"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-tujuh
Najwa meletakkan alat makannya perlahan. Ia menatap Raisa, lalu beralih ke arah kakaknya yang akan meninggalkan meja makan mengikuti Adriansyah... dengan tatapan yang tajam namun lembut.
"Terima kasih atas perhatiannya, Kak Raisa. Tapi saya rasa, asisten pribadi bukan posisi yang tepat untuk saya. Saya ke sana untuk menuntut ilmu, bukan untuk melayani ego seseorang," ucap Najwa tenang, membuat Raisa tersentak.
Alendra menghentikan langkahnya mendengar ucapan Najwa.
Ia kemudian menoleh ke arah Monica. "Dan untuk Mama Monica... terima kasih sudah memilihkan jurusan Hubungan Internasional. Jurusan itu memang menantang, karena di sana kita belajar bagaimana bernegosiasi dengan berbagai karakter manusia, termasuk mereka yang sulit diajak bekerja sama. Saya akan menganggap ini sebagai latihan mental."
"Sombong sekali kamu!" desis Monica.
"Bukan sombong, Mama. Tapi percaya diri adalah bagian dari syukur atas akal yang Allah berikan," balas Najwa tanpa melepaskan senyumnya.
Ia kembali menatap Alendra yang masih berdiri dan terlihat kesal karena soal Neural Network tadi. "Kak Alendra, soal kuliah yang 'berat'... saya sudah terbiasa bangun sebelum fajar untuk menghafal ribuan baris ayat dengan struktur yang jauh lebih kompleks dari sekadar teori ekonomi. Jika saya bisa mendisiplinkan hati dan pikiran saya untuk kitab suci, saya yakin, mata kuliah di kampus nanti hanyalah masalah teknis yang bisa diselesaikan dengan belajar giat."
Alendra melanjutkan langkahnya dengan wajah masam, adiknya yang harus ia benci namun ternyata duri yang tak tersentuh.
Najwa mengakhiri kalimatnya dengan menyeka sudut bibirnya menggunakan serbet kain dengan sangat anggun.
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan mengenai 'kekurangan' saya, bolehkah saya izin ke atas lebih dulu? Saya harus menyelesaikan target bacaan saya malam ini." pamit najwa dengan sopan.
Afkar terpana, hampir ingin bertepuk tangan melihat betapa tenangnya Najwa menghadapi makan malam itu, yang seperti sebuah sidang. "Tentu, Nak. Silakan. Istirahatlah." balas nya tersenyum bangga. Lihatlah putri bungsunya sungguh sangat sopan, berbeda sekali dengan cara ke dua kakak nya dalam meninggalkan meja makan, tidak ada sopan-sopa nya sedikit pun.
Najwa bangkit, memberikan anggukan hormat kepada semua orang di meja makan, termasuk Monica yang wajahnya sudah merah padam karena geram, lalu berjalan pergi dengan langkah ringan.
Saat meninggalkan ruang makan, penjaga rumah masuk...dan menghentikan aktivitas semua orang, termasuk Monica, Raisa dan Afkar, mereka ikut mendekat ke sumber suara.
Selamat malam, Tuan," ucap penjaga rumah yang muncul dari balik pintu besar dengan sikap sangat sopan, hampir membungkuk dalam.
Najwa yang tadinya akan menekan tombol lift, menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh perlahan, jilbabnya berayun lembut seiring pergerakannya yang tenang.
"Ada apa...?" tanya Afkar sambil mengerucutkan alisnya, tampak terganggu karena waktu istirahatnya tertunda.
"Itu Tuan, di luar ada mobil box. Mereka mengatakan dari Butik Mutiara," jawab penjaga rumah itu cepat.
Mendengar nama "Butik Mutiara", butik eksklusif yang hanya melayani kaum elit dan pejabat, Monica langsung menoleh dengan mata berbinar. Ia mengira itu adalah pesanan perhiasan atau tas limited edition miliknya yang tertunda.
"Antar ke sini," ucap Afkar datar.
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian, lima orang berseragam rapi masuk dengan langkah teratur. Mereka membawa belasan paper bag berukuran besar dengan logo emas timbul, serta beberapa koper jinjing kecil. Monica dan Raisa melototkan mata, mulut mereka sedikit terbuka.
"Apa-apaan ini?!" sahut Monica, suaranya naik satu oktav. Ia melangkah maju, tangannya hendak menyambar salah satu tas belanjaan, namun langkahnya terhenti oleh tatapan tajam suaminya. "Afkar, apa kamu baru saja menguras kartu kreditmu tanpa bilang padaku?"
"Sebenarnya siapa yang pesan belanjaan begitu banyaknya?" tanya Afkar, mengabaikan istrinya dan beralih pada pemimpin rombongan butik tersebut.
Pria pemimpin rombongan itu membungkuk hormat, lalu membuka sebuah catatan digital di tangannya. "Maaf Tuan Afkar, Tuan Besar Suhadi menghubungi atasan kami sore tadi. Beliau meminta kami secara pribadi untuk mencarikan koleksi pakaian tertutup terbaik untuk cucunya yang akan berkuliah besok. Termasuk beberapa gaun pesta tertutup, baju-baju formal, tas, jilbab sutra, hingga sepatu. Beliau menegaskan, jika ada satu pun yang tidak sesuai selera Nona Najwa, kami harus segera menggantinya dengan koleksi terbaru dari Paris."
Mendengar penjelasan itu, Raisa merasa seperti disiram air es di tengah malam. Wajahnya yang penuh skincare mahal itu mendadak pucat, lalu berubah menjadi merah padam.
"Jangan bilang itu semua untuk gadis desa itu!" celetuk Raisa dengan nada menghina, telunjuknya menunjuk kasar ke arah Najwa yang masih berdiri dengan wajah bingung di depan lift.
Pria dari Butik Mutiara itu tersenyum profesional, namun tatapannya sangat tegas. "Benar, Nona. Ini semua untuk cucu kesayangan Tuan Besar Suhadi, yang bernama Nona Najwa. Beliau memberikan instruksi bahwa mulai hari ini, Nona Najwa harus mendapatkan kualitas terbaik yang bisa disediakan oleh butik kami."
plakkkk...
Bukan tamparan, tapi suara Monica yang tak sengaja menjatuhkan kipas mahal di tangannya. Ia dan Raisa menjatuhkan rahang mereka. Tidak percaya. Mereka saja butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan akses ke koleksi terbaru butik tersebut, tapi Najwa? Kakek Suhadi memberikannya dalam satu kedipan mata.
"E-nggak mungkin..." gumam Raisa, matanya menatap nanar pada tas tangan bermerek yang mengintip dari salah satu paper bag. "Itu tas yang aku mau bulan lalu dan kata mereka stoknya habis!"
Afkar berdeham, mencoba menyembunyikan rasa bangga sekaligus harunya. Ia menyadari betapa kuatnya kasih sayang ayahnya pada putri yang baru ditemukannya ini. Ia menoleh ke arah kedua wanita itu dengan tatapan memperingatkan, lalu beralih pada Najwa.
"Kalau begitu... kalian bisa antar ke kamar putri saya," ucap Afkar, suaranya kini terdengar lebih berwibawa, menyadarkan Monica dan Raisa dari keterkejutan mereka yang memalukan.
Afkar kemudian menoleh lembut ke arah Najwa. "Nak, kau bisa memimpin jalan mereka agar membawa barang-barangmu ke kamarmu. Lihatlah isinya, jika ada yang tidak kau suka, beritahu papa "
Najwa sedikit terperanjat. Ia menatap tumpukan barang mewah itu bukan dengan binar keserakahan, melainkan dengan kerendahan hati yang membuat Monica semakin geram.
"T-terima kasih, pah . Tapi sebenarnya pakaian Najwa dari pesantren sudah cukup..." ucap Najwa lembut, membuat Raisa hampir saja berteriak frustasi mendengar kepolosan itu.
"Ini pemberian Kakekmu, Najwa. Hargailah. Pergilah ke atas," potong Afkar lembut namun tak terbantah.
"Baik, Pah. Mari, silakan lewat sini," ucap Najwa pada para kurir tersebut dengan nada yang sangat sopan, seolah ia sedang menuntun tamu di pesantren, bukan kurir barang mewah.
Najwa berjalan mendahului mereka masuk ke lift. Saat pintu lift perlahan tertutup, ia bisa melihat wajah Monica yang menatapnya penuh kebencian dan Raisa yang tampak seperti ingin menangis karena iri.
Begitu lift tertutup, Monica berbalik ke arah Afkar dengan napas memburu.
"Afkar! Ini penghinaan! Anak itu baru sehari di sini dan Papa sudah memanjakannya lebih dari Raisa! Apa kau tidak sadar posisi kita sedang terancam?!"
Afkar hanya menatap istrinya dengan dingin. "Posisi kalian tidak akan terancam jika kalian bersikap baik pada putriku, Monica. Ingat, harta ini milik Ayahku. Dan kalian baru saja melihat siapa pemegang saham hati Ayahku yang sebenarnya."
Afkar berlalu pergi, meninggalkan Monica dan Raisa yang membeku di ruang keluarga, menyadari bahwa "gadis desa" yang mereka remehkan ternyata memegang kartu as yang tidak pernah mereka miliki, Restu penuh dari sang penguasa keluarga Suhadi..
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong