera menuju ke apartemen itu terlebih dahulu, takut jika terlambat, kesepakatan kerja ibunya jadi batal dan Dhevi bisa kecewa.
Dhevi menghubungi Albiru dan jelas cepat diangkat oleh Albiru.
“Alisha udah jalan, Albi. Tolong pastikan anak Bunda selamat sampai sana ya. Bunda takut sekali kalau Alisha kenapa-napa.”
“Tenang aja Bun, aku udah minta Aksa untuk mengikuti Alisha dan memerintahkan beberapa orang menjaga di sekitar rumah sakit.”
“Terima kasih, Nak.”
“Iya Bun.”
...***...
Alisha menekan bel apartemen, dia menunggu sampai pemilik apartemen membukakan pintu. Sementara itu, perutnya terus berbunyi karena lapar dan kepalanya terasa pusing, wajahnya semakin pucat karena menahan lapar sejak tadi.
Perlahan pintu terbuka, Alisha memasang senyum di wajahnya hingga senyum itu perlahan luntur saat melihat Albiru di ambang pintu menyambutnya.
“Albi,” lirihnya.
“Mari masuk!” Alisha menggeleng dan melihat kiri kanan untuk memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya. Sangat prihatin Albiru melihat ketakutan di wajah Alisha saat ini, dia merasa sangat gagal menjaga gadisnya itu.
“Tidak ada siapapun, Sha. Kamu aman di sini,” ujar Albi saat Alisha ketakutan.
“Kamu yang suruh bunda ke sini?” tanya Alisha memastikan.
“Bukan bundamu, tapi kamu.”
“Aku?” Alisha menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, kamu Alisha. Ayo masuk!” Dengan sedikit ragu, Alisha melangkah masuk, betapa nyaman dia berada di dekat Albiru saat ini.
Alisha duduk sopan di ruang tamu, Albiru menaruh dua minuman soda di hadapan Alisha lalu duduk di samping perempuan itu.
“Albi,” panggilnya pelan sedikit sungkan.
“Ya,” jawab Albi dengan senyumnya.
“Aku... lapar, boleh tidak, kalau aku minta makanan, perutku sakit.” Albiru tersenyum lalu mengusap kepala Alisha, sakit sekali rasanya ketika Alisha mengeluh begitu.
“Aku ambil dulu ya.” Alisha mengangguk, di dapur, Albi menatap Alisha yang duduk sambil memegangi perutnya.
“Hanya karena obsesi seseorang padaku, kamu yang harus menderita, Sha. Maafkan aku, harusnya dari awal aku tidak mengabaikanmu begini, maafkan aku, Alisha sayang.” Albiru menghapus air matanya dan menyajikan makanan yang sudah dia pesan memang untuk Alisha karena tadi Dhevi bilang kalau Alisha sedang lapar.
Albiru menyajikan makanan di meja makan lalu memanggil Alisha. Mereka makan berdua dalam keheningan tanpa ada yang mau membuka pembicaraan. Selesai makan, mereka kembali duduk di ruang tamu, tanpa Alisha duga, Albi tiba-tiba berlutut dengan satu kaki dia tekuk dan tangan memegang tangan Alisha.
“Aku sudah mengetahui semuanya dari bunda, Sha. Kamu tersiksa selama ini karena Naya dan aku tidak bisa berbuat apapun untukmu. Maafkan aku, Alisha. Aku akan membantu kamu keluar dari semua masalah ini dan akan aku pastikan kalau Naya menerima hukuman dari perbuatannya itu.” Alisha membuka mulutnya saat Albiru mengutarakan semua itu, tidak menyangka dia kalau Dhevi akan membocorkan semuanya pada Albiru.