Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Kegelapan di dalam galeri itu terasa seperti peti mati yang nyaman bagi Alana. Ia duduk di lantai, dikelilingi oleh kanvas-kanvas kosong yang seolah menertawakan kehancurannya. Debu mulai menumpuk di atas meja palet, dan aroma cat yang biasanya memberinya inspirasi kini terasa menyesakkan.
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama tegas memecah keheningan. Bunyinya menggema di lantai kayu, lambat namun penuh otoritas. Alana tidak bergerak, ia mengira itu hanya imajinasinya sampai pintu galeri yang terkunci itu terbuka dengan suara kunci yang diputar paksa.
Sesosok wanita berdiri di ambang pintu. Cahaya matahari dari luar membentuk siluet yang tajam. Ia mengenakan dress sutra berwarna merah darah yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Riasan matanya sangat mencolok, bold smokey eyes yang membingkai sepasang mata elang yang dingin. Bibirnya dipoles gincu merah gelap, membentuk senyum yang lebih mirip seringai kemenangan.
Dia adalah Nadya. Ibu kandung Andrew dan Alesya. Wanita yang namanya sudah dihapus dari sejarah keluarga Wijaksana oleh Adrian sejak puluhan tahun lalu.
"Lihat dirimu, Alana," suara Nadya rendah namun tajam, seperti gesekan pisau pada logam. "Kamu tampak seperti tikus kecil yang sedang menunggu ajal."
Alana mendongak, matanya yang bengkak menatap Nadya dengan tatapan kosong. "Ares hampir mati... Andrew hancur... Apa ini yang Anda inginkan?"
Nadya berjalan masuk, mengabaikan debu di kursi kayu mahal Alana dan duduk dengan anggun. Ia membuka tas kulit buayanya, mengambil sebatang rokok, dan menyalakannya. "Ingin? Sayangku, ini lebih indah dari sekadar keinginan. Ini adalah karya seni yang bahkan lebih hebat dari semua lukisanmu di sini."
Nadya mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap Alana dengan kepuasan yang mengerikan. "Bagaimana rasanya, Alana? Menjadi duri yang berhasil membuat dua saudara laki-laki itu saling membunuh? Melihat Revana yang suci itu pingsan karena ketakutan kehilangan darah dagingnya sendiri?"
Alana menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Anda bilang ini hanya tentang membuat mereka jatuh cinta padaku... Anda tidak bilang Ares akan celaka! Anda tidak bilang aku harus menghancurkan nyawa seseorang!"
"Oh, jangan munafik," desis Nadya, ia bangkit dan mencengkeram rahang Alana dengan kuku-kukunya yang panjang dan tajam. "Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik. Kamu masuk ke kehidupan Ares sebagai gadis lugu yang membuatnya gila, lalu kamu membuka pintu untuk Andrew, anak laki-laki ku yang kaku itu, sampai dia mengkhianati adiknya sendiri. Kamu adalah umpan paling sempurna yang pernah aku temukan."
Alana terisak, air matanya jatuh mengenai tangan Nadya. "Aku mencintai mereka... aku benar-benar mencintai mereka pada akhirnya. Itu sebabnya ini sangat sakit."
Nadya tertawa lepas, suara tawa yang kering dan tanpa rasa iba. "Cinta? Kamu lupa siapa yang membiayai galerimu ini? Siapa yang memberimu identitas baru agar bisa masuk ke lingkaran keluarga Adrian ? Aku memilihmu karena kamu punya wajah yang akan mengingatkan Adrian pada masa mudaku, dan kamu punya kelembutan yang akan meruntuhkan benteng Andrew."
Nadya melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar. "Dulu, Revana merebut segalanya dariku. Dia merebut suamiku, dia merebut posisi sebagai Nyonya Adrian, dan dia merebut anak-anakku, Alesya dan Andrew, sampai mereka tidak lagi mengenalku sebagai ibu mereka. Dia mengusirku dan memenjarakanku bertahun-tahun seperti sampah."
Nadya berbalik, matanya berkilat penuh kebencian yang sudah membusuk selama puluhan tahun. "Jadi, aku mengirimmu. Aku ingin Revana merasakan bagaimana rasanya melihat keluarganya hancur dari dalam. Aku ingin dia melihat anak-anak yang dia banggakan saling menghancurkan karena satu wanita. Dan lihat sekarang! Ares koma, Andrew dicap sebagai pengkhianat oleh ayahnya sendiri, dan keluarga itu sedang di ambang kehancuran total. Misiku berhasil, Alana."
"Anda monster," bisik Alana gemetar.
"Aku adalah ibu yang sedang berusaha mengambil kembali apa yang menjadi hakku," sahut Nadya dingin. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya dan melemparkannya ke pangkuan Alana. "Itu tiket pesawat dan paspor baru. Pergilah. Tugasmu sudah selesai. Kamu sudah diusir oleh Adrian, jadi tidak ada gunanya kamu tetap di sini."
"Aku tidak akan pergi," jawab Alana tegas, suaranya tiba-tiba menguat. "Aku tidak akan membiarkan Anda membunuh Ares."
Nadya menaikkan satu alisnya. "Oh ya? Dan apa yang akan kamu lakukan? Memberitahu Andrew bahwa kamu adalah alat ibu kandungnya? Kamu pikir dia akan memaafkanmu? Setelah kecelakaan adiknya, dia akan membencimu lebih dari dia membenci ibunya sendiri."
Nadya melangkah menuju pintu, berhenti sejenak sebelum keluar. "Ingat, Alana... kamu yang memulai api ini. Aku hanya memberimu korek apinya. Kita berdua adalah pendosa di sini."
Nadya keluar dari galeri, meninggalkan Alana dengan kebenaran yang jauh lebih mematikan daripada kecelakaan Ares. Alana kini menyadari bahwa ia bukan hanya terjebak dalam cinta segitiga, melainkan pion dalam rencana balas dendam yang dirancang oleh wanita yang seharusnya menjadi ibu mertuanya.
Alana menatap amplop tebal di pangkuannya seolah benda itu adalah bara api yang siap menghanguskan sisa-sisa hidupnya. Kata-kata Nadya terus bergema, mencabik nuraninya. Ia sadar, kehadirannya di tengah keluarga Wijaksana adalah sebuah kesalahan sistematis yang dirancang untuk menghancurkan.
Jika ia bertahan dan mengakui semuanya, ia hanya akan menaburkan garam di atas luka Andrew yang sudah menganga. Andrew akan tahu bahwa ciuman dan momen kehangatan singkat yang mereka rasakan adalah bagian dari skenario balas dendam ibu kandungnya sendiri. Itu akan membunuh jiwa Andrew lebih cepat daripada rasa bersalahnya pada Ares.
"Aku tidak mau Andrew dan Ares membenciku seperti ini," bisik Alana parau.
Malam itu, dengan gerakan pasrah, Alana mulai mengemasi barang-barangnya. Ia tidak membawa banyak, hanya pakaian seadanya dan sebuah kotak kayu berisi kuas-kuas tua yang ia miliki sebelum bertemu Nadya. Ia meninggalkan semua kemewahan yang diberikan Nadya; baju-baju mahal, perhiasan, dan kunci galeri yang selama ini menjadi saksi bisu perbuatannya
Sebelum pergi, ia menulis sebuah surat singkat di atas meja kerjanya. Bukan untuk Andrew, bukan untuk Ares, tapi untuk dirinya sendiri yang telah gagal. Namun, di detik terakhir, ia mengambil secarik kertas kecil dan menuliskan satu kalimat pendek tanpa nama:
"Maafkan aku. Tolong, bangunlah Ares."
Kertas itu ia selipkan di bawah pintu ruang ICU rumah sakit secara sembunyi-sembunyi pada jam tiga pagi, saat penjagaan sedang lengang. Ia melihat Andrew dari kejauhan, yang sedang tertidur di kursi koridor dengan posisi duduk, tampak sangat rapuh dan hancur. Alana ingin berlari dan memeluknya untuk terakhir kali, namun kakinya seolah dipaku ke lantai.
Selamat tinggal, Andrew. Selamat tinggal, pria yang kucintai di waktu yang salah, batinnya perih.
Satu bulan telah berlalu. Galeri itu kini telah berubah menjadi toko barang antik yang terlihat lebih sederhana. Identitas Alana di kota itu seolah terhapus oleh angin. Tak ada yang tahu ke mana gadis pelukis itu pergi.
Nadia kembali berhasil mengendalikan Alana, memintanya untuk pergi sementara meninggalkan indinesia, karena Nadya tahu, Adrian pasti akan terus mengawasi Alana, dan mulai menyelidiki kecelakan Ares.
Di rumah sakit, keajaiban kecil terjadi. Ares terbangun dari komanya. Namun, keceriaan yang dulu menyelimuti keluarga Wijaksana tidak pernah benar-benar kembali. Ares terbangun sebagai pria yang berbeda, ia lebih pendiam, dengan memori yang sedikit kabur tentang malam kecelakaan itu.
Andrew tetap memimpin perusahaan dengan tangan besi, namun wajahnya tak pernah lagi menunjukkan senyum. Ia hidup dalam kedisiplinan yang menyiksa diri. Setiap malam, ia masih sering mengunjungi tempat di mana galeri Alana dulu berdiri, hanya untuk menatap pintu yang kini bercat beda itu selama berjam-jam.
Suatu hari, Alesya mendatangi Andrew di kantornya. Ia meletakkan sebuah laporan penyelidikannya di meja Andrew.
"Gue menemukan sesuatu tentang wanita yang mengunjungi Alana tepat sebelum dia menghilang," ucap Alesya dengan nada yang sangat serius. "Wanita itu... dia punya kemiripan wajah yang luar biasa, yang sangat kita kenal, dia seperti Mama Nadya."
Andrew mendongak, matanya yang selama ini mati kini menunjukkan percikan ketegangan. "Apa maksud lo, Kak Sya?"
"Andrew, gue rasa Alana tidak pergi karena dia pengecut. Gue rasa ada seseorang yang memaksanya pergi. Seseorang yang sangat membenci keluarga kita, dan gue kepikiran dengan Mama Nadya."
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......