NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Tikungan tajam di ujung lintasan lurus menjadi saksi bisu kehancuran itu.

Karena tangan kanannya yang terluka sudah terlalu lemah untuk menarik tuas rem dengan presisi, motor trail merah Rani kehilangan kendali saat mendarat dari lompatan tinggi.

Ban depan tergelincir di atas tanah gembur, dan motor itu terbanting hebat.

BRAAAKKK!

Tubuh Rani terpental beberapa meter, berguling-guling di atas tanah keras sebelum akhirnya terhenti di dekat pembatas ban.

Motor trail kesayangannya hancur berantakan, stang bengkok, tangki pecah, dan oli mulai merembes keluar bercampur debu.

Suasana sirkuit mendadak hening, berganti dengan suara langkah kaki yang berlari panik.

Yudiz langsung melompati pagar pembatas dan berlutut di samping tubuh Rani yang tak bergerak.

"Rani! Sayang, bangun! Ya Allah, Rani!" teriak Yudiz dengan suara gemetar.

Saat Yudiz perlahan mengangkat kepala Rani, gadis itu tersedak hebat.

Darah segar keluar dari sela bibirnya, membasahi masker dan baju balapnya.

Benturan di dadanya terlalu keras. Rani terbatuk, dan setiap batuknya menyemburkan muntah darah yang mengerikan.

"Jangan sentuh aku," bisik Rani dengan sisa tenaga, suaranya parau dan penuh luka.

Ia menepis tangan Yudiz dengan gerakan yang sangat lemah.

"Pergilah sama calon istri kedua kamu, Yudiz."

"Rani, istighfar! Kamu terluka parah, kita harus ke rumah sakit!"

Yudiz mencoba menggendong Rani dengan air matanya sudah mengalir di pipinya.

"Nggak mau!" Rani berteriak meski kemudian ia merintih kesakitan. Matanya yang sayu mencari sosok lain di kerumunan.

"Galang!"

Galang langsung mendekat dengan wajah pucat pasi.

"Iya, Ran, gue di sini."

"Lang, bawa aku pulang. Ke rumah Abi Husein. Sekarang. Jangan biarkan laki-laki ini ikut campur," titah Rani sambil menunjuk Yudiz dengan jari yang berlumuran darah.

"Tapi Rani, Gus Yudiz ini suami kamu—" Galang mencoba menengahi.

"Dia bukan suamiku!! Bawa aku pergi, Galang! Kalau kamu masih anggap aku teman, bawa aku keluar dari sini sekarang juga!" Rani mulai histeris, membuat luka di dadanya semakin perih hingga ia kembali memuntahkan darah.

Galang menatap Yudiz dengan bimbang, namun melihat kondisi Rani yang semakin kritis jika terus dipaksa berdebat, ia akhirnya mengangguk. Galang mengangkat tubuh Rani dengan hati-hati.

"Gus, maaf, saya harus bawa dia sebelum kondisinya makin parah. Dia bener-bener lagi trauma," ucap Galang pada Yudiz.

Yudiz berdiri mematung, tangannya yang gemetar masih berlumuran darah istrinya.

Ia hanya bisa melihat dari jauh saat Galang membawa Rani masuk ke dalam mobil. Ia ingin mengejar, namun ia tahu, kehadirannya saat ini justru menjadi racun bagi istrinya yang sedang hancur.

Yudiz jatuh terduduk di atas tanah sirkuit yang kotor.

Di bawah sorot lampu yang remang, ia menatap reruntuhan motor trail merah Rani yang hancur, persis seperti hatinya saat ini.

"Ya Allah, apa yang telah kulakukan?" gumamnya lirih sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, terisak di tengah kesunyian sirkuit yang kini terasa seperti kuburan.

Mobil Galang menderu masuk ke halaman rumah Haji Husein dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara decitan rem yang memekakkan telinga.

Galang langsung turun dan membopong tubuh Rani yang lemas dengan baju balap yang kini kotor oleh tanah dan noda darah yang mengering.

Umi Siti yang sedang berada di teras langsung menjatuhkan sapunya.

Wajahnya pucat pasi melihat putri satu-satunya dalam kondisi mengenaskan.

"Astaghfirullahaladzim! Rani! Apa yang terjadi sama kamu, Nak?!" teriak Umi Siti histeris.

Ia berlari mendekat, tangannya gemetar menyentuh wajah Rani yang pucat.

"Mana Yudiz? Kenapa kamu sama Galang? Di mana suamimu?!"

Rani tidak menjawab dan hanya meringis menahan nyeri yang menusuk setiap kali ia bernapas.

Galang membawa Rani masuk dan merebahkannya di sofa ruang tamu.

"Tadi kecelakaan di sirkuit, Umi. Kondisinya parah, Rani muntah darah," lapor Galang dengan suara bergetar.

"Ya Allah! Umi telepon ambulans sekarang, kita ke rumah sakit!" Umi Siti merogoh saku, hendak menghubungi layanan darurat dan juga menantu kesayangannya.

"Jangan..." suara Rani terdengar parau dan lemah.

Ia memegang tangan ibunya, menggelengkan kepala dengan sisa tenaga.

"Jangan hubungi siapa pun.Terutama dia. Jangan panggil ambulans. Rani mau istirahat saja."

"Tapi kamu luka parah, Nak! Ini ada darah di mulutmu!" Umi Siti menangis sejadi-jadinya.

Rani mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

Dengan tertatih dan bersandar pada dinding, ia memaksakan diri berdiri.

Ia menolak bantuan Galang maupun Umi Siti yang akan menolongnya.

Langkahnya terseret menuju kamar lamanya yang sudah beberapa hari ditinggalkan.

"Rani, dengarkan Umi—"

"Rani mau sendiri, Mi. Tolong, jangan biarkan siapa pun masuk. Termasuk laki-laki itu," ucap Rani dingin sebelum masuk ke kamar.

BRAKK!

Pintu kamar ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Di dalam kesunyian kamar, pertahanan Rani runtuh.

Ia tidak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan luka, melainkan langsung ambruk di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap.

Rasa sakit fisik di dadanya akibat benturan stang motor seolah tak sebanding dengan rasa sesak di hatinya.

Bayangan Yudiz yang tersenyum di depan wanita lain di pondok tadi terus berputar seperti kaset rusak.

"Pembohong..." bisiknya terisak. Air mata bercampur debu sirkuit membasahi bantalnya.

Di luar, Umi Siti terus menggedor pintu sambil menangis, sementara Galang berdiri kaku di ruang tamu, bingung harus berbuat apa.

Tak lama kemudian, suara mobil sport hitam menderu masuk ke halaman dengan sangat kencang.

Yudiz telah sampai dengan napas memburu dan wajah yang kacau balau.

Yudiz berlari masuk ke rumah, namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Rani yang terkunci rapat.

"Umi, di mana Rani?" tanya Yudiz dengan suara serak, matanya merah karena tangis yang ia tahan sepanjang jalan.

Umi Siti menoleh, menatap menantunya dengan pandangan bertanya dan sedih.

"Dia di dalam, Yudiz. Dia mengunci diri. Dia bilang tidak mau bertemu denganmu."

Yudiz menyandarkan dahinya di daun pintu kayu itu, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.

"Rani, maafkan aku. Tolong buka pintunya, Sayang. Kamu harus diobati..."

Di dalam kamar yang gelap, Rani meringkuk seperti janin.

Setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum menusuk paru-parunya.

Cairan kental yang terasa amis kembali naik ke tenggorokannya, namun ia hanya membiarkannya mengalir di sudut bibir, menodai seprai putih yang kini tampak mengerikan.

Ia tidak peduli lagi dengan suara gedoran pintu dari Yudiz terdengar seperti dengungan samar yang jauh.

Luka di tangan kanannya yang belum sembuh, ditambah hancurnya tulang rusuk akibat benturan, membuatnya merasa tubuhnya bukan lagi miliknya.

"Ambil saja nyawaku, Tuhan. Aku tidak punya tempat di dunianya, dan sekarang duniaku pun sudah hancur bersama motor itu. Aku lelah bersandiwara..."

Kesadaran Rani mulai menipis. Pandangannya yang kabur menatap langit-langit kamar, hingga perlahan semuanya menggelap.

Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya menyerah pada rasa sakit yang luar biasa.

Dingin mulai menjalar dari ujung kakinya, dan keheningan menyelimutinya.

Di luar, suasana semakin mencekam. Haji Husein baru saja pulang dari masjid dan terperanjat melihat Galang yang pucat serta Yudiz yang bersimpuh di depan pintu kamar putrinya.

"Ada apa ini?! Kenapa ada noda darah di lantai?!" tanya Haji Husein dengan suara menggelegar yang penuh kekhawatiran.

"Abi, Rani kecelakaan. Dia mengunci diri di dalam. Dia tidak mau ke rumah sakit," ucap Yudiz dengan suara pecah.

Haji Husein tidak banyak bicara. Ia melihat kunci cadangan yang tergantung di dekat dapur, menyambarnya dan dengan tangan gemetar memasukkan kunci itu ke lubang pintu kamar Rani.

CEKLEK!

Haji Husien berhasil membuka pintu dan tercium bau anyir darah dan debu sirkuit menyeruak keluar.

Haji Husein adalah yang pertama masuk, diikuti Yudiz dan Umi Siti.

Haji Husein mematung di sisi ranjang. Ia melihat putri kecilnya yang biasanya lincah dan keras kepala, kini tergeletak kaku dengan wajah seputih kertas.

Noda darah merah pekat menghiasi bantal dan bajunya.

"Rani? Bangun, Nak! Ini Abi!" Haji Husein mengguncang bahu Rani, namun tidak ada reaksi.

Ia menempelkan telapak tangannya ke hidung Rani.

"Napasnya lemah sekali! Yudiz! Angkat dia sekarang!"

Yudiz maju dengan jantung yang serasa berhenti berdetak.

Ia melihat wajah Rani yang sangat tenang namun sangat pucat, dengan sisa air mata yang mengering di pipi yang kotor.

Saat ia mengangkat tubuh istrinya yang terasa sangat ringan itu, kepala Rani terkulai lemas di lengan Yudiz.

"Rani, demi Allah, jangan tinggalkan aku seperti ini," isyak Yudiz, memeluk tubuh lemah itu erat-erat sambil berlari menuju mobil.

Haji Husein menatap Yudiz dengan pandangan tajam namun penuh duka.

"Bawa dia ke rumah sakit pusat sekarang! Jika terjadi sesuatu pada anakku karena konflik kalian, aku tidak akan pernah memaafkan siapa pun!"

Mobil sport hitam milik Yudiz melesat membelah malam, menembus lampu merah tanpa peduli.

Di kursi belakang, Rani tetap memejamkan mata, tak sadar bahwa suaminya sedang bertarung dengan maut di jalan raya demi menyelamatkannya, sambil terus membisikkan ayat-ayat suci di sela tangisnya.

1
kalea rizuky
lampir g taubat jg
my name is pho: sabar kak🤭🥰🙏
total 1 replies
kalea rizuky
MC nya tolol males deh Thor
kalea rizuky
klo q jd ortu nya Rani uda q masukin. penjara si. layla ini kriminal.
kalea rizuky
males deh
kalea rizuky
kapok salah sendiri g tegas sama pelakor sama emak mu jg yudis
lin sya
gpp thor klo nyai salmah dan laila bikin badai buat rmh tangga yudiz dan rani biar rani jd istri tangguh, klo suatu saat kbngkar, berharap sih kyai Abdullah dan yudiz, jg laila ksih pelajaran yg woww gtu biar diinget seumur hdup🤭, org tua rani jg gk akan tinggal diem💪
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!