Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 10.
Milea benar-benar menjaga jarak.
Bukan jarak yang kasar, bukan pula penolakan terang-terangan. Ia tetap berbicara dengan sopan, tetap menjalankan perannya sebagai istri yang merawat suami yang belum pulih sepenuhnya. Namun ada satu hal yang hilang... kedekatan.
Ia tak lagi duduk bersebelahan dengan Rangga, tak lagi menunggu Rangga tertidur. Tak lagi menatap suaminya itu terlalu lama, dan Rangga merasakannya dengan sangat jelas.
Pagi itu, Rangga duduk di ruang makan sendirian. Di hadapannya, sarapan yang sudah dingin. Milea makan lebih dulu di kamar dengan alasan pekerjaan. Alasan yang sama seperti kemarin, dan kemarin lusa. Rangga mengaduk kopi pelan, pikirannya berisik.
Tak lama kemudian, Milea keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Tas kerja disampirkan di bahu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rangga.
“Keluar sebentar, ada urusan.”
“Urusan pekerjaan?”
Milea mengangguk. “Iya.”
Rangga berdiri. “Aku ikut.”
Milea berhenti melangkah. “Nggak perlu.”
“Aku bosan di rumah.”
“Kamu belum boleh capek.”
Rangga tersenyum kecil. “Aku sudah cukup sehat buat duduk di mobil dan mengemudikannya.”
Milea menatapnya, ragu. “Aku nggak lama.”
“Justru itu, aku bisa nunggu.”
Milea menghela napas, ia tak ingin berdebat. “Terserah.”
Sepanjang perjalanan, Milea fokus pada ponselnya. Rangga menyetir dengan kecepatan sedang, sesekali melirik ke arah Milea.
“Kamu mau diantar ke mana?” tanya Rangga.
“Ke kantor notaris.”
“Oh.” Rangga mengangguk. “Urusan apa?”
Milea terdiam sesaat. “Beberapa dokumen.”
Rangga tak bertanya lebih jauh. Namun hatinya mencatat satu hal, Milea mulai menyembunyikan banyak hal darinya.
Di parkiran, Rangga turun dan ikut masuk. Milea hendak menolak, tapi langkah Rangga sudah mendahuluinya.
“Kamu tunggu di luar,” kata Milea akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena ini urusanku.”
“Dan aku suamimu.”
Kalimat itu membuat Milea menatapnya.
“Aku nggak butuh ditemani.”
Rangga tersenyum tipis. “Tapi aku mau.”
Milea mendengus pelan. “Keras kepala.”
“Kamu benar,” jawab Rangga ringan.
Pria itu duduk di kursi tunggu, memperhatikan Milea dari kejauhan. Cara wanita itu bicara, cara alisnya berkerut saat serius. Ada rasa asing dan rindu sekaligus dalam hatinya.
Saat Milea selesai, Rangga berdiri. “Selesai?”
“Iya.”
“Laper nggak?”
“Belum.”
“Bohong, kamu belum makan siang.” Rangga tersenyum kecil.
Milea menatap jam. “Aku bisa makan nanti.”
“Aku traktir.”
“Aku nggak minta.”
“Aku yang mau.”
Milea lelah menolak. “Oke, hanya lima belas menit.”
Rangga tersenyum lebar.
Di restoran kecil dekat gedung, mereka duduk berhadapan. Hening menyelimuti meja itu, canggung tapi penuh makna.
“Kamu sering ke sini?” tanya Rangga.
“Iya,” jawab Milea singkat.
“Dulu… aku pernah ke sini sama kamu?”
Milea terdiam. “Pernah.”
“Terus?”
“Terus kamu lebih sering lupa.”
Rangga menunduk. “Aku pasti menyebalkan.”
“Bukan menyebalkan lagi,” koreksi Milea. “Tapi, melelahkan.”
Rangga mengangguk pelan. “Aku minta maaf.”
“Kamu sudah minta maaf berkali-kali.”
“Aku akan terus minta maaf,” katanya tenang. “Sampai kamu capek dengarnya.”
Milea mengangkat wajah. “Kenapa?”
“Karena aku serius, aku ingin terus bersamamu.”
Kalimat itu membuat Milea tak bisa menjawab.
Sejak hari itu, Rangga mulai mengejar dengan caranya sendiri.
Ia tak lagi menunggu Milea mendekat, ia yang mendekat. Saat Milea pulang malam, Rangga selalu ada di ruang tengah menunggu. Seperti Milea dulu selalu menunggunya pulang.
“Kamu nungguin aku pulang?” tanya Milea.
“Iya.”
“Kenapa nggak tidur?”
“Aku pengen lihat kamu pulang.”
Milea hanya mengangguk, lalu masuk kamar.
Namun Rangga tak menyerah.
Suatu malam, hujan turun deras. Milea pulang dengan bahu basah. Begitu masuk rumah, handuk sudah menunggunya.
“Pakai,” kata Rangga.
“Terima kasih.”
Rangga menyerahkan teh hangat, Milea menerimanya tanpa menatap.
“Mil...” panggil Rangga.
“Apa?”
“Sekarang aku sudah ngerti kamu menjauh bukan karena kamu nggak peduli padaku, tapi kamu menjauh karena kamu takut.”
Hening.
“Aku nggak akan maksa kamu,” lanjut Rangga. “Tapi aku juga nggak akan berhenti mengejarmu dan selalu ada untukmu.”
Milea menatapnya. “Kenapa kamu harus berusaha seperti itu?”
“Karena kalau aku berhenti,” suara Rangga merendah, “Aku takut, akan kehilangan kamu untuk kedua kalinya.”
Kata-kata itu menghantam Milea, ia berbalik sebelum air matanya jatuh. Di kamar, Milea memeluk bantal erat-erat.
Kenapa Rangga harus seperti ini sekarang?
Kenapa bukan dulu, saat ia masih sanggup berharap?
Hari demi hari berlalu, Milea tetap menjaga jarak. Namun Rangga semakin gencar.
Suatu sore, Milea pulang lebih awal. Rumah sepi. Ia masuk ruang tengah dan menemukan Rangga tertidur di sofa, selimut menutupi tubuh tinggi pria itu. Di meja, ada kotak obat untuk sakit kepala pria itu dan segelas air.
Milea menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca, wajah yang dulu dingin sekarang terlihat damai namun rapuh.
Milea duduk pelan di kursi, tanpa sadar menguvsap rambut Rangga.
Aku baru mendengar cerita adikmu dari orang tuaku, pantas saja kamu sulit membuka hati padaku. Apa karena mata adikmu ada padaku dan jantungnya ada padamu? Kau benci padaku atau kau marah pada dirimu sendiri?
Rangga tiba-tiba terbangun, ia menatap Milea masih setengah sadar.
“Kamu pulang,” gumamnya.
“Iya.”
Rangga tersenyum kecil. “Aku mimpiin kamu tersenyum padaku, cantik...”
Milea menarik tangannya dari kepala Rangga dengan cepat. “Tidur saja lagi.”
Namun Rangga memegang pergelangan tangannya. “Mil…”
“Hm?”
“Aku nggak ngejar kamu buat balik ke masa lalu, atau kembali pada diriku yang dulu. Aku kejar kamu, untuk masa depan kita berdua.”
Hati Milea bergetar, namun wanita itu segera menarik tangannya pelan. “Kamu terlalu percaya diri.”
Rangga tersenyum. “Aku sedang jatuh cinta, biasanya orang yang jatuh cinta... akan jadi nekat.”
Milea berdiri. “Istirahat lagi.”
Ia pergi ke kamar, meninggalkan Rangga yang tersenyum sendirian. Karena satu hal sudah jelas bagi pria itu sekarang, Milea masih peduli padanya. Dan selama Milea masih bersamanya, selama itu pula Rangga akan terus mengejar.
*
*
*
Udah bisa nebak-nebak sedikit kan masalah di diri Rangga kenapa jadi orang dingin? Btw, happy ending or sad ending, ya?🤔
Cerita lengkap kematian Radit, akan ada part nya nanti ya.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌