Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lee Na dikerjai oleh Ayahnya
...Bab 09...
"Itu dia masalahnya, ayah,"
"Mana yang itu dia?" Tanya Tuan Blake sambil melotot. Ini yang membuat rematik Lee Na nyaris kumat.
"Iiiiih.... Dengar dulu!"
"Baik baik baik... Leluhur kecil ku. Ayah akan mendengar!" Katanya sambil menahan tawa. Dia sangat senang ketika putrinya jengkel. Rasanya segala penatnya akan hilang.
Lee Na pun menceritakan pengalamannya di bus dari dirinya bertemu dengan seorang pemuda yang bodoh sampai dirinya di rampok.
Menurut penilaian tuan Blake, masalah perampokan itu tidak begitu serius. Akan tetapi, ketika putrinya setiap kali membahas soal pemuda yang menurut putrinya bernama Jhon itu, seperti ada sesuatu yang aneh dari putrinya. Seolah-olah dia tidak puas karena Jhon ini tidak sesuai dengan harapannya.
"Tampan kah anak bernama Jhon itu?" Tanya tuan Blake ingin menguji apa yang akan dikatakan oleh putrinya sebagai tanggapan.
"Huh. Siapa bilang dia tampan. Wajahnya seperti parutan kelapa. Kulitnya tebal seperti kuda Nil. Rambutnya seperti serabut enau. Dia tidak pandai membuat suasana menjadi cair. Dia bodoh. Kebanyakan diam seperti orang kosong. Mungkin kepalanya tidak berisi otak. Nafasnya bau. Pakaiannya lusuh seperti gelandangan. Bahkan gelandangan jauh lebih baik dari dirinya. Matanya seperti jengkol. Besaaar. Hidungnya..., pokoknya tidak ada yang baik dari orang itu. Apa lagi nyali nya. Dia penakut, pengecut, tidak berani melakukan perlawanan. Harusnya dia membantu ku. Walaupun dia terluka itu sepadan. Karena itu kehormatan baginya karena membantu tuan putri ini. Eh. Bukan tuan putri. Putri hanya ada di istana. Maksud ku, ya anggap saja lah aku putri. Gitu kan ayah?" Lee Na mengeluarkan segala uneg-unegnya. Dia menunggu persetujuan dari ayahnya tentang pandangannya kepada Jhon. Tapi sekian lama menunggu, dirinya tidak mendapatkan jawaban membuatnya menegur dengan kesal. "Ayaaaaaaaah....!"
"Eh iya. Iya iya iya," iya kan saja lah. Daripada semakin runyam.
"Ayah. Lee Na sedang bicara. Tapi ayah malah melamun," Lee Na merasa sangat jengkel sejengkel jengkelnya. Di bus dia merasa sangat jengkel. Sampai di rumah ayahnya malah menjadi menjengkelkan. Mengapa hari ini dia bertemu dengan sesuatu yang menjengkelkan sedemikian ini?
Sebenarnya Tuan Blake tidak melamun. Dia hanya merasa heran. Sejak kapan putrinya yang cuek ini begitu bersemangat menceritakan seseorang yang baru dia kenal? Ini yang membuat tuan Blake penasaran seperti apa sebenarnya sosok Jhon yang mampu membuat putrinya menjadi seperti ini.
Jika ingin di hitung, bukan hanya putra anak orang kaya yang ingin melamar putrinya. Anak pejabat juga banyak. Tapi putrinya tidak menggubris bahkan menganggap mereka seperti angin lalu. Tapi kali ini berbeda. "Hmmm. Siapa Jhon ini?" Pikir nya dalam hati.
"Huh. Berani sungguh pemuda bernama Jhon itu membuat leluhur kecil ku jengkel. Kalau begitu ayah akan memerintahkan seseorang untuk mematahkan kakinya!" Ancam Tuan Blake sambil berpura-pura meraih handphone nya untuk melakukan panggilan.
Melihat ini seketika bibir Lee Na menjadi pucat. Dia panik. Lalu dengan gerakan refleks merebut handphone dari tangan ayahnya.
Tuan Blake mengernyit kemudian dengan raut wajah seperti bertanya dia menatap putrinya.
"Tidak. Ayah jangan mematahkan kakinya. Kalau kakinya patah, kan tidak lucu kalau dia pakai kaki ayam," katanya dengan panik. Lalu dia menyadari betapa bodohnya ucapannya barusan. Dia benar-benar panik. Dia tau siapa dan apa pekerjaan ayahnya. Sebagai seorang penguasa bawah tanah, perkataan ayahnya adalah perintah yang pasti akan sangat ramai bawahan yang akan menjalankan perintahnya. Ini yang membuatnya panik lalu mengatakan perkataan omong kosong seperti itu.
"Kalau begitu apa yang harus ayah lakukan untuk menyenangkan hati tuan putri palsu ini?" Tanya Ayahnya menggoda. Tapi dalam hati dia ingin mengenal Jhon ini. Bagaimanapun, Jhon ini berhasil membuat putrinya berbicara cukup banyak hari ini. Biasanya putrinya hanya bicara sepatah dua kata saja. Namun kali ini sepertinya dia menghabiskan perkataan sebanyak satu bulan stok. Bukankah ini sebuah kemajuan?
"Eeeemmmm... Sepertinya harus dijadikan Kasim. Tapi eh. Jangan jangan jangan. Kasim terlalu kejam. Emmm... Apa ya? Kasih saja makan buaya. Oh tidak tidak tidak," katanya sambil mondar-mandir seperti setrika. Tak lupa dia meletakkan jari telunjuknya di bawah bibir seolah-olah sedang berpikir.
Tuan Blake ingin tertawa sambil guling-guling melihat tingkah putrinya ini. Dia tidak pernah melihat putrinya begitu memikirkan seseorang. Ini yang membuatnya merasa apakah matahari sudah terbit dari Barat?
"Sudahlah. Biarkan ayah yang mengambil keputusan. Ayah akan mengurung nya bersama anjing lapar. Dengan begitu dia akan berteriak ketakutan. Dan ketika anjing kamar itu menggigit dagingnya sedikit demi sedikit, dia akan berteriak menyayat hati dan mati secara perlahan. Bukankah ini menyenangkan?" Katanya dengan sangat serius, tapi dalam hati dia ingin tertawa terbahak-bahak. Mana mungkin dia akan melakukan tindakan tidak manusiawi seperti itu. Walaupun dia membunuh, dia tidak pernah menyiksa. Kalau harus membunuh, bunub secara langsung tanpa membuat lawannya merasakan kesakitan terlalu lama.
"Jangaaaaaaan...!" Teriak Lee Na spontan membuat Taun Blake terlonjak kaget. Tapi dia ingin terus menggoda putrinya ini sampai dia puas.
"Perkataan laki-laki adalah sabda. Begitu terucap harus dilaksanakan. Itu yang membedakan laki-laki sejati dengan laki-laki brengsek. Ketika dia berucap, dia akan mempertanggungjawabkan ucapannya sampai tuntas! Jadi, harus ada penebusan. Jika tidak kau tebus, maka ayah akan melaksanakan apa yang telah ayah ucapkan!"
"Ha?" Lee Na terbodoh beberapa saat sebelum jiwanya kembali. Sambil membelalakkan matanya dia menarik jenggot tuan Blake sambil berkata. "Jika ayah berani mengancam keselamatan Jhon, Lee Na pasti'kan tidak sehelai pun janggut ini yang akan bertahan di dagu ayah. Setiap detik Lee Na akan menggunduli Janggut dan kumis ayah sampai ayah berubah menjadi banci!" Katanya dengan sangat bersemangat. Bahkan semangat para pejuang pun tidak akan mengalahkan semangat nya ketika ini.
"Kenapa? Bukankah kau yang mengatakan bahwa orangnya jelek, menjengkelkan. Kulitnya setebal kuda Nil. Wajahnya seperti parutan dan banyak lagi. Harusnya tidak apa-apa kan jika orang seperti ini disingkirkan. Hitung-hitung menghemat udara,"
"Ayah berani?" Ancam Lee Na panik. Dia berkacak pinggang seperti seorang ibu-ibu kompleks yang sedang menagih uang sewa kos.
"Harus ada penebusan darimu agar ayah tidak bertindak. Karena walau bagaimanapun, kata-kata seorang lelaki sudah terucap. Pantang untuk ditarik mundur!"
"Penebusan ya penebusan. Katakan kompensasi apa yang ayah inginkan?" Tanya Lee Na.
"Akhir-akhir ini ayah mengalami masalah pada tengkuk dan pundak. Setiap bangun tidur terasa nyeri. Harus mencari tukang pijat," katanya sambil menahan tawa.
"Oh. Lee Na bisa. Lee Na bisa. Yang mana ayah? Sini Lee Na pijit!"
Mendengar ini, ingin rasanya tuan Blake menyemburkan apa yang dia makan tadi siang. Putrinya tiba-tiba seperti ini. Apakah ini benar-benar putrinya atau hanya sekedar mirip?
"Ehem. Iya di situ. Sangat nyaman. Nyaman sekali," katanya sambil pura-pura merasakan pijitan dari Lee Na. Padahal kekuatan pijitan Lee Na baginya hanyalah seperti menyentuh tanpa merasakan tenaga apapun. Tapi ini adalah kemajuan baginya. Selama ini jangankan memijat, punggung nya yang gatal pun Lee Na tidak pernah mau menolong untuk menggaru.
"Tiba-tiba ayah merasa sangat haus. Ayah ingin meminum teh liar Canyon. Ini pasti sangat menyegarkan!" Katanya secara tidak langsung ingin melihat inisiatif putrinya.
"Oh baik. Lee Na bisa. Ayah tenang saja. Lee Na akan buatkan!" Katanya yang bergegas menuju ke kamar ayahnya untuk mengambil serbuk teh langka yang hanya akan berdaun dan bisa di petik setiap lima tahun sekali.
Beberapa menit kemudian Lee Na datang dengan segelas teh yang berantakan.
"Ini?" Tuan Blake ingin menangis melihat teh mahal kepunyaannya menjadi seperti itu ditangan putrinya. Tapi mau bagaimana lagi. Ini salahnya sendiri.
Perlahan Tuan Blake menyeruput teh nya. Mendadak matanya melotot. Dia ingin menyemburkan teh itu dari mulutnya. Tapi ketika mengetahui bahwa putrinya menatapnya dengan tatapan harapan meminta pujian, mata dia hanya bisa pasrah lalu menelan saja air teh yang dia rasanya sangat sulit untuk diucapkan.
"Enak?" Tanya Lee Na tanpa merasa ada sesuatu yang aneh.
"Enak. Teh buatan putri ku sungguh tiada bandingnya!" Puji nya tanpa ketulusan.
"Sudah ya. Awas kalau mengganggu Jhon!" Ancam Lee Na sembari mengepalkan tinjunya. Kemudian dia berbalik lalu enak saja pergi meninggalkannya ayahnya yang sangat tertekan dengan gelas masih di tangannya.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++