NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Ruang Tamu

Suasana di ruang tamu rumah mewah keluarga Budi Santoso sore itu terasa mencekam. AC sentral yang biasanya menyejukkan udara, hari ini terasa membekukan tulang, seolah menyerap seluruh kehangatan dari rumah itu.

Pak Budi duduk merosot di sofa kulit import-nya, wajahnya pucat pasi sambil memegangi dada kirinya. Di sampingnya, Ibu Herlina Ibu Sisca sibuk mengipas-ngipasi suaminya dengan wajah cemas. Di meja kaca, berserakan surat tagihan dan salinan email pemutusan kontrak dari Abraham Textile.

Sementara itu, Sisca tidak bisa duduk diam. Wanita hamil itu mondar-mandir dengan gaun rumah mahalnya, menggigit kuku jari yang baru dimanikur.

"Rendy lama banget sih, Ma!" gerutu Sisca tidak sabaran. "Harusnya dia sudah sampai. Pasti Pak Wisnu mau dengar penjelasannya."

"Sabar, Sayang. Ingat kandunganmu," bujuk Bu Herlina lembut. "Suamimu pasti bawa kabar baik. Dia kan dulu segalanya buat Alina. Si Alina itu pasti masih baper sama Rendy. Cewek kampung kayak dia, sekali dirayu sedikit, pasti langsung luluh. Dia pasti cuma cari perhatian."

Bu Herlina berbicara dengan nada meremehkan, sama sekali tidak tahu badai macam apa yang sebenarnya telah mereka ciptakan. Baginya, Alina hanyalah mantan pacar Rendy yang tidak level dengan keluarga mereka.

Suara deru mesin mobil terdengar di halaman.

"Itu Rendy!"

Sisca bergegas ke pintu depan. Namun, harapan di wajahnya luntur saat melihat suaminya berjalan gontai. Kemeja Rendy kusut, bahunya merosot, dan wajahnya tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu.

Rendy masuk ke ruang tamu tanpa menyapa, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa kosong di hadapan mertuanya. Ia menunduk, meremas rambutnya sendiri.

"Gimana, Ren?" tanya Pak Budi susah payah, menegakkan duduknya. "Wisnu setuju cabut surat blacklist-nya? Kamu sudah bicara sama Alina?"

Rendy mendongak. Matanya merah dan kosong.

"Gagal, Pa," jawab Rendy serak. "Semuanya hancur. Kita sudah di-blacklist permanen."

"Maksud kamu apa?!" pekik Bu Herlina kaget.

"Aku nggak bisa ketemu Pak Wisnu. Dan Alina..." Rendy menelan ludah, suaranya bergetar. "Alina nggak mau bantu. Dia justru yang merencanakan semua ini."

"Merencanakan?" tanya Pak Budi bingung.

"Dia yang mengaudit perusahaan Papa. Dia yang nemuin bukti mark-up harga itu. Dia sengaja melakukannya untuk menghancurkan kita," jelas Rendy putus asa.

"Dasar perempuan gila!" umpat Bu Herlina. "Cuma gara-gara diputusin kamu, dia sampai segitunya? Dendamnya kok sampai ke bisnis orang tua?"

Rendy dan Sisca saling bertatapan sekilas. Sebuah tatapan penuh ketakutan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Orang tua Sisca mengira dendam Alina hanya karena sakit hati ditinggal nikah. Mereka tidak tahu bahwa di balik kemarahan Alina, ada nyawa cucu yang tak jadi lahir karena kelakuan anak dan menantu mereka sendiri. Ada darah yang tumpah di lantai apotek yang mereka sembunyikan rapat-rapat.

"Dia bilang apa sama kamu?" desak Sisca, suaranya meninggi untuk menutupi rasa takutnya. "Dia pasti ngomong sesuatu kan?"

Rendy menatap istrinya lekat-lekat.

"Dia bilang..." Rendy memotong kalimatnya, tidak berani mengulang kata-kata Alina soal 'pembunuh anak'. Ia harus menyaringnya agar mertuanya tidak curiga. "Dia bilang sakit hatinya belum lunas. Dia mau lihat kita menderita. Dia mau lihat kamu nggak bisa beli tas baru, Sis. Dia mau lihat kita dikejar utang."

Sisca terhuyung ke belakang, jatuh terduduk di lengan sofa. Wajahnya pucat. Ia tahu betul makna 'sakit hati' yang dimaksud Alina. Itu bukan soal cinta, itu soal nyawa. Dan fakta bahwa Alina sekarang memiliki kekuasaan untuk membalas dendam membuat nyali Sisca ciut.

"Kurang ajar!" teriak Sisca histeris, mencoba mengalihkan ketakutannya menjadi amarah. "Dasar wanita iblis! Awas aja dia!"

"Sisca! Jaga emosimu!" tegur Pak Budi, lalu beralih ke Rendy. "Rendy, kamu gimana sih? Masa kamu nggak bisa bujuk dia? Kamu kan dulu pacaran lama! Masa dia tega lihat mantan calon mertuanya bangkrut?!"

"Pa, Alina yang sekarang beda," jawab Rendy lemah. "Dia dingin. Dia punya kuasa. Dia ngetawain aku saat aku berlutut di sana."

"Kamu berlutut?" Bu Herlina menutup mulutnya tak percaya. "Ya ampun, memalukan sekali. Rendy, kamu itu suami Sisca, menantu keluarga Santoso. Kenapa merendahkan diri di depan wanita rendahan itu?"

Rendy ingin sekali berteriak bahwa 'wanita rendahan' itu kini memegang leher mereka, tapi ia hanya diam. Ia terlalu lelah.

"Sudah, jangan bahas harga diri sekarang!" potong Pak Budi panik, napasnya mulai tersengal lagi. "Yang penting itu... lusa jatuh tempo utang bank. Kalau arus kas dari kontrak Abraham putus, kita nggak bisa bayar."

"Terus gimana, Pa?" tanya Sisca, air mata mulai menggenang di matanya. "Jangan bilang tabungan Papa habis?"

Pak Budi menunduk. "Bisnis lagi seret, Sis. Papa banyak pakai uang kas buat nalangin gaya hidup kalian beberapa bulan ini. Pesta nikahan kalian yang mewah itu juga ambil dari modal."

Keheningan yang menyakitkan turun di ruangan itu.

"Kalau kita gagal bayar bulan ini," lanjut Pak Budi dengan suara bergetar, "Pihak bank akan menyita jaminan."

"Jaminannya apa, Pa?" tanya Rendy, firasat buruknya semakin kuat.

"Sertifikat rumah ini... dan BPKB mobil CR-V kamu."

Rendy terbelalak. "Mobil aku? Pa, itu mobil baru! Itu satu-satunya hal yang bikin aku dihargai di kantor!"

"Ya mau bagaimana lagi! Papa butuh tambahan jaminan waktu itu buat renovasi gudang!" bentak Pak Budi.

Sisca mulai menangis meraung-raung.

Rendy duduk terpaku. Ia menatap Sisca yang menangis dan mertuanya yang panik. Dalam hati, Rendy merasa ini adalah karma.

Alina benar. Mereka membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Dan sekarang, Alina datang menagih semuanya.

"Ini semua gara-gara Alina..." isak Sisca di sela tangisnya, mencoba memosisikan diri sebagai korban di depan orang tuanya. "Dia jahat banget sama kita, Ma..."

Rendy menatap istrinya dengan pandangan nanar. Bukan, Sis, batin Rendy. Dia bukan jahat. Dia cuma membalas apa yang kita lakukan ke dia dan janinnya.

Tapi Rendy tidak berani mengucapkannya. Ia memilih menelan rahasia kelam itu, membiarkan mertuanya tetap dalam kegelapan, sementara bayang-bayang kehancuran perlahan melahap rumah mewah itu.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!