Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Malam semakin larut Digta mulai merasakan kantuk, dia mencoba untuk memejamkan matanya entah kenapa dia langsung teringat dengan film yang tadi dia tonton.
Fokusnya langsung tertuju kepada tokoh utama perempuan di film itu.
"Cewek kalau saka cowok udah jadi setan pun masih stalking" Gumam Digta dalam hati dia sedikit bergidik. entah mengapa tiba-tiba saja Digta teringat kepada sosok Raisa.
"Dia cantik sih, tapi masih hidup aja dia udah stalking ampe datang ke kampus" Digta semakin bergidik memikirkannya.
"kenapa dia tiba-tiba meluk gue, nangis nangis, ini cewek kalau nggak pake narkoba pasti sikopat," Ucap Digta mulai memikirkannya dengan serius.
"Ih serem juga," Digta terus berbicara dengan dirinya sendiri.
"Masih hidup aja kelakuannnya udah aneh, apa lagi kalau entar dia udah mati" Digta semakin ngeri memikirkan hal itu.
"Jangan-jangan dia nemplok di badan gue kaya Natre," Ucap Digta lagi dia tampak merinding panas dingin sekarang.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi Digta berlahan menatap layar ponselnya kemudian membuka SMS.
"Tuhkan," Ucap Digta masih memandangi layar ponsel tersebut.
SMS itu dari Raisa namun kali ini Digta tak membalas pesan dari Raisa itu.
Dan akhirnya Digta pun tertidur dengan membawa imajinasi liarnya sampai terbawa kedalam alam mimpi, Singkat cerita dalam mimpinya Raisa menyatakan cinta kepadanya. karena Digta merasa kasian akhirnya dia menerima cinta Raisa.
Merekapun akhirnya pacaran sehingga pada suatu ketika saat itu sedang turun hujan Raisa mengunjungi Digta di kampus.
Dan sebuah tragedi terjadi pada saat itu Digta menyaksikan Raisa tertabrak angkot ungu jurusan Dago cisitu lama saat akan menyebrang menghampirinya.
Sekarang mimpinya berubah situasi dan keadaan Raisa yang sudah meninggal terus meneror Digta. sampai Digta harus berlari-lari menghindari hantu Raisa.
Alangkah terkejutnya Digta saat dia melihat pantulan bayangannya di cermin di sana dia melihat Raisa menempel di punggungnya seperti lintah.
"AAAA" Digta terperanjat terbangun dari tidurnya, badannya di penuh keingat, jantungnya masih berdebar kencang, nafasnya masih terengah engah.
Digta duduk gelisah di bangku taman kampus, matanya terus melirik ke kanan dan kiri. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Bang…” panggil Digta pelan.
Bambang menoleh. “Kenapa sih dari tadi kayak orang dikejar setan,?”
Digta menghela napas panjang. “Gue mimpi buruk, Bang. Parah.”
“Ah, mimpi doang. Paling juga mimpi jatuh dari motor,” sahut Bambang santai.
Digta menggeleng cepat. “Bukan. gue mimpiin Raisa.”
Bambang langsung tertarik. "Eh Raisa, oh tentangga Baru?”
"Wah itu bukan mimpi serem kali itu mimpi enak," Sahut Bambang bercanda.
“Nggak gue mimpi serem,” potong Digta cepat. “Di mimpi gue, dia berubah jadi setan. Rambutnya panjang, terus ngejar-ngejar gue.”
Bambang menahan tawa. “Serius?”
“Serius, Bang! Gue lari sampai kaki gue nggak bisa gerak. Pas dia mau nyentuh gue, gue kebangun."
Bambang masih ketawa sampai menepuk pahanya sendiri.
"Pas ketemu dia bulu kuduk gue jadi berdiri.”
“Berarti kalian jodoh sehidup semati.”
Digta menatapnya tajam. “Jangan becanda, Bang. Gue beneran takut.”
“Lah justru itu,” Bambang masih nyengir. “Dia masuk mimpi lo sedalem itu, tandanya dia spesial.”
“Spesial apanya? Gue mau mengindar sebisa mungkin. Mulai sekarang gue bakal pura-pura nggak liat dia.”
Bambang menepuk bahu Digta. “Tenang, Ta. Kalau dia beneran jadi setan, paling juga minta ditemenin, bukan ngejar.”
“Bang!” seru Digta kesal, sementara Bambang tertawa makin keras.