Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue coklat
Sisa-sisa ketegangan dari jamuan makan malam semalam masih menggantung tebal di udara kediaman Vance. Bagai kabut hitam yang enggan beranjak, suasana di dalam rumah itu terasa mencekik. Brixton terbangun dengan perasaan yang lebih buruk dari biasanya. Kepalanya tidak lagi berdenyut karena demam, namun dadanya terasa sesak oleh amarah yang tidak menemukan tempat untuk bermuara.
Pagi itu, dengan langkah kasar, ia memasuki ruang baca pribadi yang terhubung dengan kamar Alana—sebuah area yang jarang ia injak kecuali jika ia ingin melontarkan makian baru. Ia berniat mencari dokumen properti yang mungkin tertinggal di sana, namun saat ia menggeser sebuah kursi kayu ek yang berat, sebuah buku bersampul kulit berwarna merah jambu pucat terjatuh dari meja kecil di sudut ruangan.
Buku itu mendarat dengan suara debuman pelan. Brixton menunduk, menatap benda itu dengan dahi berkerut. Di sampulnya, terukir inisial emas: A.C.—Alana Clarissa.
Itu adalah buku harian. Jantung Brixton berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu, di dalam lembaran-lembaran kertas itu tersimpan semua rahasia, tangisan, dan mungkin kebenaran tentang perasaan Alana yang selama ini tidak pernah ia gubris. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk memungutnya, membacanya, dan melihat apakah wanita itu benar-benar menderita atau hanya sedang bersandiwara. Sisi penasaran dari dirinya ingin tahu apa yang ditulis Alana tentang malam-malam penuh makian yang ia berikan.
Namun, egonya yang setinggi langit segera mengambil alih. Brixton mendengus meremehkan.
"Pasti isinya hanya drama murahan dan keluh kesah seorang parasit," gumamnya sinis.
Alih-alih mengambilnya, Brixton justru menendang buku itu hingga terseret ke kolong meja. Ia menolak untuk peduli. Ia menolak untuk memberi ruang bagi empati. Baginya, mengetahui isi hati Alana hanya akan membuatnya merasa goyah, dan ia tidak boleh goyah. Kebencian ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap memegang kendali atas hidupnya yang hancur. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia meninggalkan ruangan itu, membiarkan buku harian yang penuh rahasia itu tergeletak berdebu di lantai dingin.
Matahari mulai meninggi, memancarkan panas yang menyengat ke arah kolam renang outdoor yang luas. Brixton merasa butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Ia hanya mengenakan celana renang hitam dan handuk yang tersampir di bahu kokohnya, memamerkan tubuh atletisnya yang penuh dengan ketegangan otot.
Namun, langkahnya terhenti di koridor terbuka yang menuju ke arah kolam. Di sana, Alana berdiri.
Hari ini, Alana tampak berbeda. Ia mengenakan gaun rumah sederhana berwarna putih, dan rambut pink-nya diikat asal ke belakang. Yang mengejutkan Brixton adalah ekspresi wajahnya. Setelah semua hinaan yang ia terima semalam, Alana justru berdiri di sana dengan sebuah senyuman kecil yang tulus—sebuah senyuman yang entah mengapa membuat Brixton merasa terganggu.
Di tangannya, Alana memegang sebuah piring porselen kecil berisi potongan kue spons cokelat yang aromanya manisnya tercium hingga ke tempat Brixton berdiri.
"Brixton!" panggilnya, matanya yang hijau zamrud berbinar sedikit lebih terang saat melihat suaminya. "Kau mau berenang? Aku... aku baru saja selesai membuat kue di dapur. Aku ingat Bibi Martha pernah bilang kau suka cokelat yang tidak terlalu manis, jadi aku mencoba membuatnya sendiri. Kau mau mencicipinya?"
Alana melangkah mendekat, mengulurkan piring itu dengan harapan yang begitu nyata terpancar dari wajahnya. Ia tampak seperti seorang istri yang benar-benar ingin memperbaiki keadaan, seorang wanita yang ingin menyentuh sisi lembut suaminya yang telah lama hilang.
Brixton berhenti tepat di depan Alana. Ia menatap piring kue itu, lalu menatap wajah Alana yang penuh harap. Selama beberapa detik, kesunyian menyelimuti mereka. Di sudut koridor, beberapa pelayan dan tukang kebun berhenti melakukan pekerjaan mereka, mengamati interaksi itu dari kejauhan dengan napas tertahan. Mereka semua tahu betapa kerasnya Alana berusaha untuk mendapatkan hati sang tuan muda.
Namun, harapan itu hancur dalam hitungan detik.
"Kau pikir aku akan memakan sesuatu yang dibuat oleh tanganmu?" suara Brixton terdengar datar namun penuh dengan kebencian yang tajam.
Tanpa peringatan, Brixton mengayunkan tangannya. Ia tidak memukul Alana, namun ia menyambar piring porselen itu dan melemparkannya ke samping.
PRANG!
Piring itu pecah berkeping-keping saat menghantam lantai batu. Kue cokelat yang dibuat Alana dengan sepenuh hati kini hancur, bercampur dengan debu dan pecahan keramik. Senyum di wajah Alana hilang seketika, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang membeku.
"Simpan sampah ini untuk dirimu sendiri," desis Brixton. Ia bahkan tidak berhenti untuk melihat reaksi Alana. Ia melangkah melewati Alana begitu saja, bahunya menyenggol bahu wanita itu dengan kasar hingga Alana terhuyung ke samping.
Brixton berjalan menuju tepi kolam, namun ia tidak langsung melompat ke air. Ia merogoh saku handuknya, mengambil sekotak rokok dan korek api perak. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena emosi yang tidak menentu, ia menyalakan sebatang rokok.
Zipp...
Api kecil menyala, membakar ujung tembakau. Brixton menghisapnya dalam-dalam, membiarkan asap nikotin memenuhi paru-parunya yang terasa sesak. Ia berdiri di tepi kolam, membelakangi Alana, sambil menghembuskan asap putih ke udara pagi yang cerah.
Di belakangnya, Alana masih berdiri mematung. Ia menatap puing-puing kuenya yang berantakan di lantai. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menolak untuk terisak di depan para pekerja. Dengan tangan gemetar, ia mulai berlutut, mencoba memunguti potongan kue dan pecahan piring itu sendirian.
Pemandangan itu membuat para pekerja di rumah itu merasa hati mereka teriris. Bibi Martha, yang mengintip dari jendela dapur, menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Pak Joko, tukang kebun yang sedang memangkas tanaman di dekat sana, hanya bisa menunduk dalam, tidak berani campur tangan namun merasakan kesedihan yang mendalam bagi sang nyonya muda.
"Kasihan sekali Nyonya Alana," bisik salah satu pelayan muda kepada rekannya. "Dia sudah bangun sejak subuh untuk membuat kue itu. Tuan Brixton benar-benar tidak punya hati."
"Dia memperlakukannya lebih buruk daripada pelayan," sahut yang lain dengan nada iba. "Padahal Nyonya sangat cantik dan baik. Apa salahnya sampai Tuan membencinya begitu rupa?"
Brixton bisa mendengar bisik-bisik itu, meski samar. Ia tahu semua orang di rumah ini mengasihaninya, dan itu membuatnya semakin marah. Ia menghisap rokoknya lebih dalam lagi, merasakan panasnya asap di tenggorokannya. Ia ingin berteriak pada mereka semua, mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang luka yang ia simpan.
Ia menoleh sedikit, melirik ke arah Alana melalui sudut matanya. Alana masih di sana, berlutut di atas lantai batu yang keras, mengumpulkan sisa-sisa kehancurannya. Rambut pink-nya menutupi wajahnya, menyembunyikan tangisnya dari dunia.
Sesuatu di dalam dada Brixton berdenyut aneh. Ada rasa sakit yang muncul melihat punggung Alana yang bergetar. Sisi gentleman yang ia kunci rapat seolah-olah mencoba mendobrak pintu hatinya, memintanya untuk berbalik, meminta maaf, dan membantu wanita itu berdiri.
Namun, Brixton segera menepis perasaan itu. Ia menjatuhkan puntung rokoknya yang masih menyala ke lantai, menginjaknya dengan kaki telanjang hingga padam—sebuah tindakan yang melambangkan bagaimana ia memperlakukan perasaan Alana.
"Berhenti memasang wajah menyedihkan itu di depanku," ucap Brixton tanpa berbalik, suaranya dingin dan tanpa ampun. "Kau hanya membuatku semakin muak untuk bernapas di rumah ini."
Tanpa menunggu balasan, Brixton melompat ke dalam kolam renang. Suara kecipak air yang keras menenggelamkan segalanya. Ia berenang dengan liar, memacu tubuhnya hingga batas maksimal, mencoba menenggelamkan rasa bersalah yang sialnya mulai tumbuh di sela-sela kebenciannya.
Di tepi koridor, Alana akhirnya selesai membersihkan pecahan piring itu. Ia berdiri dengan tangan yang sedikit terluka karena goresan keramik. Ia menatap permukaan air kolam yang bergejolak karena gerakan suaminya.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian dalam rasa sakit ini, Brixton," bisiknya sangat pelan, hingga hanya angin yang mendengarnya.
Alana berbalik dan berjalan pergi dengan langkah gontai, membawa nampan berisi pecahan mimpinya hari itu. Para pekerja yang dilewatinya hanya bisa menunduk hormat, memberikan satu-satunya bentuk dukungan yang mereka bisa—kesunyian yang penuh empati.
Di dalam kolam yang dingin, Brixton terus berenang, namun tak peduli seberapa jauh ia bergerak, bayangan senyum Alana yang hancur dan bau kue cokelat yang terbuang itu tetap mengikutinya, merayap masuk ke dalam jiwanya yang perlahan mulai retak.