Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 16
"Keluar," ucap Yuhan tiba-tiba ke arah sudut ruangan yang gelap. "Sampai kapan kau mau bersembunyi di sana?"
Tirai sutra di dekat jendela bergetar. Seorang pria dengan tubuh atletis dan pakaian pengawal yang rapi melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Itu adalah Li Ming, gundik yang juga merupakan mantan pengawal elit.
"Ampunkan hamba, Yang Mulia Maharani! Hamba... hamba tidak bermaksud mengintip. Hamba hanya ingin memastikan keselamatan Anda," ucap Li Ming sambil berlutut dengan tulus.
Yuhan menatapnya dengan tajam. "Kau tahu, aku paling tidak suka orang yang terlalu ingin tahu urusan pribadiku."
"Hamba siap menerima hukuman apa pun, Yang Mulia. Nyawa hamba adalah milik Anda sejak hari Anda menyelamatkan hamba dari pertempuran itu," jawab Li Ming tanpa ragu. Berbeda dengan Zao Yun, Li Ming memiliki kejujuran di matanya.
Yuhan menghela napas panjang. Aura ketegangannya sedikit mengendur. "Kemari. Mendekatlah."
Li Ming mendekat dengan gerakan ragu dan penuh ketakutan. Yuhan menyandarkan punggungnya dan memberi isyarat pada bagian belakang kepalanya. "Kepalaku pusing. Pijat kepalaku. Lakukan dengan benar, atau kau benar-benar akan dihukum."
Tangan Li Ming yang kasar namun hangat mulai memijat pelipis dan kepala Yuhan. Tekanannya pas, sangat berbeda dengan pijatan manja Zao Yun. Yuhan merasa otot-otot di lehernya mulai rileks.
"Nyalakan dupa penenang dari kotak giok di atas meja, lalu buatkan aku teh hijau. Gunakan air dari kendi perak itu," perintah Yuhan lagi. Ia merujuk pada air yang telah ia campur dengan sedikit Air Dewa.
Sambil menikmati teh yang disajikan Li Ming, Yuhan menatap pria itu dengan saksama. "Li Ming, kau berasal dari desa di perbatasan, bukan? Apakah kau tahu cara bertani?"
Li Ming tertegun sejenak. "Hamba berasal dari keluarga rakyat rendahan, Yang Mulia. Kakek hamba adalah seorang petani di wilayah Barat sebelum hamba masuk militer. Hamba sedikit banyak tahu tentang cara mengolah tanah, meski sudah lama hamba meninggalkannya."
Yuhan bangkit, berjalan menuju meja tulisnya, dan mengeluarkan sebuah buku kuno dengan sampul kulit yang tampak sangat asing. Buku itu berisi panduan teknik pertanian modern yang telah ia sesuaikan dengan bahasa dinasti ini—sebuah barang yang ia ambil dari Ruang Dimensi Ajaibnya.
"Ambil ini," Yuhan menyerahkan buku itu pada Li Ming. "Pelajari isinya malam ini. Besok, aku akan menugaskanmu untuk bertanggung jawab penuh atas lahan pertanian yang akan aku buka di sebelah istana. Kau bukan lagi sekadar gundik atau pengawal. Kau akan menjadi Pengawas Agraria Kerajaan."
Li Ming gemetar saat menerima buku itu. "T-tapi Yang Mulia... hamba hanya seorang pelayan. Mengemban tanggung jawab sebesar itu di tengah kekeringan... hamba takut akan mengecewakan Anda."
Yuhan berdiri di depan Li Ming, menaruh tangannya di bahu pria itu. "Aku tidak butuh ketakutanmu. Aku butuh kesetiaan dan kerja kerasmu. Jika kau berhasil menumbuhkan tanaman di tanah itu, aku akan memberimu jabatan resmi di istana, gelar bangsawan, dan harta yang melimpah. Aku tahu kau punya kemampuan bela diri yang tinggi, Li Ming. Gunakan itu untuk melindungi lahan itu dari siapa pun yang mencoba menyabotase."
Li Ming menatap buku di tangannya, lalu menatap Yuhan. Matanya berkaca-kaca. Selama ini, ia hanya dianggap sebagai mainan Maharani, namun kini ia diberikan sebuah tujuan hidup yang mulia.
"Hamba... hamba akan mempertaruhkan seluruh jiwa hamba untuk melaksanakan titah Anda, Yang Mulia!" ucap Li Ming dengan suara mantap.
Malam itu, Yuhan tidak membiarkan Li Ming pergi. Ia merasa lebih aman dengan kehadiran Li Ming yang memiliki kemampuan bela diri daripada sendirian di tengah istana yang penuh mata-mata.
"Malam ini, tetaplah di sini. Tidurlah di dipan bawah," ujar Yuhan sambil merebahkan tubuhnya di ranjang naga. "Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk menjaga napasku saat aku terlelap."
Li Ming membungkuk dalam. "Hamba akan menjaga Anda sampai fajar menyingsing, Yang Mulia."
Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela, Shen Yuhan akhirnya memejamkan mata. Di sampingnya, Li Ming duduk bersila dengan pedang di pangkuan dan buku panduan tani di tangannya. Sebuah fajar baru bagi Kerajaan Tianjing sedang dipersiapkan di dalam keheningan malam ini.
...****************...
Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah jendela ukir Istana Chiangnang. Di dalam kamar yang masih beraroma dupa penenang, Li Ming bergerak dengan ketelitian yang luar biasa. Jemarinya yang biasanya memegang pedang, kini dengan lembut menyisir helai demi helai rambut hitam legam milik Shen Yuhan. Ia menatanya dalam sanggul Phoenix yang tinggi, menyematkan beberapa tusuk konde emas bertatahkan rubi yang berkilau mewah.
Yuhan menatap pantulan dirinya di cermin perunggu. "Tugasmu besar, Li Ming. Jangan kecewakan aku."
Yuhan memberi isyarat pada Dayang Nya. Sebuah nampan perak dibawa masuk, di atasnya terlipat rapi seragam pejabat berwarna biru tua dengan sulaman benang perak. Seragam itu adalah tanda jabatan tingkat lima, setara dengan sekretaris daerah, sebuah posisi yang sangat berkuasa bagi seseorang yang dulunya hanya dianggap sebagai gundik pengawal.
Li Ming tertegun, tangannya bergetar saat menyentuh kain halus yang tak pernah ia impikan seumur hidupnya. "Yang Mulia... ini... hamba tidak tahu harus berkata apa."
"Pakailah. Mulai hari ini, kau adalah mataku di ladang pertanian. Pergilah sekarang," perintah Yuhan datar.
Li Ming berlutut dalam, kepalanya menyentuh lantai. "Hamba akan mempertaruhkan nyawa untuk amanah ini. Hidup Yang Mulia Maharani seribu tahun! Hidup seribu tahun!"
Begitu Li Ming melangkah keluar, wajah Yuhan mendadak memucat. Jantungnya berdegup liar, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk pembuluh darahnya dari dalam.
"Argh... tidak sekarang..." desisnya.
Denyut nadinya kacau. Tubuhnya yang selama ini lemah tiba-tiba menolak lonjakan energi yang datang dari sisa-sisa ritual dan meditasi sebelumnya. Yuhan berteriak dengan suara serak, memerintahkan seluruh kasim dan dayang untuk mengosongkan kamarnya dan menjaga jarak sepuluh tombak dari pintu.
Begitu pintu terkunci, ia menyentuh gelang gioknya. ZINGGG!
Dalam sekejap, ia berpindah ke Ruang Dimensi Ajaib. Napasnya terengah-engah. Di sana, ia merangkak menuju tumpukan harta karun dan mencari Batu Suci Merah Darah. Batu itu kecil, namun memancarkan aura panas yang luar biasa.
Yuhan duduk bersila, menggenggam batu itu di antara kedua telapak tangannya. Ia mulai menyerap energinya.
BOOM!
Sebuah ledakan energi terjadi di dalam meridiannya. Inilah proses kenaikan tingkat ke tingkat ketiga yang dikenal sebagai Lingkup Atma Nirwana. Cahaya merah darah mulai menyelimuti tubuh Yuhan. Keringat dingin bercampur darah merembes dari pori-porinya sebuah proses pembersihan sumsum tulang yang sangat menyakitkan. Jiwanya seolah ditarik paksa menembus batas-batas kemanusiaan.
Sementara itu, di luar istana, Pangeran Mu Lian tampak seperti singa yang terluka. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun. Pikirannya diracuni oleh bayangan Yuhan yang sedang bersenda gurau dengan Zao Yun.
"Menjijikkan," desisnya saat kursi rodanya tertahan oleh barisan kasim di depan pintu kamar Yuhan.